Kiky tidak suka pulang paling terkahir karena suasana sekolah berubah menjadi menyeramkan. Dari ujung ke ujung tidak ada satupun orang terlihat. Salahnya hobby mengerjakan PR di sekolah. Kiky tidak tahu, tiba-tiba otaknya blank ketika harus mengerjakan PR di rumah. Jadi dia memilih mengerjakan sepulang sekolah.
Kiky bisa sedikit bernapas lega karena masih melihat keberadaan anak osis dan beberapa siswa ekskul dalam bidang olahraga. Paling tidak dia tidak takut ketika menunggu jemputan datang. Tampa sengaja Kiky mendengar sesuatu yang seharusnya tidak dia dengar, sesuatu yang mengelitik rasa penasarannya.
"Yang setelah lulus kita akan beda universitas, janji tetap setia?"
"Iya."
"Jangan tergoda sama ayam kampus."
"Iya."
"Kau tidak bilang, aku tidak boleh tergoda laki-laki lain?"
"Buat apa? Aku percaya."
Kiky mengerucutkan bibirnya. Riko yang dibanggakan oleh teman-temannya ternyata memiliki sikap sok cool. Astaga, sementara Chiva manja. Seperti kata orang kebanyakan, Laki-laki dingin dan perempuan manja, benar-benar cocok.
Nyaris saja Kiky menjerit ketika mata polosnya melihat Chiva menyeruduk bibir Riko. Mereka masih mamakai seragam putih abu-abu, seharusnya tidak boleh melakukan hal itu, rutuk Kiky dalam hati. Kiky mengintip melalui jari-jarinya ketika ciuman mereka berlanjut lebih parah dan tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
Itu adalah adegan berbehaya untuknya.
****
"Sore Dok,"
Kiky membalas sapaan itu dengan anggukan kecil dan senyuman lebar, membuat perawat senior yang berada di belakang perawat baru yang menyapa Kiky melongok tidak percaya. Jujur saja perawat lama yang sudah mengenal Kiky, malas menyapa perempuan itu karena menurut mereka Kiky terlalu judes. Mereka saja heran ketika tahu Kiky menikah dengan Riko, seorang pria berkarismatik dan kalem. Mereka pikir wanita yang memiliki kepribadian seperti Kiky tidak akan bisa menikah.
"Dokter Kiky tersenyum?" tanya seorang perawat tidak percaya. Matanya tidak lepas menatap punggung Kiky yang terus menjauh.
"Benar. Aku juga melihatnya."
"Mungkin sakitnya kemarin membawa berkah."
"Pasti ada yang salah dengan kepalanya ketika jatuh."
Rumpian itu terus berlanjut sahut-sahutan bahkan sampai Kiky menghilang dari pandangan mereka. Tidak akan ada habisnya ketika para perempuan mulai bergosip dan dalam sekejab bertita itu menyebar ke seluruh rumah sakit.
****
Kiky menghentikan langkahnya ketika dia berpapasan dengan orang yang mungkin dia kenal. Tidak telihat persis sama seperti yang dia ingat, tapi Kiky yakin itu adalah temannya. "Dea?"
Merasa namanya dipanggil wanita yang sibuk merayu anak perempuannya itu mendongak. "Kau...," Dea terlihat tidak percaya ketika melihat Kiky tersenyum, "Kiky?"
"Iya!" Kiky menepuk tangannya heboh kemudian tertawa lepas. Tawa renyah yang menyenangkan. "Apa kabar? Kau terlihat..." Kiky mengantung kata-katanya, "berbeda." aku Kiky ketika melihat penampilannya temannya itu.
Dea yang Kiky ingat adalah siswi yang paling cantik, dia memiliki badan tinggi dan kulit putih bersih dengan rambut panjang yang anggun. Lebih cantik dibanding teman-teman sebayanya ketika mereka masih memakai seragam putih abu-abu.
Tapi sekarang semua terlihat berbeda. Dea masih cantik, tapi wajahnya tidak secerah dulu dan sekali melihat Dea terlihat seperti Ibu-ibu. Bukan ibu-ibu muda cantik, seksi seperti Nia Ramadani atau Jesica Iskandar. Tapi Ibu-ibu muda dengan masalah berat.
Dea tersenyum. "Kau benar-benar Kiky?"
"Apa aku terlihat seperti orang lain?" tanya Kiky bingung.
"Tidak. Maksudku, sudah lama sekali kita tidak ketemu. Kau tidak pernah mau berkumpul lagi semenjak kuliah kedokteran. Bahkan kau tidak pernah sekalipun datang pada acara reuni sekolah."
"Mungkin karena aku terlalu sibuk." Kiky tidak dapat mengingat kenapa dia tidak pernah mau datang ke acara reuni. Tapi jika itu sekarang, dia pasti akan datang. "Omong-omong siapa yang sakit? Apakah itu anakmu?" matanya mencuri pandang pada gadis cilik di samping Dea. Sama sekali tidak mirip Dea, pikir Kiky.
"Aku hanya mengantar Bhatari dan iya ini anakku. Salam sama Tante."
Kiky tersenyum membalas jabat tangan gadis manis itu. "Dia manis. Tapi tidak mirip denganmu."
Dea tertawa. "Dia memang lebih mirip ayahnya. Jadi, kau kerja disini?"
"Iya, bagaimana denganmu? Kau masih sibuk dengan dunia modelingmu?"
Karena Dea cantik dan memiliki badan bagus, dia sudah menjadi model ketika masa putih abu-abu. Bukan model terkenal, tapi penghasilannya lumayan buat belanja barang-barang tidak penting dan mentraktir teman-temannya. Rencana besarnya setelah lulus dia ingin lebih mendalami dunia model, tapi Kiky tidak tahu kenapa sekarang Dea terlihat berbeda dan sudah memiliki anak sebesar itu.
Tunggu! Usia mereka tidak setua itu kan? Kiky jadi takut dia melupakan semua masa mudanya dan melewatkan banyak peristiwa penting.
"Kiky?"
"Hey, Bat." Kiky tersenyum membalas sapaan Bhatari. "Katanya Dea mengantarmu ke sini? Apa kau sakit?"
"Tidak. Aku hanya konsultasi mengenai promil dengan dokter."
"Promil?"
"Iya. Rencananya aku dan suami ingin menambah momongan."
Mata Kiky mengerjap, mereka berdua sama-sama telah memiliki anak? Sebenarnya berapa usia mereka saat ini, yang artinya juga usianya saat ini.
"Kenapa bingung begitu? Sudah lama tidak ketemu, kau terlihat berbeda. Kau lebih cantik dan berwibawa." puji Bhatari. "Omong-omong apa kau sudah menikah?"
Jadi teman-temannya tidak tahu dia sudah menikah? "Memangnya berapa lama kita lost kontak?"
"Semenjak lulus. Benarkan Dea?"
Dea mengangguk. "Ketika hari kelulusan kau tiba-tiba menangis histeris setelah mendapat telepon dari ayahmu. Lalu kau yang awalnya ingin mendaftar kuliah jurusan paud pindah haluan kedokteran. Setelah itu kau tidak pernah ada kabarnya lagi?"
Ayahnya? ah, semenjak Kiky sadar dia belum mengunjungi orang tuanya. Mungkin dia akan mengunjunginya nanti, sekarang yang terpenting dia harus mencari banyak info apa saja yang telah dia lewatkan selama ini, mumpung bertemu dengan teman-temannya. "Emm... bagaimana kalau kita melanjutkan obrolan di cafe seberang."
"Iya ayo."
Kiky memutar tubuhnya terlalu bersemangat, membuatnya hampir menabrak orang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Dia memaki pelan karena terkejut.
"Mau kemana?"
"Apa yang kau lakukan disini?"
"Kak Riko, kan?" Bhatari terkejut sekaligus senang melihat Riko yang dulu adalah laki-laki idola di sekolah, tapi tidak bisa tersentuh karena memiliki Chiva di sampingnya. Pasangan itu seperti pasangan idol yang direstui fans, memiliki klub penggemar sendiri.
Riko tersenyum kecil kemudian mengangguk. Dari dulu pria itu memang tidak berubah. Kalem dan sedikit menjaga jarak pada perempuan lain yang bukan pasangannya. Tidak pernah mengobrol hal-hal tidak penting ataupun sekedar berbasa-basi.
"Lama sekali tidak bertemu. Dulu kita satu jurusan dan berada dalam BEM, ingat tidak?" tanya Bhatari menggebu-gebu. Meskipun mereka berada dalam satu organisasi, mereka benar-benar tidak pernah mengobrol jika tidak ada yang penting. Bhatari paham karakteristik Riko yang satu itu, dia hanya ingin menjaga perasaan kekasihnya, Chiva. Meskipun Chiva berada dikampus yang berbeda.
"Iya. Kau mantan Iwan kan?"
Bhatari tersenyum malu-malu.
"Kakak masih ingat?"
Riko menjawab dengan satu anggukan kecil.
"Omong-omong kakak kenapa ke rumah sakit? Apakah ada yang sakit?"
"Tidak. Menjemput istri."
"Ah!" Seru Bhatari dan Dea bersamaan.
"Kak Chiva bekerja sebagai perawat disini? Dulu Kak Chiva ambil jurusan perawat, bukan?"
"Couples goal." takdir yang benar-benar merupakan harapan semua orang. pasangan yang mereka idolakan menjadi pasangan suami istri.
Riko tidak menjawab, dia melirik wajah Kiky yang terlihat biasa-biasa saja. Setelah terjadi perubahan pada Kiky, Riko semakin sulit menebak apa yang dipikirkan oleh perempuan itu.
"Kami mau makan sekalian ngobrol di cafe depan." kata Kiky ketika melihat Riko memandanginya tampa kedip.
"Oh." Riko mengangguk, "Satu jam." ucapnya sebelum melangkah pergi.
Kiky mengangguk. "Ayo." senyuman Kiky kembali ketika tatapannya beralih pada teman-temannya.
"Satu jam? Apa maksudnya?"
****
Bersambung...