Pagi ini, dikediaman keluarga Madan, keluarga mereka sudah heboh dengan kedatangan seorang pengusaha yang terkenal di Indonesia dan Asia, Sakir Arora.
"Jadi, apa keputusan putrimu?" Sakir bertanya begitu tenang kepada Kemal dan Nerru, kedua orang tua Ishani.
"Maaf tuan Sakir, kami tidak bisa mengambil keputusan. Ishani lah yang berhak menjawabnya." jawab Kemal, sambil melirik kearah istri dan anaknya yang duduk didekatnya.
Pandangan Sakir beralih kepada Ishani. Membuat gadis itu menjadi gugup. "Jadi, apa keputusanmu nona Nareta?" tanya Sakir lembut.
"Saya menerimanya." jawaban tegas yang keluar dari mulut Ishani membuat kedua orang tuanya tersenyum lega, begitupun dengan Sakir, akhirnya dia akan memiliki menantu.
Malam tadi Ishani sudah memikirkannya dengan matang-matang. Dia tidak perduli dengan perasaannya, yang penting dia ingin kedua orang tuanya bahagia. Walau iya yang tersakiti.
"Terima kasih atas jawabannya nyonya Nareta, saya dan keluarga akan menunggumu sebagai menantu Arora." Sakir berpamitan kepada Kemal, Nerru, dan Ishani. Pria paruh baya itu melenggang dengan penuh wibawa, keluar dari rumah kediaman Madan.
Nerru memeluk Ishani dengan berlinang air mata. "Terima kasih sayang, mama bahagia." Ishani membalas pelukan hangat mamanya. Ada ketenangan dalam hatinya, melihat kedua orang tuanya yang terlihat bahagia.
"Kamu jangan khawatir Ishani. Putra Sakir orang yang baik, dia tampan dan Kaya." Ishani hanya menganggukan kepalanya mendengar ucapan papanya. Gadis itu segera melepaskan pelukan sang mama, dan berjalan menaiki anak tangga untuk sampai kekamarnya.
Brakkk
Ishani membanting pintu kamarnya dengan cukup keras. Gadis itu merebahkan dirinya diatas ranjang queen sizenya.
Sudah benarkah keputusannya?
Ishani bertanya-tanya dalam hatinya. Gadis itu meremas rambutnya kuat, menyalurkan amarahnya yang ingin meledak.
*****
"Kau yakin dengan keputusan mu Veer?" tanya Sakir Arora kepada putra satu-satunya ini.
Pria yang dipanggil Veer itu menganggukan kepalanya. Tatapannya sangat dingin, bahkan Sakir sampai meringis melihat tatapan putranya itu.
Ranveer Saker Arora, putra dari Sakir Arora. Pengusaha muda yang terkenal dengan kekejamaannya dalam dunia perbisnisan. Menggantikan kedudukan sang Ayah membuat dirinya semakin terkenal dikalangan perbisnisan. Memiliki wajah tampan dan memikat membuat banyak kaum hawa mengincarnya. Selain tampan tentu saja dia sangat kaya. Banyak yang menyarankan Ranveer bergabung ke dunia artis atau modeling. Namun Ranveer menolaknya dengan tegas, pria itu lebih memilih berkecamuk dalam dunia perbisnisan. Karena itu lah keahliannya.
"Papa harap kamu tidak menyesal dikemudian hari." kata Sakir. Setelah itu meninggalkan Ranveer diruangan kerja pria itu.
'Tidak akan pernah Pa, karena Ranveer menikahinya dengan maksud tersendiri.'
*****
Ishani mendengus sebal. Gadis itu memutar bola matanya. Mamanya sedari tadi mengoceh sambil berkacak pinggang didepan ranjangnya. Mengambil ponselnya, Ishani lebih memilih berkirim pesan dengan sahabatnya, Rithika dan Veera.
"Kamu dengarin mama gak." kata Nerru saat menyadari putrinya itu tengah asik bermain hp sambil cekikikan.
Ishani menghela napasnya, meletakan ponselnya kembali keatas meja yang berada disamping ranjangnya.
"Dengar Ma."
"Awas aja ya, Mama kasih tau itu agar kamu jadi istri yang baik bukan pembangkang." kata Nerru tegas.
Ishani hanya menganggukan kepalanya, malas membalas perkataan Mamanya.
"Kamu nikah sama Ranveer minggu depan."
Mata Ishani sukses membulat saat mendengar penuturan mamanya. Apa tadi, minggu depan? Demi apa minggu depan? Astaga, Ishani berharap ini mimpi.
Plak
Ishani meringis saat pipinya dia tampar sendiri. Gadis itu meyakinkan dirinya bahwa ini semua mimpi belaka. Namun ternyata harapannya tidak sesuai dengan kenyataan. Itu bukan mimpi, terbukti dari rasa sakit yang dirasakannya tadi.
"Kamu ngapain nampar pipi kamu sendiri?" tanya Nerru heran.
"Meyakinkan itu mimpi." jawab Ishani polos.
Plak
Untuk kedua kalinya pipinya ditampar dan lagi-lagi dia meringis. Kali ini bukan dirinya yang menampar tapi Mamanya.
"Sakit kan? Berarti bukan mimpi dong." ujar Mamanya santai, kemudian beranjak keluar dari kamar Ishani.
Ishani mendengus sebal. Jika bukan karena Mamanya, Ishani akan memilih kabur daripada harus menikah dengan laki-laki yang tak dikenalnya.