Kiky agak shock ketika Andine memilihkan beberapa potong pakaian seksi. Dia tidak yakin akan cocok memakai baju-baju menggoda itu. Bentuk tubuhnya memang lebih indah dibandingkan ketika dia menggunakan seragam putih abu-abu, tapi mentalnya? Mental Kiky masih seperti anak-anak.
"Apa kau yakin aku cocok menggunakan baju ini?" Kiky menempelkan selembar baju pada tubuhnya. Wajahnya tampak geli ketika membayangkan memakai baju itu.
"Kau pasti akan sempurna. Kulit putihmu akan sangat kontras dengan gaun hitam ini." sahut Andine santai. dia melemparkan beberapa potong baju lagi. "Ayo dicoba." Andine mendorong Kiky masuk ke ruang ganti.
Liurnya hampir menetes ketika melihat Kiky mencoba semua pakaian yang dia pilihkan. Tidak ada satu pun yang tidak cocok. Andine jadi ketagihan memilihkan baju untuk perempuan itu. Kiky membeli lima dari selusin gaun tidur seksi yang Andine pilihkan, kemudian Andine menarik Kiky ke beberapa toko pakaian dan sepatu. Mereka hampir menghabiskan gaji selama dua bulan untuk membeli barang-barang itu.
"Apa Riko akan marah?" Andine mengigit bibir merahnya. Dia lupa Kiky berbeda, perempuan itu sudah menikah dan harus mendapat ijin dari suaminya untuk membeli barang-barang di luar kebutuhan rumah tangga. Meskipun Riko bukan pria pelit, tapi siapa yang tidak marah jika sekali belanja bisa untuk membuka toko.
"Aku..., " Kiky menggantung kata-katanya, menjawab dengan ragu, "Tidak tahu." dalam hati Kiky takut juga kalau suaminya itu sampai marah. Pria itu sungguh memiliki ekspresi yang menyeramkan.
Andine mengangguk pelan. "Kita ajak Riko dan Sendi makan malam bersama." dalam hati Andine berharap dengan ini bisa mengurangi amarah pria itu. "Omong-omong apa kau membayar belanjaanmu dengan kartu milik Riko?"
"Tidak. Aku membayar dengan kartuku sendiri."
"Bagus. Kalau begitu tidak ada laporan." kata Andine lega. Penyesalan memang selalu datang terlambat, dia terlalu semangat memilihkan baju untuk Kiky karena perempuan itu cocok memakai semuanya. "Sendi dan Riko setuju untuk makan malam bersama, ayo."
Ketika ke dua pria itu sampai lokasi, makanan sudah terhidang di atas meja. Andine sangat agresif untuk memesan semua hidangan. Bahkan Kiky sampai tidak memiliki kesempatan untuk memesan sendiri. Tapi itu bukan masalah, semua makanan yang datang kelihatan enak.
"Duduk, aku sudah memesankan semuanya. Tidak perlu kuatir, aku yang traktir." semua mata langsung tertuju pada Andine.
"Ada apa ini?" Sendi menatap kekasihnya penuh tanda tanya, biasanya jika perempuan itu bersikap seperti ini dia sedang menutupi rasa bersalahnya. Sendi memicingkan matanya. "Apa kau selingkuh?"
"Apa?! Apa kau gila? Memangnya kau ada bukti menuduhku seperti itu?!" bentak Andine. Matanya seperti memiliki sinar merah dan muncul dua tanduk di kepalanya. Oke, itu adalah sebuah jawaban jika Andine tidak selingkuh.
"Kau tahu? Kau sangat mencurigakan." kata Riko tenang.
Tiba-tiba Andine berubah gugup. Perempuan itu merasa bersalah pada Riko. Matanya tidak mau menatap pria itu.
"Apa ada yang ingin kau katakan padaku?" Tanya Riko, dia semakin yakin ada yang disembunyikan oleh wanita itu.
"Tidak ada! Ayo makan. Ki." Andine memberi kode pada Kiky yang kebingungan. Tapi karena Andine nampak kesusahan, Kiky menurut seperti apa yang wanita itu katakan.
Riko dan Sendi saling pandang, ada yang aneh dengan Andine, kemudian keduanya menatap Kiky yang makan dengan tenang. Sulit memprediksi apa yang dipikirkan oleh perempuan itu. Kiky sangat pandai menyembunyikan perasaannya, mesti kesal ataupun sedih wanita itu bisa mempertahankan wajah datarnya. Mereka menyerah dan memilih hidangan makan malam.
Andine lebih banyak bicara dan menceritakan hal-hal yang menurut mereka tidak penting. Entah apa yang sudah dilakukan oleh wanita itu yang jelas dia benar-benar seperti merasa sangat bersalah.
"Sudah malam." Riko memotong ocehan Andine. "Mana barang-barangmu?" Riko merujuk pada Kiky. Tidak ada tas belanja.
"Di mobil."
"Ambil. Kita pulang."
"Tapi, aku membawa mobil sendiri. Karena aku yang meminta Andine menemaniku aku yang menjemputnya."
"Sen." Riko melempar kunci mobilnya pada Sendi lalu meminta kunci mobil Kiky.
"Emm... belanjaan Andine masih di mobil."
Riko memberi kode sehingga Sendi dan Andine mengikutinya. Pria itu menatap dingin pada tas-tas belanja di kursi belakang mobil Kiky, kemudian melihat tas belanja yang diambil oleh Andine. Dia mengerti hal inilah yang membuat Andine gugup. Bahkan wanita itu semakin menundukan kepalanya ketika Riko melihat ke arahnya.
"Ki, aku duluan... Jaga dirimu baik-baik." bisik Andine sebelum mengikuti Sendi menuju mobil milik Riko.
"Belanjamu menyenangkan?" tanya Riko ketika mereka bergabung dengan kepadatan lalu lintas.
"Iya. Andine memilihkan aku banyak sekali, rasanya sudah lama sekali aku tidak belanja semenyenangkan ini." Kiky tertawa bahagia. Memang tidak ada yang paling luar biasa selain shopping.
"Dia tidak telihat tertekan ketika kalian belanja?"
"Tentu saja tidak. Dia baik-baik s tapi dia kelihan aneh setelah kami selesai." Kiky menatap Riko yang fokus ke jalan. "Sepertinya dia takut padamu." bisiknya.
Riko tersenyum kecil, dia sangat paham itu. "Apa aku menakutkan?" tanyanya.
"Iya." sahut Kiky cepat. Riko merengut tidak suka. "Lihat kau memang semenakutkan itu." Kiky tertawa, melihat perempuan itu tertawa sebahagia itu membuat Riko mengulum senyum. Kenapa dia tidak pernah melihat tawa renyah ini sebelumnya.
****
Kiky agak kepayahan memindahkan belanjaannya ke kamar tidur, padahal Riko ikut membantu. Tas belanja itu terlihat seperti semakin banyak dan besar ketika sampai rumah.
"Pakaian, tas, sepatu."
"Sebenarnya kalian membeli apa saja?" Riko mengintip salah satu tas, benda itu berisi gaun musim panas yang cantik berwarna putih. "Apa kau akan memakai semua ini?"
"Emm... Iya. Tentu saja." sahut Kiky. "Aku mau mandi dulu, badanku gerah setelah seharian keliling mall." perempuan itu mengangkat dagunya tinggi berjalan menuju kamar mandi, tidak lama Kiky kembali muncul. Melihat-lihat belanjaannya yang posisinya tidak berubah sedikit pun, kemudian mengambil salah satu paper bag. "Aku akan mulai dengan memakai yang ini." katanya kepada Riko yang mengamatinya dalam diam.
Riko tidak menjawab, dia merebahkan badannya di atas tempat tidur ketika Kiky kembali masuk ke dalam kamar mandi. Kadang sikap perempuan itu sangat aneh. Berpuluh-puluh menit kemudian Kiky menyelesaikan acara mandinya, Riko tau tapi pria itu masih fokus pada ponselnya sampe Kiky berdehem kecil. "Apa aku cocok memakai ini?"
Riko menoleh, tanpa sadar dia menelan ludahnya susah payah. Kiky beridiri dengan rambut setengah basah dibungkus handuk, memakai gaun tidur sutra berwarna nude yang jatuh setengah lutut. Caranya berdiri malu-malu dengan kaki dirapatkan seperti tidak nyaman membuat jiwa kelelakian Riko terbangun. Sangat seksi.
"Baju apa yang kau kenakan?" Sial! suaranya berubah serak. Gaun tidur Kiky tidak memamerkan belahan dadanya, meskipun gaun itu menggantung dengan tali keciil di pundak putih wanita itu.
Kiky tersenyum malu, senyum itu kelihatan natural. "Kata Andine gaun ini membuatku kelihatan inoccent, tapi juga menggoda. Aku salah mengambilnya, harusnya aku memkai yang satu lagi. Apakah jelek?" bisiknya pada kalimat terkahir.
"Ki."
"Em?"
Riko sekuat tenaga menahan sisi liar pada dirinya. Mungkin pernikahan mereka dingin sebelumnya, tapi mereka tetap pernah melakukan hubungan badan. Itu seperti kebutuhan untuk mereka meskipun tidak intens dilakukan. Dan Kiky berhasil membangkitkan sisi kelakian Riko, perempuan itu harus bersiap-siap menerima akibatnya.
"Kemarilah." Riko sudah tidak tahan lagi, segera dia menarik tangan Kiky hingga jatuh ke dalam pelukannya. Tanpa ragu melumat bibir menggoda wanita itu, perasaan haus menguasai Riko. Rasanya tidak pernah cukup sekeras apapun dia meneguk kenikmatan dari wanita di bawahnya itu.
"Aw, pelan-pelan." Kiky mendorong tubuh Riko dengan tangan kecilnya.
"Maaf," mata Riko terasa buram melihat Kiky terengah-engah dibawahnya, "Aku akan lebih pelan." suara erangan Kiky kembali tersengar. Malam itu benar-benar terasa luar biasa. Beberapa kali mereka pergi ke puncak bersama dan beberapa kali pula mereka mengulanginya lagi.
****
Tbc...