Pagi harinya, seperti biasa. Bara akan bangun tepat 15 menit sebelum adzan subuh. Bara akan langsung mandi dan berwudhu kemudian barulah ia akan melaksanakan kewajibannya.
Disebrang sana, ada sepasang mata yang melihat siluet Bara.
"Kok tumben gue bangun pagi. Itu dia lagi sholat yah?. Astagfirullah rajinnya tuh orang... gue kapan yaa bisa rajin shalat." Gumam Radinka yang sudah kembali duduk di dekat jendelanya. Iya. Radinka. Selama ini ia tidak tau rumah di sebrang rumahnya adalah rumah Bara.
Radinka dan papanya bukan tipe bersosialisasi. Tetangga mereka juga begitu. Jadi, wajar saja jika mereka tidak mengenal satu sama lain. Bara sendiri juga tidak tau kalau rumah disebrang rumahnya adalah rumah Radinka. Yang Bara tau, rumah di sebrangnya itu selalu sepi.
"Mau ngapain yaa pagi-pagi gini?" Gumam Radinka lagi. Dengan mata yang belum terbuka sepenuhnya, Radinka kembali menatap jendela rumah di sebrang. Jendela yang letaknya sama dengan jendela miliknya. Sayangnya, jendela itu tertutup tirai jadi Radinka tidak bisa melihat dengan jelas orang yang ia liat hanya siluetnya.
"Mau ke kamar Raka ah." Radinka memilih untuk tidak memperhatikan siluet disana. Ia menginjakan kakinya di lantai dan seketika rasa dingin menyapanya. Radinka mencari alas kaki dan barulah ia keluar dari kamarnya.
"Ihh sepi yahh kalau jam segini." Gumamnya lagi. Rumahnya yang berukuran lumayan besar itu benar-benar sepi saat ini. Bukan hanya sepi. Tapi juga gelap. Hanya beberapa lampu lantai yang menyala. Itupun tidak terlalu terang.
"Papa hemat listrik ish." Cibir Radinka yang masih saja berdiri di depan pintu kamarnya. Setelah mengusap wajahnya beberapa kali Radinka mulai melangkah ke kamar Raka. Kamar yang ada diujung belakang rumah dilantai 2 ini.
Bukan tanpa alasan Raka memilih kamar paling belakang di lantai 2 ini. Radinka juga sebenarnya mau disana. Kamar itu memiliki balkon dan di bawah balkon ada kolam renang dan depan kolam renang ada sebuah taman. Taman kaktus.
Radinka bingung kenapa Papanya itu punya selera yang aneh. Ia membuat taman pohon kaktus di halaman belakang. Radinka hanya berdoa semoga tidak ada penyusup masuk rumah lewat pagar belakang dan harus dilarikan ke rumah sakit karena tertancap duri dari pohon kaktus.
"Raka udah bangun belum yah." Gumam Radinka saat sudah berada di depan pintu kamar Raka. Tujuan Radinka ke kamar Raka, hanya ingin berdiam di balkon Raka dan menikmati udara pagi yang masih lumayan segar.
Sebenarnya Sika juga punya balkon kamar, tapi Radinka terlalu malas mendengar celotehan Sika. Dibanding Sika, Radinka lebih dekat dengan Raka. Selain karena Raka pengertian, Raka tidak seketus Sika.
"Kayaknya belum." Gumam Radinka lagi. Sejak tadi ia ragu membuka pintu kamar Raka.
Pada akhirnya ia membuka pintu itu perlahan. Dan ia tersenyum senang saat pintu kamar itu tidak terkunci. Radinka mendorong pintu itu dengan sangat perlahan. Radinka tidak ingin membangunkan Raka.
Ia menyelinap masuk dan kembali menutup pintu Raka. Tidak ada suara yang Radinka hasilkan. Semuanya berjalan lancar dan senyap. Tapi kemudian ia melihat kasur Raka yang kosong. Ia mencari keberadaan Raka dan ternyata disana. Sedang berdiri di balkon menatap ke depan.
Radinka bergidik ngeri saat pikiran melantur masuk dalam otaknya. Ia takut Raka seperti yang di film horror. Kerasukan.
"Raka!” Panggil Radinka agak ngeri. Raka menoleh.
“Huwahh!!!” Pekik Radinka saat melihat mata Raka terpejam.
"Kak Radinka?." Raka terganggu suara pekikan Radinka. Matanya terbuka perlahan. Radinka mengelus d**a menenangkan detak jantungnya. Ia lalu menghampiri Raka dan menariknya perlahan ke kasur. Raka kembali memejamkan matanya begitu kena bantal.
“Ngagetin banget sih jadi anak.” Gumam Radinka.
Radinka membuka pintu balkon Raka. Ia duduk di salah satu kursi di balkon Raka dan termenung sambil menatap langit yang kosong itu. Sesekali Radinka menghela nafas.
Sejujurnya, Radinka tidak menyukai kesendirian. Radinka lebih suka bermain, bercanda, dan melakukan kenakalan bersama temannya. Karena dengan cara itulah Radinka bisa melupakan sejenak masalahnya. Radinka juga bisa lupa dengan rasa sakitnya. Kalau sendiri seperti ini, kesendirian dan rasa sakitnya lebih terasa.
"Kak." Radinka menoleh saat Raka memanggilnya. Radinka melihat selimut yang ada di tangan Raka.
"Nih Kak" Radinka memutar matanya saat melihat Raka membawakannya selimut padahal mata Raka belum terbuka sepenuhnya.
“Ngigo yah si Raka.” Ucap Radinka setelah Raka kembali kedalam.
Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Ia mengambil ponselnya di saku piyama lalu menyambungkan ponselnya ke wifi rumah. Saat tersambung, notifikasi langsung membanjiri ponselnya. Radinka terkekeh dan membuka pesan dari seseorang yang sebenarnya mengirim pesan kemarin malam.
Marcus .W :
Pulang sekolah besok gue tunggu di lapangan. Dendam gue blom kelar. Jangan kabur oke.
Me :
Tunggu aku datang kakanda
Radinka terkekeh sendiri melihat balasan yang ia kirim untuk Marcus. Kemudian ia membuka pesan dari yang lain.
Jay William :
B3s0k 4k03h m4suk sch00l 149i d0nkss.
Me :
Ngirim apa sih lu? Kode rahasia?
Pesan dari Jay dikirim kemarin malam tapi baru Radinka balas pagi ini. Ia kembali menscroll layarnya dan menemukan pesan dari Evan.
Evan Gautama :
Lu ok kan?
Me :
Maksud lu apa dah?
Memang pesan dari Evan itu agak ambigu. Radinka saja tidak tau apa maksud Evan. Ada 1 pesan lagi dari orang yang Radinka kenal. Dari Alesha. Radinka tidak berminat membukanya karena Radinka tau isinya hanya spam dari Alesha.
Drrttt...
Ponsel Radinka bergetar. Ternyata balasan dari Evan.
Evan Gautama :
Sial!!! Gue salkir!!!!!!!! Sorry gue salkir.
Me :
Ow ow. Wahh emang mau dikirim ke siapa sih? Aduu aduhh. Ehm. Evankuh sudah besar.
Evan Gautama :
Buat someone special lah. Emangnya elo. Jomblo abadi yang mengharap keajaiban tuhan biar cepet didatengin malaikat yang bisa mengobati kesepian hidup.
Me :
Geli woy please lah!!!
Evan :
Jahat.
Hanya dibaca. Balasan Evan tidak lagi dibalas oleh Radinka. Radinka tidak sadar ini sudah jam 5.30. Ia melepas selimut yang membungkus tubuhnya kemudian masuk kedalam kamar Raka.
"Raka. Nih selimut kamu. Kakak mau mandi di kamar." Raka hanya bergumam sehingga Radinka memutuskan untuk meletakkan selimut Raka di kasurnya.
Radinka melangkah ke pintu Raka
Ckrek
Radinka reflek mundur saat pintu kamar Raka terbuka sendiri. Saat pintu terbuka sepenuhnya, wajah Sika yang muncul. Sika terkejut melihat Radinka. Tapi Radinka biasa saja saat melihat Sika.
"Kakak ngapain di kamar Raka?" Tanya Sika dengan raut curiga. Radinka hanya terkekeh. Sika itu seperti mempunyai dendam tersendiri dengan Radinka. Ia terus-terusan ketus atau jutek pada Radinka padahal Radinka jarang mengganggu Sika.
"Ngerampok! Awas minggir. Kakak mau ke kamar." Sika menyingkir dengan raut wajah tak suka. Ia bahkan mendengus saat Radinka melewatinya. Radinka hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu. Sebenarnya Radinka kesal juga, tapi ia sedang dalam keadaan mood yang baik. Jadi, ia anggap Sika lucu.
"Raka. Kak Radinka ngapain di kamar kamu?" Radinka masih bisa mendengar pertanyaan Sika. Setelahnya Radinka tertawa karena mendengar gumaman Raka.