"Andine." Kiky tersenyum lebar ketika bertemu dengan wanita itu di rumah sakit. Mereka berada dalam shift yang berbeda, jadi sangat jarang sekali bertemu.
"Hey Ki." sapanya kembali.
Kiky mengagumi penampilan Andine, dia cantik dengan tampilan wanita dewasa yang meskipun sopan, tapi juga menggoda. Andine pintar menunjukkan bagian-bagian dari tubuhnya untuk menarik perhatian lawan jenis. "Emm... Apakah aku boleh minta bantuanmu?"
"Tentu, apa itu?"
"Emm... " Kiky tersipu malu, mengatakannya dengan suara lirih. "Menemaniku belanja baju."
Andine terkejut, tidak pernah sekalipun wanita di depannya ini mengajaknya belanja bersama. Andine bahkan pernah ragu perempuan itu membeli bajunya sendiri. "Tentu. Kapan?" Andine tidak bisa menahan perasaan senang yang membuncah dalam dadanya. Kiky hanya mengajaknya belanja bersama, tapi Andine sudah sesenang itu.
"Bagaimana jika besok sore, setelah selesai praktek. Besok kau selesai jam delapan kan?"
"Iya, Tentu!"
Kiky tersenyum lebar. "Terimakasih. Sampai Jumpa besok." Kiky semakin yakin, Andine adalah orang yang tepat untuk membantunya memilihkan beberapa gaun seksi seperti yang ada di dalam novel. Mungkin juga bisa memilihkan beberapa pakaian kerja dan casual yang cocok untuk Kiky.
Tapi pertama-tama dia harus tau pin kartu debit miliknya. Selama ini Kiky selalu bergantung pada Riko karena dia tidak memiliki uang. Belanja keperluan rumah dan makan selalu pria itu yang membayar. Percuma saja Kiky punya empat kartu debit dan tiga kartu kredit di dalam dompet kalau dia tidak bisa menggunkaannya. Masalahnya dia tidak tahu pinnya. Dia sudah mencobanya di ATM center rumah sakit dan dia sudah dua kali salah pin. Hanya tinggal satu kesempatan lagi. Apakah dia harus bertanya pada Riko?
Tantu. Munkin pria itu tahu. Mereka suami istri, tidak ada rahasia diantara mereka. Senyum Kiky semakin lebar, dia segera pulang untuk memasak. Kiky harus menyogok pria itu agar semuanya aman terkendali.
Tiga puluh menit kemudian Kiky sudah ada di dapur. Mengeluarkan semua bahan makanan yang dibutuhkan di atas meja. Beberapa hari ini, Kiky memasak beberapa hidangan seserhana. Meskipun tidak ada respon dari Riko, tapi pria itu makan dengan lahap. Karena ini sogokan, hidangan malam ini harus lebih istimewa.
Omong-omong Kiky tidak tahu makanan apa yang pria itu suka. Bibir Kiky cemberut lucu, Ah masakan saja apapun yang enak, pasti suaminya itu akan memakannya dengan lahap.
Dengan bermodalkan internet Kiky mengesekusi bahan makanan yang sudah dia siapkan. Kiky suka dengan perkembangan teknologi, semua serba mudah. Hampir dua jam Kiky memasak dan menyiapkan semuanya.
Kiky berdecak senang dengan hasil kerja kerasnya. Selain dokter sepertinya dia punya bakat dibidang lain. Setelah ini, dia hanya perlu menyiapkan dirinya. Segera Kiky berlari menuju kamar tidur, mempersiapkan penamilannya agar Riko mantapnya tanpa berkedip. Kiky tertawa senang dalam hati.
****
"Selamat datang." senyum cerah Kiky menyambut kedatangan Riko. Pun pakaiannya terlihat rapi dengan dress sifon warna putih di bawah lutut, dan apa itu warna pink pada tulang pipinya? Kiky memakai make up?
Aneh, mungkinkah ini yang dinamakan ada udang dibalik batu. Riko tetap kalem, mengukuti permainan Kiky. Dia penasaran apa yang perempuan itu inginkan. Biasanya perempuan bersikap baik jika menginginkan sesuatu.
"Duduk. Aku sudah memasak banyak makanan." Kiky menarik kursi untuk pria itu. Melayani dengan sopan.
Jujur saja, Riko agak terkejut dengan banyaknya hidangan diatas meja makan. Pun dia tidak yakin Kiky yang memasak semuanya. Kiky bukan tipe perempuan yang mau repot-repot memasak di dapur. Kalau Riko boleh menghitung, Kiky hanya memasakan kurang dari dua puluh kali selama mereka menikah. Sepertinya tidak buruk juga Kiky kehilangan ingatannya.
"Ayo makan." Kiky menyendokan semua masakannya ke dalam piring pria itu. Setelah semua hidangan ke dalam piring, dia duduk di seberang pria itu. Mengambil makanan untuk dirinya sendiri. "Aku tidak tahu makanan apa yang kau suka, jadi aku memasak makanan yang aku suka karena untuk apa aku memberikan makanan kepada orang jika aku sendiri tidak suka."
Riko memperhatikan istrinya dalam diam. Baru menyadari jika perempuan itu ternyata banyak bicara. "Aku tidak terlalu pilih-pilih makanan, kecuali terong."
"Sama. Aku juga tidak pilih-pilih makanan, aku makan semua dari bahan dasar daging, buah dan sayur. Selama sayur itu tidak pahit dan buah tidak terlalu asam aku akan memakannya." Kiky tersenyum lebar. "Oh ya, bagaimana rasanya?"
Riko menelan makanannya susah payah. Makanannya hanya tinggal setengah, apakah perempuan di depannya ini perlu jawaban. "Enak."
Kiky tersenyum puas. "Aku melihat resepnya dari internet. Mungkin aku bisa memikirkan bisnis dalam bidang kuliner."
"Omong-omong apa ada yang kau inginkan?"
"Kau tahu?" Kiky tersenyum salah tingkah. Tangannya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku mau belanja dengan Andine besok. Tapi," Kiky terlalu malu untuk menanyakan pin kartunya.
"Aku sudah transfer untuk bulan ini. Apakah kurang? Kalau iya akan ku transfer lagi."
"Bukan itu." Kiky sudah mendapat pemberitahuanya dari sms banking. "Aku hanya ingin bertanya, apakah kau tahu pin kartu-kartu milikku. Kau tahukan aku hilang ingatan, aku tidak dapat mengingat pin kartuku. Jadi aku tidak bisa menggunakannya."
"Tidak."
"Apa? Bagaimana mungkin, kita suami istri. Seharusnya tidak ada rahasia diantara kita."
Riko menaikan satu alisnya. "Kau bisa memakai kartuku." pria itu membuka dompetnya.
"Bukan begitu. Aku sudah mencoba dua kali angka yang paling memungkinkan, tapi salah. Tinggal sekali lagi." bibir Kiky cemberut.
"Biarkan saja kartumu terblokir, kau hanya perlu membuat kartu baru. Itu lebih mudah. Oh, sepertinya aku pernah melihatmu membuat catatan di ponsel biar ku lihat." Kiky menatap bingung pada tangan Riko yang menengadah. "Berikan ponselmu agar aku bisa memeriksanya."
"Hemm... jadi kau sering mengintip apa yang kulakukan dengan ponselku?" Kiky tersenyum miring.
"Mau kuperiksa tidak?" Riko mengabaikan Kiky, jari-jari panjangnya bergerak. Tanda meminta ponsel perempuan itu.
"Iya Oke." Kiky segera berdiri di belakang Riko, mengamati apa yang pria itu lakukan dengan ponselnya. Kiky membutuhkan waktu beberapa hari untuk melihat-lihat isi ponselnya pun membuka setiap aplikasi yang ada.
"Aku pernah melihatmu membuat note. Itu sungguh berbahaya jika ponselmu hilang. Orang asing yang menemukannya bisa menggunakan data pribadi yang kau simpan disini." ceramah Riko. Bibir Kiky cemberut, tapi perempuan itu tidak berkomentar. "Lihat. Ini adalah daftar Pin dan Password. Sungguh ceroboh. Lagakmu seperti wanita perfectionist, tapi kau menyimpan hal-hal seperti ini di note ponsel."
"Jadi ini Pin kartu-kartuku. Oh, semua Pinnya sama." kata Kiky mengabaikan omelan pria itu. Kiky lebih mendekatkan wajahnya ke arah layar membuat wajah mereka saling bersentuhan. "Ini M banking password." senyum Kiky mengembang. Akhirnya aku bisa menggunakan aplikasi i wallet untuk belanja." Akhirnya Kiky bisa foya-foya dengan hasil kerja kerasnya.
Seketika Riko menolah, bersamaan dengan Kiky yang menoleh ke arahnya. Wajah mereka begitu dekat, bahkan hanya dengan satu gerakan kecil bibir mereka bisa bertemu. Waktu disekitar mereka seperti berhenti sama beberapa detik.
"Ah, terimakasih untuk Pinnya." Kiky memutus kontak mata, tapi Itu adalah sepuluh detik paling lama dalam hidup mereka. Perempuan itu mengambil ponselnya dari tangan Riko, gugup.
"Aku bisa belanja dengan tenang karenanya." seperti tidak pernah terjadi apa-apa Kiky kembali duduk di kursinya. Melanjutkan makannya yang tertunda. Tapi detakan jantungnya tidak bisa disembunyikan. Mungkin jika Kiky tidak segera melarikan diri, Pria itu sudah mendengar suara debarannya.
Tadi itu benar-benar nyaris saja.
*****
Tbc....