Ulang tahun pertama Nabila kami rayakan sederhana di rumah, hanya dengan keluarga inti, Caca, Salsa, dan beberapa tetangga komplek. Ibu mertuaku bersikeras memasak sendiri nasi kuningnya, walaupun akhirnya yang mengulek tetap Mbak Sri dan beliau hanya duduk memberi perintah dari kursi seperti seorang mandor.
Dua hari setelah ulang tahun itu, Mas Pras pulang membawa amplop cokelat.
“Non, kamu sama Nabila ikut mas terbang ya minggu depan”
Aku mengerutkan kening. “Ikut gimana maksudnya?”
“Ya ikut. Jadi penumpang. Jakarta Denpasar, nginep dua malem, terus pulang” Ucapnya sambil menyerahkan amplop itu kepadaku. “Mas udah urus semuanya. Ibu sama bapak juga mas ajak, tapi ibu nggak mau naik pesawat, katanya takut. Ya udah mereka di rumah sama mbak Sri”
Aku memandangi tiket di tanganku, lalu memandangi suamiku.
Selama menikah dengan seorang pilot, aku sudah puluhan kali mengantar dan menjemput laki – laki ini ke bandara. Aku hafal seragamnya, aku hafal jadwalnya, aku hafal berapa lama ia harus tidur sebelum terbang malam. Tapi sepanjang pernikahan kami, aku belum pernah sekalipun duduk di dalam pesawat yang ia terbangkan.
“Mas, aku deg – degan” Ucapku.
“Kenapa? Kan aku yang bawa”
“Ya itu masalahnya” Jawabku, dan ia langsung melempar bantal ke arahku.
Malam sebelum berangkat, rumah kami heboh sekali. Ibu mertuaku ikut mengawasi aku berkemas dari kursinya, dan setiap kali aku memasukkan satu barang, beliau akan menambahkan dua barang lain.
“Bawa minyak telon”
“Udah bu”
“Bawa jaket sing tebel. Ning pesawat kuwi adem”
“Udah bu”
“Bawa beras sithik”
“Bu, kita ke Bali, bukan ngungsi” Ucapku, dan Mbak Sri yang sedang melipat baju di sudut kamar sampai terbatuk karena menahan tawa.
Beliau juga berkali – kali menolak diajak ikut, dengan alasan yang berubah – ubah setiap kali ditanya. Pertama katanya kakinya belum kuat. Kedua katanya tidak ada yang menjaga rumah. Ketiga, dan ini yang paling jujur, katanya beliau takut pesawat.
“Bu, kan yang bawa anak ibu sendiri” Ucapku.
“Yo malah kuwi sing marai ibu wedi” Jawab beliau, dan aku tertawa sampai sakit perut.
Hari itu akhirnya datang. Kami berangkat pagi – pagi sekali. Nabila memakai gaun kecil berwarna biru muda dengan topi rajut yang dibelikan neneknya, dan sepanjang jalan menuju bandara anak itu tidak berhenti menunjuk apapun yang bergerak di luar jendela mobil sambil berkata satu – satunya kata yang paling ia hafal.
“Papa!”
“Iya sayang, papa mau kerja” Ucapku.
Di bandara, Mas Pras berpisah dari kami di depan pintu masuk karena ia harus masuk lebih dulu melalui jalur crew. Sebelum pergi, ia berjongkok, mencium pipi anaknya, lalu berdiri dan mencium keningku di depan banyak orang.
“Sampai ketemu di atas, non” Ucapnya, lalu ia berjalan pergi dengan koper kecilnya, dengan seragam yang selalu membuat orang – orang menoleh.
Aku dan Nabila naik ke pesawat seperti penumpang biasa. Kami duduk di deretan depan, dekat jendela, dan aku menghabiskan sepuluh menit pertama untuk menjelaskan kepada bayi berusia satu tahun bahwa yang di luar itu namanya sayap dan bahwa ia tidak boleh menendang kursi di depannya.
Lalu terdengar suara dari pengeras suara kabin. Suara yang aku kenal betul, tapi kali ini terdengar berbeda karena ada nada resmi yang jarang aku dengar di rumah.
“Selamat pagi bapak dan ibu, saya Prasetyo, kapten penerbangan Anda hari ini. Kita akan terbang menuju Denpasar dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam empat puluh lima menit. Cuaca di Denpasar cerah”
Aku menunduk dan tersenyum sendiri sampai penumpang di sebelahku melirik heran.
Lalu suara itu berlanjut.
“Dan hari ini ada dua penumpang yang sangat spesial di penerbangan saya. Yang satu ulang tahunnya baru lewat dua hari, namanya Nabila. Yang satu lagi ibunya, yang sudah setahun ini nggak pernah tidur lebih dari empat jam gara – gara Nabila. Terima kasih ya, non”
Beberapa penumpang tertawa kecil. Seorang ibu di seberang lorong menoleh ke arahku dan tersenyum lebar, dan aku, yang seharusnya sudah cukup dewasa untuk tidak menangis di dalam pesawat, justru menyeka mataku dengan tisu penerbangan.
Sepuluh menit pertama sama sekali tidak mulus. Ketika pesawat mulai naik, Nabila menangis kencang sekali sambil memegangi telinganya, dan aku panik karena aku tidak tahu harus berbuat apa.
Seorang pramugari datang, berjongkok di samping kursiku, dan berbicara dengan tenang.
“Bu, disusuin aja atau dikasih dot. Gerakan nelen bantu telinganya nggak sakit” Ucapnya.
Aku menuruti saran itu, dan benar saja, dalam waktu kurang dari dua menit anakku berhenti menangis.
Pramugari itu tersenyum, lalu berkata sesuatu yang membuatku ikut tersenyum sampai ke Denpasar.
“Ibu tenang aja, hari ini pesawatnya dibawa sama orang yang paling nggak mau ibu sama anaknya kenapa – kenapa”
Setelah itu penerbangan berjalan mulus. Nabila tidur sepanjang jalan. Dan ketika roda pesawat itu menyentuh landasan di Denpasar, aku menyadari sesuatu yang aneh.
Aku sama sekali tidak takut. Padahal aku selalu takut naik pesawat.
Ketika kami mendarat, ada hal kecil yang membuatku tersenyum sepanjang hari. Saat penumpang mulai berdiri, ibu yang duduk di seberang lorong tadi menoleh ke arahku sambil menunjuk pengeras suara di atas.
“Itu suami ibu ya yang tadi ngomong?”
“Iya bu” Jawabku, dan entah kenapa hari itu aku menjawabnya dengan bangga sekali, padahal biasanya aku selalu menjawab pertanyaan seperti itu seadanya.
“Wah, enak ya bu. Diumumin satu pesawat” Ucapnya sambil tertawa. “Suami saya boro – boro, disuruh beliin obat aja lupa”
Kami menunggu di dekat pintu keluar sampai semua penumpang turun. Lalu pintu kokpit terbuka, dan suamiku keluar dengan topi di kepalanya, dan tanpa aku minta ia langsung mengambil Nabila dari gendonganku.
Aku berdiri di sana, memandangi laki – laki itu, dan yang keluar dari mulutku adalah kalimat yang sejak tadi sudah aku siapkan di kepala.
“Hello, captain”
Ia tertawa. Tawa yang lepas sekali, sampai pramugari yang berdiri di dekat pintu ikut tersenyum.
“Hello juga, non” Jawabnya.
Dua hari di Bali itu adalah dua hari yang paling santai dalam hidupku selama setahun terakhir.
Kami tidak ke mana – mana yang jauh. Pagi hari kami hanya turun ke pantai di depan hotel, dan Mas Pras menghabiskan hampir satu jam untuk mengenalkan pasir kepada anaknya, yang berakhir dengan Nabila memasukkan pasir itu ke mulutnya dan aku berteriak dari kursi.
Siangnya kami tidur bertiga di kamar dengan tirai tertutup, dan sorenya kami keluar makan seafood di pinggir jalan, bukan di restoran mahal, karena menurut suamiku makanan paling enak di kota manapun selalu ada di tempat yang kursinya plastik.
“Mas, kamu tuh pilot loh” Ucapku sambil menunjuk kursi plastik kami.
“Terus kenapa? Pilot juga makan sambel” Jawabnya sambil mengunyah.
Sebelum keluar dari pesawat sore itu, ada satu hal lagi yang terjadi.
Setelah kabin benar – benar kosong, seorang pramugari senior memanggilku dan mempersilakan aku serta Nabila masuk sebentar ke ruang kokpit selagi pesawat sedang parkir. Katanya boleh, asal cepat dan tidak menyentuh apapun.
Aku berdiri di ambang pintu kokpit itu sambil menggendong anakku, memandangi ratusan tombol dan layar yang bagiku sama sekali tidak masuk akal, lalu memandangi laki – laki yang selama ini setiap hari duduk di antara benda – benda itu.
“Mas, kamu ngerti semua ini?” Tanyaku.
“Ya ngerti dong, kan kerjaan mas”
“Aku ngerti tombol setrika aja kadang salah”
Ia tertawa keras sekali sampai co pilotnya ikut tertawa. Lalu ia mengambil Nabila dari gendonganku, mendudukkan anak itu di pangkuannya sebentar, dan meminta co pilotnya memotret kami bertiga.
Foto itu sekarang dicetak besar dan dipajang di ruang tengah rumah kami, dan setiap kali ada tamu datang, ibu mertuaku pasti akan menunjuk foto tersebut lalu berkata bahwa itu cucunya yang sedang belajar menerbangkan pesawat.
Malam itu, di balkon hotel yang menghadap ke pantai, setelah Nabila tidur, kami duduk berdua dengan dua gelas teh hangat.
“Mas” Ucapku.
“Hm?”
“Kamu inget nggak, dulu sebelum kita nikah kamu pernah nembak aku, terus aku bilang jawabannya nanti aja setelah kita nikah?”
Mas Pras menoleh. “Inget banget. Mas sampai nggak bisa tidur waktu itu”
“Waktu itu aku bukan nggak mau jawab” Ucapku. “Aku cuma takut jawabannya jadi bohong. Aku takut aku bilang cinta cuma karena aku ngerasa harus, bukan karena aku emang cinta”
Ia diam, menunggu.
“Sekarang aku mau ngomong sekali lagi, biar jelas” Ucapku sambil menatap laki – laki itu. “Aku dulu nikah sama kamu karena permintaan ibu. Sekarang aku sama kamu karena aku sendiri yang mau. Itu dua hal yang beda banget, mas”
Cukup lama ia tidak menjawab. Lalu ia menggenggam tanganku, menciumnya, dan berkata dengan suara yang serak.
“Makasih ya non, udah mau tinggal”