Rumah kami di Jakarta berubah total sejak hari itu.
Kamar tamu di lantai bawah, kamar yang dulu ditempati ibu mertuaku bersama Laras, sekarang menjadi kamar bapak dan ibu mertuaku. Kami memasang pegangan besi di kamar mandi, mengganti lantai kamar mandi dengan yang tidak licin, dan membeli kursi khusus supaya beliau bisa mandi dengan aman.
Tiga kali seminggu ibu mertuaku terapi di rumah sakit. Mas Pras yang mengantar kalau sedang libur, dan aku yang mengantar kalau suamiku sedang terbang. Selama dua bulan pertama, aku hafal betul rute rumah sakit itu sampai ke jalan tikusnya.
Minggu pertama adalah minggu yang paling canggung. Aku dan ibu mertuaku sama – sama tidak tahu harus bersikap bagaimana, seperti dua orang yang baru berbaikan tapi belum tahu apakah boleh bercanda atau belum.
Ada satu kejadian di hari kelima yang tidak akan aku lupakan. Pagi itu aku sedang menjemur pakaian di belakang, dan ibu mertuaku, yang saat itu duduk di kursinya dekat pintu dapur, tiba – tiba berkata dengan nada yang sangat aku kenal.
“Njemure ojo ngono, mengko lecek”
Aku berhenti bergerak. Selama beberapa detik ruangan itu terasa dingin sekali, dan aku bisa merasakan tanganku mulai gemetar seperti dulu.
Lalu terjadi sesuatu yang tidak pernah aku bayangkan.
Ibu mertuaku menutup mulutnya sendiri dengan tangan kirinya.
“Astaghfirullah” Ucap beliau. “Nduk, ibu ora ngono maksude”
“Ndak apa – apa bu” Jawabku cepat.
“Apa – apa” Ucap beliau sambil menggeleng. “Ibu ki wis puluhan tahun ngomong kaya ngono. Angel ilange. Nek ibu keceplosan maneh, kowe kandhani ibu ya. Ojo meneng”
Sejak hari itu, setiap kali beliau keceplosan, aku benar – benar menegur beliau, dan setiap kali itu pula beliau akan berhenti, menarik napas, lalu mengganti kalimatnya sendiri. Kadang – kadang hasilnya lucu sekali, misalnya beliau pernah berkata bahwa sayurku terlalu asin, lalu buru – buru menambahkan bahwa mungkin lidah beliau yang sedang aneh karena obat.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam, tentu saja. Ada hari – hari di mana ibu mertuaku marah – marah karena tangannya tidak kunjung bisa memegang sendok dengan benar. Ada hari di mana beliau menolak makan dan menyuruh kami semua keluar dari kamarnya. Ada juga hari di mana beliau menangis diam – diam karena merasa menjadi beban.
Tapi ada juga hari – hari lain.
Ada hari di mana aku masuk ke ruang tengah dan menemukan beliau sedang mengajari Mbak Sri membuat sambal goreng ati dengan cara memerintah dari kursi karena tangannya belum kuat mengulek.
Ada hari di mana aku terbangun jam lima pagi dan mendapati Nabila sudah tidak ada di boxnya, dan ternyata anak itu sedang tidur di pangkuan neneknya di ruang tengah sementara neneknya menonton acara pengajian pagi.
Dan ada satu pagi yang tidak akan pernah aku lupakan, ketika ibu mertuaku memanggilku ke kamarnya lalu menyerahkan sebuah kotak kecil.
“Iki cincin ibu” Ucap beliau. “Sing durung ke dol”
“Bu, ini ibu simpen aja”
“Ibu ora butuh” Ucapnya sambil menggeleng. “Sing dibutuhke ibu wis ana ning kene”
Terapi tiga kali seminggu itu juga bukan hal yang mudah. Aku hafal betul bagaimana wajah ibu mertuaku setiap kali fisioterapis meminta beliau meremas bola karet kecil selama sepuluh menit. Beliau akan mengerutkan kening, menggigit bibir, lalu setelah lima menit beliau akan berkata bahwa alat itu rusak.
“Bu, bolanya nggak rusak” Ucapku sambil menahan tawa.
“Rusak. Keras banget iki”
“Minggu lalu ibu bilang kekenyalan”
“Yo saiki keras” Jawab beliau ngotot, dan fisioterapisnya sampai menahan senyum di belakang meja.
Tapi beliau tidak pernah sekalipun minta pulang lebih cepat. Beliau selalu menyelesaikan sesi itu sampai habis, dan setiap kali kami pulang beliau akan bertanya hal yang sama kepadaku di dalam mobil.
“Nduk, menurutmu ibu iso mari ora?”
“Bisa bu. Tapi ndak bisa cepet”
“Yo wis. Sing penting iso” Jawab beliau sambil memandang ke luar jendela.
Sementara itu, hidupku sendiri pelan – pelan mulai kembali.
Semuanya dimulai dari Salsa, teman kantorku dulu, yang tiba – tiba menelepon di suatu siang.
“Nan, lo masih bisa bikin deck presentasi nggak?” Tanyanya tanpa basa basi.
“Salsa, gue udah resign hampir setahun”
“Gue nggak nanya lo masih kerja apa enggak. Gue nanya lo masih bisa apa enggak” Ucapnya. “Ada client kecil, budget nggak gede, tapi kerjaannya bisa dari rumah. Lo mau nggak?”
Aku sempat menolak dua kali karena takut tidak sanggup. Tapi malam itu aku menceritakannya kepada Mas Pras, dan suamiku justru menatapku dengan mata berbinar.
“Ambil, non”
“Tapi Nabila gimana mas?”
“Nabila ada mbak Sri, ada ibu, ada bapak, ada aku kalau lagi di rumah” Jawabnya. “Non, kamu tuh dulu kerja bukan karena butuh uang doang kan? Kamu seneng kerja. Mas liat sendiri dulu kamu presentasi sampai malem terus pulangnya masih ketawa – ketawa”
Akhirnya aku mengambilnya. Satu proyek kecil, dikerjakan di meja makan setelah Nabila tidur, dengan laptop tua yang sudah setahun tidak aku sentuh.
Presentasi pertamaku setelah setahun berhenti bekerja dilakukan lewat panggilan video dari kamar atas, dengan latar belakang lemari yang sengaja aku tutupi kain supaya tidak terlihat tumpukan popok di dalamnya.
Lima menit sebelum mulai, Nabila menangis. Sepuluh menit setelah mulai, aku mendengar suara ibu mertuaku dari bawah yang berteriak memanggil Mbak Sri, dan lima belas menit setelah mulai, pintu kamar terbuka dan seorang bayi digendong masuk oleh neneknya sendiri karena tidak mau berhenti menangis kalau tidak melihat ibunya.
Aku sudah pasrah, jujur saja. Aku sudah membayangkan client itu akan berpikir bahwa aku tidak profesional.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Client itu, seorang ibu juga, malah tertawa dan meminta aku memperlihatkan anakku ke kamera.
“Nggak apa – apa mbak, saya juga dulu gitu” Ucapnya. “Malah saya lebih percaya sama orang yang kerjanya sambil ngurus anak. Biasanya lebih on time”
Proyek pertama selesai, lalu datang proyek kedua. Client kedua merekomendasikan aku ke temannya. Enam bulan kemudian aku sudah punya tiga client tetap, dan Caca yang sedang bosan dengan kantornya ikut bergabung mengerjakan bagian desain.
Kami tidak menyewa kantor. Kami hanya membuat satu ruangan kecil di lantai atas rumahku, dengan dua meja dan satu papan tulis, dan papan tulis itu setiap dua minggu sekali dicoret – coret Nabila kalau kami lengah.
“Bu, ini kerja apa main?” Tanya ibu mertuaku suatu sore, saat melihat aku dan Caca tertawa terbahak – bahak di depan laptop.
“Kerja bu” Jawabku.
“Kok ketawa terus”
“Ya kan biar ndak stress bu” Jawab Caca, dan ibu mertuaku menggeleng – geleng sambil pergi ke dapur, tapi setengah jam kemudian beliau kembali membawa dua gelas teh hangat untuk kami berdua.
Ada satu hal lagi yang berubah di rumah kami, dan ini yang paling tidak aku duga.
Ibu mertuaku mulai masuk dapur lagi.
Awalnya beliau hanya duduk di kursi sambil memberi perintah kepada Mbak Sri. Lalu beliau mulai memegang pisau dengan tangan kiri, yang hasilnya berantakan sekali di minggu – minggu pertama. Lalu beliau mulai bisa mengiris bawang, walaupun tebal – tebal, dan setiap kali ada yang berkomentar beliau akan berkata bahwa bawang tebal itu justru lebih terasa.
Suatu sore beliau memanggilku ke dapur dengan nada yang serius sekali.
“Nduk, rene sik”
“Kenapa bu?”
“Kowe iso masak rendang ora?”
“Ndak bisa bu”
“Yo wis” Ucap beliau sambil mengangguk puas. “Ibu ajari. Sing iso masak rendang ning omah iki kudu ana loro. Nek ibu sing mati sik, mengko Pras ora kelangan rendang”
Aku hampir menangis di dapur sore itu, dan yang membuatku menahan tangis justru karena beliau mengucapkannya dengan wajah datar seolah – olah sedang membicarakan jadwal mencuci.
Sejak hari itu, setiap dua minggu sekali kami masak rendang berdua. Beliau yang memberi perintah, aku yang mengaduk, dan Mbak Sri yang menjadi juri rasa karena menurut ibu mertuaku lidah beliau sendiri sudah tidak bisa dipercaya sejak sakit.
Dan Nabila, anak itu tumbuh terlalu cepat.
Sebulan sebelum ulang tahunnya yang pertama, ia berdiri sendiri sambil berpegangan pada meja ruang tengah. Dua minggu setelah itu, ia melepas pegangannya dan melangkah tiga langkah ke arah neneknya yang duduk di kursi.
Aku menjerit. Mbak Sri menjerit. Ibu mertuaku menangis. Dan yang paling kacau adalah suamiku, karena hari itu ia sedang di Balikpapan dan kami melakukan panggilan video, dan aku bisa mendengar suara laki – laki dewasa berteriak di kamar hotel sampai kacamata hitam di sebelahnya terjatuh.
“NON! ULANGIN! ULANGIN!” Teriaknya dari layar.
“Mas, ini anak jalan, bukan video yang bisa di rewind” Jawabku sambil tertawa.