“Pa, Ma, aku mau pamit dulu ‘ya!” ujar Kevin.
“Mau kemana kamu? Bawa tas besar segala lagi,” tanya Risa dengan sinisnya.
Kevin pun terdiam, “Biar papa yang jelasin,” ujar Feri.
Feri pun mulai menjelaskan, “Jadi gini, Ma. Sebenarnya Kevin mau pergi liburan ke rumah Bi Iyem di kampung!”
“Mau ngapain?”
Feri menatap ke arah Kevin, seakan menunjukkan untuk Kevin yang Menjelaskan lebih lanjut.
“Aku mau pergi, ka-karena aku mau nyari pemandangan aja, Ma!” ujar Kevin.
“Tumben? Nggak biasanya kamu seperti ini, biasanya kamu diajak liburan bareng mama sama Papa aja nggak mau, selalu aja mikirin pekerjaan! Ini kok malah kamu mau pergi yang nggak jelas di kampung gitu?” jelas Risa yang penasaran.
“Sesekali lah, Ma. Biarin Kevin istirahat dulu dari pekerjaannya, lagian ‘kan ada papa yang bisa handle perusahaan sementara waktu!” bela Feri terhadap anak semata wayangnya itu.
“Kayaknya ada yang kamu sembunyiin dari mama, Papa juga ngapain selalu belain Kevin gitu, sih? Ada yang aneh dari kalian berdua!”
“Nggak ada apa-apa, Ma! Aku cuma butuh suasana yang tenang jauh dari keramaian, itu aja kok!”
“Tapi mama khawatir sama kamu, di kampung itu pasti ‘kan lingkungannya kotor, terus makanannya nggak higienis, kalo kamu sakit gimana?”
“Mama tenang aja, aku bisa jaga diriku baik-baik kok, lagian di sana juga ada saudaranya Bi Iyem yang akan jagain aku, Mama jangan khawatir lagi ‘ya! Aku ini ‘kan udah besar, aku bisa jaga diri,” jelas Kevin.
“Padahal sebenarnya aku cuma mau menghindari paksaan Mama yang selalu ingin menjodohkan aku dengan Sintya, sudah cukup aku selalu memenuhi keinginan Mama kecuali yang ini!” batin Kevin.
“Udahlah Ma, ijinin aja! Lagian Kevin juga nggak lama kok!” desah Feri.
“Iya, Ma! Aku juga pasti aman kok di sana, iya ‘kan, Bi?” tanya Kevin pada pembantunya itu yang sudah merawatnya sedari kecil.
“Iya Nyonya, di kampung saya itu semuanya aman, di sana orangnya baik-baik, saya juga sudah nyuruh saudara saya buat jagain den Kevin!” ujar Iyem.
“ya udah, mama ijinin, tapi kamu harus selalu kabarin mama! Harus pokoknya ‘ya!” Risa yang khawatir terjadi sesuatu pada anak kesayangannya itu.
“Makasih ‘ya, Ma. Mama emang yang terbaik deh!” ujar Kevin.
Sebenarnya di dalam hati, Risa tidak mengijinkan Kevin pergi, tapi apalah daya, dia yang selalu menuruti semua keinginan anaknya itu, tidak tega untuk menolaknya.
“Kamu hati-hati ‘ya!” peluk Risa.
“Aduh, Ma. Kayak mau ditinggal sama Kevin kemana aja, nanti juga Kevin beberapa hari lagi pulang, Ma!” ejek Feri.
“Biarin!”
“Aku pergi dulu ‘ya, Ma!” pamit Kevin.
Kevin pun menaiki mobilnya itu dan bergegas pergi dari rumahnya itu, “Akhirnya aku bisa pergi juga dari rumah dan terbebas dari Sintya yang genit itu!”
Kevin langsung menginjakkan gas mobilnya dan melaju ke arah kampung Bi Iyem yang letaknya jauh dari rumahnya, yaitu sekitar 7 jam.
Ketika memasuki kawasan kampung, Kevin merasakan udara segar di sana. Hamparan sawah dan gunung-gunung menjulang tinggi, membuat Kevin merasa senang berada di sana karena biasanya dia hidup di kota yang selalu banyak keramaian dan hanya melihat padatan mobil yang begitu banyak. Sesampainya di rumah saudara Bi Iyem, “Ini pasti den Kevin ‘ya?” tanya seseorang,
Kevin tersenyum tipis, “Iya.”
“Kenalin, Den saya pak Sigit, saudaranya Iyem!” ujarnya.
“Si Iyem udah cerita sama saya, kalau aden mau main ke kampung ini, tapi maaf ‘ya Den, rumahnya sempit, nggak kayak punya Aden di kota!” jelas Sigit.
“Iya, nggak apa-apa kok, Pak.”
“Saya panggil Mas Kevin aja ‘ya biar enak manggilnya,” ujar Sigit.
“Iya, terserah bapak mau manggil saya apa! manggil nama aja juga boleh kok!”
Sigit tersenyum tipis, “Mas Kevin mau jalan-jalan di sekitar sini? Atau mau istirahat dulu?”
“Saya istirahat dulu deh, capek soalnya ‘kan saya nyetir sendiri dari Jakarta. Jalan-jalannya nanti sorean aja!” ujar Kevin.
“Baiklah, kalau begitu saya tinggal dulu, kamarnya ada di sebelah sana yang paling ujung!” tunjuk Sigit pada Kevin.
Kevin pun masuk ke dalam kamarnya, dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, “Baru beberapa jam aku di sini rasanya nyaman, tenang, meskipun di sini serba sederhana tanpa kemewahan, sebenarnya aku lebih suka suasana seperti ini daripada hidup mewah tetapi selalu tidak tenang,” batinnya. Lama-kelamaan matanya pun terpejam karena kelelahan.
Sesaat kemudian, Kevin terbangun. Tubuhnya terasa lebih segar, dia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 5 sore.
“Tumben banget aku tidur nyenyak gini!” batin Kevin.
Kevin pun beranjak keluar dari kamarnya, dia melangkah ke teras rumah yang dipenuhi oleh pepohonan yang rindang. Dia menghirup napas dalam-dalam, hingga napasnya terasa begitu segar.
Kevin berjalan mengelilingi kampung yang sedang di tempatinya itu, tak sengaja dia melihat segerombolan wanita gadis yang berjalan berlawanan arah dengan dirinya, mereka semua memakai pakaian tertutup beserta hijab yang disematkan di kepala mereka.
Ketika berpapasan dengan Kevin mereka semua tertunduk, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Apakah ada yang salah denganku sampai mereka tidak mau memandangku?” ucap Kevin dalam hatinya, yang penasaran melihat sikap wanita-wanita aneh itu karena biasanya semua wanita ketika melihat wajah Kevin akan ternganga, terkagum-kagum dengan ketampanannya.
Kevin ‘tak menghiraukannnya, dia berjalan kembali untuk terus melihat keindahan di desa ini. Kemudian, dia mendapati sebuah bangunan yang terdapat banyak anak-anak kecil hingga orang tua di sana sedang mengaji. Meskipun Kevin berbeda agama dengan mereka, dia tau kalau mereka semua sedang membaca kitab yang diagungkan mereka.
Hari sudah hampir senja, Kevin masih berjalan-jalan. Niat hati ingin beristirahat sejenak di sebuah warung, “Bu, saya mau teh hangatnya satu!” ucapnya ada seorang penjaga warung.
“Warungnya sudah mau tutup!” jawabnya.
“Lho, ini ‘kan masih sore, kok sudah mau tutup?” penasaran Kevin,
“Ngapunten nggih Mas, niki sampun waktune maghrib (Maaf ‘ya Mas, ini sudah masuk waktu Maghrib)!” ucap penjaga warung.
Karena tidak mengerti bahasanya Kevin hanya garuk-garuk kepala tidak paham apa yang dikatakan ibu tersebut, “Maaf Bu, saya nggak ngerti bahasa Jawa!”
“Oh maaf Mas, tak kira mas-nya orang sini. Jadi, warungnya harus tutup karena sudah masuk waktu maghrib! Kalau mau beli nanti aja setelah sholat ‘ya?” ujar penjaga warung.
“Oh, baiklah kalau begitu!”
Akhirnya Kevin beranjak pergi dan bergegas pulang kembali ke rumah mang Ujang. Dia sangat kagum dengan orang-orang di sini yang begitu tepat dalam menjalankan ibadah tanpa memikirkan uang atau harta dunia.
Sesampainya di rumah, “Aden dari mana aja? Saya dari tadi nyariin, takutnya nyasar lagi! Den Kevin ‘kan belum tahu betul daerah sini!” cemas Sigit.
“Maaf, Pak saya nggak bilang dulu tadi! saya jalan-jalan sekitar sini aja, kok!”
“Alhamdulillah, kalau begitu! Saya mau ke masjid dulu, mau sholat! Lain kali kalau butuh sesuatu bilang saya aja ‘ya! ” ucap Sigit, dia sudah tahu kalau Kevin berbeda agama dengannya jadi, dia sengaja tidak mengajaknya.
Kevin hanya mengangguk, dan pergi masuk ke dalam kamarnya. Ketika mendengar suara adzan, Kevin termenung seketika. Dia mendengarkannya dengan seksama seakan ingin sekali mengetahui maksud dari kata-kata yang indah itu. Sebenarnya Kevin sudah begitu lama mempunyai rasa penasaran dengan yang namanya agama Islam, tapi dia selalu disibukkan dengan pekerjaannya, hingga dia tidak memperdulikan rasa penasarannya itu.