"Ky..." Riko memeluk tubuh Kiky dari belakang. Menyerukan kepalanya pada leher wanita itu, Kiky selalu memiliki wangi yang segar dan menggoda.
"Ada apa?" Kiky terkejut Riko menariknya dan membantingnya diatas tempat tidur.
"Aku menginginkannya lagi, Apa kau juga menginginkannya?" sebelum Kiky menjawab bibir Riko membungkan bibir lembut itu.
Kiky merasa aneh, mereka hanya memadukan bibir. Tapi kenapa rasanya bisa senikmat ini. Dia menyukainya. Kiky mengikuti insting membalas tiap sentuhan Riko, tubuhnya seperti tahu apa yang harus dilakukan. Seperti ketika dia mengobati pasien-pasiennya di rumah sakit.
Setelah malam itu, Kiky seperti merasa ketagihan dengan apa yang Riko lakukan kepadanya. Tak jarang dia memancing pria itu untuk meneguk kenikmatan yang diberikan oleh pria itu. Apakah Kiky sudah berubah menjadi nakal?
Panas sangat panas. Keduanya selalu bermain dengan panas. Pada dasarnya libido Riko besar dan pria itu tidak pernah menahan diri. Pun dengan Kiky yang paham akan hal itu. Dulunya perempuan itu tahu bagaimana bermain secara aman, agar apa yang mereka lakukan tidak menghasilkan bayi. Tapi Kiky yang sekarang berbeda.
Riko berhenti. Apakah Kiky aman? Biasanya perempuan itu akan meyakinkan hal itu, tapi kali ini? Mata Riko menatap wajah sayu Kiky dibawahnya. Wajah menggoda penuh gairah itu tidak pernah berubah dari yang selalu Riko ingat. Hanya saja kali ini wajah itu terlihat lebih pasrah. Seperti ketika pertama kali mereka melakukannya.
Napas Kiky tersengal. Tubuh mereka sudah tidak tertutup kain satu pun, hanya satu langkah terkahir dan mereka akan mendapatkannya. "Apa kau aman?"
"Hah?"
Riko tahu, Kiky tidak aman. Tangan panjangnya menarik laci, mencari apa yang dia butuhkan. Riko memaki kecil. Tidak ada. Mungkin dia lupa membeli pengaman karet itu karena selama menikah mereka hampir tidak menggunkan benda itu. Riko menatap Kiky yang kebingungan, gairah yang menutupi wajah perempuan itu perlahan seperti menguap dan sebelum benar-benar hilang, Riko kembali memberi sentuhan pada tubuh wanita itu.
Sebuah erangan lolos dari bibir Kiky. Perempuan itu terkejut ketika Riko memasukinya tampa aba-aba. "Ini bukan yang pertama kalinya untuk kita." bisik Riko mengulum senyum. "Apa aku kasar?"
"Tidak. Aku hanya terkejut." sahut Kiky sambil mengatur napasnya.
Riko tersenyum. "Aku akan lebih lembut." bisiknya, dia memutuskan untuk tidak memakai pengaman, toh dia bisa menghindari dengan cara alami. Meskipun itu akan sulit.
****
Dalam cahaya remang Riko mengamati Kiky yang tidur lelap. Tubuhnya meringkuk dalam selimut yang hangat. Bibir Riko tersenyum. Mereka baru saja menghabiskan malam menyenangkan yang panjang. Riko hampir kesulitan mengontrol napsunya.
Tangan Riko mengusap lembut bahu telanjang Kiky, lalu menepuk kepala perempuan itu. "Apa kau benar-benar melupakan masa lalu?" bisiknya sendu. "Semoga itu memang benar." harapnya, agar mereka bisa memulai semuanya dari awal.
****
Riko tahu semua orang menghawatirkannya, semenjak dia putus dengan Chiva hampir semua orang yang mengenalnya menganggapnya murung. Konyol. Dia tidak berubah sama sekali, dirinya memang seperti ini. Mereka saja yang berlebihan.
Lalu sekarang orang tuanya juga ikut-ikutan. Ingin menjodohkannya dengan perempuan yang Riko tidak tahu siapa. "Namanya Kiky, dia anaknya teman Ibu. Dulu nenekmu dan neneknya juga berteman. Oh, dia juga berada di sekolah yang sama denganmu. Hanya beda dua tahun, mungkin kamu kenal."
Riko tersenyum menanggapi Ibunya yang terus bercerita tengang perempuan pilihannya. Ide perjodohan selalu monoton, anak dari teman atau cucu dari teman, "Ibu sudah kenal dengan Kiky?"
"Belum." perempuan paruh baya itu melirik pada suaminya, meminta bantuan. Tapi suaminya pura-pura tidak tahu. "Tapi Ibu yakin dia perempuan yang baik. Oh dia juga seorang dokter. Ibu di kasih lihat fotonya, ini. Dia cantik kan?"
"Cantik." sahut Riko apa adanya. "Memangnya dia menerima perjodohan ini?"
"Tentu saja. Kenapa tidak? Anak Ibukan ganteng dan punya karir yang bagus."
Riko nyaris tertawa mendengar pujian Ibunya. Pun dengan ayah dan adik perempuannya yang sudah menyemburkan tehnya.
"Bang Riko tidak asik, pasti calon istrinya berubah pikiran." gadis remaja itu segera menutup mulutnya ketika mendapat pelototan dari ibunya. Jarak usianya dengan Riko terpaut jauh, jadi mereka tidak terlalu akrab. Pling mentok adik perempuannya akan minta uang untuk jajan.
Pertemuan antara keduanya terasa singkat waktu itu, Riko seperti tidak asing dengan wajah Kiky tapi dia juga tidak mengingatnya. Kiky tidak banyak bicara, dia adalah sosok yang serius dan pendiam. Karena wajah orientalnya yang cantik dan manis dia tidak terlihat menyebalkan ataupun judes menjadi perempuan pendiam. Malah itu kelihatan imut.
Semua terasa cepat, waktu dan lokasi pernikahan semua segera ditentukan. Tidak ada protes dari Kiky, pun dengan Riko yang tidak ingin menyakiti keluarganya maupun keluarga Kiky karena penolakannya. Semua berjalan dengan cepat dan lancar. Sampai prewed semua masih baik-baik saja. Hingga, Riko tidak sengaja bertemu dengan Chiva di studio foto.
Chiva dengan sikap rapuh dan manjanya yang selalu meluluhkan hati Riko muncul dihadapannya. Meminta maaf untuk semua masa lalu yang menyakitkan. Riko tersenyum tipis, rasanya memang sangat menyakitkan ketika semua harapan yang dia bangun bertahun-tahun dihempaskan begitu saja.
Riko tidak akan lupa bagaimana Chiva menghianatinya. Tidak apa jika itu hanya hanya perselingkuhan biasa, tapi nyatanya Chiva sampai hamil. Riko sangat kecewa, dia begitu menjaga kekasihnya itu, tapi kekasihnya tidak terbuka kepadanya.
"Aku dan Beni tidak harmonis dan anak dalam kandunganku gugur." Chiva berbicara nyaris berbisik karena manahan air matanya agar tidak jatuh.
"Aku akan bicara pada Beni." dalam hati, Riko tersenyum miris, bagaimana rasanya jika suami mantanmu sekantor denganmu. Yah, setidak nyaman itu. Penghianatan yang mereka lakukan benar-benar menciptakan luka dalam yang akan membekas selamanya.
"Jangan!" Chiva meremas jaket Riko. Dia mengigit bibirnya gugup. "Semua salahku, aku tahu kita tidak mungkin lagi kan? Jangan dijawab. Aku sudah tahu." tiba-tiba Chiva memeluknya erat. Riko terkejut, tapi dia tidak memiliki waktu untuk menghindar. "Biarkan aku memelukmu sebentar. Hanya sebentar, untuk masa lalu kita."
Riko terdiam, dia tidak membalas atau menolak. Pelukan itu hanya lima menit, tapi itu adalah lima menit yang menyakitkan untuk Riko.
"Terimakasih." Chiva tersenyum sebelum pergi. Riko terdiam sebelum kembali ke dalam studio, tidak baik jika dia menghilang terlalu lama di hari pengambilan foto prawed.
Riko terkejut ketika berbalik melihat Kiky berdiri dengan gaun pengantin. Wajah perempuan itu datar hingga Riko tidak dapat menebak apa yang perempuan itu pikirkan. "Kau sudah lama berdiri disitu?"
"Cukup lama." sahutnya tenang. "Sepertinya hubungan kalian memang tidak bisa berakhir begitu aja. Oh, aku seperti pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, hanya berbeda sedikit."
"Apa?"
Mata Kiky berkedip, itu hanya kedepian biasa tapi terlihat luar biasa. "Dulu, ketika aku pulang telat. Aku melihat kalian berdua, di sudut sekolah." Kiky berjalan mendekat, mencondongkan kepalanya dekat kepala Riko. Sepatu hak tinggi yang dipakainya sungguh membantu untuk menambah tingginya. "Berciuman. Cukup panas."
"Apa?!" Riko terkejut.
"Kita satu sekolah, tidak ada yang tidak tahu tentang pasangan sempurna SMA Harpin."
"Lalu sekarang apa?" tanya Riko. Kalau memang Kiky pernah lihat lalu apa, itu memang pernah terjadi di masa lalu. Masa lalu yang tidak bisa dirubah, yang akan terus menjadi bagian dari dirinya. Tapi masa depan akan berbeda, "Aku tidak bisa merubah apa yang terjadi di masa lalu."
"Aku tidak memintamu untuk merubah masa lalu."
"Lalu?"
"Hubunganmu dan mantanmu itu bukan urusanku. Hanya saja, aku ingin kita berdua menjaga sikap ketika sudah menikah." tempo nada bicara Kiky masih stabil. Tidak mencerminkan ekspresi apapun.
"Kau tidak ingin membatalkan perikahan?"
"Kau ingin membatalkan pernikahan?" Kiky bertanya balik dengan tegas. "Masih ada waktu kalau kau mau."
"Kenapa sejak awal kau menerima perjodohan ini kalau kau tidak ingin menikah?"
"Aku...," Kiky menggantung kata-katanya. Berbalik. "lelah."
****
Sampai sekarang Riko masih belum mengerti jalan pikiran Kiky. Perempuan itu tidak menolak hubungan badan karena dia juga memiliki kebutuhan, tapi nyatanya Rikolah yang pertama. Namun tiap kali melakukannya dia selalu mengatakan dia aman, bukankah itu artinya dia masih tidak menghendaki anak? Tapi bagaimana jika sekarang posisinya seperti ini? Tunggu. Bukankah kemarin malam mereka juga melakukannya dengan panas. Pun Riko tidak memakai pengaman, bisa saja janin sudah terbentuk sejak kemarin.
Riko memejamkan matanya, kemudian dia kembali melihat wajah Kiky yang terlelap dengan tenang. "Apa yang kau inginkan?" lirihnya. Riko akan menghargai apapun yang Kiky inginkan, apapun.
*****
Tbc....