"Morning Key," sapa Papa ketika aku duduk di salah satu kursi meja makan.
"Morning dad," balasku.
"Kamu mau nasi goreng atau roti?" timpal tante Victor.
"Roti," balasku. Ia yang duduk di sebrangku pun segera menyiapkan sarapan untukku berupa roti berlapis selai kacang, ia juga menuangkan segelas s**u, dan segera ia berikan padaku. Aku pun menikmati sarapanku itu bersama dengan keluargaku. Oh maaf, maksudku keluarga baru Papa. Aku melirik sekelilingku. Tante Victor yang duduk tepat di sebrangku dan juga tepat di sisi Daniel dan Ellena, sementara Papa duduk di sudut meja Makan, dan Jackson duduk tepat di sebelahku. Aku menatapnya kini, dan ia terlihat melirik-lirik Papa agak takut. Roti lapisnya bahkan sama sekali belum ia gigit, s**u dalam gelasnya juga masih utuh.
"Hari ini Papa akan ke sekolah kamu, dan Papa akan minta guru-guru kamu hukum kamu karena masalah penindasan kamu dengan adik kelas!" di sela makan, Papa tiba-tiba berbicara seraya menatap Jackson. Aku pun ikut menatap Jackson, ia kini hanya bisa tertunduk dan tak berani menatap Papa, sama halnya seperti Vikar yang senantiasa takut menatap mata lelaki b******k itu. Beberapa saat setelahnya, Papa yang tengah menikmati nasi gorengnya menghentakkan sendok ke piring dengan keras. Membuat suasana sedikit menegang.
"Ayo berangkat!"
Ujar Papa. Ia lalu beranjak berdiri dan memakai jas hitamnya yang tadi ia letakkan di sandaran kursi meja makan, ia juga membawa tas kantornya yang sudah di siapkan oleh tante Victor. Sementara aku, Jackson, Daniel, juga Ellena pun segera bersiap. Sejujurnya sarapan kami belum selesai kami makan. Roti Jackson bahkan belum sempat ia jilat. Namun, sepertinya Papa sungguh sedang emosi, dan mungkin Jackson, Daniel, juga Ellena takut dengan sosok Papa kali ini. Tidak dengan aku. Sebenarnya, aku masih ingin duduk di posisiku kini dan menikmati roti lapisku selama yang kumau. Aku tak takut pada Papa. Namun, aku memilih beranjak juga seperti yang lain, bukan karena aku takut, tapi aku tak ingin adik-adikku kena masalah jika aku tak bersama mereka. Aku tak mau Papa melampiaskan amarahnya pada anak-anaknya, aku tak mau ia melakukan sebuah tindakan tercela itu lagi, aku tak mau Papa melakukan k*******n. Aku tak mau Papa seperti dulu.
***
Sesampainya di depan halaman sekolah, kami semua segera turun dari mobil Papa, berpamitan, lalu berjalan menuju area sekolah. Aku sebagai seorang kakak di sini harus menjaga ketiga adik tiriku, terlebih Daniel dan Ellena yang harus kuantar sampai kelas. Namun, sebuah keberuntungan datang menimpaku saat ini, saat di gerbang sekolah, Daniel dan Ellena bertemu dengan temannya yang di antar oleh ibunya, dan mereka pun memilih untuk berjalan bersama menuju kelas. Jadi, aku tak perlu repot mengantar dua bocah itu untuk bisa tiba di kelas, dan aku juga tak perlu khawatir karena ibu dari teman mereka mengatakan padaku akan menjaganya hingga tiba di kelas.
Aku kini hanya berjalan bersama Jackson. Namun sepertinya, ia masih memikirkan masalahnya. Terlihat dari raut wajahnya yang seharusnya tampan menjadi tidak tampan lagi. Wajahnya sungguh datar dan lesu, dan kuyakin itu bukan karena sakit. "Kamu kenapa, Jack?" tanyaku. Ia menghela napas. "Kakak yakin nggak Papa akan kesini untuk minta guruku hukum aku?"
"Yakin!"
Ia hanya mendecit kesal. Di saat yang sama, langkah Jackson terhenti, begitupun aku. Namun, aku tak tahu apa alasannya. Aku hanya menatap Jackson penuh tanya, namun, wajah tampannya lagi-lagi menunjukkan ekspresi yang tidak ingin kulihat. Bukan wajah datar dan lesu lagi, tapi wajah marah dan emosi yang kini ia perlihatkan. Tanpa alasan, ia berlari begitu saja menerobos banyaknya murid yang juga tengah berjalan memasuki area sekolah. Namun, aku hanya berdiri terdiam dalam posisiku, aku terus melihat ke arah Jackson yang sepertinya kini melabrak seorang murid. Aku memicingkan mataku mencoba melihat dengan jelas apa yang dilakukan Jackson di sana. Namun, mataku yang tadinya menyipit karena mencoba melihatnya kini terbelalak lebar, aku benar-benar terkejut. Bagaimana tidak?! Terlihat jelas di sana, Jackson menonjok murid lelaki yang tadi ia labrak. Aku tak tinggal diam. Aku segera berlari menghampiri Jackson yang kini tengah dikerubungi murid-murid lain. Aku menerobos para murid itu, dan kembali melihat Jackson yang kini dengan penuh amarah memukulnya. Siapa? Vikar
"Jackson stop!!" aku berteriak seraya mencoba menahan pukulan Jackson. Namun, ia tetap tak peduli seberapa keras aku teriak. Ia masih saja memukul Vikar sesuka hatinya. Dan Vikar juga tak berani melawan, ia hanya tersungkur dan sesekali menjerit kesakitan.
"Jackson please stop!!!" teriakku lagi. Ia masih tak mau mempedulikan ucapanku. Tangannya masih saja aktif mengepal dan ia hantamkan ke wajah Vikar terus menerus.
Dug!
Karena kesal, aku pun menghantam wajah Jackson dengan tanganku yang kukepal erat sama seperti yang ia lakukan tadi pada Vikar hingga membuat sudut bibir kiri Jackson terluka karena pukulanku. Seketika semuanya sunyi, Jackson pun langsung terdiam dan hanya menatap Vikar sungguh tajam. Aku pun ikut terdiam. Entah harus memihak siapa. Vikar atau Jackson?
Jackson kini menatapku, lalu ia menatap sekeliling yang tak lain adalah para murid yang mengerubunginya sedari tadi. "Kenapa lo semua liat-liat?! Hah?!" bentak Jackson.
Semua terdiam.
"Lo semua punya mulut nggak sih?! Atau lo semua gagu?!" bentaknya lagi.
Ia lalu berjalan menghampiri salah satu murid sebaya Vikar yang terlihat 'culun' dengan rambut disisir rapi, kacamata bulat bertengger di hidungnya, juga baju seragam yang kancingnya ia pasang semua hingga kerah. Jackson menatap lelaki culun itu tajam, lalu tanpa alasan lagi, Jackson menarik kerah bocah itu hingga bocah itu sedikit mendongak. "Heh cupu, lo kenapa liat-liat gua?! Lo mau gua pukul kaya Vikar?!! Hah?!!!" bentak Jackson. Bocah itu menggeleng takut ketika mendengar Jackson berkata seperti itu.
"Jackson stop!!" teriakku lagi. Untuk yang kesekian kalinya, Jackson tak menggubris ucapanku. Ia masih saja berbicara ketus pada bocah culun tersebut.
"Jackson stop!!!"
Percayalah, itu tadi bukan aku yang berteriak. Kini, seluruh murid yang tadi mengerubungi Jackson berlari begitu saja sesaat setelah mendengar suara lantang itu. Mereka semua berlari berhamburan tak tentu arah dan mungkin hanya memikirkan dirinya yang harus selamat. Suasana menjadi sepi sekarang. Hanya ada aku, Jackson, dan Vikar yang masih tersungkur di halaman sekolah. Kamk bertiga menatap ke depan sana. Itu Bu Ratna, guru BP kami yang paling kami segani. Ia kini berjalan dengan tatapan kesal menghampiri Jackson dengan kedua tangannya yang ia lipat di depan d**a.
"Ikut ke ruangan saya!!!" ujar Bu Ratna ketus pada Jackson. Jackson mendengus kesal, lalu dengan berat hati mengikuti perintah Bu Ratna.
Aku menatap Vikar kini, lalu aku berjongkok menjajari posisinya. Aku menatap wajahnya sejenak. Luka ada di mana-mana. Sudut bibir, sudut mata, pelipis, bahkan salah satu lubang hidungnya pun mengeluarkan darah. "Ayo kakak anter ke klinik sekolah," ujarku, lalu memapah tubuh Vikar.
***