John F. Kennedy International Airport at 07.00 p.m
"Hiks...Hiks..Hiks" terdengar suara tangis sesenggukan dari wanita paruh baya yang terlihat seperti tidak rela melepas kepergian putrinya itu.
"Sudahlah sayang, lihat" ucap Rafka. Sembari menunjukkan suasana sekitarnya yang seolah berfokus pada ketiganya.
"Kau membuat kita menjadi pusat perhatian orang" bisik Rafka tepat di telinga istrinya itu.
Vallen lalu berbalik memeluk Rafka erat. Seakan sedang menyembunyikan rasa malunya. Alvin yang melihat interaksi keduanya hanya bisa menghela nafas panjang.
Bukan tangisan seperti ini yang ia mau. Jika saja orang tuanya tak mendapatkan undangan yang sama persis dengannya. Mungkin ia akan memilih pergi nanti. Satu hari sebelum acaranya dimulai.
Tapi ketika ia pulang ke rumah dan melihat surat undangan yang tergeletak begitu saja di meja ruang tamu. Ia mulai berpikir, orang tuanya saja diundang apalagi Dalvin b******k itu. ia juga pasti diundang diacara yang sama dengannya. Jadi ia memutuskan, jika ia harus segera menemui Patrick ataupun keluarga Pouyanne sebelum acara pesta amal itu dimulai. Setidaknya ia harus segera menemukan jawaban jika Patrick mau membantunya atau tidak. Sebelum ia melakukan rencana cadangan kalau-kalau Patrick tak sudi menolongnya.
"Tapi Raf.. lihat putri kita akan pergi lagi" ucap Vallen masih di tengah isak tangisnya. Alvin yang mendengar itu hanya bisa tersenyum tipis namun hatinya menghangat luar biasa. Ia seperti disadarkan dengan seberapa besar kasih sayang suami istri tersebut kepadanya. Itu jugalah yang menjadi alasan Alvin selama dua tahun ini tidak pernah pergi jauh dari New York. karena Vallen selalu sedih jika ia meninggalkannya sendirian di rumah dalam jangka waktu yang cukup lama.
"Bun.. Alvin kan cuman pergi lebih dulu saja ke paris. Bunda dan ayah, akan menyusul. Lusa". Alvin memeluk Vallen untuk menenangkannya.
"Kenapa.. kau tidak berangkat.. bersama kita saja lusa?" tanya Vallen entah keberapa kalinya.
Alvin tersenyum hangat. "Alvin.. ada urusan disana bunda." Jawab Alvin memberikan alasan.
"Tapi perasaan bunda tidak tenang Al.. Kau juga menolak pergi menggunakan jet pribadi. Bunda hanya khawatir, takut terjadi sesuatu disana"ucap Vallen memberitahukan rasa khawatirnya.
Mungkin terdengar berlebihan tapi perasaannya mendadak gelisah saat putrinya mengatakan akan berangkat ke paris malam ini juga.
"Alvin.. kesepian bunda.. perjalanan New York - Paris memakan waktu selama 7 jam. Al, tidak mau kesepian selama perjalanan berjam-jam itu" jawab Alvin.
"Masih ada pramugari" kekeh Vallen di sela isak tangisnya yang mulai terhenti.
"Sayang.. sudah.. kita masih bisa menyusulnya lusa" ucap Rafka berusaha memberi pengertian pada istrinya itu.
"Tapi..." Rafka menggeleng. Mengkode istrinya untuk tidak melanjutkan protesnya pada Alvin.
Vallen mengerucutkan bibirnya dan melangkah mendekati Alvin .Ia merapikan baju putrinya yang hari ini sedang mengunakan blouse berwarna putih gading dan jaket berwarna hitam. Ia menatap Alvin dengan tersenyum hangat sembari berkata
"Bunda, berat banget kalau harus lepasin kamu untuk bepergian seperti ini. bunda khawatir kamu kenapa-napa."
"Bahkan bunda lebih mengkhawatirkanmu dibandingkan dengan Kikan, kakakmu. Bunda khawatir dengan sifat keberanianmu yang cenderung ke arah nekat" tambahnya.
Alvin memeluk Vallen dengan erat sembari berkata dengan tulus " I love you, Bun".
"Ayah gak dipeluk juga nih" ucap Rafka sembari merentangkan tangannya. Mengkode Alvin untuk memeluknya. " Love you, ayah" bisik Alvin saat sedang memeluk d**a bidag ayahnya itu.
"Ya sudah sana, nanti kamu ketinggalan pesawat" ucap Rafka mengingatkan.
"oke ayah.. bye ayah.. bye bunda"
Setelah memastikan kedua orang tuanya telah keluar dari bandara. Alvin melangkahkan kakinya untuk Check in. Tapi saat gadis itu akan melakukan check in, tiba-tiba saja ia melihat segerombolan orang yang berjalan masuk ke bandara dengan pengamanan cukup ketat.
Alvin memicingkan mata, untuk memperjelas penglihatannya. Ia merasa familiar sekali dengan tiga orang yang dikawal itu.
"Itu keluarga Deandra, mereka akan satu pesawat dengan anda, Nona" ucap petugas yang berada di belakangnya. Alvin menatap petugas itu dengan penuh tanya.
Petugas itu tersenyum canggung. Siapa dinegara ini yang tidak mengenali sosok gadis yang berada di depannya. Wajahnya selalu menghiasi televisi akhir-akhir ini dengan sejuta prestasi yang ditorehkannya.
Petugas itu mengkode dengan jarinya agar Alvin mendekat padanya. Alis Alvin terangkat heran namun tak urung mendekatkan telinga pada petugas perempuan itu.
"Menurut kabar yang beredar, mereka dikirim kesini dengan pengawalan dari pihak imigrasi. Sepertinya mereka ijin tinggal mereka sudah habis" bisiknya.
Alvin mengangguk mengerti dan mengucapkan terima kasih tanpa suara. Lalu bergegas pergi dari tempat itu. ia berjalan ke arah luar bandara dan langsung menghubungi seseorang.
"Kau berhasil mendepaknya?" tanya Alvin to the point.
"Benar, persis sesuai keinginan anda. Bahkan mereka bekerja jauh lebih cepat karena ketakutan dengan ancaman anda yang selalu terbukti nyata" jawab Leon.
"Apa ada masalah?" tanya nya
"Ya, ada. Aku satu pesawat dengannya.. ganti tiket ku di kelas ekonomi" titah Alvin.
"Tapi Nona.. nanti tuan Rafka.."
"Cepatlah Leon.. mengenai ayahku. Aku akan mengurusnya nanti. Aku tunggu 10 menit dari sekarang" Alvin langsung memotong ucapan Leon dan memberikannya perintah lagi.
"Baiklah Nona.." jawab Leon.
Panggilan pun langsung dimatikan oleh Alvin.
Sial..
"Alvin" panggil seseorang yang sudah tak asing lagi di telinganya. Karena tadi siang ia juga dipanggil dengan nada suara seperti itu. Alvin membalikkan badan dan melihat Errick sedang melambaikan tangan padanya.
Errick berjalan mendekati Alvin yang melangkah memasuki bandara. "Kau akan pergi kemana?" tanya Errick setelah Alvin duduk di kursi tunggu penumpang. Para pengawal dari pihak imigrasi pun berdiri tak jauh dari mereka.
"Paris" jawab Alvin singkat.
Lalu seseorang berpakaian seperti petugas bandara, datang menghampiri Alvin dan memberikan sebuah tiket kelas ekonomi padanya. Alvin mengucapkan terima kasih lalu petugas itu pamit dari hadapannya.
"Wow.. kita sama. Tapi mengapa kau berada di kelas ekonomi. Bukan di kelas satu?" tanya Errick penasaran. Ia juga menggaruk kepalanya tak mengerti. Bukankah adiknya cukup kaya jika hanya untuk membeli tiket kelas satu. Atau mungkin ia bisa saja menaiki pesawat jet pribadi seperti para pebisnis lainnya.
Dalvin tersenyum mencemooh akan pertanyaan putranya itu. Alvin yang melihat senyum menjijikkan itu lalu berkata. " Jika kalian mencemoohku, mengapa pemimpin Cody Darrance menaiki pesawat komersial. Jawabannya cukup sederhana saja. Karena aku tak suka kesepian di pesawat."
"Ku harap itu bisa menjawab pertanyaan kalian." Hening sejenak. Lalu kini giliran Alvin yang melontarkan pertanyaan. "Lalu mengapa calon presiden ini menaiki pesawat komersial?. Kau tak memiliki helikopter ataupun jet pribadi?"
Dalvin akan menjawab namun Alvin buru-buru melanjutkan kalimatnya. "Ah.. tak usah kau jawab. Kau pasti tak punya. Apalagi kau baru kandidat calon presiden, belum bisa mendapatkan fasilitas pesawat kepresidenan. Pengawalmu saja, petugas imigrasi. Tak keren sekali". Ucap Alvin dengan senyum mengejek.
Errick yang menyadari situasi akan berubah panas. Langsung berusaha mengalihkan pertanyaan pada adiknya itu. "Untuk apa kau ke paris?" tanya nya
"Menemui kekasihku" jawab Alvin dengan tersenyum misterius sekaligus memberikan tatapan menantang pada Dalvin. Errick akan bertanya lebih lanjut namun panggilan keberangkatan pesawat membuatnya harus segera bergegas dari tempat itu.
***
Sinar matahari pagi langsung menyambut kehadiran Alvin. Yang baru saja melangkahkan kaki keluar dari salah satu bandar udara tersibuk di dunia yaitu Charles de Gaulle Airport.Paris. Ini pertama kalinya ia menginjakkan kaki di ibukota negara perancis ini.
Alvin menarik koper mini miliknya dan berusaha mencari taksi agar cepat sampai di hotel.
Hotel?
Ah.. shitt.. ia lupa memberi tahu Leon untuk melakukan reservasi hotel. Sial ia akan seperti gelandangan saja disini. Ia memang menguasai bahasa perancis tapi rute jalan dan sebagainya. Ia tak tahu menahu sama sekali.
Alvin melirik jam di pergelangan tangannya waktu menunjukkan pukul 02:16 pagi waktu New York. sementara disini sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Paris memang lebih cepat 6 jam dari New York. yang artinya ia tak mungkin membangunkan Leon pagi-pagi buta hanya untuk menyuruhnya melakukan reservasi. Ia tak setega itu. Leon sudah cukup bekerja keras untuknya.
Alvin tersenyum miris. Sekarang ia terjebak di kota yang selalu dijuluki dengan kota Cinta. Apakah ia dapat merasakan romantisme cinta disini. Alvin menggeleng samar. Ia buru-buru menepis pemikiran seperti itu dan melanjutkan langkahnya untuk mancari kedai kopi terdekat. Karena ia sangat mengantuk.
"Bruk"
Seseorang menabrak dirinya saat akan menyeberang jalan. Alvin langsung menoleh ke kiri dan mendapati seorang lelaki yang terlihat masih muda. Terengah-engah seperti sedang di kejar sesuatu. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaketnya.
"Maaf" ucap lelaki itu sembari akan berlalu melewati Alvin.
"Tunggu". Alvin sedikit berlari untuk mengejar lelaki itu. ia tak mempedulikan kopernya yang masih tergeletak begitu saja di trotoar. Alvin mencekal lengan pria itu dan menariknya hingga mereka saling berhadapan.
"Ada apa?" tanya pria itu dengan nada malas.
Alvin tersenyum miring. "Sepertinya kau sedang terburu-buru. Tapi bisa tolong kembalikan dompetku?". Lelaki itu langsung menatap Alvin dengan rasa keterkejutan yang sangat kentara. Alvin bersikap tenang namun diam-diam mempertinggi tingkat waspadanya. Ia takut lelaki dihadapannya membawa senjata tajam yang bisa menyerangnya kapan saja. Wajah tak berdosa tidak menjamin seseorang tidak melakukan perbuatan dosa yang dapat mengancam keselamatannya.
"Apa maksud anda?" tanya lelaki itu.
Alvin berdecak kesal lalu menjawab dengan nada yang tak kalah sinis."Jangan pura-pura tidak tahu. Di saku jaketmu ada dompetku yang tersimpan di dalam sana. Cepat kembalikan". Alvin mengulurkan tangan kirinya. Mengkode lelaki itu untuk segera memgembalikan dompetnya.
Namun kepura-puraan lelaki itu membuat kesabaran Alvin kian menipis hingga Alvin pun kembali berkata " Aku tidak peduli dengan jumlah uangnya. Tapi aku malas mengurus surat-surat yang ada di dalam sana. Itu sangat membuang waktu."
Lelaki itu langsung menarik tangannya lepas dan menendang kaki Alvin. Dengan cepat Alvin menarik kembali lelaki itu sebelum melarikan diri lebih jauh. Dan menubrukkan badannya ke tembok membelakangi Alvin sambil memelintir kedua tangannya.
"Cepat kembalikan..." ucapan Alvin terpotong oleh sirine mobil polisi yang sedang patroli dan berhenti di dekatnya. Tanpa mau mendengarkan penjelasan Alvin terlebih dahulu. Polisi itu langsung menggiring ia dan lelaki itu untuk masuk kedalam mobil dan mobil pun bergerak menuju kantor polisi terdekat.
Sial..sial.. rutuk Alvin dalam hati.
Ia seperti sedang mendapat kesialan bertubi-tubi. Saking asyiknya merutuki nasibnya. Ia sampai tak menyadari jika dirinya telah tiba di kantor polisi yang jaraknya ternyata sangat dekat dengan lokasi ia dicopet.
Alvin dan lelaki itu digiring masuk seperti seorang penjahat yang tertangkap basah melakukan tindakan kriminal. Mereka berdua pun lalu dipersilahkan duduk untuk diinterogasi mengenai apa yang terjadi.
"Siapa namamu?" tanya seorang polisi yang berada di hadapan Alvin dengan bahasa perancis yang kenatal.
"Alvina" jawab gadis itu dengan nada malas.
"Nama lengkap" bentak polisi itu dengan menggebrak meja.
"Alvina Dayita el daka Deandra" gumam Alvin perlahan.
"LEBIH KERAS".
Alvin memutar mata malas . lalu mengulang kembali jawabannya dengan nada lebih keras hingga semua polisi itu tercengang dan menyadari jika putri kandung dari perdana menteri perancis ada bersama mereka.
"Kau putri kandung Dalvin?" tanya polisi itu dengan raut wajah cemas. Alvin mengedikkan bahu acuh. Dan bersandar sangat santai dikusinya. Ia lalu memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket, dan menyadari ada sesuatu yang tersimpan disana. Ia buru-buru mengeluarkan kertas itu. dan mengingat perkataan Leon jika itu adalah tiket spesial yang diberikan Patrick untuknya.
"Kau akan bebas. Jika kau menghubungi keluargamu" ucap polisi itu .
"Hei aku korban disini.." pekik Alvin tak terima. Ia menatap lelaki itu dengan sinis. Sepertinya memang ada yang tak beres disini.
Mungkin lelaki itu berkomplot dengan polisi dihadapannya.pikir Alvin.
Tak mau Dalvin ikut campur. Ia pun mulai mengadu keberuntungan dengan menyodorkan tiket yang diberikan Leon kehadapan polisi itu. Seorang polisi wanita langsung membulatkan mata tak percaya saat melihat tiket itu. lalu tangannya secara spontan bergerak menghubungi nomor yang tertera disana. Dengan wajah penuh ketakutan.
Alvin tak mengerti apa yang dibicarakan. Namun tak sampai sepuluh menit kemudian. Datang seorang pria masuk kedalam kantor polisi tersebut.
"Apa yang dilakukan gadis cantik sepertimu disini?" tanya pria itu pada gadis yang sedang duduk membelakanginya. Alvin refleks membalikkan badan lalu bergumam. "Patrick".
Gadis itu terdiam, ia tak tahu ini keberuntungannya atau tidak. Tapi ditengah kesialannya, ia bertemu dengan pria itu tanpa harus repot-repot mencarinya.