"Just stop to do this!" Aku terkekeh sesaat setelah mendengar Papa membentak. Membentak siapa? Tentu saja Jackson.
"Key, this your phone. Thanks for your information," ujar Papa ketika menghampiriku dan mengembalikan handphoneku.
"Yes, daddy!" Balasku.
Aku menatap handphoneku sejenak, lalu kembali terkekeh. Dan di saat yang sama, Jackson datang dengan wajah lesunya, lalu segera duduk di sebelahku. "Bagaimana rasanya dimarahi Papa dan Mama? Apa kamu masih mau menindas orang lagi? Humm?" Ledekku, lalu tertawa kecil.
"Dasar pengadu!" Gerutunya. Aku tertawa. "Kakak sudah bilang kan? Kamu akan rasakan akibatnya!" Ketusku.
Kalian paham kan apa masalahnya? Yap! Jackson baru saja dimarahi habis-habisan oleh Papa karena perlakuan penindasannya pada Vikar. Hari ini, aku memilih berada di rumah Papa, jadi aku pulang kemari, dan sore tadi ketika Papa pulang kerja, aku segera mengadukan hal buruk Jackson pada Papa ketika Jackson sedang pergi ke toilet. Aku menunjukkan fotonya yang tengah menindas Vikar di jalan sepi itu. Ingat kan Ya, aku tunjukkan foto itu pada Papa dan kujelaskan pada Papa bahwa Jackson adalah king bullying yang senantiasa menindas atau membully siapapun yang ia lihat. Sontak, Papa pun marah besar, seusai Jackson keluar dari toilet, tanpa basa-basi ia segera menarik Jackson ke kamarnya dan mengomelinya hingga berjam-jam. Dan hal ini membuatku selalu ingin tertawa. Saat Jackson tengah dimarahi habis-habisan oleh Papa, aku hanya santai menonton acara televisi bersama tante Victor yang sesungguhnya cemas dengan keadaan Jackson, tapi, saat itu juga, aku menjelaskan semuanya tentang Jackson pada tante Victor, dan berhasil membuatnya marah besar. Alhasil, dengan perasaan hati sungguh kesal, ia ikut masuk ke dalam kamar Papa dan juga ikut memarahi Jackson habis-habisan.
Dan aku? Lagi-lagi hanya bisa menahan tawaku.
"Bagaimana rasanya?" Ledekku lagi seraya menggelitik dagunya. Ia menepis tanganku, dan tak menjawab.
Aku masih tertawa kecil. Lantas, kunyalakan handphoneku dan kuperlihatkan foto itu pada Jackson. "Lihat! Ini kamu!" Ujarku seraya menunjuk foto Jackson yang terpotret kaget. Ia lagi-lagi menepis tanganku. Aku tak tinggal diam. Aku semakin membuatnya marah, kudekatkan layar handphoneku ke wajahnya. Sungguh dekat.
"Lihat! Kamu benar-benar jelek!" Ejekku. "Jackson jelek! Jackson jelek!" Ejekku lagi.
Untuk kesekian kalinya, Jackson menepis tanganku, dan aku hanya bisa tertawa melihat tingkah marahnya. Caranya menggerutu dan mengerucutkan bibir sungguh lucu dan selalu berhasil membuatku tertawa.
"Kakak!" Aku menoleh seketika mendengar dua bocah cilik itu memanggil namaku. Aku tersenyum pada mereka. Tau kan siapa? Yap. Daniel dan Ellena. Mereka berdua kini berjalan menghampiriku, lantas mereka duduk tepat di samping kanan dan kiriku. "Kakak Jack kenapa?" tanya Ellena dengan lugunya. Jackson hanya menatapnya sinis. Aku menghela napas panjang. "Daniel, Ellena, ayo ke kamar, udah malam, waktunya tidur, nanti kakak dongengi," ujarku pada kedua bocah cilik tersebut.
Daniel dan Ellena mengangguk, lalu beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mendahuluiku.
"Hei jelek, kamu mau ikut? Humm? Nanti kakak dongengi," ledekku lagi pada Jackson, lalu tertawa.
Aku segera beranjak pergi dari hadapannya yang kini mungkin sungguh merasa kesal. Aku paham dengan keadaan Jackson, dan aku tahu pasti bahwa saat ini ia sangat ingin menyendiri dan mendapatkan suasana tenang, karena itulah aku meninggalkannya. Aku kini masuk ke dalam kamar mereka. Sungguh lucu. Banyak sekali pernak-pernik khas anak-anak, juga ada banyak stiker yang menempel erat di dinding. Mulai dari stiker barbie yang pastinya milik Ellena hingga superman yang pastinya milik Daniel. Aku menutup pintu kamar ini, dan berjalan menuju kearah mereka. Tempat tidur mereka bersebelahan dengan sebuah laci kecil di tengah di sisi atas tempat tidur mereka. Aku kini menyeret sebuah bangku kecil yang ada di kamar itu, lalu kuletakkan di tengah-tengah tempat tidur mereka. Aku lalu mengambil sebuah buku dongeng yang tertata rapi di rak buku dekat lemari pakaian.
"Kalian janji harus tidur ya," ujarku lembut pada mereka. Mereka mengangguk. Aku pun tersenyum, dan perlahan membuka buku dongeng bergambar tersebut.
"Pada suatu hari...
***
Aku membuka pintu sungguh pelan saat aku ingin keluar dari kamar ini. Aku berjalan sedikit mengendap-endap agar tak membuat suara bising sedikit pun dan tak ingin membuat mereka bangun.
Clak!
Aku menutup pintu sungguh pelan hingga suaranya bahkan hanya aku yang bisa dengar. Dan akhirnya, aku pun berhasil keluar dari kamar dua bocah itu. Kini aku bisa bernapas lega. Aku pun berjalan menuju dapur untuk mengambil segelas air yang akan kuminum. Rasanya tenggorokanku sudah kering karena mendongeng sebuah kisah pada mereka selama tiga puluh menit lebih tanpa henti.
"Ahh..." seruku ketika air itu mengalir halus di tenggorokan.
Pesan masuk!
Aku meletakkan gelasku keatas meja makan, lalu aku menatap layar handphoneku yang kugenggam erat di tangan kiri.
21.36
Kak Nathan.
How r u?
Aku mengernyit ketika membaca pesan tersebut. Aku sedikit tak percaya. Apakah ini sungguh kak Nathan? Aku tak menggubris pesan konyol tersebut dan lanjut meminum minumanku. Tapi...
Kurasa aku rindu padanya.
Ngungg...
Aku kembali menatap layar handphoneku yang kini bergetar menandakan ada sebuah panggilan belum terjawab.
Incoming call
Kak Nathan
Aku menghela napas panjang. Ya ampun, tak bisakah dia tak menggangguku saat ini??!! Aku hampir saja menekan ikon berwarna hijau di layar handphoneku, namun aku berubah pikiran hingga akhirnya aku menekan ikon berwarna merah. Ya, aku menolak panggilannya. Aku lanjut meminum minumanku lagi dan sama sekali tak mau menggubris dirinya.
Ngungg...
Aku menghentakkan gelasku kasar ke atas meja makan. Aku sudah sungguh kesal diganggu terus oleh kakakku itu. Aku pun mendengus, lantas secepatnya mengambil handphoneku dan mengangkat panggilan itu. "Say what you want??!!!" bentakku dalam telepon.
"Key?" Aku lagi-lagi mendengus kesal ketika mendengar suara yang sejujurnya sangat kurindukan itu kembali menggema di telingaku.
- Ada apa sih kak?
- Kamu apa kabar?
- Kakak telpon aku cuma mau tanya kabar? Hah?
- Emangnya kakak salah? Kakak cuma tanya.
- Nggak penting tau nggak kak!
Tut... Tut... Tut...
Aku segera memutus panggilan itu dan kembali meletakkan handphoneku di atas meja makan. Aku lalu duduk di salah satu kursinya dan merenung sejenak.
Pesan masuk!
Aku melirik handphoneku sesaat, dan meraihnya.
21.55
Kak Nathan
Kakak mohon maafin kakak
Untuk kesekian kalinya, aku mendengus kesal menahan amarahku. Aku lalu meletakkan lagi handphoneku ke atas meja makan dengan keadaan layar handphone menyentuh meja makan. Aku tak mau lagi melihat handphoneku menyala bertanda ada pesan masuk, panggilan masuk, atau bahkan notif tak penting. Untuk saat ini aku tak mau peduli. Sama sekali tak mau! Aku menyilangkan kedua tanganku di atas meja, dengan perlahan aku meletakkan kepalaku di atas tangan, aku lantas menenggelamkan wajahku dan dengan sadar, aku menangis. Waktu yang tepat saat ini. Syukurlah, Tuhan memberiku kesempatan untuk tidak menangis di depan adik-adikku atau orang tuaku. Aku tak ingin mereka khawatir dan tak ingin mereka bertanya tentang masalah apa yang terjadi. Aku tak mau mereka tahu, terlebih untuk adik-adikku, bahkan Jackson, aku berharap kini mereka semua sudah terlelap nyaman berbalut selimut di ranjang mereka. Ya, aku harap mereka baik-baik saja.
***