Wajah Kiky tiba-tiba mererah. Dia hanya berjalan berpapasan dengan Riko, sepertinya dia terlalu shock karena melihat laki-laki itu silahturahmi bibir dengan kekasihnya kemarin. Aneh, padahal selama ini dia selalu menyukai adegan ciuman dalam drama. Tapi ketika melihat secara langsung ternyata berbeda, rasanya itu lebih menegangkan.
"Apa kau sakit?"
"Apa?" refleks Kiky menghentikan langkahnya, berbalik menatap Riko untuk memastikan laki-laki itu berbicara padanya.
"Apa kau sakit?" ulangnya.
"Aku?" Kiky menunjuk dirinya sendiri.
"Iya. Apa kau sakit?"
"Ah, aku... oh... tidak!" sial, kenapa dia salah tingkah. rutuknya dalam hati. Seketika wajahnya kembali memerah.
"Apa kau mau ke UKS?"
"Emm... Tidak! tidak perlu, aku baik-baik saja! Iya aku baik-baik saja!" mata Kiky menangkap sosok Chiva. Gadis cantik itu berjalan mendekat ke arah mereka. Yah, ini memang agak aneh karena Riko pria yang paling tidak peduli pada gadis lain selain kekasihnya hari ini menanyakan keadaannya. "Ah, aku pergi dulu, sampai jumpa!" yang ada di dalam otak Kiky saat ini adalah dia harus melarikan diri secepat mungkin, daripada wajahnya semakin memerah. Melihat mereka berdua bersama membuatnya semakin mengingat kejadian kemarin.
Arghhh!!! ini benar-benar canggung. Kenapa dia harus tidak dengan sengaja menyaksikan adegan itu?!
****
"Omong-omong aku belum bertemu Ayah dan Ibuku semenjak siuman." Kiky tidak yakin menyebut siuman, yang jelas dia belum bertemu sejak dia pertama kali bangun hanya dengan ingatan masa putih abu-abunya.
"Mereka agak sibuk."
"Kita bisa mengunjunginya."
"Iya, kita bisa mengunjungi mereka saat cuti."
"Maksudnya? Rumah mereka hanya berjarak tiga puluh menit dari rumah kita?"
Riko melirik Kiky disampingnya, lalu kembali fokus ke jalan. Kiky tidak pernah suka menyinggung tentang orang tuanya sebulumnya dan Riko juga tidak pernah membicarakannya. "Ayah pindah ke luar kota dengan Ibu tirimu, lalu Ibu sibuk dengan bisnisnya. Kalau kau lupa."
"Ah, jadi mereka sudah berpisah?" aneh, rasanya tidak sesakit yang kiky bayangkan. Kiky ingat, dia pernah melihat ayahnya jalan bersama wanita lain. Pun Ibunya tahu, tapi mereka tidak pernah membahasnya. Tapi Kiky tahu, rumah tangga mereka tidak baik-baik saja. Meskipun dalam hati Kiky menginginkan keutuhan rumah tangga orang tuanya.
"Kau baik-baik saja?"
"Iya. Aku baik-baik saja."
Hening.
"Aku tahu, kau masih belum menerima perpisahan mereka. Tapi ini sudah takdir. Ayah dan Ibu sudah menemukan pasangan lain yang membuat mereka bahagia."
"Ibu sudah menikah juga?"
"Belum, tapi tidak lama lagi. Mungkin."
Kiky mengangguk. "Apa kita juga akan begitu nantinya? Menemukan pasangan lain untuk bahagia?"
Tiba-tiba mobil berhenti mendadak, memang itu tepat berada di lampu merah. Tapi cara Riko menghentikan laju kendaraannya sungguh tidak anggun. Kiky memekik kaget lalu melotot kesal pada Riko, namun dia segera menciut ketika melihat tatapan mengerikan Pria itu.
"Aku tidak suka membahas perpisahan antara kita!"
Kiky menelan ludahnya susah payah. "Tapi... ini hanya-"
"Meskipun hanya mengandai-ngandai!"
"Sorry," cicitnya, lirih. Kiky hampir menangis melihat wajah mengerikan Riko.Wajahnya menunduk, sebisa mungkin tidak melihat wajah mengerikan itu. Kiky terkejut ketika tiba-tiba kepalanya ditepuk pelan, Riko tidak bicara apapun. Sebelum Kiky berbicara Riko sudah memindahkan tangannya pada roda kemudi, melajukan kendraannya membelah kepadatan kota.
****
Kulkas kosong, bibir Kiky cemberut. Hanya ada buah dan air mineral, pun dengan botol kosong. Jujur saja, Kiky belum menyentuh dapur semenjak dia sadar karena yang dia tahu Riko sudah menyediakan semua makanan meskipun itu memasan dari luar. Sementara Kiky hanya rebahan di kamar sambil memainkan ponsel yang menurutnya cukup asing.
Sebelumnya Kiky ingat jika ponsel itu memiliki banyak tombol keypad, tapi sekarang hanya dengan sentuhan dilayar. Pun dengan bentuknya yang lebih tipis dan lebar, Kiky seperti punya mainan baru yang menyenangkan untuk dipelajari.
Sekarang Riko tidak ada dan dia lapar. Kiky ingat pria itu pernah memesan makanan lewat telepon. Tapi, dia tidak tahu bagaimana membayarnya. Tempo lalu saja, ketika dia makan bersama teman-temannya mereka yang membayar.
Kiky mencari dompet, melihat isinya. Dia ingin menangis ketika tidak menemukan uang didalam sana. Banyak kartu terselip, tapi dia tidak tahu pinnya. Lupa ingatan benar-benar buruk. Dia merasa bekerja keras tampa menikmati hasilnya.
"Lapar," gumamnya seperti anak kecil. Tubuhnya dibanting di atas sofa empuk ruang tamu. Matanya terus menatap pintu berharap suaminya datang. Suami? Terdengar lucu, tapi Riko memang suaminya.
Kiky memainkan ponselnya bosan. Kemudian dia punya ide, kenapa dia tidak mengirim pesan pada Riko agar membelikannya makanan. Ini mungkin pesan pertamanya untuk pria itu, mereka tidak pernah saling mengirim pesan. Riko akan segera menghubunginya ketika membutuhkan sesuatu, sementara Kiky belum membutuhkan apapun sampai saat ini. Yah, kecuali makanan.
Senyum Kiky menggembang ketika pesannya sudah terkirim. Tapi senyumnya kembali menghilang ketika perutnya berbunyi. Dia lapar. Tiba-tiba pintu utama terbuka.
"Kau sudah pulang?" entah kenapa Kiky sedikit kecewa, dia baru mengirimi pria itu pesan. Kiky mengecek dua centang yang belum berubah biru. "Kau belum membaca pesanku?" bibir Kiky cemberut. Tidak ada yang bisa menyelamatkan perut laparnya.
"Kau mengerim pesan?"
"Percuma." kepala Kiky lunglai diatas sandaran kursi. Dia akan mati lemas karena kelaparan. Tampa sadar tangannya mengusap perut ratanya dan itu menarik perhatian Riko.
Pria itu tersenyum kecil, berjalan mendekati istrinya itu yang akhir-akhir ini menjadi menggemaskan. Riko meletakan bungkusan makanan di atas meja tepat di depan perempuan itu.
"Ah, makanan!" seru Kiky. Hidung anjingnya mengendus aroma enak.
"Hem... makan yang banyak." Riko meninggalkan Kiky di ruang tamu. Tanpa sadar senyum tipis terbentuk pada bibir pria itu
"Tidak ada makanan satu pun di kulkas. Kenapa kita tidak belanja?"
Riko menghentikan langkahnya kemudian berbalik. "Belanja?"
Satu jam kemudian mereka berada di supermarket, Riko mendorong troli sementara Kiky yang memasukkan barang kedalamnya. Suasana lumayan ramai karena ini malam minggu, banyak promo yang ditawarkan dan banyak pemburu promo. "Wah ini murah, lebih hemat lima ribu dari harga normal." Kiky memasukkan dua pouch minyak goreng kemasan dua liter. "s**u juga promo. Biskuit, ah ini juga. Bagus sekali ada banyak promo."
Dahi Riko mengerut, Kiky hampir memasukan semua jenis barang promo nyaris mengisi seluruh ruang dalam troli. Belum lagi ditambah kebutuhan rumah tangga. "Obat nyamuk, Oh mie instan! Nugged, sosis."
"Siapa yang akan memakan mie instan sebanyak ini?"
"Stok kalau lapar tengah malam." Kiky tersenyum kemudian dia memimpin menuju rak sayuran segar. Wanita itu terlihat serius ketika memilih bahan makanan segar. Sepemilih apapun, Kiky tetap memasukan yang pertama kali dia sentuh.
"Siapa yang mau memasak? Kenapa membeli sayuran dan daging sebanyak ini." Itu bukan hanya satu macam, ada beberapa macam sayuran, pun dengan daging ada yang digiling dan ada daging beku, lalu ayam dan ikan. Jangan lupakan satu lusin telur.
"Aku. Apa tidak bosan makan makanan dari luar terus?"
"Kau bisa masak?"
"Apa maksudmu?" Kiky tidak terima kemampuan memasaknya diragukan.
"Tidak ada. Ayo ke kasir sebelum antrinya semakin panjang."
Jujur saja, selama menikah Kiky tidak pernah memasakan Riko dari bahan makanan segar. Biasanya wanita itu hanya akan membuatkan roti bakar, sosis atau kentang goreng, sereal dan telur goreng karena mereka hanya makan bersama di rumah ketika sarapan, untuk makan siang mereka di tempat kerja masing-masing dan makan malam lebih sering makan di luar. Pernah beberapa kali ketika makan malam, itu pun memasak pasta instan.
Mereka mengantri urutan ke tiga, tapi dua di depan belanja lumayan banyak. Jadi masih agak lama. Tepat di depan mereka ada seorang Ibu yang membawa anak perempuan kecil yang dinaikan dalam troli. Sangat lucu dengan pipi tembem dan rambut diikat dua. Gadis kecil itu tertawa melihat Kiky yang menggodanya dengan mengembungkan pipi atau memonyongkan bibirnya. Ibu gadis itu tersenyum.
"Umur berapa Bu?"
"Delapan belas bulan."
"Ihh lucu." Kiky mencolek pipi lembut gadis kecil itu. Dia ingin menggendongnya, tapi itu tidak mungkin. Dia sedikit kecewa ketika gadis kecil itu pergi bersama Ibunya, tidak ada lagi hiburan menggemaskan. Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas dalam benaknya. Dia melirik Riko yang selalu serius dan akan bertanya ketika sampai rumah nanti.
Ketika sampai rumah dia tidak sabar untuk bertanya. Tubuhnya bergerak gelisah, bahkan dia menunggu pria itu selesai mengambil air minum.
"Ada apa?"
"Emm... itu... Berapa lama kita menikah?"
"Dua tahun."
"Em." Kiky mengangguk.
"Kenapa?"
"Tidak. Aku hanya sedang berpikir, kenapa kita belum memiliki anak?"
Riko tersedak air yang diminumnya. Dia menatap wanita di depannya. Apa dia tidak salah dengar?
***
Bersambung....