"Ishani, tolong bantu papa dan mama. Tolong lunasi hutang kami, Ishani." Nerru, mama Ishani, memohon kepada putrinya.
Ishani menggelengkan kepalanya. "Ishani akan lunasi hutang kalian, tapi tidak dengan menjual Ishani."
"Kami tidak menjual kamu Ishani. Kami menikahkan kamu." kali ini Kemal, papa Ishani yang berucap.
Lagi-lagi Ishani menggelengkan kepalanya. "Sama saja kalian menjual Ishani pada lelaki tua itu."
"Kamu menikah dengan anaknya, bukan dengan pak Sakir." ucap Nerru, lembut.
"Ishani gak mau, pokoknya Ishani gak mau." tolak Ishani. Gadis itu benar-benar marah dengan kedua orang tuanya. Bagaimana mungkin kedua orang tuanya itu memaksanya menikah dengan laki-laki yang bahkan Ishani tak pernah melihatnya sekalipun apalagi mengenalnya. Dan dia dipaksa menikah dengan lelaki itu demi melunasi hutang keluarganya. Dikira Ishani barang kali ah?
Tampa memperdulikan kedua orang tuanya lagi. Ishani mengambil tas selempang berwarna merahnya dan berjalan keluar dari rumah yang bagaikan neraka menurut Ishani.
Mobil BMW berwarna merah menyala itu tepat berhenti didepan sebuah club malam. Ishani keluar dari mobil itu, kemudian berjalan memasuki club malam itu.
Dentuman musik yang keras adalah hal yang pertama kali didengar oleh Ishani saat memasuki club itu. Bau alkohol mulai memasuki rongga pernapasannya. Banyaknya wanita berpakaian minim berkeliaran didekatnya dan ada juga para p****************g yang mulai memperhatikannya dengan tatapan lapar. Ishani merinding saat melihat tatapan-tatapan itu. Sejujurnya ini pertama kalinya Ishani menginjakan kakiknya ditempat terkutuk itu. Jika bukan karena masalahnya yang amat rumit, jangan harap Ishani menginjakan kakinya ketempat terkutuk ini.
Ishani mendudukan bokongnya disalah satu kursi yang berada didekat meja bar. Tangan Ishani terulur mengambil sebotol wine. Mungkin karena terlalu pusing dengan masalahnya, Ishani sampai tak sadar menghabiskan setengah botol wine itu.
Kepala Ishani mulai terasa berdenyut, padangannya terlihat buram. Ishani memegangi kepalanya yang terasa sakit.
"Apa anda baik-baik saja?" samar-samar Ishani mendengar suara seorang pria yang bertanya kepadanya. Belum sempat Ishani menjawab, kepalanya semakin pusing hingga perlahan pandangannya mulai menghitam dan Ishani tidak tau apa yang selanjutnya terjadi.
*****
Mentari mulai menampakan dirinya. Didalam sebuah kamar, nampak seorang gadis tengah tidur dengan nyenyak berlilitkan sebuah selimut tebal. Gadis itu menggeliatkan tubuhnya saat silaunya cahaya matahari mengenai matanya.
Perlahan mata itu mulai terbuka. Hal pertama kali yang dilihatnya adalah langit-langit kamar yang berwarna putih. Tunggu, putih? Seingat gadis itu langit-langit kamarnya berwarna biru muda.
Gadis itu yang tak lain adalah Ishani, memijat kepalanya. Rasa pusing dikepalanya membuat gadis itu mengingat kejadian semalam.
Mabuk? Bukankah seingatnya semalam dia mabuk? Lalu siapa yang membawanya kedalam kamar ini? Apa jangan-jangan dia dibawa oleh p****************g? Lalu menidurinya?
Ishani langsung menyibak selimut tebal itu. Ishani dapat bernapas lega saat melihat pakaiannya masih lengkap ditubuhnya. Walau begitu Ishani masih sedikit takut. Tidak mungkin kan orang mabuk berjalan sendiri kekamar ini?
Ishani menuruni ranjang. Didalam kamar itu tak ada seorang pun, hanya dirinya saja. Ishani berjalan menuju kamar mandi, untuk sekedar membersihkan tubuhnya dan menghilangkan bau alkohol yang terasa menyengat di indera penciumannya.
Setelah selesai Ishani keluar dari dalam kamar mandi. Ishani masih memakai pakaian yang kemaren dia pakai, karena memang Ishani tidak mandi.
Mata Ishani membulat sempurna saat melihat seorang pria tampan dengan tubuh kekar dan tinggi tengah duduk diatas ranjang sambil menatap kearahnya dengan tatapan tajamnya.
"Lo...lo siapa?" Ishani bertanya gelagapan. Gadis itu sungguh takut dengan sosok pria tampan didepannya ini.
"Sudah selesai mabuknya nona? Mau saya antar pulang?"
Ishani meringis saat mendengar suara dingin nan datar itu. Dalam hati dia bertanya-tanya, siapa gerangan pria didepannya ini?
"Tidak usah banyak tanya. Kamu mau pulang atau makan terlebih dahulu?"
Whatttt, apakah lelaki didepannya ini cenayang. Kenapa dia bisa tau pikiran Ishani?
"Saya bukan cenayang."
Tuhkan, pria didepannya ini tau lagi isi pikiran Ishani. Fix, pria didepannya ini emang cenayang.
"Cepat ikut saya. Atau anda sengaja ingin berlama-lama dikamar saya?"
Ishani menggelengkan kepalanya dengan cepat. Siapa juga yang ingin berlama-lama dikamar ini, pemilik kamar ini benar-benar menyeramkan. Ishani berharap dia tak lagi bertemu dengan pria yang tengah menatapnya datar ini.
*****
Ishani masuk kedalam rumahnya. Gadis itu baru saja sampai saat jam menunjukan pukul 10 pagi. Tadi, sebelum Ishani diantar oleh lelaki menyeramkan itu, mereka berdua singgah kesebuah restoran dulu untuk makan. Sebenarnya Ishani menolak ajakan pria itu, Ishani tidak ingin berlama-lama dengan sosok pria yang menurutnya menyeramkan itu. Satu mobil dengannya saja Ishani benar-benar takut. Tapi perut Ishani tidak bisa diajak kerja sama, perutnya berbunyi minta diisi. Dan mau tak mau akhirnya Ishani menerima ajakan makan dari lelaki menyeramkan itu.
"Dari mana saja kamu?"
Ishani memutar bola matanya jengah. Gadis itu tak memperdulikan pertanyaan dari sang papa. Ishani memilih melangkahkan kakinya meninggalkan ruang tamu.
"Ishani, besok pak Sakir kerumah. Tolong pikirin lagi Ishani."
"Jika kamu menolak maka rumah beserta isinya akan disita pak Sakir, dan kita akan tinggal gelandangan di jalan. Jika kamu tidak ingin itu terjadi, terima saja Ishani. Lagi pula usiamu sudah 23 tahun, sudah cukup umur untuk bekeluarga."
Ishani terdiam. Gadis itu memikirkan perkataan mamanya tadi. Semarah apapun dirinya, Ishani tak akan tega melihat kedua orang tuanya gelandangan.
Setetes cairan bening keluar dari kedua mata Ishani. Gadis itu segera menghapusnya agar kedua orang tuanya tidak melihatnya.
"Mungkinkah dia memang jodohku Tuhan?"