"Jadi.. Mengapa kau ada disini?" tanya Alvin dengan menyilangkan kedua tangannya di depan d**a dan menatap pria itu dengan tatapan menghakimi.
"Perlu kau tahu, jika aku tak percaya dengan apa itu yang namanya kebetulan".
Patrick, pria yang ditatap tajam oleh Alvin malah terkekeh ringan. Seakan tatapan itu tak berarti apa-apa untuknya. Netra mata nya balas menatap Alvin dengan tatapan menyeringai.
"Mengapa kau tidak bertanya pada petugas polisi di sampingmu? Karena ia yang menelponku kemari" jawab Patrick terdengar santai.
"Aku hanya memberikan kartu itu dan..." Alvin tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya. Saat ia menyadari jika kartu yang diberikan oleh Leon adalah kartu nama khusus milik pria itu.
"Sudah menyadarinya?" tanya Patrick setelah melihat Alvin yang terdiam cukup lama.
Tanpa menunggu jawaban gadis itu. Patrick lalu mengkode seseorang yang sejak beberapa menit yang lalu, berdiri tak jauh darinya.
"Selesaikan semuanya" titah Patrick pada pria itu.
Pria itu mengangguk patuh dan berjalan menghampiri polisi yang berada di hadapan gadis itu.
Patrick lalu berjalan menghampiri gadis itu dan mengulurkan tangan kanannya pada Alvin.
"Aku senang kartu itu akhirnya digunakan. Walaupun aku harus menunggu 2 tahun. Tapi tak masalah. Karena aku akhirnya bisa bertemu denganmu. Nona Alvin" ucap nya dengan tersenyum simpul.
Alvin terlihat enggan untuk menyambut uluran tangan itu. Namun kata-kata Patrick selanjutnya membuat Alvin mau tak mau menggenggam tangan pria itu.
"Aku tahu.. Kau ingin mengobrol banyak denganku. Tapi apakah kau nyaman mengobrol di tempat seperti ini?".
Mereka berdua pun keluar sembari berpegangan tangan. Seperti layaknya sepasang kekasih yang akan pergi berjalan-jalan. Lebih tepatnya Patrick yang menggenggam erat lengan gadis itu. Karena berkali-kali Alvin berusaha melepaskan genggaman itu. Tak nyaman dengan pandangan orang-orang pada mereka berdua.
"Tenanglah Al. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu" gumam Patrick perlahan tapi masih bisa terdengar oleh Alvin.
Saat mereka berjalan keluar dari kepolisian. Mereka berdua telah disambut oleh seorang pria lainnya yang berdiri di samping sebuah mobil berjenis lamborghini Veneno Roadster. Salah satu model mobil termahal yang pernah diproduksi oleh Lamborghini.
"Bagaimana kau mendapatkannya? Karena setahu ku, hanya tersedia 9 unit di seluruh dunia" tanya Alvin penasaran sekaligus kagum.
Ia memang menginginkan beberapa jenis mobil sport. Namun ia tak suka menghamburkan uangnya begitu saja.
"Aku membelinya di rumah lelang seharga 8,3 juta dollar (118 miliar rupiah)" jawab Patrick sembari berjalan ke arah pria itu dengan masih menggenggam tangan Alvin.
"Aku yang akan menyetir. Kau bisa beristirahat untuk beberapa hari kedepan" ucap nya dengan menyelipkan beberapa lembar uang kertas ke saku kemeja pria itu.
Mungkin untuk ongkosnya kembali ke rumah pikir Alvin.
"Bukankah kau juga memilikinya?" tanya Patrick sembari membukakan pintu mobilnya untuk gadis itu.
"Tidak.. Aku tidak memilikinya" jawab Alvin yang terdengar jujur. Namun menghasilkan kernyitan dahi begitu dalam di wajah pria tampan itu.
"Tapi Bukankah kau yang membeli mobil incaranku, The limited Edition Bugatti Veyron?". Sembari menjalankan mobilnya dan bergerak memasuki jalanan kota paris.
"Aku?" Alvin menunjuk dirinya sendiri.
Ia berpikir sejenak, Lalu teringat Kikan yang membeli mobil dengan kartu kreditnya.
"Ah.. Bukan aku, tapi kakak ku, Kikan. Ia membelinya dengan kartu kredit milikku " jawab Alvin.
"Kau baik hati sekali, dengan membelikan mobil seharga ratusan miliar pada kakakmu" puji Patrick tulus.
"Tidak.. Aku tidak sebaik hati itu" ucap Alvin tersenyum tipis.
Alvin menatap Patrick yang berada di sampingnya, di balik kemudi. Ternyata Patrick termasuk orang yang menyenangkan. Tak seperti bayangan nya selama dalam pesawat perjalanan ke paris. Ia membayangkan sosok Patrick yang keras kepala dan susah untuk diajak berkomunikasi.
"Ini pertama kalinya kau ke Paris?" tanya Patrick kembali membuka obrolan.
Sangat disayangkan bukan, jika ia mendiamkan gadis cantik di sampingnya.
"Iya" jawab Alvin singkat.
Ia memang jarang bepergian keluar negeri jika bukan berkaitan tentang pekerjaan.
"Tapi ayahmu tinggal disini". Patrick menatap Alvin penuh tanda tanya.
"Hubunganku tidak terlalu baik." ucap Alvin dengan senyum tak nyaman.
"Bisakah kita tak usah membahasnya?" pinta gadis itu.
Patrick mengangguk mengerti. Lalu beralih ke topik lain. "Jika kau pertama kali datang kesini. Lalu apa tujuan mu. Menyesatkan diri disini?" tanya Patrick dengan menekankan kata menyesatkan diri.
"Untuk bertemu denganmu" ucap Alvin acuh.
Namun Patrick langsung menginjak rem dalam. Hingga kepala Alvin hampir membentur Dashboard mobil.
"Kau gila" pekik Alvin kesal.
Tak hanya gadis itu, namun rentetan bunyi klakson di belakang mobilnya juga seakan meneriaki perilakunya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Patrick bergerak dengan panik.
Memeriksa sekujur tubuh Alvin. Dan menghembuskan nafas lega saat tak ada luka ataupun lecet yang ditemukannya.
"Aku minta maaf. Aku hanya terkejut mendengar jawabanmu" ucap Patrick lalu kembali menjalankan mobilnya.
"Ya sudah. Jangan mengobrol denganku. Aku masih ingin hidup" tukas Alvin tajam. Lalu mengalihkan pandangannya ke jendela di sampingnya.
Patrick pun berkendara dalam diam. Tak berani untuk kembali membuka obrolan. Ia juga merutuki kebodohannya yang membuat gadis itu menjadi kesal padanya.
Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di sebuah hotel yang cukup ternama di paris.
Patrick membukakan pintunya untuk Alvin. Lalu melempar kunci mobilnya pada petugas valet. Alvin mendongakkan kepala cukup tinggi. Untuk melihat gedung hotel yang cukup tinggi di hadapannya.
"Hotel ini sedikit menyeramkan, bagaimana kalau kita pindah hotel saja" pinta Alvin. Bulu kuduknya sedikit merinding. Melihat bangunan hotel yang dipenuhi oleh tanaman hias yang merambat itu menjalar sepanjang bangunan.
Patrick tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan ketakutan dari gadis itu.
"Kau menertawakanku?" tanya Alvin dengan nada kesal.
"Tidak.. Tidak bukan begitu.." Patrick berusaha menyangkalnya. Namun tawanya sedikit susah diredam. Hingga Alvin memicingkan mata.
"Ini hotel bintang lima Al.. Hotel termewah di paris. Bahkan untuk menginap semalam disini.. Gaji seorang presiden saja tak cukup" ucap Patrick memberitahu dengan nada angkuh.
"Ayo kita masuk, percayalah.. Didalam sana. Kau akan terpukau dengan kemewahan hotel ini"
"Ayoo" Patrick sedikit menyeret Alvin yang masih terlihat enggan untuk masuk.
"Tunggu Patrick. Bagaimana dengan koperku" tanya Alvin.
"Anak buahku akan mengurusnya" jawab Patrick dengan entengnya.
Saat memasuki lobby hotel. Benar apa yang dikatakan Patrick tadi. Ia benar-benar suka dengan interior hotel itu yang terlihat mewah namun tidak berlebihan.
Apalagi sofa merah yang tengah ia duduki. Terasa pas dengan nuansa gold yang berada di sekitarnya. Sementara Alvin duduk di sofa. Patrick melangkah kakinya menuju receptionist untuk memesan kamar mereka berdua.
Ia memutuskan untuk tinggal di hotel ini juga. Karena ingin memastikan tamunya ini aman. Dan mencegah kejadian seperti tadi pagi tak terulang kembali. Karena kota ini selain terkenal dengan nuansa cinta dan keromantisannya. Kota ini juga memiliki track record kejahatan yang tak sedikit.
"Ayo kita ke kamarmu" ajak Patrick pada gadis itu. Alvin pun berjalan mengikuti Patrick yang akan memasuki lift.
"Kupastikan kau akan menyukai kamarmu" ucap Patrick sedikit angkuh. Alvin diam tak menanggapi. Ia terlalu lelah jika harus kembali berdebat dengan pria disampingnya.
"Ini terlalu berlebihan Patrick. Aku hanya akan tinggal beberapa hari saja.Ini terlalu mewah untukku" ucap Alvin tak enak saat melihat kondisi kamar yang cukup luas dengan warna ungu yang begitu cantik.
"Pertama panggil aku Rick saja. Kedua, kau tamuku Al. Aku harus memperlakukanmu seperti ratu. Dan inilah yang kau dapatkan" Tegas nya.
"Aku akan ganti uangmu" ucap Alvin yang malah sedikit menyentil ego pria itu.
"Aku akan menganggapnya kau tak pernah berkata seperti itu Al. Ayo kita lihat ruangan yang lain" ajak Patrick pada gadis itu.
"Ini ruang tamu" tunjuk Pria itu pada saat pertama kali membuka pintu. Alvin lagi-lagi terkagum-kagum saat melihat ruang tamu yang elegan dengan nuansa pink dan putih tulang.
Kekagumannya tak terhenti sampai disitu. Saat ia berjalan ke arah balkon. Ia menganga tak percaya dengan pemandangan indah yang tampak di depan matanya.
"Lihat.. Ini indah sekali" ucap Alvin mengungkapkan kekagumannya. Patrick mendekati Alvin dan melihat ke arah menara eiffel.
"Kita akan berjalan-jalan kesana besok. Dan aku akan menjadi tour guide mu selama di paris" Patrick berkata seperti itu sembari menunjuk ke arah menara icon negara perancis itu.
"Sekarang. Beristirahatlah" tambahnya. Ia lalu menutup pintu balkon dan kembali masuk ke kamar milik gadis itu.
"Jika kau membutuhkan sesuatu. Aku ada di sebelah kamarmu. Kau hanya harus masuk melalui connecting door yang berada di sebelah sana" tunjuk Patrick pada sebuah pintu yang tak jauh dari mereka.
Saat Patrick akan meninggalkan gadis itu. Alvin kembali bersuara "Siapa kau sebenarnya, Patrick?".
Pertanyaan Alvin langsung menghentikan langkah pria itu. Tanpa ingin berbalik pada gadis dibelakangnya. Patrick menjawab dengan nada santai.
"Penolongmu atau mungkin seseorang yang berkuasa di kota ini. Anggaplah aku apapun yang membuatmu nyaman". Ia lalu melanjutkan langkahnya. Meninggalkan Alvin dengan sejuta pertanyaan.