Proses itu tidak secepat yang aku bayangkan.
Kami membuat laporan di kantor polisi resor dua hari kemudian. Ibu mertuaku datang dengan kursi roda, ditemani bapak mertuaku, dan memberikan keterangan selama hampir dua jam dengan bicara yang masih tersendat. Setiap kali beliau kesulitan mengucapkan satu kata, petugas yang mencatat akan menunggu dengan sabar, dan setiap kali itu pula aku melihat tangan bapak mertuaku mengusap punggung istrinya.
Tujuh korban yang lain akhirnya ikut melapor setelah perangkat desa mengumpulkan mereka di balai desa. Ada yang datang sambil menangis, ada yang datang sambil marah – marah, ada yang awalnya menolak karena takut namanya jadi bahan omongan orang sekampung.
Hari pertama di kantor polisi itu berlangsung dari pagi sampai sore. Kami duduk berjajar di kursi panjang di lorong, sembilan keluarga, dengan map – map berisi kwitansi, buku tabungan, dan potongan kertas perjanjian yang ditulis tangan tanpa materai.
Aku duduk di sebelah ibu pemilik warung yang kemarin bercerita, dan wanita itu berkali – kali bertanya kepadaku apakah ia akan dimarahi petugas karena tidak menyimpan bukti transfer.
“Ndak bu, ibu ndak bakal dimarahi” Jawabku. “Ibu cerita apa adanya aja, nanti bapaknya yang nulis”
Ada satu momen yang membuatku ingin menangis di lorong itu. Ketika giliran ibu mertuaku dipanggil, beliau menolak didorong dengan kursi roda melewati pintu ruangan. Beliau ingin masuk dengan berjalan sendiri, dipapah bapak mertuaku, walaupun untuk menempuh lima langkah saja beliau butuh waktu hampir satu menit.
“Bu, dibantu aja” Ucap Mas Pras.
“Ora” Jawab beliau. “Ibu sing salah. Ibu sing kudu mlebu dewe”
Laras ditangkap sebelas hari kemudian di sebuah kota di Jawa Timur, di sebuah kontrakan yang ia sewa dengan nama orang lain. Sertifikat rumah mertuaku ditemukan di sana, masih utuh, tergadai di sebuah koperasi simpan pinjam yang sekarang juga sedang diperiksa.
Aku tidak ikut saat pemberkasan. Aku memilih tinggal di rumah karena Nabila sedang demam kecil setelah imunisasi, dan sejujurnya, karena aku memang tidak ingin melihat wajah wanita itu lagi.
Tapi Mas Pras ikut, dan malam itu ia pulang dengan wajah yang lelah sekali.
“Dia ngomong apa, mas?” Tanyaku sambil menuangkan air putih.
“Dia bilang dia nggak salah” Jawab Mas Pras sambil duduk. “Katanya dia cuma minjem, katanya nanti dibalikin, katanya semua ini gara – gara aku nolak dia”
Aku terdiam.
“Non” Ucapnya lagi sambil menatapku. “Dia ngaku soal yang di tangga waktu acara tujuh bulanan. Dia bilang dia nggak sengaja”
Aku mengelus perutku sendiri, perut yang sekarang sudah tidak berisi apa – apa lagi karena isinya sekarang sedang tidur di kamar sebelah dengan tangan mengepal di dekat pipinya.
“Kamu percaya nggak sengaja, mas?”
Mas Pras diam cukup lama sebelum menggeleng.
“Ya udah” Ucapku. “Biar polisi yang urus. Aku capek mikirin dia”
“Terus kamu jawab apa mas?” Tanyaku.
“Mas nggak jawab apa – apa” Ucapnya. “Mas cuma bilang satu kalimat, terus mas keluar”
“Kalimat apa?”
“Mas bilang, semua yang kamu tuduhin ke aku itu urusan kamu sama Tuhan. Yang aku urus sekarang cuma satu, istri aku sama sembilan orang yang kamu bikin susah” Jawabnya.
Dan itu benar. Aku benar – benar sudah capek. Selama berbulan – bulan wanita itu mengambil terlalu banyak ruang di kepalaku. Sekarang, kalau ada yang harus mengurusnya, biarlah itu orang yang memang digaji negara untuk mengurusnya.
*****
Hari itu hari Jumat, dan kami sudah bersiap untuk kembali ke Jakarta besok paginya. Sore harinya seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah rumah kampung yang sudah kembali diisi kursi baru yang dibelikan Mas Pras. Ada bapak dan ibu mertuaku, ada kedua kakakku beserta istri mereka, ada Bude Tita yang menyusul dua hari sebelumnya, dan ada Mbak Sri yang menggendong Nabila di pojok ruangan.
Ibu mertuaku meminta bapak mertuaku memindahkan kursinya ke tengah, menghadap kami semua.
“Bu, mau ngapain?” Tanya Mas Pras.
“Meneng sik” Jawab beliau.
Lalu beliau memanggil namaku.
“Kinan”
“Iya bu?” Aku bergeser mendekat.
Yang beliau lakukan selanjutnya membuat seisi ruangan itu terdiam. Ibu mertuaku, dengan tangan kanan yang masih belum bisa digerakkan sempurna, berusaha menggeser tubuhnya dari kursi untuk turun ke lantai.
“Bu! Bu, jangan bu!” Aku langsung menahan bahu beliau, dan Mas Pras melompat dari tempat duduknya.
“Ibu arep njaluk ngapura” Ucap beliau sambil terus berusaha turun.
“Bu, ndak usah gitu. Kinan mohon bu” Ucapku sambil menahan tubuh beliau dengan kedua tanganku. “Ibu masih sakit. Kalau ibu jatuh, Kinan yang dosa”
Akhirnya beliau kembali duduk, walaupun sambil menangis. Dan di situlah, di depan semua orang, wanita yang dulu berkata bahwa aku tidak pantas menjadi menantunya itu berbicara dengan susah payah, satu kalimat butuh beberapa kali tarikan napas.
“Kinan” Ucap beliau. “Ibu wis nyiksa kowe”
“Bu…”
“Ibu ngerti. Ibu ora lali” Ucapnya sambil menggeleng pelan. “Tangan mu tau ibu cengkeram sampai biru. Kowe meteng, ibu kon nyuci gorden. Kowe lara, ibu ora peduli. Ibu luwih percaya wong liya tinimbang mantu ibu dewe”
Ruangan itu benar – benar hening. Aku bisa mendengar suara ayam di halaman belakang.
“Ibu ki wingi rumangsa pinter” Ucap beliau lagi. “Jebule ibu sing paling gampang diapusi. Sing ibu tolak jebule sing ngramut ibu ning rumah sakit. Sing ibu tresnani jebule sing ngentekke omah ibu”
Aku sudah menangis sejak kalimat kedua.
“Ibu ora njaluk kowe lali” Ucap beliau sambil mengulurkan tangan kirinya. “Ibu mung njaluk, nek isih ana sisa ati mu, ibu diijinke dadi mbah e Nabila”
Aku tidak menjawab dengan kata – kata. Aku hanya memeluk beliau, dan untuk pertama kalinya sejak hari pernikahanku, wanita itu balas memelukku dengan satu tangan yang masih bisa beliau gerakkan.
Setelah pelukan itu, Mas Galih yang sejak tadi duduk paling ujung akhirnya bersuara. Kakakku yang paling tua itu memang jarang bicara kalau tidak perlu.
“Bu” Ucapnya. “Saya cuma mau ngomong satu kali, terus ndak bakal saya ungkit lagi”
Semua orang menoleh.
“Waktu Kinan masuk rumah sakit gara – gara didorong Laras, saya ada di situ. Saya lihat sendiri dia pucat di brankar” Ucap Mas Galih. “Waktu itu saya hampir mukul orang, bu. Baru kali itu seumur hidup saya pengen mukul perempuan”
Ibu mertuaku menunduk dalam – dalam.
“Tapi hari ini saya lihat ibu minta maaf di depan semua orang. Itu berat, bu. Nggak semua orang tua sanggup” Lanjutnya. “Jadi dari keluarga kami, sudah, ndak ada dendam. Yang penting sekarang ibu sembuh, terus Kinan jangan disakitin lagi”
“Insya Allah, mas” Jawab ibu mertuaku pelan.
Malam itu kami makan bersama di lantai, beralaskan tikar, karena kursi ruang tamu memang belum semuanya diganti. Bude Tita membawa dua panci masakan dari dapur, dan entah bagaimana ceritanya beliau dan ibu mertuaku akhirnya duduk berdampingan dan mengobrol tentang harga jahe dan kunyit yang katanya sekarang tidak masuk akal.
Aku memperhatikan mereka berdua dari ujung tikar sambil menyuapi Nabila, dan aku sempat berpikir bahwa kalau ada orang asing masuk ke rumah itu malam tersebut, ia tidak akan pernah menyangka apa yang terjadi di antara kami semua selama setahun terakhir.
Sertifikat rumah mertuaku sendiri baru benar – benar kembali ke tangan bapak mertuaku sekitar dua bulan setelahnya, setelah melewati urusan koperasi yang panjang dan melelahkan. Mas Pras yang mengurus semuanya, bolak balik di sela – sela jadwal terbangnya, dan aku ingat betul wajah bapak mertuaku ketika akhirnya memegang map berisi sertifikat itu kembali.
Beliau tidak berkata apa – apa. Beliau hanya duduk di kursi, membuka map itu, membacanya sebentar, lalu menutupnya lagi dan mengusap sampulnya dengan telapak tangan seperti orang yang sedang mengusap punggung anaknya.
Di belakangku aku mendengar Bude Tita terisak, dan aku mendengar suara suamiku yang menarik napas panjang berkali – kali seperti orang yang sedang menahan tangis di depan mertuanya sendiri.
“Bu” Ucapku setelah kami melepas pelukan itu. “Kinan ndak pernah minta ibu jadi ibu yang manis. Kinan cuma pengen punya ibu”
“Nduk” Ucap beliau, dan itu adalah pertama kalinya wanita itu memanggilku dengan sebutan tersebut.
Malam itu Mas Pras menawarkan sesuatu yang sudah kami bicarakan berdua beberapa hari sebelumnya.
“Pak, bu” Ucapnya. “Ikut kami ke Jakarta ya. Terapi ibu di sana lebih gampang, rumah sakitnya deket. Kamar bawah masih kosong”
Bapak mertuaku melirik istrinya. Ibu mertuaku menggeleng.
“Ngrepoti” Ucap beliau.
“Bu” Ucapku cepat. “Kalau ibu ndak ikut, nanti Nabila ndak ada yang gendong kalau Kinan lagi masak”
Ibu mertuaku memandangku lama sekali. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenal beliau, wanita itu tertawa. Tawanya masih miring karena mulutnya belum pulih benar, tapi itu tetap tawa.
“Wong iki” Ucap beliau. “Pinter ngomong”