Kami sampai di rumah sakit daerah tempat ibu mertuaku dirawat besok siangnya, setelah menempuh perjalanan darat yang panjang dan hampir tanpa berhenti kecuali untuk mengganti popok Nabila.
Aku ingat betul bagaimana rasanya berjalan di lorong rumah sakit itu. Aku menggendong anakku, dan setiap langkah kakiku terasa berat karena aku tidak tahu akan disambut seperti apa nanti.
Sepanjang perjalanan aku tidak berhenti berpikir. Aku sudah menyiapkan diri untuk kemungkinan bahwa ibu mertuaku akan mengusirku dari kamarnya, atau memalingkan wajah, atau berkata sesuatu yang membuatku ingin pulang saat itu juga. Aku bahkan sempat berkata kepada Mas Pras bahwa mungkin sebaiknya aku dan Nabila menunggu di penginapan saja.
“Non” Ucap suamiku waktu itu, tanpa memalingkan matanya dari jalan. “Kalau kamu nggak siap, nggak apa – apa. Mas nggak bakal maksa”
“Aku siap kok mas. Cuma takut aja”
“Ya udah. Kalau nanti ibu ngomong yang aneh – aneh, kamu bilang sama mas, jangan ditahan sendiri kayak dulu” Jawabnya, dan aku mengangguk.
Bapak mertuaku menunggu di depan ruangan. Beliau memeluk anaknya lama sekali.
“Ibumu wis sadar, cuma isih angel ngomong” Ucap beliau. “Sing tengen durung iso obah. Kata dokter kena stroke ringan, tapi bisa pulih kalau rajin terapi”
“Kejadiane piye pak?” Tanya Mas Pras.
“Bengi kuwi jam loro. Ibumu tangi arep nang jeding” Jawab bapak mertuaku. “Bapak krungu suara gedebug, terus bapak mlayu. Ibumu wis tiba, ora iso ngomong. Untunge tanggane gelem nggawa mobil”
“Kok bisa jam dua pak?”
Bapak mertuaku diam sebentar sebelum menjawab.
“Ibumu kuwi wis pirang – pirang minggu ora iso turu, mas” Ucap beliau. “Saben bengi mesti tangi. Kadang bapak temoni lagi lungguh dewekan ning ruang tengah, ndelokke tembok. Nek ditakoni, jawabe mesti ora ana apa – apa”
Aku dan Mas Pras saling berpandangan, tapi saat itu kami berdua sama – sama belum tahu apa yang sebenarnya membuat wanita itu tidak bisa tidur selama berminggu – minggu.
Kami masuk. Ibu Ratih terbaring di sana dengan selang infus di tangan kirinya, rambutnya yang biasanya selalu tersisir rapi kini acak – acakan, dan wajahnya terlihat jauh lebih tua daripada terakhir kali aku melihatnya.
Wanita yang selama berbulan – bulan membuatku menahan tangis di kamar mandi itu kini terlihat begitu kecil di atas tempat tidur rumah sakit.
“Bu” Ucap Mas Pras sembari menggenggam tangan ibunya.
Ibu Ratih membuka matanya. Beliau melihat anaknya, lalu matanya bergerak ke arahku, dan aku melihat sesuatu yang belum pernah aku lihat sebelumnya di mata beliau.
Malu.
Beliau langsung memalingkan wajahnya ke arah dinding.
“Bu, ini Kinan sama Nabila datang” Ucap Mas Pras.
Tidak ada jawaban.
Aku maju selangkah. “Assalamualaikum bu. Kinan bawain bubur, tadi mampir beli di depan”
Tetap tidak ada jawaban. Bahunya bergerak sedikit, dan aku tahu beliau sedang menahan sesuatu.
Aku tidak memaksa hari itu. Aku hanya meletakkan bubur di meja, membuka jendela supaya udara masuk, lalu duduk di kursi dekat pintu sambil menyusui Nabila diam – diam.
Sore harinya bapak mertuaku dan Mas Pras keluar untuk mengurus administrasi rumah sakit. Tinggal aku, ibu mertuaku, dan Nabila yang tertidur di gendonganku.
Suster masuk untuk mengganti infus dan berkata bahwa pasien harus dibersihkan badannya. Beliau bertanya siapa yang akan membantu, dan tanpa berpikir panjang aku menjawab bahwa aku yang akan melakukannya.
Aku meletakkan Nabila di sofa panjang dengan bantal di kanan kirinya, lalu mengambil baskom kecil berisi air hangat dan waslap.
Ketika aku mulai menyeka lengan kiri beliau, ibu mertuaku menarik tangannya.
“Ndak usah” Ucap beliau dengan suara yang pelo, susah sekali.
“Bu, ndak apa – apa”
“Ibu bilang ndak usah!” Suaranya naik, tapi karena mulutnya masih kaku, kalimat itu keluar setengah – setengah, dan justru itu yang membuat beliau semakin terlihat rapuh.
Aku berhenti sebentar, lalu duduk di kursi di sebelah tempat tidur, sejajar dengan wajah beliau.
“Bu” Ucapku pelan. “Kinan ndak lagi balas dendam kok”
Mata beliau bergerak ke arahku.
“Kinan ke sini bukan buat nunjukin apa – apa ke ibu. Kinan ke sini karena ibu itu ibunya mas Pras. Dan mas Pras suami Kinan” Ucapku. “Kalau ibu ndak mau Kinan yang bersihin, nanti Kinan panggil suster. Tapi kalau ibu ndak keberatan, biar Kinan aja. Ibu ndak usah malu sama Kinan”
Lama sekali beliau tidak menjawab. Lalu tangan kirinya yang tadi menarik diri itu perlahan terbuka.
Aku menyeka lengannya, punggungnya, kakinya, lalu mengganti bajunya dengan daster bersih yang dibawa bapak mertuaku dari rumah. Selama itu tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut kami berdua. Yang terdengar hanya suara air di baskom dan suara napas Nabila yang tidur di sofa.
Ketika aku menyisir rambut beliau, aku merasakan bahu wanita itu bergetar.
“Bu, sakit ya?” Tanyaku panik.
Beliau menggeleng. Lalu air mata jatuh dari sudut matanya, mengalir ke bantal.
“Kinan” Ucap beliau dengan susah payah.
“Iya bu?”
“Ibu ki… wis njahati kowe” Ucapnya, terbata – bata, satu kata butuh satu tarikan napas.
Aku menggenggam tangan kirinya. “Bu, sekarang ibu istirahat dulu. Nanti kalau ibu udah kuat, ibu boleh ngomong apa aja sama Kinan. Sekarang ibu makan dulu, sembuh dulu”
Beliau menutup matanya dan mengangguk sangat pelan.
Malam pertama di rumah sakit itu, aku dan Mas Pras berdebat kecil di lorong soal siapa yang menginap. Suamiku bersikeras aku pulang ke rumah kampung supaya bisa tidur dengan benar bersama Nabila, sementara aku bersikeras tetap tinggal karena ibu mertuaku butuh dibantu ke kamar mandi dan tidak mungkin bapak mertuaku yang mengerjakannya sendirian dengan punggung beliau yang juga sudah sering sakit.
Akhirnya kami berkompromi. Aku tinggal sampai jam sebelas malam, Mas Pras yang menginap, dan aku kembali pagi – pagi sekali sesudah menyusui Nabila.
Selama tiga hari itu aku belajar banyak hal tentang wanita yang selama ini aku takuti. Aku belajar bahwa beliau tidak mau makan bubur kalau tidak ada kerupuknya. Aku belajar bahwa beliau malu sekali kalau harus dibantu ke kamar mandi, sampai beliau lebih memilih menahan daripada memanggil orang. Dan aku belajar bahwa setiap kali dokter datang, beliau akan berpura – pura kuat, mengangkat tangan kanannya sedikit lalu berkata bahwa sudah membaik, padahal setelah dokter pergi beliau akan memijat sendiri lengannya dengan wajah menahan sakit.
“Bu, kalau sakit ya bilang sakit” Ucapku suatu sore.
“Ndak enak” Jawab beliau.
“Sama dokter kok ndak enak?”
Beliau tidak menjawab, hanya memandang jendela. Dan entah kenapa, di detik itu aku merasa aku sedang melihat diriku sendiri beberapa bulan yang lalu, waktu aku menutupi pergelangan tanganku yang membiru dengan lengan baju supaya suamiku tidak bertanya.
Malam itu Nabila menangis sekitar jam sepuluh. Aku buru – buru menggendongnya keluar ruangan supaya tidak mengganggu, tapi ibu mertuaku mengangkat tangan kirinya, memberi isyarat supaya aku tidak keluar.
“Sini” Ucap beliau.
Aku mendekat, dan beliau menggerakkan tangannya lagi ke arah dadanya sendiri.
“Bu, mau gendong?” Tanyaku.
Beliau mengangguk.
Aku meletakkan Nabila di sisi kiri tubuh beliau, menahan kepala anakku dengan tanganku sendiri karena tangan kanan ibu mertuaku belum bisa bergerak. Nabila berhenti menangis hampir seketika.
Dan di situlah, di kamar rumah sakit yang bau obat itu, aku melihat wanita yang dulu mencengkeram pergelangan tanganku sampai membiru kini menangis tanpa suara sambil menempelkan pipinya ke kepala cucunya.
“Jenenge sopo?” Tanya beliau.
“Nabila, bu. Zidny Nabila Adinda”
“Nabila” Ucap beliau pelan, mengulangi nama itu dua tiga kali seperti orang yang sedang menghafal sesuatu supaya tidak lupa.
Mas Pras masuk ke ruangan beberapa menit kemudian dan berhenti di ambang pintu. Ia tidak berkata apa – apa. Ia hanya berdiri di sana cukup lama sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan.
Hari terakhir di rumah sakit, saat aku sedang melipat pakaian beliau ke dalam tas, ibu mertuaku memanggilku dengan suara yang pelan sekali.
“Nduk”
“Iya bu?”
“Nabila kuwi nangise banter ya” Ucap beliau.
“Iya bu, kenceng banget”
“Podo karo bapake” Ucap beliau sambil menatap langit – langit. “Pras kuwi mbiyen nek nangis, satu kampung krungu”
Itu adalah cerita pertama tentang masa kecil suamiku yang pernah beliau ceritakan kepadaku, dan aku mendengarkannya sampai selesai sambil melipat baju dengan sangat lambat supaya beliau tidak berhenti bercerita.
Tiga hari kemudian ibu mertuaku diizinkan pulang ke rumah dengan catatan harus rutin kontrol dan terapi. Kami mengantar beliau, dan saat kami sampai di rumah kampung itu, aku baru menyadari ada sesuatu yang aneh.
Ruang tamu itu kosong. Bukan sepi, tapi kosong.
Lemari kaca yang dulu penuh pajangan sudah tidak ada. Kursi tamu yang dulu berukir juga tidak ada, diganti tikar dan dua kursi plastik. Televisi di ruang tengah hilang, hanya menyisakan mejanya.
Mas Pras berdiri di tengah ruangan itu sambil memandang berkeliling.
“Pak” Ucapnya kepada bapaknya. “Barang – barang rumah ke mana?”
Bapak mertuaku menunduk, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenal beliau, laki – laki itu terlihat tidak tahu harus menjawab apa.