Dilain tempat, jam sudah menunjukkan pukul 17. 50 dan Bara baru sampai dirumahnya.
"Kok pulangnya sore banget?" Suara agak melengking itu terdengar saat Bara baru saja ingin naik tangga menuju kamarnya.
Bara menghampiri wanita pemilik suara itu dan menyalami tangannya."Aku ada tugas tadi. Yang lain kemana?" Wanita itu tersenyum dan mengusap rambut Bara.
"Papamu di ruang keluarga. Lagi nonton film. Kalau kakakmu ada dikamarnya. Adikmu di kamarnya juga. Kalau kakakmu sih mama yakin lagi belajar tapi kalau adikmu, Mama gak tau." Bara tau apa yang dilakukan adiknya di dalam kamar. Maka dari itu Bara hanya tersenyum dan mengangguk.
"Aku mau ke kamar." Wanita yang merupakan Mamanya itu mengangguk.
"Bara udah pulang?" Tanya Andra, Papa Bara.
"Udah. Dia ke kamarnya. Mau bersih-bersih kayaknya." Nada menjawab dengan tatapan penuh harap agar suaminya itu mau menemaninya mengobrol.
"Oh yaudah. Aku mau beresin kerjaan dulu. Kalau waktunya makan malem panggil aja." Nada belum menjawab tapi suaminya itu sudah pergi meninggalkannya.
"Oh yaudah. Pada sibuk sendiri aja terus. Trisha dikamar dari tadi pulang ngampus. Gio juga dikamar dari tadi pulang sekolah. Bara langsung masuk kamar juga pulang sekolah. Papanya juga langsung kerja lagi padahal baru pulang kerja. Mama doang emang gak punya kerjaan. Jadi gak bisa sibuk." Cibir Nada. Ia kesal dengan keluarganya yang sibuk sendiri itu. Makanya ia tidak perduli walau ia akan dikira gila karena mengomel sendiri.
"Mama kenapa Ma?" Tanya Gio -adik Bara- yang kadang lemot dan tidak tau situasi.
"Gak usah nanya. Balik ke kamar aja sana." Ketus Nada. Gio hanya melongo tidak mengerti mengapa Mamanya seperti itu.
Gio yang tadinya hendak ke dapur untuk mengambil minum malah mengubah tujuannya. Ia berbelok ke ruang kerja Papanya.
Tok
Tok
"Pah...Ini Gio." Ucap Gio dari luar.
"Masuk aja Gi." Suara Andra terdengar sampai ke telinga Gio.
"Ada apa Gi? Mama kamu ngambek lagi?" Tanya Andra tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Papa gak peka banget. Mama kesepian tuh. Aku kena juteknya Mama tau." Andra akhirnya menatap Gio. Ia melepas kacamatanya dan menghela nafas kemudian menutup laptopnya.
"Papa lagi ada proyek besar Gi. Gak bisa Papa tinggalin." Gio menatap Andra dengan tatapan sedatar mungkin. Ia tidak perduli alasan Papanya itu. Ia kesal karena dimarahi Mamanya tanpa sebab.
"Pah. Kalau mama udah kesel trus abis itu punya temen curhat cowok trus bla bla bla kebablasan curhatnya, Papa baru bakal nyesel. Apalah arti proyek itu dibandingkan seo-"
"Sssttt udah udah. Kamu anak kecil. Gak usah ngomongin temen curhat atau apalah itu. Mending kamu temenin Mama kamu. Sana keluar." Gio cemberut saat dirinya malah diusir padahal tadi ia sudah berusaha memperingatkan Papanya itu.
Sekedar informasi, Andra adalah seorang arsitek dan ia baru saja mendapat klien orang penting. Proyek yang sedang ia kerjakan benar-benar proyek besar. Kalau gagal, bukan hanya uang yang melayang tapi harga dirinya juga akan melayang dan otomatis nama keluarganya akan tercemar.
"Mah." Nada menoleh melihat putranya, Bara sudah ada dihadapannya. Bara memang yang paling pengertian diantara semuanya.
"Udah selesai mandinya? Kok cepet banget?" Tanya Nada sambil menggonta ganti channel tv. Padahal ia senang karena Bara akan menemaninya.
Bara mengambil toples kaca berisi camilan dan memakan isinya "Udah. Mah aku mau tanya."
"Mau tanya apa kamu?" Ini suatu hal yang jarang terjadi. Bara jarang sekali seperti ini. Biasanya ia akan to the point.
"Coba Mama bayangin kalau Mama jadi ketua kedisiplinan. Trus ada orang yang bandel banget susah disiplinnya. Udah dihukum tapi tetep aja ngelawan. Trus Mama apain dia?" Nada yang mendengar pertanyaan Bara langsung berdecak. Tidak perlu berpikir keras, Nada tau caranya.
"Biarin aja Bar. Masa SMA itu masa yang gak akan terjadi 2 kali. Kalau udah kuliah, susah buat bandel karena harus fokus kuliah dan juga pasti punya pikiran lebih dewasa dan malu sama muka yang udah tua tapi kelakuan masih kecil. Apalagi pas kerja dan apalagi pas udah nikah atau pas punya anak. Jadi, biarin aja." Jawaban Nada tidak bisa membuat Bara puas. Kalau Bara punya pikiran seperti itu, apa gunanya ia menjadi ketua kedisiplinan?
"Biar gentle, ajak ribut aja. Yang kalah harus nurut. Gampang kan?" Trisha, kakak pertama Bara tiba-tiba datang dan memberi saran paling tidak masuk akal.
"Cewek Kak." Ucap Bara. Trisha terdiam. Kalau cewek, yaa gak boleh dipukul dong, pikirnya.
Dari kejauhan, Bara melihat Papanya yang sedang berjalan menuju kearahnya. "Ngomongin apa nih? Seru banget kayaknya." Bara tidak menjawab. Andra langsung mengambil tempat disebrang Bara dan Nada.
"Tuh si Bara, nanya gimana cara ngatasin anak bandel" Jawab Nada.
"Radinka ya Bar." Tebak Trisha tiba-tiba. Trisha tau karena Trisha alumni sekolah Bara yang baru lulus tahun lalu.
"Udahlah kamu biarin aja. Ntar juga sadar.." Trisha dan Bara sama-sama menghela nafas. Mamanya memang bukan orang tepat untuk membicarakan hal serius.
"Mah, gak boleh gitu. Masa mentang-mentang cewek jadi dia ngelanggar gak apa-apa. Giliran cowok dihukum. Bara kan petugas kedisiplinan. Gak boleh diskriminasi gitu. Kalau suatu saat dia jadi polisi, dia bakal pilih kasih gitu?. Ibu-ibu gonceng 4 gak pake helm gak apa-apa. Giliran bapa-bapa bengong doang langsung tilang." Protes Trisha. Bara mengangguk tanda setuju dengan ucapan Trisha.
"Yaa trus gimana? Masa kamu gak kasihan sama si Radinka-Radinka itu. Dia kan cewek. Kasihan lah." Lihat, Nada sangat mengandalkan perasaannya yang tidak tegaan itu. Padahal Trisha tau kalau saja Trisha yang nakal, Nada pasti akan langsung mencincang tubuhnya.
"Dalam urusan disiplin, ngga usah pakai kata kasihan. Karena kalau kita kasihan, kita jahat. Jahat karena kita gak berusaha ngasih tau dan nunjukin jalan yang bener ke dia." Semua tercengang mendengar suara Andra. Jarang sekali Andra ikut dalam obrolan seperti ini. Biasanya Andra hanya akan menjadi pengamat.
"Ada apaan nih?" Gio muncul dengan semangkuk ice cream green tea miliknya. Ia mengambil tempat duduk di karpet lembut di depan Nada.
"Apaan sih makan aja sana." Cibir Trisha.
"Dih. Galak amat." Gerutu Gio. Gio melahap ice creamnya dan itu sungguh membuat Trisha ingin menelan Gio bersama ice creamnya.
"Udahlah. Nanti aku pikirin sendiri aja. Aku nanya ke Mama jadi kemana-mana gini." Habis menggerutu Bara pergi begitu saja. Meninggalkan semuanya di ruang keluarga.
Trisha menepuk dahinya tiba-tiba "Oh iya lupa. Aku kan cuma mau ngambil minum. Mama, aku mau ngambil minum dulu ya. Hehe." Trisha berdiri dan pergi meninggalkan Nada, Gio, dan Andra.
Nada menghela nafas "Gio, mau pergi juga?" Gio menoleh sejenak sebelum menjawab "Ngabisin ice cream dulu." Jawaban yang sungguh diluar dugaan Nada. Nada pikir Gio akan mengatakan tidak tapi rupanya Gio sama dengan yang lain.
“Mah aku mau ke kamar lagi. Dah Mah..” Pamit Gio saat ice creamnya sudah habis.
Sisa Nada dan Andra.
“Bara masih cuek banget sama kamu.” Komentar Nada yang membuat Andra hanya tersenyum miris.
“Sabar. Nanti aku urus.” Jawab Andra sebelum pergi meninggalkan Nada sendiri. Nada hanya bisa berdoa semoga Bara mau berinteraksi seperti ayah dan anak dengan Andra. Diantara Bara dan Andra memang ada sedikiit kerenggangan walaupun tidak terlihat jelas.