Dua minggu setelah malam itu, hidupku benar – benar berubah. Bukan berubah besar, tapi berubah di hal – hal kecil yang ternyata paling berpengaruh.
Aku mulai bisa tidur. Aku mulai bisa makan dengan dua tangan. Aku bahkan sempat pergi ke salon selama satu jam sementara Mas Pras di rumah, dan ketika aku pulang dengan rambut yang sudah dipotong pendek, suamiku memandangiku seperti orang yang baru pertama kali melihat istrinya.
“Kenapa mas?” Tanyaku.
“Nggak apa – apa. Cuma pengen liat aja, boleh kan?” Jawabnya sambil nyengir, dan aku melempar bantal ke arahnya.
Hari itu hari Selasa, dan Mas Pras sedang libur. Kami baru saja selesai makan siang ketika ponselku berdering. Nama Mas Galih muncul di layar.
“Halo mas?”
“Nan” Ucap kakakku, dan hanya dari satu kata itu aku tahu ada sesuatu yang tidak beres. Suaranya berat sekali.
“Kenapa mas? Mbak Ayu kenapa?”
“Dudu. Nan, bapak…” Ia berhenti sebentar. “Bapak wis ora ana, nduk”
Aku memindahkan Nabila ke pangkuan suamiku, lalu berdiri, entah kenapa. “Maksudnya gimana mas?”
“Tadi ada orang dari Cirebon nelpon ke rumah Bude Tita. Katanya bapak meninggal tiga hari yang lalu. Sakit paru – paru, wis suwe katanya” Ucap Mas Galih. “Sing ngurus wong – wong kontrakan sana. Mereka baru nemu nomor bude dari buku catetan bapak”
Aku duduk kembali. Aku ingat sekali bagaimana rasanya saat itu, karena rasanya bukan seperti yang aku bayangkan selama bertahun – tahun.
Selama bertahun – tahun aku pikir kalau suatu hari aku mendengar kabar tentang bapak, aku akan marah. Bapak adalah laki – laki yang pergi begitu saja, meninggalkan ibu dengan tumpukan hutang yang harus kami cicil bertiga sampai bertahun – tahun. Bapak adalah alasan kenapa aku tidak pernah punya masa remaja seperti teman – temanku, kenapa aku harus ikut ibu berjualan sejak SMP, kenapa ibu sakit – sakitan sampai akhir hidupnya.
Tapi ternyata yang aku rasakan bukan marah. Yang aku rasakan adalah kosong. Kosong yang aneh, seperti pintu yang sudah lama kamu tunggu untuk diketuk, lalu tiba – tiba ada orang yang datang dan berkata bahwa pintu itu sudah dibongkar.
“Nan? Kamu masih di situ?” Tanya Mas Galih.
“Iya mas, aku masih di sini” Jawabku. “Kita ke Cirebon ya mas?”
“Yo. Aku sama Harun berangkat sesuk esuk”
“Aku ikut”
Mas Pras yang sejak tadi mendengarkan langsung mengangguk sebelum aku sempat memintanya. Ia menelepon kantornya sore itu juga untuk menukar jadwalnya, dan besok paginya kami berangkat bertiga bersama Nabila.
Perjalanan ke Cirebon hari itu adalah perjalanan paling sunyi yang pernah aku lalui bersama suamiku. Nabila tidur hampir sepanjang jalan, dan Mas Pras beberapa kali menoleh ke arahku tanpa berkata apa – apa, seolah – olah menunggu aku yang bicara duluan.
“Non, kamu nggak apa – apa?” Tanyanya akhirnya, sekitar dua jam setelah kami keluar dari tol.
“Aku bingung mas”
“Bingung kenapa?”
“Bingung harus sedih apa enggak” Jawabku sambil memandang ke luar jendela. “Orang itu bapak aku. Tapi aku bahkan udah lupa suaranya kayak gimana”
Sepanjang perjalanan itu aku menceritakan hal – hal kecil yang tiba – tiba muncul lagi di kepalaku. Aku ingat bapak pernah membelikan aku sepeda bekas warna merah waktu aku kelas dua SD, dan sepeda itu dijual lagi setahun kemudian tanpa aku diberi tahu. Aku ingat bapak pernah menggendongku di bahunya saat menonton wayang di lapangan desa. Dan aku ingat malam terakhir sebelum ia pergi, ketika ibu menangis di dapur dan aku pura – pura tidur supaya tidak perlu ikut menangis.
Kami sampai di Cirebon menjelang sore, dan Mas Harun serta Mas Galih sudah menunggu di depan kantor kelurahan dengan wajah yang sama – sama lelah.
*****
Kontrakan bapak ternyata satu petak kecil di gang sempit belakang pasar. Ada satu ranjang besi, satu lemari plastik, kompor kecil, dan sebuah kursi kayu yang salah satu kakinya diganjal batu bata.
Pemilik kontrakan, seorang ibu paruh baya, menyambut kami dengan wajah tidak enak.
“Maaf ya mbak, mas. Bapaknya emang sakit udah lama. Tapi ndak mau dibawa ke rumah sakit, katanya ndak punya uang” Ucap beliau. “Orangnya baik kok. Suka bantu – bantu bawa karung di pasar. Cuma emang ndak pernah cerita punya anak”
Mas Harun mengangguk tanpa berkata apa – apa. Aku tahu kakakku yang satu itu adalah yang paling keras hatinya soal bapak.
Di dalam lemari plastik itu kami menemukan beberapa helai baju, satu sarung, dan sebuah kotak biskuit kaleng. Aku yang membukanya.
Isinya bukan uang. Isinya kertas.
Ada foto lama keluarga kami, foto yang aku ingat pernah dipajang di ruang tamu rumah kami di desa, dengan bagian pinggirnya yang sudah sobek. Ada beberapa lembar kwitansi cicilan hutang yang sudah menguning. Dan ada tujuh lembar surat yang ditulis tangan, semuanya ditujukan kepada ibu, semuanya tidak pernah dikirim.
Aku membaca yang paling atas. Tulisannya jelek sekali dan banyak salah ejaan.
Bu, aku ndak berani pulang. Aku wis ngrusak urip mu. Nek aku pulang, tambah rusak. Kinan wis gedhe ya bu. Aku pengen ndelok.
Aku tidak sanggup membaca sampai selesai. Mas Harun mengambil surat – surat itu dari tanganku, membacanya sebentar, lalu keluar dari kontrakan tersebut dan berdiri di gang cukup lama sendirian.
Aku menyusulnya beberapa menit kemudian. Kakakku yang paling keras itu berdiri membelakangiku, bahunya naik turun, dan ketika ia berbalik, wajahnya sudah basah semua.
“Nan, mas kesel” Ucapnya. “Mas kesel karo awake dewe”
“Kenapa mas?”
“Mas tau nggak berapa kali mas bilang ke ibu, wis ta bu, wong kaya ngono ora usah diarep – arep” Ucapnya sambil menyeka wajahnya dengan telapak tangan. “Terus saiki mas ngerti, jebule wong kuwi yo ngenteni. Ning kene. Dewekan”
Kami berdiri di gang sempit itu cukup lama, sampai Mas Galih keluar dan menepuk punggung kami berdua.
Ibu pemilik kontrakan kemudian bercerita lebih banyak. Katanya, dua bulan terakhir bapak sudah tidak sanggup bekerja di pasar, jadi ia hanya duduk di depan kamar sambil membetulkan payung dan sandal milik tetangga dengan bayaran seikhlasnya. Katanya juga bapak sering bertanya kepada tukang wartel di ujung gang tentang berapa biaya menelepon ke luar kota, tapi tidak pernah sekalipun benar – benar menelepon.
“Bapaknya pernah bilang sama saya mbak” Ucap ibu itu. “Katanya, saya punya anak perempuan, sekarang mungkin sudah jadi orang. Terus saya tanya, kok ndak ditemuin pak? Bapaknya cuma senyum, terus masuk kamar”
Kami menziarahi makam bapak sore itu juga. Makamnya sederhana, hanya bertanda kayu dengan nama yang ditulis dengan spidol. Mas Galih memimpin doa, Mas Harun membacakan yasin dengan suara yang beberapa kali berhenti, dan aku berdiri di sana sambil menggendong Nabila yang tertidur di dadaku.
Aku sempat berbisik di dalam hati.
‘Pak, ini cucunya bapak. Namanya Nabila. Kinan udah nikah, pak. Suami Kinan baik. Hutang bapak juga udah lunas sejak lama’
Lalu aku menambahkan satu kalimat lagi, kalimat yang selama bertahun – tahun tidak pernah aku sangka akan aku ucapkan.
‘Kinan maafin bapak. Bukan karena bapak pantes dimaafin. Tapi karena Kinan capek marah terus’
Sebelum meninggalkan kontrakan itu, Mas Galih membereskan barang – barang bapak dengan tenang, memasukkan pakaian yang masih layak ke dalam kardus untuk diberikan kepada tetangga sekitar, dan membayar sisa uang sewa yang belum dilunasi.
Aku hanya mengambil dua benda. Foto keluarga yang sudah sobek pinggirnya, dan satu surat yang paling atas tadi.
“Buat apa nan?” Tanya Mas Harun.
“Ndak tau mas” Jawabku jujur. “Cuma pengen aja ada yang aku simpen”
Sekarang foto itu ada di laci meja kamarku, di bawah buku nikah kami, dan surat itu masih di dalam amplop yang sama, masih belum aku baca sampai selesai sampai hari ini.
Malam itu kami menginap di penginapan kecil di dekat sana. Mas Pras memijat kakiku yang bengkak karena kebanyakan berdiri, dan aku menceritakan semua hal tentang bapak yang belum pernah aku ceritakan kepadanya selama kami menikah.
Baru saja aku selesai bercerita, ponsel suamiku berdering. Nama bapak mertuaku muncul di layar. Mas Pras mengangkatnya sambil duduk di tepi ranjang.
“Iya pak. Assalamualaikum”
Aku memperhatikan wajah suamiku berubah dalam hitungan detik.
“Kapan pak? Di rumah sakit mana?” Tanyanya sembari berdiri. “Ya Allah pak, kenapa nggak dari kemarin bapak kasih tau”
Setelah menutup telepon, ia menatapku dengan wajah yang pucat.
“Non, ibu masuk rumah sakit dua hari yang lalu” Ucapnya. “Katanya jatuh di kamar mandi. Tensinya tinggi banget, terus tangan kanannya susah digerakin”