Lain Bara, lain pula Radinka. Kalau Bara sedang menghadap tuhan, Radinka sedang menghadap mahkluk menyeramkan berwujud manusia tampan walau usianya sudah tidak muda lagi. Siapa lagi kalau bukan Papanya.
"Radinka. Kamu tau gak salah kamu apa?" Radinka hanya menundukkan kepala dan menggerutu dalam hati. Kenapa juga Papanya udah pulang jam segini?, batinnya.
"Gak tau." Jawab Radinka dengan nada pelan. Aksa, nama papa Radinka tambah meledak mendengar jawaban putrinya itu.
Aksa menatap Radinka tajam. "Radinka Nitisaira. Dihari pertama kamu masuk sekolah, Papa udah dapet laporan gak bener soal kamu. Kapan sih sekolah kamu bener? Dari SMP kamu begini. Mau jadi apa kamu begini terus." Radinka diam tidak menjawab. Ia malah membuat nada random dari ketukan sepatunya.
"Mau jadi apa kamu besar nanti kalau sering ngelanggar peraturan , gak bisa disiplin, ngebangkang mulu. Mau jadi apa? Mau jadi berandal? Berhenti sekolah aja kamu! Pusing Papa punya anak kamu. Kok bisa yah orang lain punya anak banyak banget." Aksa langsung memijat keningnya. Sementara Radinka menahan tawanya mendengar kata-kata Aksa.
"Iya Pah. Maaf ya Pah." Ucap Radinka susah payah menahan tawa.
(Prang)
Radinka menahan nafasnya saat Aksa membuat guci seharga 42 juta yang dibeli dari sebuah acara pelelangan 5 tahun lalu jatuh dan pecah berkeping-keping. Mata Aksa ikut membulat. Tangannya tidak sengaja tadi menyenggol gucinya.
"U-Udah berapa kali ngomong kayak gitu?! Udah berapa kali?! Apa kamu tepatin omongan kamu?!" Radinka tidak perduli pada ucapan Aksa. Ia malah salah fokus pada raut aneh Aksa. Radinka yakin Papanya menyesal sudah memecahkan guci itu.
"Aku minta maaf pah. Maaf ya Pah. Papa kalau mau salahin orang, jangan aku. Salahin si Bara Pah. Dia gak jelas banget jadi orang." Balas Radinka.
"Kamu mau Papa nyalahin orang yang mau didik kamu?. Kamu yang salah. Kalau kamu disiplin kamu gak akan kena hukuman. Kalau kamu masih selengean kayak gini, lebih baik kamu berhenti sekolah dan urus rumah ini." Mata Radinka membulat. Dia tidak tau apa yang ada dipikiran Papanya saat mengatakan itu. Secara tidak langsung Papanya menyuruh ia untuk menjadi seorang asistent rumah tangga.
"Aku masih mau sekolah Pah ih. Mau main sama si Marjo, Evan, Kanaya, Jay. Eh tau gak sih Pah? Kanaya sama Jay gak masuk sekolah. Jay sakit katanya. Kalau Kanaya ilang gak ada kabar Pah. Ih sedih banget aku dikelas gak ada temen" Aksa memijat keningnya. Bukannya berpikir dan memperbaiki sikapnya, Radinka malah menceritakan harinya. Benar-benar.
"Kamu masuk kamar kamu dan gak usah main keluar hari ini. Awas aja kalau kamu keluar. Gak akan Papa kasih masuk." Radinka langsung memasang wajah memelasnya. Tapi Aksa tidak goyah sedikitpun.
"Pah...ajarin aku matematika." Tiba-tiba saja Rasika, adik bungsu Radinka muncul.
"Papa kan baru pulang. Abis ngomelin kakak juga. Gak bisa nanti apa." Radinka langsung mendapat tatapan tajam saat ia mengomeli Sika. Ya Radinka tau Papanya itu pilih kasih. Lebih sayang adiknya daripada ia.
"Masuk kamar sana. Sika, ayok belajar." Radinka memutar matanya kesal. Selalu seperti itu. Adiknya itu memang prioritas Papanya.
"Raka baru pulang?" Tanya Papanya saat melihat satu lagi anaknya muncul. Radinka tersenyum melihat kembaran Sika muncul. Ia adalah Raka. Adik kesayangan Radinka.
"Aku ada latihan basket tadi." Radinka tersenyum makin lebar mendengar jawaban Raka. Sementara Aksa menatap Radinka tajam. Papanya itu memang kurang suka dengan basket karena Papanya takut Raka akan seperrti Radinka.
"Mandi dan ganti baju sana” Papanya bicara dengan nada pelan penuh kasih sayang membuat Radinka mendengus.
"Radinka! Balik ke kamar!" Radinka langsung berlari saat Papahnya kembali membentaknya.
“Pah. Itu kenapa pecah?” Tanya Sika menunjuk si guci antik. Aksa menghela nafas.
“Kesenggol.” Jawabnya pelan. Kemudian menatap iba pada guci yang susah-susah ia dapat di pelelangan.
*******
"Ini tuh pasti gara-gara si Aldebaran deg-degan. Dia pasti udah lapor macem-macem ke Bu Gina. Terus Bu Gina lapor ke Papa." Radinka terus mengeluh saat sudah berada didalam kamarnya. Ia melempar tas asal lalu bersiap membuka hoodie yang menyembunyikan seragam kotor yang disana sini ada bekas tanah.
"Kak." Beruntung Radinka belum membuka seragamnya. Raka masuk tidak mengetuk pintu dulu.
"Kenapa?" Ketus Radinka. Moodnya sedang tidak bagus saat ini. Raka hanya tersenyum sekilas melihat wajah kesal kakaknya.
"Ajarin PR dong kak." Ucap Raka sambil mengacungkan sebuah buku yang ia pegang ditangan kanannya. Radinka jalan mendekati Raka yang berdiri di pintu kamarnya.
"Kakak mau mandi. Gak usah di ganggu. Kalau mau belajar, bareng aja tuh sama si Sika" Omel Radinka. Raka tidak sengaja melihat Aksa yang sedang melihat ke arahnya dan Radinka. Ide cemerlang langsung muncul di kepalanya.
"Aku kan cuma minta ajarin kak. Kok kakak gitu." Radinka bingung kenapa adiknya jadi sok imut seperti ini.
"Radinka! Adik kamu minta di ajarin malah diomelin!!" Radinka mengerti kenapa Raka bersikap demikian. Rupanya Raka sedang bersandiwara dan membuatnya jadi bahan amukan Aksa.
"Kamu belajar sama Papa aja sana. Kakak mau mandi yah. Sana sana." Usir Radinka halus sambil mendorong-dorong Raka dengan tidak manusiawi.
"Kamu gabung sama Sika di bawah. Papa mau ngomong sama kakak kamu." Ucap Aksa. Raka mengangguk dan berlari menuju ruang perpustakaan yang biasa dipakai belajar. Ia tersenyum manis pada Radinka sebelum berlari.
"Jangan pelit ilmu sama adik kamu. Kalau Raka sampai malas belajar, kamu yang Papa salahin.” Pusing rasanya kepala Radinka mendengar omelan Aksa dari tadi.
“Oke Papaku sayang.” Ucap Radinka tersenyum lebar lalu mundur beberapa langkah kemudian
(Brak)
Membanting pintu sampai rasanya bumi bergetar saking kencangnya. Membuat Aksa dan Bik Sira -Asisten rumah tangga- terkejut. Kebetulan Bik Sira sedang ada dekat sana.
Aksa sampai mengelus dadanya melihat kelakuan tidak sopan putrinya. Entah apa salahnya sampai Radinka seperti itu.
"Hei Radinka. Papa gak akan mau beliin engsel pintu kalau pintu kamu sampai copot. Beli sendiri! Inget itu!" Aksa dan Radinka itu hiburan tersendiri bagi Bik Sira dan pekerja lainnya.
Mereka bertengkar seperti sesama teman. Bukan ayah dengan anaknya. Ucapan Aksa yang tidak pernah menyakiti Radinka adalah keunikan sendiri dari pertengkaran mereka. Tidak pernah ada yang namanya air mata disela pertengkaran mereka.
Karena kesal Aksa pergi menjauhi pintu kamar Radinka. Tapi ia menghentikan langkahnya ketika mendengar sebuah suara.
Dimana, akan kucari
Aku menangis seorang diri
Hatiku slalu ingin bertemu
Untukmu aku bernyanyi
Suara Radinka yang sedang bernyanyi membuat Aksa kembali melangkah menuju pintu kamar Radinka. Radinka menyanyi dengan volume yang sanggup membuat benda di dalam kamarnya bergetar.
Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata
Di pipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam
Mimpi...
Aksa tidak tahan mendengar nyanyian itu. Hatinya sedih sekaligus marah mendengar nyanyian itu keluar dari mulut putrinya.
"Radinka!" Panggil Aksa sambil menggedor pintu kamar Radinka. Tapi Radinka seperti tidak mendengar.
Untuk ayah tercinta
Aku ingin bernyanyi
Walau air mata
Di pipiku
Ayah dengarkanlah
Aku ingin berjumpa
Walau hanya dalam
Mimpi..
Radinka semakin kencang bernyanyi. Gedoran di pintu kamar Radinka semakin kencang juga.
"Papa apaan ih. Kalau pintu aku copot gimana? Papa mau ganti engselnya?" Protes Radinka setelah membuka pintu kamarnya yang sepertinya akan copot karena gedoran Papa nya yang luar biasa itu.
"Kamu apa-apaan nyanyi gitu hah? Kamu kira Papa udah meninggal sampai kamu nyanyi lagu itu?." Omel Aksa langsung. Bik Sira diujung sana diam-diam tertawa sambil mengelap beberapa pajangan rumah.
"Siapa yang bilang papa meninggal? Aku nyanyi lagu ayah. Bukan papa. Jelas beda." Radinka membela dirinya.
Bik Sira memilih pergi meninggalkan mereka. Ingin tertawa lebih leluasa. Kalau ia tertawa dan terdengar Aksa, kata 'pecat' akan langsung menusuk telinganya.
"Papa sama ayah itu sama. Oh atau kamu doain Papa meninggal? iya?" Tuduh Aksa.
"Aku gak gitu loh Pa. Papa jangan ambil kesimpulan sendiri. Aku nyanyi lagu ayah karena kebetulan aku gak punya ayah. Aku punyanya Papa. Gak salah dong." Aksa menghela nafas. Pertengkaran ini selalu terjadi berulang-ulang di rumah ini dan tidak pernah mendapat titik penyelesaiannya.
"Terserah kamu. Waktu berharga Papa hilang karena kamu." Omel Aksa sebelum pergi meninggalkan Radinka.
"Dikira waktu aku gak habis." Gerutu Radinka. Radinka kembali membanting pintunya dan berencana akan memulai ritual mandinya.