"Itu Kak Riko dan Kaka Chiva!"
"Sudah setahun sejak mereka lulus, tapi mereka masih bersama." untuk apa siswa yang sudah lulus datang ke sekolahnya dulu? masa hanya sekedar jalan-jalan, pikir Kiky penuh tanda tanya.
"Sweet sakali. Oh, ayo minta tanda tangan mereka."
"Kenapa mereka ke sini?"
"Mereka mau mengucapkan selamat pada adik kelas, mungkin. Lihat, mereka mengobrol dengan anak osis. Ayo minta tanda tangan, sebelum mereka pergi."
"Mereka bukan artis kan?" gerutu Kiky, tapi gadis itu tetap berjalan menuju Gerombolan. Seperti prosesi kelulusan pada umumnya, mereka semua mencoret-coret seragam putih abu-abunya dengan pilok dan spidol. Tanda tangan teman-teman seangkatan beserta nama dan quotes pendek disertakan dibawah tanda tangan itu.
Tiba-tiba ponsel Kiky berbunyi, itu dari ayahnya. Entah kenapa perasaan Kiky tidak nyaman karena telepon itu, seperti ada sesuatu yang salah. "Halo?" perlahan ekspresi wajah perempuan itu berubah. "Aku tidak mau!" Jeritnya mengabaikan tatapan dari orang-orang di sekitarnya.
"Ki kenapa?" semua orang menatap ke arahnya yang menangis keras. Tubuh Kiky sampai merosot ke tanah. Gadis itu menangis seperti kesurupan.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau orang tuaku cerai! Tidak mau!" raungnya melempar ponselnya ke sembarang arah.
"Ki, tenang."
"Tidak mau, aku tidak mau disini! Aku mau pulang!"
"Ki!" teman-temannya berusaha mengejarnya, Kiky kalut. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan. Yang ada diotaknya hanyalah segera menemui orang tuanya untuk mempertahankan keluarganya.
****
"Hati-hati!" Pekik Kiky.
Riko susah payah menghentikan batuknya. "Apa kau baik-baik saja?" dia menempelkan tangannya pada dahi Kiky untuk memeriksa suhu tubuh perempuan itu.
"Seharusnya aku yang bertanya, kau yang tersedak."
"Pertanyaanmu yang membuatku kuatir."
"Apa yang salah dengan pertanyaanku?" Kiky mengerutkan keningnya. Bukankah itu normal untuk pasangan.
"Apa itu masih perlu ditanyakan?"
"Memang dimana salahnya? Aku hanya bertanya, tapi bukankah jika dihitung tahun kita menikah, paling tidak seharunya kita sudah punya bayi?" Wanita itu merentangkan tangannya sebagai alat bantu hitung. "Apakah ada yang salah denga salah satu dari kita?"
Riko ingin tertawa terbahak-bahak. "Apa kau tahu sarat memiliki bayi?" tanyanya. Akan jadi frontal jika dia bertanya apa wanita itu tahu cara membuat bayi.
"Tentu saja! Menikah, memangnya apa lagi?" sahut Kiky yakin.
Bolehkah Riko menggetok kepala istrinya itu? Apalagi perempuan itu mengatakan itu dengan senyum lebar yang polos seakan mengatakan jawabannya benar. "Apa kau seorang dokter?"
"Apa kah itu harus kau tanyakan?!" Kiky seperti akan mengigit Riko ketika pekerjaannya dipertanyakan. Dia melakukan dengan cukup baik meskipun dia tidak mengingat apapun. Mungkun Riko tidak tahu tapi tubuhnya seperti memiliki jiwa sendiri untuk menyembuhkan pasiennya.
Riko tersenyum miring, senyum yang menyebalkan menurut Kiky. "Apa kau benar-benar tidak tahu proses membuat bayi?"
Dahi Kiky mengerut. "Menikah, apa itu tidak benar? Ah ya, memang ada beberapa orang yang mengandung tampa menikah. Tapi itu di luar kendali,"
"Jadi?" Kiky menatap Riko dengan matanya yang polos, demi Tuhan wanita didepannya ini sudah berusia dua puluh delapan tahun kenapa dia bisa bersikap polos seperti gadis berusia tujuh belas tahun. "Dalam pelajaran biologi, proses pembuatan bayi adalah ketika seperma bertemu dengan sel telur." kata Riko perlahan, layaknya menjelaskan kepada anak kecil.
"Oke, lalu?"
Riko tidak tahu harus tertawa atau menangis. "Artinya kalau ingin memiliki bayi kita harus melalui proses itu." Riko berbalik, melanjutkan menyimpan bahan makanan segar ke dalam lemari es. Belanjaan mereka sangat banyak, nyaris membuat lemari es mereka tidak muat untuk menyimpannya.
"Dan bagaimana caranya itu?"
"Kau benar-benar tidak tahu?"
"Kalau aku tahu aku tidak akan bertanya!" Kiky benar-benar kesal, kesabarannya nyaris habis. Dia hanya bertanya dan pria itu menjawab dengan terbelit-belit.
"Jangan sok polos."
"Apa maksudmu?!" Kiky bertolak pinggang, dagunya dia angkat tinggi-tinggi. Menantang pria menyebalkan yang menjadi suaminya itu.
Riko tersenyum. "Kau benar-benar ingin tahu cara membuat bayi?" pria itu melipat tangannya didada. Menatap Kiky penuh profokasi. "Caranya membuat seperma dan sel telur bertemu?" Kiky mengangguk. "Sederhana, kita hanya harus tidur bersama."
"Bukanah selama ini kita tidur bersama? Kita tidur di tempat tidur yang sama, kamar yang sama."
"Apakah menurutmu itu saja cukup?" Riko tersenyum miring. Gayanya layaknya seorang fuckboy.
"Apakah itu tidak cukup? Lalu kita harus bagaimana?"
Riko memiringkan kepalanya, menyenangkan menggoda Kiky sekarang. Perempuan itu lebih ekapresif, bukan wajah tampa ekspresi seperti robot. Riko sengaja mendekatkan kepalanya ke kepala Kiky, berbicara lirih pada telinga perempuan itu. "Melakukan itu."
"Itu apa?" oke Kiky benar-benar bingung sekarang. "Memangnya apa yang biasanya pasangan suami istri lakukan ketika tidur?"
Riko mengulum senyum, merogoh saku celananya kemudian membuka internet. Memberikan gambaran-gambaran secara umum. Eskpresu wajah Kiky berubah, dia mundur dua langkah menatap Riko horor lalu melarikan diri menuju kamar tidur. Riko tidak dapat menahan ledakan tawanya karena itu.
****
Kiky menatap Riko dengan waspada ketika melihat pria itu berada di dalam kamar. Dia berjalan seperti kepiting menuju tempat tidur dengan tatapan tidak pernah putus dari pria itu. Segera dia menyembunyikan badannya dibalik selimut sampai menutupi wajahnya. Pria itu tidak bisa menahan senyum geli sebelum badannya menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Setelah bunyi pintu tertutup Kiky menurunkan selimutnya sebatas mata. Mengintip suaminya. Agak lega ketika pria itu tidak melakukan apa-apa dan bersikap biasa. Mungkin memang dia yang berlebihan, lagi pula mereka sudah dewasa. Hal-hal seperti itu bukan masalah besar. Dan mungkin saja mereka sering melakukannya dulu. Yap dulu, karena Kiky tidak ingat. Memangnya pasangan mana yang tetap perawan setelah bertahun-tahun menikah.
Kini Kiky lebih santai, mengubah posisinya menjadi bersandar. Dia ingat belum menyelesaikan membaca novel-novel yang sempat dia beli tadi. Dahi Kiky mengerut ketika novel yang dia baca ternyata tentang pernikahan dan di dalam novel itu dibahas apa yang pasangan itu lakukan di kamar tidur.
Ceritanya menarik, Kiky membuka halaman tengah secara acak untuk mempercepat, segera saja perempuan itu tenggelam di dalam cerita. Dia sampai terkejut ketika ranjang di sampingnya agak bergoyang.
"Tidak perlu sampai terkejut begitu, aku tidak akan melakukan apapun." Riko menarik selimut.
"Emm...," Kiky menjepit bibirnya, ragu untuk bertanya.
"Ada apa lagi?"
Kiky tersenyum, "Apa... emm... apa..." Ah, dia benar-benar gugup, Kiky menyelipkan helaian rambutnya di belakang telinga. Senyumnya malu-malu layaknya anak kecil yang menginginkan sesuatu.
"Apa apa? Jangan berbelit-belit."
"Galak banget." bibir Kiky cemberut. "Apa selama menikah...," Kiky mengantung kata-katanya. "Apa selama menikah kita belum pernah melakukan itu?"
"Itu?" ulang Riko tidak mengerti. Semenjak Kiky jatuh dari tangga sikapnya agak aneh. Terlalu kekanak-kanakan, meskipun dalam beberapa hal, Riko lebih menyukainya sikapnya yang sekarang. "Itu apa, aku tidak mengerti itu."
"Ishh! Itu seperti ini!" Kiky memberikan novel ditangannya kepada pria itu tampa melihat. Sangat memalukan membiarkan novel seperti itu dibaca oleh suaminya itu. "Ah, tapi itu tidak mungkin kan. Kita sudah menikah selama beberapa tahun. Pasangan mana yang tetap perawan setelah menikah lama?"
"Berhenti membaca novel seperti ini." pria itu meletakkan novel di atas nakas.
"Jadi?"
"Apa?"
"Apakah kita pernah melakukan itu?" kenapa Riko menghindari pembicaraan itu. Apakah dia benar-benar masih perawan? Apakah mereka belum pernah melakukannya? Apakah pernikahan mereka terpaksa dan Riko masih terjebak dalam masa lalunya. Banyak sekali pertanyaan di dalam kepala Kiky.
"Sudah malam, ayo tidur." pria itu merubah posisi menjadi miring membelakangi Kiky Sengaja menghindari pertanyaan-pertanyaan tidak jelas dari perempuan itu. Mematikan lampu utama dengan remot, hanya menyisakan lampu tidur di samping Kiky.
"Apakah aku masih perawan setelah dua tahun menikah?"
Riko terkejut dengan gumaman Kiky. Lalu dia menepuk lengan perempuan itu pelan. "Kata-kata macam apa itu?"
"Apa aku salah? Kenapa? Apa aku tidak menarik?" Kiky menunduk untuk melihat penampilannya. Piama lengan panjang kotak-kotak berwarna merah over size yang membaluttubuhnya ,penampilan yang konservatif. Tidak menarik sama sekali. "Apa aku harus menggunakan gaun tidur seksi agar menarik."
"Ki... Sudah malam? Ayo tidur." Riko ingin tertawa melihat ekspresi istrinya itu. Meskipun pencahayaan hanya berasal dari lampu tidur, Riko melihat dengan cukup jelas ekspresi sedih perempuan itu.
Riko tidak mengerti, kenapa tiba-tiba saja Kiky memikirkan anak bahkan sebelumnya mereka tidak pernah membiacarakannya. Mungkin karena dalam hati, mereka belum benar-benar siap mengemban tanggung jawab yang besar untuk membesarkan seorang anak.
"Apa aku-"
"Ki, tidur."
"Oke."
****
Tbc...