Kevin semakin mempunyai rasa penasaran yang dalam terhadap warga pedesaan di sini, mereka semua mempunyai kebiasaan yang aneh tidak seperti orang-orang yang ada di kota.
“Pak, saya mau tanya! orang-orang di sini pada kenapa ‘ya? Kok terasa aneh gitu menurut saya?” tanya penasaran Kevin.
“Aneh gimana maksudnya, Den?”
“Orang di sini masih hidup dengan mengedepankan adat-istiadat dan agamanya yang menurut saya, itu jarang orang kota lakukan!” jelas Kevin.
“Oh ... itu! Kalau itu sudah biasa Den, mungkin karena Aden baru masuk kampung sini dan terbiasa hidup di kota,” ujar Sigit.
Kevin hanya mengangguk, karena apa yang dibilang sigit memang benar, meskipun sebenarnya dia masih penasaran dengan orang di sini yang hidupnya selalu memikirkan ibadah, tidak tergiur sedikitpun oleh hal-hal kekayaan.
***
Suara adzan maghrib kembali terdengar, Kevin merasa perasaan yang berbeda ketika mendengar suara adzan. Perasaanya campur aduk tidak karuan, “Perasaan apa ini? setiap mendengar suara adzan aku selalu merasakan hal yang berbeda,” batin Kevin di dalam hatinya yang selalu bergejolak.
Akhirnya, Kevin keluar dari rumah dan berjalan menyusuri desa yang sedang ditempatinya itu. Dia melihat banyak orang berbondong-bondong memasuki masjid untuk melakukan sholat berjama’ah.
“Apa yang mereka dapatkan dengan sholat?” tanyanya lirih.
Kemudian seseorang menjawab pertanyaan Kevin tersebut, “Ketenangan dan kepuasan hati,” celetuknya.
Kevin kaget karena ada yang mendengar pertanyaannya, padahal dia sudah sangat pelan ketika mengucapkannya. Kevin takut kalau perkataannya tadi akan membuat orang-orang yang beragama Islam tersebut marah karena sudah menyinggungnya.
Kevin memberanikan diri mendekati orang tersebut, “Maksudnya bagaimana, pak?” tanyanya penasaran.
“Sholat bagi orang Islam tidak hanya untuk menyembah kepada Tuhan-Nya, yaitu Allah Swt., tetapi juga sebagai pengaduan masalah manusia segari-sehari sehingga manusia itu merasakan ketenangan dan kepuasan tersendiri setelahnya,” jawab orang tersebut dengan pakaian baju koko putih dan bersarung itu.
“Apakah dengan mereka menceritakan semua masalahnya, mereka akan menemukan solusinya?” kevin kembali bertanya.
“Kita lanjutkan nanti ‘ya? Saya mau Sholat dulu!” ucapnya sambil meninggalkan Kevin.
Kevin yang semakin penasaran lebih dalam terhadap Islam, dia akhirnya menunggu orang tadi jauh di depan masjid. Dia melihat orang yang tadi berbicara dengannya menjadi imam bagi yang lainnya. Kevin menganggap bahwa dia adalah orang yang disegani di kampung ini.
Pada saat Kevin sedang duduk termenung di sebuah gubuk kecil depan masjid, ada seorang wanita yang berjalan tergesa-gesa dan ingin menuju masjid. Dan tidak sengaja, sajadah miliknya terjatuh di depan Kevin.
Kevin memanggilnya, “Ini sajadahnya jatuh ....” teriak Kevin.
Wanita tersebut berhenti melangkah dan menoleh ke arah Kevin, “Oh iya, terima kasih,” ucap wanita tersebut sambil menundukkan wajahnya.
Kemudian, wanita tersebut bergegas kembali menuju masjid. Kevin yang baru saja ingin berkenalan dengannya pun, mengurungkan niatnya. “Baru aja mau aku ajak kenalan, udah kabur aja tuh cewek!” lirihnya.
“Dia kenapa nunduk gitu ‘ya? apa wajah aku semenyeramkan itu, sampai dia tidak mau menatap wajahku?” ujar Kevin dalam hatinya.
Kevin kembali memikirkan wanita yang tadi, “Siapa ‘ya tadi namanya? mana aku nggak begitu jelas lihat wajahnya lagi!
“Duh ... Ngapain aku jadi mikirin dia sih?” desisnya dalam hati.
Kevin masih berdiam diri menunggu kedatangan sosok pria paruh baya tadi, dia juga belum sempat bertanya siapa namanya. Beberapa menit kemudian Sigit datang menghampiri Kevin, “Loh, Mas Kevin kok di sini?” tanyanya.
“Iya, lagi nyari udara segar aja!” jawabnya.
“Ini udah malam loh, nanti kedinginan!” canda Sigit sambil tertawa.Lelaki yang ditunggu Kevin pun akhirnya datang, “Pak Sigit!” sapanya pada Sigit.
“Eh, Pak Ustadz!” jawab Sigit.
“Loh, kok eseh nang kene? (Loh, kok masih di sini?)” tanya pria yang disebut ustadz tadi sambil menunjuk ke arah Kevin.
“Ini, anak majikan Iyem yang di kota, pak! Jadi, dia nggak bisa bahasa Jawa,” ujar Sigit.
“Oh iya, maaf. Mas ... siapa namanya?” tanya Ustadz tersebut.
“Kevin.”
“Mas Kevin kok masih di sini?”
“Iya, saya dari tadi nungguin Bapak?” jawab Kevin.
“Nungguin saya? ada apa?”
“Saya masih penasaran dengan jawaban bapak yang tadi!” celetuk Kevin.
Sigit yang tidak tahu menahu tentang pembicaraan mereka hanya terdiam.
“Oh yang tadi ... Ehm, gimana kalau lanjut besok sore saja mas? kita ketemu di masjid ini, soalnya setelah ini saya mau ngajar ngaji anak-anak. Kalau besok ‘kan jadi bisa lebih leluasa gitu!” jelasnya.
“Pak Ustadz sama Mas Kevin ini udah kenal?” tanya Sigit yang kebingungan dari tadi.
“Sudah tadi pas saya mau ke masjid tidak sengaja bertemu di sini!” ucap Ustadz tersebut.
“Boleh Pak, kalau begitu besok sore saya ke sini lagi!” ujar Kevin.
“Kalau begitu, saya pamit dulu. Assalamualaiakum ....” pamitnya meninggalkan Kevin dan juga Sigit yang masih berdiam diri.
“Waalaikumsalam,” hanya Sigit yang menjawab karena Kevin tidak terbiasa dengan ucapan-ucapan seperti itu.
“Mas Kevin, bicara apa sama Pak Ustadz tadi?” tanya Sigit yang mulai penasaran.
“Nggak apa-apa kok, pak. Cuma ngobrol biasa aja!” jawab Kevin dengan santai.
***
Sesampainya di rumah, Kevin membaringkan badannya. Tiba-tiba dia teringat dengan wanita yang tadi sempat ditemuinya. Dia semakin penasaran dengan wanita tersebut, akhirnya Kevin berniat untuk mencari tahu siapa sosok wanita itu.
Keesokan harinya, setelah sarapan Kevin langsung bergegas pergi keluar rumah.
“Mas Kevin mau kemana? ini masih pagi loh!” tanya Sigit.
“Mau lihat pemandangan, pak. Sepertinya enak kalo lihat yang hijau-hijau pagi-pagi gini!” ucap Kevin. Padahal tujuan utamanya adalah untuk mencari tau sososk wanita yang tadi malam ditemuinya, dia hanya mencari alasan agar leluasa keluar rumah.
“Mau saya temanin?” Sigit menawarkan diri.
“Tidak usah, Pak. takut menganggu pekerjaan bapak, bapak ‘kan harus ke sawah setelah ini!” ujar Kevin.
“Lagian saya udah paham kok, jalan-jalan di sekitar sini!” lanjutnya.
Sigit mengangguk, “Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ‘ya mas!”
Setelah beberapa saat Kevin berkeliling desa, tetapi dia juga tak kunjung menemukan wanita yang dia cari.
“Kenapa ‘ya aku ngebet banget nyari tuh cewek?” batin Kevin.
“Sebelumnya belum pernah aku sepenasaran ini sama cewek!” lanjutnya.
Sambil merenung, Kevin duduk di sebuah kursi di pinggiran sawah. Dia sangat menikmati keindahan hamparan gunung dan sawah.
Tiba-tiba, Kevin melihat sesosok perempuan yang mirip dengan perempuan yang sedang dia cari. Kevin ingin memanggil, tetapi dia tidak tahu namanya.
“Itu bener kayaknya deh, cewek yang semalam!” ujar Kevin.
“Panggil nggak ‘ya? tapi aku nggak tau namanya?” desis Kevin. Dia bingung hendak memanggilanya atau tidak, jika tidak memanggilnya dia akan semakin penasaran.
“Mbak ... mbak ....” Kevin memberanikan diri untuk memanggilnya.
Perempuan itu tidak menoleh, justru mempercepat jalannya.
“Mbak ....” Kevin berteriak lagi.
Tetapi perempuan itu terus mempercepat langkahnya.
“Kok aneh sih, emang aku ada tampang kayak penjahat apa? aku panggil-panggil dia malah lari!” kesal Kevin.