Aku berjalan perlahan mengelilingi area SMP, menoleh kesana kemari dan lagi-lagi menebar senyum pada sekian murid yang senantiasa menyapaku, melihat sekeliling area ini yang sebagian besar dipenuhi oleh murid yang tengah berbincang, bercanda, dan menyantap jajanan mereka. Yap! Jam istirahat kali ini, aku kembali hadir di sini. Namun, bukan untuk Vikar, melainkan untuk Jackson. Sudah lebih dari sepuluh menit aku mencari dirinya, tapi tak kunjung ketemu. Dari berbagai murid yang telah kutanya, sebagian besar dari mereka menjawab tak tau di mana Jackson. Karena itu, sampai sekarang aku masih berjalan tak tentu arah mencari sendiri.
"Kak Keyrina," aku menoleh seketika mendengar seorang gadis memanggilku. "Kakak sini ikut aku kak," lanjutnya dengan wajah sungguh cemas. Gadis dengan rambut kuncir kuda itu menggandeng tanganku erat dan membawaku dengan baik kemana. Ia bahkan menarik sebelum aku mengiyakan permintaannya, dan apakah aku hanya diam saja menurutinya?
Aku menghentikkan langkahku sesaat setelah gadis itu berhenti. Kami berhenti tepat di depan sebuah kelas dengan sebuah papan kecil yang menggantung di atas pintu bertuliskan 7-5. "Ada apa sih dek?" Tanyaku.Gadis itu terlihat cemas, lalu ia menunjuk dengan jarinya kearah di dalam kelas. Aku pun menoleh tepat kemana gadis itu menunjuk.
Di sana, terlihat seseorang tengah membelakangi kami. Di sana juga banyak para murid yang ketakutan sama seperti gadis di sampingku ini, dan karena para murid itu, penglihatanku sedikit terhalang untuk melihat masalah apa yang sebenarnya terjadi.
"Lo cuma lagi beruntung karena kemarin lo ditolong sama kakak gua," aku mendengar bentakan lantang itu dengan aksen Indonesia yang sangat buruk.
Itu seperti suara Jackson.
"Kak Jackson buat ulah di kelas aku kak," ujar gadis disampingku ini lagi. "Kakak kan kakaknya kak Jackson, tolong suruh kak Jackson berhenti."
Aku menatap gadis itu sejenak, lalu segera masuk ke dalam kelas menerobos para murid.
"Jackson!" Bentakku, membuatnya menoleh.
Ia mendengus. "Oh, damn!" Keluhnya.
Aku melirik ke belakang tubuh Jackson, melihat seseorang yang sepertinya tadi ia bentak. Itu Vikar.
Ia hanya bisa terdiam sembari menahan air matanya yang mungkin sebentar lagi akan tumpah. Aku kembali memfokuskan pandanganku pada Jackson. "What are you doing here?" Ketusku.
Ia terdiam.
"Answer my question, what are you doing here?" Bentakku.
Ia masih saja terdiam. Karena kesal, aku pun segera menarik tangannya kasar dan membawanya keluar kelas ini. Aku berjalan dengan langkahku yang sedikit cepat, dan Jackson hanya bisa mengikutiku langkahku karena tangannya masih kugenggam erat.
"Hei gadis gendut!!"
Di perjalanan kami, Jackson menghina seorang gadis sebayanya yang memang bertubuh gemuk. Karena tak enak hati, aku pun terus menarik tangan Jackson dan menggenggamnya lebih kasar.
"Kak, liat gadis itu, dia benar-benar gendut," ujar Jackson seraya menunjuk-nunjuk gadis itu yang kini tertunduk malu. "Dasar gadis gendut!! Gadis jelek!!" Hinanya lagi seraya tertawa terbahak-bahak. Aku makin mempercepat langkahku dan menggenggamnya lebih kasar. Jackson sungguh membuatku malu.
"Kenapa jalan cepat-cepat? Santai saja!" Ujar Jackson seraya menatapku.
Di saat yang sama, tak sengaja Jackson menabrak seseorang. Seorang lelaki sebaya Vikar dengan pakaian dan potongan rambut rapi juga kacamata yang bertengger di hidungnya. Jackson menatap bocah itu sinis sejenak, dan bocah itu pun menatap Jackson agak takut.
"Kenapa lihat gua kayak gitu? Singkirkan kacamata jelek itu dari pandangan gua. Sana pergi," hina Jackson lagi seraya sedikit mendorong tubuh bocah itu. "Dasar cupu!" Hinanya untuk yang kesekian kali.
Setelah beberapa saat, aku dan Jackson kini tiba di halaman belakang sekolah. Di sini cukup sepi sekarang, hanya ada beberapa murid yang terhitung jari jumlahnya. Tak berpikir panjang, aku dan Jackson pun duduk di sebuah bangku taman yang terdapat di sana.
"Kenapa dari tadi kamu hina orang lain?" Tanyaku ketus pada Jackson.
Jackson menghela napasnya panjang, lalu ia menyilangkan tangannya ke depan d**a seraya sedikit tertawa kecil.
"Jawab! Kenapa?!" Bentakku.
Ia terkekeh. "It's fun."
Aku mendengus. "Kamu pikir semua orang yang kamu hina dan kamu tindas nggak akan sakit hati?"
"Aku nggak peduli tentang itu. Lagipula, jika mereka sakit hati itu bukan urusanku."
Aku terdiam sejenak. "Kamu keterlaluan."
Hening.
"Kemarin kenapa kamu tindas adik kelas kamu seburuk itu cuma karena uang?" Tanyaku kembali memulai pembicaraan.
Jackson mengernyit. "Adik kelas? Yang mana? Kemarin, aku menindas lebih dari lima belas adik kelas, jadi tidak mungkin aku bisa ingat mereka satu-per-satu."
"Vikar!"
Jackson terdiam sejenak. "Oh dia, bukan karena apa-apa. Aku suka menindas dia. Dia adik kelas yang menurutku paling tak berguna. Dia bodoh, dia penyendiri, dia dibenci," Jackson mengambil jeda, lalu terkekeh. "Dia pengecut!" Sambungnya.
Aku menatapnya sinis.
"Tapi, omong-omong, aku hebat kan bisa menindas lebih dari lima belas orang dalam satu hari," timpal Jackson, dan lagi-lagi terkekeh.
"Jangan pernah tindas dia lagi juga orang lain!"
Ia hanya terdiam.
"Jika kamu masih melakukan hal yang sama, kamu akan rasakan akibatnya."
Jackson tertawa kecil. "Akibat seperti apa?! Aku ini jagoan, jadi tak mungkin takut dengan apapun!"
Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku karena heran dengan sikapnya.
"Tapi... " gumam Jackson. "Kenapa kakak tolong dia kemarin? Kakak kenal Vikar?" Tanyanya.
Aku menghela napas. "Enggak."
"So, kenapa kakak tolong dia? Kenapa kakak peduli sama dia? Atau jangan-jangan kakak suka sama pengecut itu?!"
"Enggak," balasku singkat.
Kembali hening. Untuk beberapa saat, kami berdua terdiam. Jackson dan aku terus melihat lurus ke depan meski tak tau dengan apa yang kami lihat.
"Hey, did you know?" Tiba-tiba Jackson kembali bicara, dan membuatku terhentak menoleh kearahnya.
"What?" Balasku.
"My friends."
Aku mengernyit.
"Karena ulah kakak kemarin, teman-temanku yang hampir kakak pukul itu sekarang pergi gitu aja," perjelasnya.
"Pergi?" Tanyaku.
Jackson mengangguk-angguk. "Mereka pergi dan nggak mau jadi temanku lagi."
Aku tertawa kecil.
"Why you laughing?"
Aku menatapnya. "Jackson, kamu harus tau bahwa di dunia ini nggak ada yang namanya 'benar-benar' teman."
Jackson mengerutkan dahinya.
"Teman itu hanya sebatas orang yang kamu kenal, nggak lebih."
Jackson terkekeh. "You kidding me!"
Aku mengangkat kedua bahuku.
"Believe it or not, but i think it's real," aku mengambil jeda. "Kakak pernah dengar sebuah kata-kata, seperti ini: Di saat kamu berhasil, teman-teman kamu akan tau siapa sebenarnya kamu. Namun, saat kamu gagal, kamu akan tau siapa sebenarnya teman-teman kamu."
Aku lagi-lagi mengambil jeda, dan menatap Jackson untuk sesaat.
"Kita bisa buktikan kalimat itu. Kamu masih percaya ada yang namanya teman sejati di dunia ini?" Aku terkekeh. "It's a joke, Jackson."
Jackson tertawa kecil. Aku lagi-lagi memalingkan pandanganku ke depan, dan untuk sesaat lagi-lagi kami berdua senyap.
"I'm sorry, Jack. I'm sorry, i'm sorry."
Aku menoleh sesaat ketika mendengar suara permohonan maaf itu. Tepat di samping Jackson, seorang gadis berkepang dua sebayanya terlihat tengah membersihkan baju Jackson dengan tisu. Wajah Jackson terlihat kesal karena seragam sekolahnya ditumpahi air mineral oleh gadis itu.
"Don't touch me!" Bentak Jackson pada gadis itu, lalu menepis tangannya.
Gadis itu terlihat ketakutan dan hanya bisa menunduk, sementara Jackson masih menggerutu kesal karena seragamnya.
"Please, forgive me Jackson," ujar gadis itu lagi.
Jackson terlihat menatap gadis itu sinis, dan lagi-lagi gadis itu tertunduk. Karena kasihan, aku pun beranjak berdiri dan menghampiri gadis itu, lalu kuberikan padanya selembar uang seratus ribu rupiah, dan kuminta dia untuk pergi.
"Sana pergi, lagipula kamu kan nggak sengaja, pasti dimaafin sama Jackson kok, sana beli minumannya lagi," perintahku.
Jackson menarik seragamku, membuatku menoleh. "Kenapa kakak kasih uang ke dia? Are you crazy?" Tanya Jackson. Aku tak menggubrisnya. "Udah sana pergi!" Perintahku lagi pada gadis itu. Gadis berpenampilan kampungan itu pun berlari kecil menjauhi kami sesaat setelah berterima kasih padaku.
"Hey!!" Panggil Jackson pada gadis itu.
"s**t!" Gumam Jackson.
"b***h!" Teriak Jackson lagi.
Kepalaku terhentak seketika mendengar kalimat terakhir itu. Aku menatap Jackson yang masih sibuk dengan seragamnya. Perlahan, kakiku mulai melangkah mundur beberapa senti dari Jackson. Kembali teringat bayangan masa laluku
Prang!
Botol minuman keras itu pecah dibanting. Aku, kak Richard, dan kak Nathan hanya bisa terdiam di sudut ruangan sembari melihat Mama yang kini berdebat kasar dengan Papa. Aku melihat semuanya kini. Aku melihat kini Papa menampar pipi Mama dan menjambak rambutnya.
"You're b***h!!" Bentak Papa, dan menampar Mama untuk yang kedua kalinya.
Aku hanya bisa menangis kini. Aku benar-benar takut melihat semua itu dengan mata kepalaku sendiri. Aku dan kedua kakakku benar-benar bingung dengan apa yang harus kami lakukan.
"Papa, sto...
"Shut up!"
Belum selesai aku bicara, Papa sudah membentakku dengan suara lantangnya, membuatku semakin ketakutan.Tak memiliki keberanian lagi. Aku pun hanya terdiam seraya memeluk kedua lututku. Aku masih saja melihat mereka, Papa dan Mama, sosok yang seharusnya kini memelukku agar aku tenang justru malah membuatku semakin takut pada mereka.
Papa kini membentak Mama lagi, dan juga kembali menjambak rambutnya kasar. Ia lalu memukuli Mama dengan tangan kosongnya di depan kami, anak-anaknya.
Dan...
***