Kembali pada Radinka. Radinka kini termenung diikamarnya. Biiasanya setelah bertengkar, Radinka tidak akan kelar kamar hingga pagi. Bahkan makan malam saja ia menunggu Raka membawakannya.
"Huh. Mana sih si Raka. Biasanya aja nganterin makanan. Mana tadi istirahat gak makan banyak. Trus pulang sekolah gue kerja rodi." Gerutu Radinka. Radinka berpikir Raka lupa atau muungkin Raka membalas perlakuan Radinka siang tadi.
Radinka memilih tidak memusingkan Raka. Ia yang tadi sedang berbaring di kasurnya, memilih pindah tempat. Akhirnya kursi dekat jendela lah yang menjadi keputusannya. Ia melihat keluar jendela. Melihat kebawah, hanya ada jalan yang sepi. Melihat kedepan, hanya ada barisan rumah dan gedung pencakar langit yang terlihat walau jaraknya cukup jauh.
Kadang Radinka memikirkan kenapa orang ingin membuat gedung setinggi itu?. Apa 5 atau 6 lantai tidak cukup?. Apa saja isi gedung itu? Apakah gedung itu akan terus berdiri kokoh seperti itu? Apakah mereka sudah membangun ditempat yang tepat?. Pikiran random itu terkadang muncul di kepalanya.
"Lagi ngapain kak? Merenung? Renungin apaan? Dosa?" Radinka terkejut saat mendengar suara Raka. Raka adiknya kini sudah di dalam kamarnya dengan tangan yang membawa nampan berisi sepiring nasi beserta lauk-pauk serta minumnya.
"Apaan sih. Kakak udah nunggu kamu dari tadi. Kamu lama banget ke sininya. Bentar lagi mungkin kakak udah karatan gara-gara nungguin kamu kelamaan." Omel Radinka. Raka hanya terkekeh karena omelan Radinka itu. Bahkan Raka diam dan tidak protes saat Radinka mengambil nampan di tangan Raka dan membawanya ke tempat ia duduk tadi tanpa ucapan terimakasih atau apa.
"Kakak ngenes banget yah. Kayak orang gak makan 3 hari. Ngeliat makanan, diserbu langsung." Komentar Raka. Mulutnya Raka memang tajam. Radinka sendiri cuek saja. Ia sudah biasa. Radinka memilih menyantap makanannya sambil menatap keluar.
Baginya, pemandangan sepi diluar lebih menarik daripada harus menatap wajah Raka yang menyebalkan.
"Aku mau ke kamar yaa kak. Pengen tidur. Abis makan ngantuk." Ucap Raka.
"Bodo amat." Komentar Radinka. Raka tentu saja kesal melihat tanggapan cuek dari Radinka. Jadi Raka memutuskan untuk pergi dari kamar Radinka secepatnya.
"Jangan lupa di tutup pintunya." Ucap Radinka tepat disaat Raka sampai di pintu kamarnya.
Brak
Pintu kamar Radinka dibanting dan Radinka malah terkekeh. Radinka menoleh sesaat ke arah pintu untuk memastikan Raka tidak ada disana. Setelah itu ia mengambil tissue.
"Kok gini lagi sihh." Gerutu Radinka sambil menutup lubang hidungnya dengan tissue. Kemudian ia berjalan ke arah pintu dan
Ctlek
Menguncinya. Ia kembali ke tempat dekat jendela dan duduk tenang disana walau darah terus keluar dari hidungnya. Tak lama ia meringis. Sendiinya terasa nyeri.
Drttt...
Ponsel Radinka yang ia taruh di nakas bergetar. Radinka mengganti tissue yang ia gunakan lalu mengambil ponselnya. Ia melihat ponselnya dan ternyata ada chat masuk dari sahabatnya. Sahabat sejak SDnya namun sayangnya tidak bisa satu SMA. Jadi, Radinka, Evan, Jay dan Alesha satu SMP dulu tapi sayangnya Alesha pindah ke sekolah asrama saat SMA karena kelakuannya sudah tidak bisa diatur lagi.
Alesha Aleciantiq :
Ehm. Mbak.
Me :
Ini siapa yah?
Alesha Aleciantiq :
Ihhh Radinkah. Demi apapun gue gabetah disini. Pengen balik ke sono. Pengen 1 school with lu and Jali-Jali beserta si Evan.
Me :
Ngomong paan sih luh?
Alesha Aleciantiq :
Helpp Din...gue disini ganyaman. Pengen sekolah biasa aja. Gak kuat asrama.
Me :
Oh. Yodah balik sini.
Alesha Aleciantiq :
Heh lu kira balik ke situ cuma kek ngeluarin pup?!! Tinggal ngeden doang. Ngga segampang itu Dinka.
Me :
Yaa trus mau lu apa?
Alesha Aleciantiq :
Yaa bantuin gue lah caiank. Bujuk nyokap gue please.
Me :
Lu kira bujuk nyokap lo segampang minta beliin permen yang 2000 dapet 3?.
Alesha Aleciantiq :
Ishhhhh nyebelin banget. Eh iya, gue denger lo bikin ulah mulu di sekolah lo. Parah lu yah. Gue tinggal jadi makin-makin. Awas aja kalo gue dah balik!!
Me :
Kapan sih lu balik? Kayak bakal balik aja..Wkwkwk
Alesha Aleciantiq :
Heh parah nih anak emang. Asal lo tau aja nih yah. Asal tau aja!! Gue bakal balik. Bakal balik.
Me :
Serah lo.
Radinka tidak tau lagi apa balasan Alesha. Ia meletakkan ponselnya kembali di nakas sambil terkekeh. Ia memutuskan untuk ke kamar mandi sekarang. Ia perlu membasuh wajahnya.
"Lesha aneh. Makan apa sih tuh anak di asrama. Makin gak beres aja." Gumam Radinka yang sudah berada di depan westafel. Radinka segera membuang beberapa lembar tissue yang ia pakai untuk menyerap darahnya tadi dan segera membasuh wajahnya dengan air.
Radinka menatap ke cermin. Tidak ada perubahan yang berarti pada dirinya. Mimisan ini juga tidak selalu terjadi. Kadang waktunya berubah-ubah.
"Masih cantik lah yahh...lumayan. hahaha." Radinka tertawa sendiri di depan cermin.
Entahlah, ia senang saja melihat tubuhnya tidak ada apa-apa setelah ia divonis terkena kanker darah stadium awal bulan lalu. Ia senang karena kepayahan yang ia dengar dari berbagai sumber tentang penderita kanker darah tidak sepenuhnya benar. Radinka memang merasa staminanya berkurang dan tulang ataupun sendinya sering nyeri, tapi selebihnya. Rasanya Radinka baik-baik saja.
"Ahhh gue lupa. Besok kan masih harus lanjutin hukuman dari si Aldebaran jantung deg-degan. Lagian dia kurang kerjaan banget ih. Dia digaji berapa sih buat hukum-hukum gue. Nyebelin ih." Karena teringat Bara, tentu saja akan ada beberapa gerutuan yang keluar dari mulut Radinka. Ia tidak pernah merasa bahagia saat mengingat nama itu. Nama itu bagaikan sebuah dosa yang selalu menghantui Radinka.
Radinka tidak sadar. Sudah banyak pesan yang masuk ke ponselnya dan itu semua dari Alesha. Sahabatnya sedari jaman SD dulu. Alesha yang sedang menimba ilmu di sekolah boarding yang mengharuskannya tinggal di asrama.
Setelah selesai membasuh wajahnya, Radinka memilih untuk tidur dan mengabaikan semua pesan dari Alesha dan makanan dari Raka yang belum habis.