"Lihat, mereka bener-bener romantis dan serasi banget!"
Tampa sadar Kiky ikut melongokan kepalanya, melihat apa yang teman-temannya bicarakan. Kakak kelasnya yang dinobatkan secara tidak resmi oleh anak-anak satu sekolah sebagai pasangan paling serasi melewati koridor menuju ruang osis. Mereka hanya berjalan bersejajar sambil mengobrolkan entah apa itu, hanya hal yang nampak biasanya, tapi nampaknya mereka sudah seperti melakukan hal paling romantis di dunia.
"Jiwa jombloku meronta-ronta."
Kiky tertawa mendengar komentar Bhatari. Temannya itu sudah punya pacar, bagaimana bisa mengatakan jiwa jomblonya meronta-ronta. Bukankah itu berlebihan.
"Jiwa pelakorku meraung." Dea meremas tanganannya gemas.
"Kalau sampai ada pelakor diantara mereka, berani bertaruh pasti akan habis oleh fans pasangan itu." kata Bhatari melotot pada Dea.
"Mereka berada di tahun akhir. Siapa yang tahu bagaimana hubungan merek setelah lulus." Anis yang juga anak osis dan cukup tahu bagaimana keromantisan pasangan itu di dalam organisasi ikut berkomentar. Tidak sedikit anggota osis yang bergosip tentang pasangan itu dan diantaranya ada yang bertaruh apakah mereka akan sampai menikah atau berakhir setelah kuliah. Tidak jarang pasangan akan berkahir setelah lulus karena kesibukan mereka dan masih banyak hal lain.
"Kakaku teman Kak Riko, katanya mereka akan melanjutkan kuliah di kampus yang berbeda. Tapi kalau namanya jodoh pasti tidak akan terpisah."
"Benar. Ah! tidak sabar menunggu undangan mereka."
"Memangnya kalau mereka menikah, kita di undang?"
****
"Oke, ini hari pertamaku kerja." Kiky menatap pantulan dirinya di cermin sambil menghembuskan napas berkali-kali. Kiky meyakinkan dirinya sendiri, dia benar-benar bukan hanya seorang siswi yang baru menyelesaikan ujiannya. Wajahnya masih tetap sama, tapi juga terlihat berbeda. Seperti ada sedikit karismatik didalamnya dan yang jelas sekarang dia adalah seorang dokter.
Entah kenapa pernyataan yang menyebutkan dirinya sebagai seorang dokter malah membuatnya semakin gugup. Tidak semua orang bisa menjadi dokter karena itu berhubungan dengan nyawa seseorang. membayangkannya saja sudah membuat Kiky merinding.
Setelah dokter Sendi yakin dia hanya gagar otak biasa dan masa libur sakitnya habis Kiky harus bekerja. Tapi bagaimana, yang dirinya ingat dia hanya seorang murid SMA yang bahkan baru tau nama-nama virus. Jika dia disuruh mengobati pasien apakah akan timbul kasus mal praktek? Tidak, pasti instingnya akan bekerja, bukan.
"Mau sampai kapan kau berdiri di depan cermin?"
Kiky memutar tubuhnya menghadap Riko, suaminya. Padahal dalam ingatannya pria ini adalah kakak kelasnya yang dinobatkan sebagai best couple bersama pacarnya cantiknya, Chiva. Entah bagaimana Riko dan Kiky berkahir menikah. Jika teman-temannya dulu tahu, apakah dia akan dihajar habis-habisan dan mendapatkan gelar sebagai pelakor?
"Ayo berangkat bersama." katanya mengambil tas kerjanya. Dia memutar tubuhnya ketika tidak ada pergerakan dari istrinya. "Kenapa diam saja?"
Kiky menatap Riko gugup, "Apa aku akan mengobati pasien dengan baik? Apa aku tidak akan salah diagnosis?"
"Percayalah, semuanya akan baik-baik saja." kata Riko menepuk kepala Kiky ringan.
"Tapi...," Kiky tidak yakin pada dirinya sendiri.
"Aku sudah minta tolong pada Sendi agar Andine membantumu." tangan Riko mengusap-usap kepala Kiky pelan. Tangan itu tidak pindah-pindah meskipun sudah lebih dari sepuluh menit. Kiky jadi khawatir rambutnya akan berantakan. "Ayo kita berangkat."
Kiky mengangguk.
Tubuhnya lebih tegang ketika mereka sampai di rumah sakit. Tampa sadar tangannya menggenggam lengan Riko kuat. Semua akan baik-baik saja, semua akan baik-baik saja, rapalnya dalam hati.
"Err... Kau hampir meremukkan lenganku."
Seketika Kiky melepaskan lengan Riko. Dia meringis kecil, meminta maaf. "Tidak sengaja."
"Akan sangat keterlaluan kalau kau sengaja."
"Dokter Kiky."
Merasa namanya dipanggil dia mendongak. "Iya?" Kiky memperhatikan dokter muda cantik bertubuh semampai, dokter itu sangat cantik seakan-akan Kiky melihat artis korea keluar dari layar televisi.
"Apa kau tidak mengenaliku?"
"Apa kita saling kenal?"
"Andine, hentikan."
Dokter Andine meringis mendapat pelototan dari Riko. "Aku hanya ingin memastikan apakah dia benar-benar amnesia atau tidak. Ternyata Kiky lupa padaku." katanya memasang wajah sedih yang entah kenapa terlihat imut di mata Kiky.
"Maaf." kata Kiky.
"Tidak perlu. Ayo kita harus segera ke ruang pemeriksaan, pasien sedang mengantri." Andine mengaitkan lengan Kiky pada lengannya.
Seperti anak kecil yang butuh persetujuan orang tuanya Kiky melihat ke arah Riko. Dia baru lega ketika melihat Riko mengangguk.
"Ah, kau manis sekali ketika sedang lupa ingatan." kata Andine lirih, tapi masih tertangkap jelas oleh telinga Kiky.
"Dokter Andine, maaf harus merepotkanmu. Padahal jam praktikmu masih nanti sore."
"Tidak masalah, aku juga ada sedikit urusan disini. Lagipula ini bagus, kita bisa lebih dekat."
"Apa kita tidak dekat sebelumnya?"
Andine tersenyum. Dia tipe wanita mandiri yang ramah, dan menyenangkan. Daya tarik yang luar biasa. "Tidak. Kau sulit untuk didekati." akunya.
Maksudnya? Kiky berpikir dalam diam. Apa dia memang tipe orang yang sulit untuk didekati. Tapi saat sekolah Kiky ingat punya beberapa teman.
****
Pada awalnya jantung Kiky berdetak tidak karuan ketika dia berhadapan dengan pasien pertamanya hari ini. Dia takut bertindak bodoh dan malah memperburuk keadaan. Tapi tubuhnya seperti memiliki jiwa sendiri ketika dia memeriksa pasien, dia seperti tahu apa yang terjadi pada mereka dan bisa mendiagnosis ataupun memberi resep. Ini benar-benar keajaiban.
"Apa aku sudah melakukan hal yang benar?" mata Kiky penuh bintang ketika menatap Andine. Seperti anak anjing yang meminta pujian kepada majikannya dan entah kenapa itu sangat imut menurut Andine. Padahal sebelumnya, saat dia melihat bagaimana keseriusan Kiky memeriksa pasien dia merasa Kiky sangat membosankan dan tidak tersentuh kembali. Pun Kiky tidak pernah hanya untuk sekedar basa-basi, nyaris seperti robot yang di program.
"Iya, kau memeriksa dengan benar. Seperti apa yang aku prediksi."
Kiky tersenyum lebar dan Andine merasa dia hampir menjadi penyuka sesama jenis karenanya. Jujur saja, selama setahun mereka menjadi partner kerja, tidak pernah sekalipun Andine melihat Kiky senyum lebar. Biasanya perempuan itu hanya menunjukkan senyum propesional. Pun ketika Andine menemani Sendi makan malam bersama Kiky dan Riko. Kiky tidak pernah terlihat tersenyum selain senyum tipis.
"Jadi aku sudah bisa meninggalkanmu memeriksa pasien sendiri." kata Andine, dia masih ingin menjadi normal dan dia akan meragukan hal itu kalau berada sepuluh menit lebih lama dalam ruangan itu. Ah, kenapa Kiky beru menunjukan pesoanya yang satu ini.
"Apa kau yakin aku bisa mengatasinya sendiri?"
Ya Tuhan... Andine tidak pernah berpikir Kiky yang dingin bisa semenggemaskan ini. Mungkin ini adalah salah satu efek positif perempuan itu jatuh terguling di tangga. Andine akui Kiky memang cantik dengan wajah orientalnya yang membuatnya terlihat awet muda, tapi Andine tidak pernah berpikir perempuan itu imut karena wajahnya yang pelit senyum.
"Iyups. Kau adalah dokter handal sebelumnya, kenapa aku harus ragu."
"Oke. Terima kasih sudah mau menemaniku. Oh, kapan-kapan akan ku traktir. Jika kita berdua ada waktu luang." kata Kiky dengan senyum manisnya. Gigi taring sebelah kanannya yang lebih runcing dibanding gigi-gigi yang lain membuat senyumnya lebih manis. Terlihat seperti gigi gingsul yang menggemaskan.
"Iya. Tentu saja." entah kenapa Andine menjadi gugup. Meskipun Andine cantik dengan body goals impian semua wanita. Ada jiwa tomboy dalam dirinya. Jiwa ingin melindungi wanita imut yang rapuh. "Sampai Jumpa. Sendi sudah menungguku Btw,"
"Iya, sampai jumpa."
Ah, kenapa kesenangan ini harus cepat berlalu. pikir Andine dalam hatinya. Tiba-tiba saja dia jadi kesal melihat senyum Sendi setelah melihat senyum menggemaskan Kiky. "Kenapa kau jadi terlihat membosankan?" gumam Andine.
"Hah! aku membosankan? Kenapa tiba-tiba? Oh, apakah ada pria yang menggodamu? Tunjukan mana pria itu?!"
"Sudahlah." sahut Andine malas
****
bersambung.....