"Kata-katamu menyakitinya, sayang" tegur wanita paruh baya yang telah menemani pria itu selama hampir 25 tahun. Ia kembali memberanikan diri untuk bersuara. Setelah putri dari suami tercintanya itu, pergi meninggalkan mereka berdua dengan kemarahan yang tergambar nyata diwajahnya.
"Biarkan saja, ia terlalu seenaknya sendiri" ucap Dalvin dengan masih dengan kekeras kepalaannya. Wanita paruh baya itu menghembuskan nafas kasar. Saat mendengar jawaban suaminya. Menurutnya, Dalvin memang salah. Ia membatalkan kontrak kerja milik Alvin dengan seenak jidatnya. Jadi wajar saja, jika Alvin sangat murka padanya.
"Ia berbuat seenaknya sendiri. Menawarkan diri jadi model pakaian dalam. Mau ditaruh dimana wajahku. Jika sampai orang-orang bergunjing tentang perilakunya" lanjut Dalvin.
"Kau bisa berdiskusi dengannya. Membicarakan semua ini dengan baik-baik. Kepala dingin. Bukan merusak hasil kerja kerasnya" ucap Istrinya itu memberi saran pada suaminya.
Dalvin mendengus kasar. "Ia juga merusak kerja kerasku untuk membangun Image di depan masyarakat". Ucap Dalvin tak ingin mengalah sama sekali.
"Sayang" panggil Istrinya dengan lembut.
"Sudahlah.." Dalvin mengibaskan tangannya ke udara. "Aku juga tidak menginginkannya. Aku mengakuinya hanya agar media tidak terlalu mengusikku dengan masa laluku yang menelantarkan anak kandungku sendiri."
"Alvin" ucap seseorang yang berasal dari arah luar ruang keluarga. Suara itu secara otomatis, langsung menghentikan perdebatan sementara suami istri tersebut.
Errick, putra Dalvin sedang menatap bingung pada adiknya, yang malah tertunduk diam, bersandar di pintu. Dan ia juga mengernyitkan dahi heran, melihat ekspresi terkejut dari kedua orang tuanya.
Alvin mendongakkan kepala, untuk melihat siapa yang telah memergokinya, menguping pembicaraan dua orang dewasa yang menjadi bagian hidupnya sejak dua tahun yang lalu. Dan saat matanya bertemu dengan Errick, kakak tirinya. Ia tersenyum miring.
Lalu membalikkan badan, dan membuka pintu itu lebar-lebar.
"Kau ternyata lebih b******k dari Dastan" ucapnya datar, tanpa emosi.
"Al..vin" panggil wanita itu dengan sedikit terbata. Ia sedikit menyesal berdebat dengan suaminya tanpa memastikan jika orang yang mereka bicarakan sudah benar-benar pergi.
"Kalian tahu mengapa tuhan menciptakan mulut berada di depan?" tanya nya pada semua orang yang berada disana.
"Agar kita tidak membicarakan orang lain di belakang mereka. Karena membicarakan keburukan orang lain di belakang mereka. Hanya dilakukan oleh orang-orang pecundang sepertimu" jawab Alvin atas pertanyaan yang ia lontarkan.
"Kau tidak menginginkanku? Tak apa.. aku juga tak ingin diakui anak oleh pecundang sejati sepertimu"tambahnya.
"Calon presiden?.. " Alvin terkekeh sinis."Memimpin sebuah keluarga saja kau tak becus. Dan kau berkhayal ingin memimpin rakyat. Wow. Anda sangat berambisi sekali tuan Dalvin".
Tangan Dalvin mengepal kuat. Egonya terluka diperlakukan seperti itu oleh anak kandungnya sendiri. Melihat hubungan ayah dan anak yang kembali memanas. Istri Dalvin tak tinggal diam. Ia berusaha menengahi keduanya.
"Al" panggilnya lembut. Ia mengeluarkan sosok keibuan nya untuk menghadapi emosi anak tirinya tersebut. Namun tak diindahkan sama sekali oleh gadis itu. ia malah bersikap tenang. Namun sorot matanya...
"Al" panggil wanita itu untuk kedua kalinya. Ia melihat sorot mata Alvin. bukan kemarahan yang ada dalam sorot matanya itu. Melainkan sorot mata kekecewaan dan sebuah harapan yang telah dihempaskan oleh suaminya itu.
Setelah lama terdiam. Alvin pun kembali mengeluarkan suaranya. Namun kali ini sorot matanya tajam menatap Dalvin dengan intens. "Maaf tuan Dalvin yang terhormat, jika selama ini, aku selalu merepotkanmu dan mencoreng nama baikmu. Dan aku sudah memutuskan, mulai hari ini, aku keberatan untuk memanggilmu ayah. Walaupun itu hanya sebuah kata yang harus aku ucapkan diatas kertas akta kelahiran".
Alvin pun pergi begitu saja setelah memutus ikatan ayah dan anak itu. Ia melangkah dengan langkah yang terasa ringan. Seolah hatinya memang menginginkan ini sejak lama. Namun ia tak bisa melakukannya dari dulu. Ia tak ingin membuat kecewa ibunya, lalu mengapa ia harus repot-repot mempertahankan pria b******k itu. Jika pria itu saja, tak pernah menginginkannya.
Tak hanya memutus ikatan ayah dan anak tapi Alvin juga memberikan kenang-kenangan dengan menghancurkan kediaman Dalvin dengan cara, memecahkan beberapa koleksi gucci mewahnya seharga puluhan milyar. Hanya dengan sedikit dorongan dari ujung jarinya. Namun menghasilkan efek domino kerusakan yang luar biasa.
"Apa ini sikap pemimpin Cody Darrance yang sesungguhnya. Bersikap kekanakan" teriak Dalvin yang langsung menghentikan langkah Alvin.
"Ahh.. aku lupa, Durrant, Demestria, saham di Achazia bahkan perusahaan Diona yang berhasil kau selamatkan. Semua itu tak lebih dari warisan untukmu. Bukan kau yang membangunnya dari awal. Maka jangan sombongkan itu di depanku. Tanpa uang jajan dariku dan Rafka. Kau....."
"Apakah kau sedang memamerkan uangmu yang kau berikan tak seberapa itu?" potong Alvin. ia lalu membalikkan badannya hingga bisa langsung berhadapan dengan Dalvin.
"Kau lupa sesuatu tuan Dalvin. Aku sudah bekerja keras sejak umurku 8 tahun. Aku mencari uangku sendiri untuk bertahan hidup. Lalu.. masalah semua perusahaan yang kau sebutkan tadi. Apakah aku mengemis agar mereka memberikannya padaku?". Alvin menggelengkan kepala lalu melanjutkan ucapannya. "Mereka mempercayaiku. Dan aku menjaga kepercayaan mereka. Jika kau berpikir aku tak bisa hidup tanpa uangmu dan ayah Rafka. Anda salah besar tuan."
"Mau kubantu untuk mengganti tembokmu ini dengan cermin. Agar kau setidaknya lebih sadar diri lagi. Dari siapa sifatku ini berasal" tambahnya dengan menekankan kata sadar diri.
Alvin lalu tertawa geli. "Kekanakan?".. "Akan kuperlihatkan bagaimana sikap kekanakanku padamu". Dan Alvin kembali melanjutkan langkahnya untuk meninggalkan rumah itu.
"Kau benar-benar bersikap kejam padanya Al." ucap istri Dalvin yang sedari tadi jadi penonton atas keributan yang kembali terjadi. Ia menatap wajah suaminya itu dengan pandangan sendu. "Aku kecewa padamu, AL" tambahnya.
"Sayang" bujuk Dalvin lembut. Ia berusaha menggenggam tangan istrinya itu. Namu buru-buru dihempaskan oleh istrinya itu.
"Apakah kau lihat sorot matanya?. Ia berharap lebih padamu Al. berharap kau dapat mengerti dirinya, keadaannya, kemauannya, dan kau yang akan jadi sandaran hidupnya". Ucap wanita paruh baya itu panjang lebar.
"Aku tak mengerti sama sekali dengan jalan pikiranmu, Al"
"Alvin hanya seorang anak yang ingin merasakan kasih sayang darimu. Ia memang berusia 25 tahun. Tapi bagiku, ia tak lebih dari seorang anak kecil yang terjebak dengan keadaan. Sedari kecil ia dipaksa untuk bersikap dewasa sebelum waktunya. Bekerja sana-sini untuk bertahan hidup. Aku kau tak bisa merasakannya sama sekali?" tanya nya.
"Minta maaf padanya, atau aku tak mau membantumu lagi".
***
Seorang pria berlari sangat tergesa-gesa setelah mendapat sebuah pesan singkat yang menyuruhnya untuk sampai di tempat latihan Baseball dalam dua puluh menit. Ia berlari dengah nafas yang terengah-engah, walaupun ia berkendara kesini menggunakan sebuah mobil. Namun jarak dari Basement parkir dengan lapangan itu sangatlah jauh.
Setelah berlari selama lima belas menit, akhirnya ia sampai di lokasi yang dimaksud. Disana ia melihat seorang gadis yang tengah duduk berselonjor dengan lutut yang ditekuk sebelah. Tatapannya kosong, namun pria bernama Leon itu berasumsi jika atasannya sedang kelelahan hanya dengan melihat bola Baseball yang berserakan di sekelilingnya.
"Kau terlambat 2 menit 27 detik, Leon" ucap Alvin tanpa memandang asistennya itu.
"Maafkan saya nona, saya sedang sibuk membayar denda atas pembatalan sepihak kita" ucap Leon memberi alasan atas keterlambatannya.
Wajah Alvin berubah murung kembali dan hampir menangis setelah mendengar alasan Leon. Tidak. Ia tidak menangisi hubungannya dengan pria b******k itu. Ia menangisi kontraknya dengan beberapa brand ternama. Ia sudah bersusah payah, kerja keras siang dan malam agar bisa menjadi brand ambassador produk mereka. Namun hasil keringatnya, tak membuahkan hasil karena keegoisan pria b******k itu.
"Kau sudah membereskan semuanya?"tanya Alvin kembali. Leon mengangguk sebagai jawaban. "Dendanya sebesar...". Alvin mengangkat tangannya. Mengkode Leon untuk tak lagi meneruskan laporannya. "Aku tau jumlahnya akan sangat besar. Karena tak hanya satu brand saja yang ia batalkan." Potong Alvin.
Hening sejenak, mereka sama-sama terdiam. Sebelum akhirnya Alvin mengerutkan dahi ketika mengingat sesuatu yang pernah Leon bicarakan.
"Siapa lawan ayahku dalam pilpres nanti?' tanya Alvin pada Leon.
"Keluarga Pouyanne" jawab Leon singkat. "Anda akan merencanakan sesuatu?" Leon balik bertanya.
Alvin mengangguk samar. "Aku akan mendukung pihak lawan" putusnya. Namun mata Leon membulat sempurna mendengar keputusan Alvin tersebut.
"Itu sama saja dengan anda melakukan perlawanan secara terang-terangan. Dan itu akan membuat ayah anda semakin murka" ucap Leon memperingati.
Alvin mengedikkan bahu."Tak masalah. Pria b******k sepertinya tak pantas memimpin suatu negara" jawabnya.
"Saya hanya bisa mendukung apapun rencana anda, Nona" ucap Leon menunduk hormat. Karena sepertinya ia memang tak memiliki pilihan selain mendukung apapun yang ingin dilakukan atasannya itu.
"Semuanya akan mudah.. karena sebelumnya anda sudah pernah bertemu dengan anak satu-satunya keluarga Pouyanne" tambahnya.
"Kapan?"
"2 tahun yang lalu, saat anda baru diresmikan menjadi pemimpin Achazia. Disaat orang-orang meragukan kemampuan anda. Patrick Pouyanne lah, satu-satunya orang yang membela anda". Alvin menatap Leon intens seperti sedang mencari kebenaran tentang apa yang diucapkannya.
"Menurut pandangan saya, sepertinya Tuan Patrick memiliki ketertarikan pada anda". Ucap nya kembali.
"Dan aku harus memanfaatkannya?" tanya Alvin ragu. "Atau mungkin anda bisa membuat kesepakatan dengannya" ucap Leon memberi saran.
"Ok. Baiklah".
"Oh iya, telfon pihak imigrasi. Aku ingin dalam dua hari mereka mendepak Dalvin dari negara ini". pinta Alvin pada Leon.
"Tapi Nona.." terdapat raut wajah takut dan ragu di wajah Leon.
"Apa yang kau takutkan?. Ia baru calon presiden bukan presiden di negara ini. ini wilayahku bukan wilayahnya. Aku bebas berbuat sesuatu disini" Alvin menatap tajam Leon. "Cepat lakukan Leon!!. Jika mereka tak mau melakukannya. Bilang pada mereka, jika aku akan mendepak mereka semua dari kantor itu dan bekerja dijalanan. Paham?!!" ucap Alvin bernada tegas. Leon langsung menggangguk mengerti.
Namun sebelum ia pergi untuk melaksanakan perintah Alvin. ia menyodorkan sesuatu berupa kertas undangan yang berhiaskan pita berwarna merah.
"Apa ini?" tanya Alvin setelah menerima undangan itu dari tangan Leon.
"Pesta Amal yang selalu diadakan 3 tahun sekali di paris. Anda kali ini diundang mewakili Cody Darrance" jelas Leon.
"Kikan saja yang datang" ucap Alvin acuh.
"Nona Kikan sedang berada di London. Ia sedang mengurus anak perusahaan kita yang baru" jawab Leon.
"Aku tak mau pergi." Ucap Alvin bernada Final.
"Tapi anda akan bertemu dengan Patrick Pouyanne disana" bujuk Leon. Alvin mengerang frustasi saat Leon seperti sedang membukakan jalan untuknya bertemu dengan lelaki itu.
"Apakah Darren juga mendapatkan undangan ini?" tanya Alvin dengan raut wajah yang berharap jika Leon dapat mengatakan tidak
untuk pertanyaannya itu.
***
"Apakah Alvin juga mendapatkan undangan ini" tanya Darren pada Sam. Mereka kini tengah berada di ruang kerja milik Darren yang dulu pernah ditempati oleh Alvin. Beberapa saat yang lalu, Sam masuk ke ruang atasannya itu untuk memberikan sebuah undangan yang sama persis seperti yang didapatkan oleh Alvin.
"Sepertinya iya.." jawab Sam.
"Apa ia akan datang?" tanya Darren meragu.
"Kemungkinan besar, Nona Alvin akan datang" jawab Sam kembali.
Darren terdiam. Hatinya membuncah bahagia. Ia jadi tak sabar untuk menunggu pesta itu. ini adalah tahun kedua. Dimana Alvn benar-benar menghindar darinya.
Bahkan disaat ia memiliki 9% saham dari ibunya. Ia tak pernah memunculkan batang hidungnya kembali di perusahaan ini. Gadis itu seperti sibuk dengan dunia lamanya yaitu menjadi seorang model. Ia memang belum bertemu lagi dengan Alvin. tapi ia memiliki mata-mata di seluruh penjuru kota ini yang selalu melaporkan aktivitas Alvin setiap harinya.
"Aku tak sabar untuk bertemu denganmu" gumam Darren sembari memandang foto Alvin yang selalu menemaninya bekerja seharian di kantor.
"Berapa hari lagi?" tanya Darren tanpa mengalihkan pandangannya dari foto Alvin.
"3 hari dari sekarang, lebih tepatnya akhir minggu ini" jawab Sam kembali.
"See you soon, sayang"