Malam itu kami duduk di ruang tengah rumah kampung yang sudah setengah kosong. Tikar digelar, teh dituang, dan ibu mertuaku duduk bersandar di kursi plastik dengan bantal di punggungnya. Bapak mertuaku duduk di sebelah beliau, sementara aku dan Mas Pras duduk berhadapan dengan mereka. Nabila tidur di kamar, ditemani Mbak Sri yang ikut kami dari Jakarta.
“Pak, bu, saya cuma mau tau” Ucap Mas Pras. “Barang – barangnya dijual, apa gimana?”
Bapak mertuaku menghela napas panjang sekali sebelum menjawab.
“Dijual, mas”
“Buat apa pak? Kalau ibu sakit, tinggal bilang sama saya. Saya kirim”
“Dudu kanggo tombo” Jawab beliau pelan. “Wis suwe, sakdurunge ibumu lara”
Aku melihat ibu mertuaku menunduk dalam – dalam. Tangan kirinya meremas ujung dasternya, dan bibirnya bergerak – gerak seperti orang yang sedang berusaha keras mengeluarkan sesuatu yang tersangkut.
“La..ras” Ucap beliau akhirnya.
Mas Pras menegakkan punggungnya. “Laras kenapa bu?”
Yang menjawab kemudian adalah bapak mertuaku, karena ibu mertuaku sudah tidak sanggup melanjutkan.
Cerita itu ternyata sudah dimulai sejak lama, jauh sebelum aku menikah dengan Mas Pras. Laras datang ke kampung itu sebagai anak yatim yang katanya baru pindah dari kota, rajin ke pengajian, rajin membantu ibu – ibu di masjid, dan yang paling penting, rajin sekali menemani ibu mertuaku ke mana – mana sejak anak semata wayangnya pindah tugas ke Jakarta.
Lalu satu tahun yang lalu Laras menawarkan sesuatu. Katanya ia punya kenalan yang membuka usaha katering besar di kota, dan siapa saja yang menanam modal akan mendapat bagi hasil dua puluh persen setiap bulan. Ibu mertuaku, yang saat itu merasa punya tabungan cukup dan merasa Laras sudah seperti anaknya sendiri, memberikan uang tabungannya.
Bulan pertama, keuntungan itu benar – benar datang. Bulan kedua juga. Bulan ketiga datang, tapi jumlahnya berkurang, dan Laras beralasan bahwa modalnya sedang diputar untuk pesanan besar.
Setelah itu tidak pernah ada lagi.
Ketika ibu mertuaku menagih, Laras menangis di depan beliau, mengatakan bahwa uangnya sedang tertahan, bahwa kalau ditambah sedikit lagi semuanya akan kembali. Dan begitulah seterusnya, sampai lemari kaca dijual, sampai kursi ruang tamu dijual, sampai televisi dijual, sampai cincin dan gelang yang beliau pakai sejak menikah pun ikut dijual.
“Terus sertifikat rumah, pak?” Tanya Mas Pras dengan suara yang sudah bergetar menahan sesuatu.
Bapak mertuaku diam.
“Pak. Sertifikat rumah ini masih ada kan?”
“Digawa Laras, mas. Katanya kanggo jaminan, mengko dibalekke” Jawab beliau.
Mas Pras berdiri, berjalan ke sudut ruangan, lalu berdiri membelakangi kami sambil memegangi tengkuknya sendiri cukup lama. Aku tahu ia sedang menahan diri supaya tidak berkata sesuatu yang nanti akan ia sesali di depan kedua orang tuanya.
“Bu” Ucapku pelan sambil bergeser mendekat ke arah ibu mertuaku. “Waktu ibu ke Jakarta terus minta uang sama Kinan, itu buat Laras juga ya bu?”
Ibu mertuaku mengangguk. Air mata beliau jatuh lagi.
“Ibu ndak berani cerita sama kamu” Ucap beliau terbata. “Ibu isin”
Dan aku ingat betul hari itu. Aku ingat aku memberikan uang dalam jumlah yang tidak sedikit tanpa banyak bertanya, karena aku pikir ibu mertuaku membutuhkannya untuk sesuatu yang penting. Aku ingat aku bahkan sempat berpikir bahwa mungkin ini caraku supaya beliau sedikit lebih menyukaiku.
Ternyata uang itu berakhir di tangan wanita yang beberapa bulan kemudian mendorongku sampai aku dan kandunganku harus masuk rumah sakit.
“Bu” Ucap Mas Pras yang kini kembali duduk. “Waktu itu, alamat rumah kami di Jakarta yang baru, siapa yang ngasih tau Laras?”
Ibu mertuaku menutup wajahnya dengan tangan kirinya.
“Ibu” Ucap beliau lirih. “Ibu sing ngekei. Ibu yo sing ngekei foto mu”
Aku dan Mas Pras saling berpandangan.
Paket itu. Bingkai foto suamiku beserta surat yang isinya seperti surat cinta, yang datang ke rumah kami dari pengirim tanpa nama, yang sempat membuatku curiga kepada semua orang kecuali kepada wanita yang tidur di kamar tamu rumah kami sendiri.
“Laras kandane arep ngirim kado kanggo kowe” Ucap ibu mertuaku. “Ibu ndak tau isinya apa”
Aku menghela napas panjang. Rasanya seperti menemukan potongan terakhir dari puzzle yang sudah berbulan – bulan aku pandangi dengan bingung.
Paket itu masih kami simpan di gudang kecil di bawah tangga rumah kami di Jakarta, di dalam kardus yang sama, karena waktu itu Mas Pras memang berkata bahwa siapa tahu suatu hari benda tersebut dibutuhkan.
“Bu” Ucapku hati – hati. “Waktu ibu ngasih foto itu ke Laras, ibu tau ndak fotonya buat apa?”
“Ora” Jawab beliau sambil menggeleng. “Laras kandane arep digawe kado ulang tahun. Ibu ora curiga blas”
“Ibu inget ndak, fotonya yang mana?”
Ibu mertuaku menyebut satu foto, foto Mas Pras yang sedang berdiri di depan pesawat, foto yang dulu dipajang di ruang tamu rumah kampung. Dan foto itu memang persis foto yang ada di dalam bingkai yang dikirim ke rumah kami oleh pengirim tanpa nama.
Malam itu Mas Pras menelepon Mas Harun dan Mas Galih, dan besok siangnya kedua kakakku sudah sampai di kampung itu bersama suami dari sepupu Mas Pras yang kebetulan bekerja sebagai perangkat desa.
Sore harinya kami berkumpul di balai desa. Perangkat desa itu membuka buku catatan kecilnya, dan satu per satu nama disebutkan. Beberapa orang yang namanya disebut ternyata sudah menunggu di sana sejak sebelum kami datang.
Yang kami dapatkan dari perangkat desa itu membuat kami semua terdiam.
Ibu mertuaku bukan satu – satunya. Ada tujuh nama lain di kampung tersebut yang mengalami hal serupa. Ada janda yang kehilangan uang santunan suaminya, ada guru mengaji yang menjual sawahnya, ada ibu warung yang menyerahkan seluruh modal usahanya. Semuanya dengan cerita yang sama persis, semuanya diminta merahasiakan karena katanya kuotanya terbatas.
Seorang ibu berusia sekitar enam puluh tahun bercerita sambil menangis bahwa uang santunan kematian suaminya, yang ia terima dari pabrik tempat suaminya bekerja selama dua puluh tahun, habis dalam waktu empat bulan. Katanya Laras berjanji uang itu akan berkembang supaya bisa dipakai menyekolahkan cucunya.
Seorang guru mengaji, laki – laki tua yang tangannya sudah gemetar, bercerita bahwa ia menjual sepetak sawah warisan orang tuanya karena ditawari keuntungan yang katanya halal dan diberkahi, lengkap dengan kalimat – kalimat agama yang membuatnya percaya.
Dan ada seorang ibu pemilik warung yang berkata dengan suara datar bahwa ia sekarang berjualan dengan modal pinjaman, dan bahwa ia tidak berani menceritakan hal ini kepada suaminya yang bekerja di luar kota.
Dan yang lebih menyakitkan lagi, semua orang itu diam selama berbulan – bulan karena alasan yang sama dengan ibu mertuaku.
Malu.
Malam itu, setelah semua orang pulang, aku menemukan suamiku duduk sendirian di dapur dengan lampu yang bahkan tidak ia nyalakan. Di depannya ada gelas kopi yang sudah dingin dan tidak disentuh sama sekali.
“Mas?”
“Non” Ucapnya tanpa menoleh. “Mas ini anak macam apa sih”
Aku menarik kursi, duduk di sebelahnya.
“Ibu kehilangan semuanya, dan mas nggak tau apa – apa. Mas cuma tau ngirim uang tiap bulan terus ngerasa udah jadi anak yang baik” Ucapnya. “Terus mas juga mikir, kalau dulu mas nggak ngeyel, kalau dulu mas nurut sama ibu buat nikah sama Laras, mungkin kamu nggak bakal pernah kena apa – apa”
“Mas, jangan gitu”
“Kenapa? Itu bener kan?”
“Enggak” Ucapku sambil menggenggam tangannya. “Kalau mas nikah sama Laras, yang dia rusak bukan cuma ibu. Semua orang di rumah ini bakal kena. Dan yang bakal disalahin nanti tetep aja ibu, karena ibu yang bawa dia ke sini”
Ia menoleh ke arahku.
“Mas, orang jahat itu jahat karena dia milih jahat. Bukan karena ada orang lain yang nolak dia” Ucapku.
Suamiku menghela napas panjang sekali, lalu menyandarkan kepalanya ke bahuku, dan kami duduk seperti itu di dapur gelap itu sampai kopi di depan kami benar – benar dingin.
“Mas” Ucap Mas Harun kepada suamiku sore berikutnya, di teras rumah, dengan suara yang datar tapi tegas. “Sekarang bukan cuma soal adikku lagi. Ini udah soal banyak orang. Kita laporin”
Mas Pras menoleh ke arah ibunya yang duduk di dalam, lalu menoleh kembali kepada kakakku.
“Iya mas. Kita laporin” Jawabnya.
Lalu terjadi sesuatu yang benar – benar tidak aku sangka. Ibu mertuaku, yang beberapa bulan lalu berlutut di depan kedua kakakku supaya Laras tidak dibawa ke polisi, kini menggerakkan tangan kirinya, memukul lengan kursi pelan, dan berkata dengan susah payah.
“Ibu… melu”
“Melu apa bu?” Tanya Mas Pras.
“Melu lapor” Ucap beliau. “Ibu sing paling ngerti. Ibu sing paling bodho”