Setahun setengah setelah itu, banyak hal terjadi.
Persidangan Laras selesai pada bulan kedelapan. Ia dinyatakan bersalah atas penipuan dan penggelapan terhadap sembilan orang korban, dan dijatuhi hukuman penjara beberapa tahun. Sertifikat rumah mertuaku kembali, walaupun uang yang lain tidak pernah benar – benar kembali utuh.
Aku tidak datang saat putusan dibacakan. Yang datang Mas Pras dan Mas Harun.
Tiga bulan setelah putusan itu, ada sepucuk surat yang sampai ke rumah kami. Tulisannya rapi sekali, dan di bagian pengirim tertulis nama yang selama bertahun – tahun membuat dadaku sesak setiap kali aku membacanya.
Aku membaca surat itu di ruang tengah, ditemani suamiku.
Isinya panjang. Ada bagian yang meminta maaf, ada bagian yang masih menyalahkan orang lain, ada bagian yang menceritakan bahwa ia sekarang ikut kegiatan menjahit di dalam sana. Di bagian akhir ia menulis bahwa ia berharap suatu hari bisa bertemu ibu Ratih lagi untuk meminta maaf secara langsung.
“Kamu mau bales, non?” Tanya Mas Pras.
Aku melipat surat itu kembali, memasukkannya ke dalam amplop, lalu memberikannya kepada suamiku.
“Ndak” Jawabku. “Tapi aku juga ndak mau buang. Simpen aja mas. Kalau suatu hari dia beneran berubah, biar dia tau kita ndak buang suratnya”
Ibu mertuaku, yang saat itu sedang duduk di kursinya dengan Nabila di pangkuan, ikut mendengarkan tanpa berkata apa – apa. Beberapa hari kemudian beliau berkata kepadaku di dapur, sambil memotong kacang panjang dengan tangan kirinya yang kini sudah jauh lebih terampil daripada tangan kanannya.
“Nduk, ibu ki durung iso maafke Laras”
“Ndak apa – apa bu”
“Tapi ibu wis ora nesu” Ucap beliau. “Ibu mung sedih. Kok ana wong sing pinter ngapusi wong tuwa kaya ngono”
Aku memeluk beliau dari samping, dan kami melanjutkan memotong sayur.
*****
Bulan Desember tahun itu, kami datang ke pernikahan Mbak Erin dan Cahyo di sebuah gedung di Jakarta Selatan. Mas Pras memakai batik, aku memakai kebaya, dan Nabila memakai gaun kecil yang membuatnya diminta foto oleh hampir semua ibu – ibu yang lewat.
Mbak Erin terlihat cantik sekali hari itu. Ketika kami naik ke pelaminan untuk memberi selamat, wanita itu memelukku cukup lama.
“Makasih ya nan, udah dateng”
“Ya jelas dateng lah mbak”
“Aku seneng banget kamu dateng” Ucapnya, lalu ia melirik suamiku dan Cahyo yang sedang berjabat tangan sambil tertawa. “Eh, aku boleh ngomong sesuatu nggak?”
“Boleh”
“Untung ya dulu aku nggak jadi jawab” Ucapnya sambil tertawa. “Coba kalau jadi, aku sekarang nggak bakal berdiri di sini”
Aku ikut tertawa, dan hari itu aku pulang dengan perasaan lega yang aneh, seperti orang yang baru saja menutup pintu terakhir yang selama ini masih menganga sedikit.
Tangan kanan ibu mertuaku sekarang sudah bisa digerakkan walaupun belum sempurna. Beliau sudah bisa berjalan sendiri dengan tongkat, sudah bisa makan tanpa dibantu, dan yang paling penting bagi beliau sendiri, sudah bisa memegang cucunya tanpa harus ditopang orang lain.
Bapak mertuaku bolak balik antara kampung dan Jakarta karena sawah di sana tidak bisa ditinggal. Setiap kali beliau datang, beliau selalu membawa dua karung beras dan satu kardus buah, dan setiap kali itu pula Mas Pras akan protes bahwa di Jakarta juga ada beras, dan setiap kali itu pula bapaknya akan menjawab bahwa beras Jakarta rasanya beda.
Nabila sekarang sudah dua tahun setengah, dan dia adalah anak yang paling berisik di komplek kami. Kata pertamanya papa, kata keduanya mbah, dan kata ketiganya baru ibu, dan sampai sekarang aku masih sering menagih hal itu kepada suamiku sebagai bahan bercanda.
Usaha kecilku bersama Caca sekarang punya empat orang tim, tiga di antaranya bekerja dari rumah masing – masing. Salsa masih di kantor lamanya, tapi ia rajin sekali melempar client kepada kami, katanya supaya nanti kalau ia resign ada tempat menampung.
Dan Mas Pras, ia masih tetap terbang seperti dulu. Masih tetap membawakanku bunga setiap kali pulang dari rute yang jauh, walaupun sekarang bunganya sering rusak duluan karena diperebutkan anaknya.
Lebaran tahun ini kami pulang ke kampung, dan ada satu hal yang terjadi di sana yang tidak pernah aku minta dan tidak pernah aku bayangkan.
Hari kedua lebaran, ibu mertuaku meminta Mas Pras mengantar kami ke desa tempat aku dilahirkan, dua jam perjalanan dari rumah beliau. Katanya beliau ingin berziarah.
“Ziarah ke mana bu?” Tanya Mas Pras.
“Makame ibune Kinan” Jawab beliau.
Aku menoleh cepat sekali sampai leherku sakit.
Jadilah sore itu kami berdiri di pemakaman desa, di depan makam ibuku yang batu nisannya sudah agak miring karena tanahnya turun. Mas Galih dan Mas Harun sudah menunggu di sana bersama keluarga mereka.
Ibu mertuaku dipapah bapak mertuaku sampai ke tepi makam, lalu beliau minta didudukkan di atas tikar kecil yang kami bawa. Beliau membaca surat pendek dengan suara pelan, dan setelah itu beliau berbicara, bukan kepada kami, tapi kepada makam di depan beliau.
“Bu Tatih, kula nyuwun pangapunten”
Aku menutup mulutku dengan tangan.
“Anak sampeyan sing sampeyan titipke marang anak kula, wis kula sakiti bola – bali” Ucap beliau. “Kula rumangsa pinter, jebule kula sing bodho. Sakniki mpun sae, bu. Kula janji, sakwise niki kula rawat kaya anak kula piyambak”
Bude Tita yang berdiri di sebelahku langsung menangis kencang sampai harus dipapah. Aku sendiri tidak sanggup berkata apa – apa. Aku hanya berjongkok di sebelah ibu mertuaku, memeluk bahu beliau, dan kami berdua duduk di sana sampai matahari hampir terbenam.
Empat bulan yang lalu, kami mengetahui bahwa Nabila akan punya adik.
Aku ingat bagaimana wajah suamiku ketika aku menunjukkan alat tes itu di kamar mandi. Ia diam dulu sekitar lima detik, lalu mengangkat tubuhku sampai kepalaku hampir menyentuh langit – langit kamar mandi, dan setelah itu ia langsung berlari ke bawah untuk memberi tahu ibunya.
Kontrol pertama kehamilan kedua ini kami lakukan bertiga, karena Nabila menolak ditinggal di rumah. Anak itu duduk di pangkuan ayahnya sepanjang pemeriksaan sambil menunjuk – nunjuk layar USG dan berkata bahwa itu adalah ikan.
“Bukan ikan sayang, itu adek” Ucapku.
“Ikan” Jawabnya keras kepala.
“Ya udah, adek ikan” Ucap Mas Pras, dan dokternya sampai tertawa.
Yang berbeda kali ini adalah, aku tidak takut sama sekali.
Karena kali ini, di rumah ini, ada terlalu banyak tangan yang akan menyambut anak itu.
*****
Malam ini aku duduk di teras rumah kami. Nabila sudah tidur, ibu dan bapak mertuaku sudah masuk kamar, dan Mbak Sri sedang menonton sinetron di ruang belakang. Mas Pras sedang dalam penerbangan pulang dari Kuala Lumpur, dan menurut aplikasi yang selalu aku buka diam – diam, pesawatnya akan mendarat sekitar satu jam lagi.
Aku memandangi langit Jakarta yang tidak pernah benar – benar gelap, dan seperti biasa, pikiranku kembali ke satu malam bertahun – tahun yang lalu, di teras rumah kami di desa, saat seorang wanita dengan kaki bengkak berkata kepada anak perempuannya dengan suara yang sudah lemah.
Kinan, menikahlah dengan Pras. Dia akan bertanggung jawab atas hidupmu.
Waktu itu aku marah sekali. Aku merasa dijual. Aku merasa ibuku lebih percaya kepada laki – laki yang bahkan tidak pernah tinggal di rumah kami dibanding kepada anaknya sendiri yang sudah bekerja membanting tulang bertahun – tahun untuk melunasi hutang bapak.
Sekarang, setelah semuanya, aku mengerti bahwa ibu tidak pernah menjual aku kepada siapapun.
Ibu hanya sedang melakukan hal terakhir yang bisa dilakukan seorang ibu yang tahu waktunya tinggal sedikit. Ibu tidak sedang memilihkan aku suami. Ibu sedang memilihkan aku tempat pulang.
Dan ternyata ibu benar.
Bukan karena laki – laki itu pilot, bukan karena rumahnya besar, bukan karena seragamnya bagus. Tapi karena setiap kali hidupku hancur berkeping – keping, laki – laki itu tidak pernah sekalipun berdiri di seberang, menonton. Ia selalu berdiri di sebelahku, dengan wajah panik, kadang salah langkah, kadang salah cara, tapi selalu ada di sebelahku.
Ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang namanya aku simpan dengan sebutan Mas Pras Captain.
Non, udah landing. Empat puluh menit lagi sampai rumah. Jangan tidur dulu ya, mas bawain martabak.
Aku tersenyum, membalas pesan itu dengan satu kata, lalu berdiri untuk memanaskan air.
Dan malam itu, seperti ratusan malam sebelumnya, aku menunggu di teras rumah kami sampai lampu mobil itu belok masuk ke halaman, dan sampai laki – laki berseragam itu turun sambil membawa kotak martabak di tangan kanannya.
“Hello, captain” Ucapku.
“Hello juga, non” Jawabnya.
TAMAT