Seorang gadis tampak duduk di sebuah mini bar dengan mata yang masih terfokus pada layar laptop. Tak lupa dengan segelas minuman Whiski yang sudah bertengger manis di atas mejanya.
Terdengar konyol memang, mungkin ia akan menjadi satu-satu nya orang yang melakukan pekerjaan kantor di mini bar seperti ini.
Tapi ia pun tak bisa berbuat apa-apa karena saat dirinya memutuskan untuk pergi ke paris. Ia tengah dalam kondisi yang penuh dengan tanggung jawab beberapa projek yang tak bisa ditunda lagi.
Dan ia sangat bersyukur, koper miliknya sudah berada di kamar. Saat ia terbangun dari tidur siangnya.
Gadis itu, Alvin. ia mengedarkan pandangan pada sekelilingnya. Suasana bar ini terlihat tampak sepi. Mungkin karena hotel ini terlalu mahal atau ini bukan musim liburan hingga tak banyak orang yang menginap disini.
"Aku mencarimu kemana-mana. Lalu petugas hotel memberitahuku kau sedang berada disini" ucap seseorang yang berada di ambang pintu masuk Bar. Pria itu berjalan mendekati Alvin dan duduk di sebelahnya. Ia memesan minuman pada bartender lalu memutar kursinya hingga berhadapan dengan Alvin.
"Jadi kau bekerja seperti ini?" tanya Patrick ingin tahu.
"Maksudmu?" balas Alvin dengan balik bertanya. Patrick tersenyum manis hingga memperlihatkan kedua lesung pipi nya. "Bekerja di mini bar dengan meminum alkohol?".
Alvin tersenyum simpul dan menjawab "Ini juga pertama kali untukku".
Mereka berdua terdiam cukup lama. Namun mata Patrick tak henti mengawasi Alvin yang terus menegak minumannya seperti orang yang tengah frustasi.
"Ada yang mengganggu pikiranmu sehingga kau memutuskan untuk mabuk seperti ini?"tanya pria itu sedikit terheran.
Alvin terdiam sesaat, sebelum memutuskan menjawab dengan anggukan kepala terlebih dahulu. "Aku akan melakukan hal tergila dalam hidupku". Alis pria itu terangkat "Dan apa itu?".
"Apa yang kau tahu tentangku?" tanya Alvin yang sepertinya mulai mabuk hingga ia lebih leluasa dalam berbicara.
Patrick mengangkat bahu acuh. "Seperti profil yang disebutkan dua tahun lalu saat rapat. Mungkin ditambah kau adalah anak kandung calon presiden. Saingan ayahku. Selebihnya aku tak mencari tahu. Aku lebih suka bertanya langsung pada orangnya" jawab pria itu dengan panjang lebar.
"Maka itulah alasan aku datang kesini untuk menemuimu" ucap gadis itu dengan mata mulai sayu. Mungkin efek alkohol telah merasuki pikirannya.
"Aku akan to the point saja padamu, Rick. Aku ingin kau membantuku". Patrick mengernyit bingung namun tak urung tersenyum senang saat gadis itu menurutinya untuk memanggilnya dengan sebutan seperti itu.
"Apa yang bisa kubantu untukmu?" tantang Patrick dengan menyilangkan kedua tangannya dan menatap Alvin intens.
"Aku akan membantumu ayahmu untuk menang dalam pilpres ini". jawab nya terkesan enteng.
"Tunggu.. aku tak mengerti ucapanmu sama sekali" ucap Patrick setengah terkejut.
Ia sampai harus merubah posisi duduknya sedikit tegak. Tanda bahwa pembicaraan ini memang serius. "Biar ku perjelas disini. Kau meminta bantuan padaku. Tapi kau malah akan membantuku"
"Aku ingin menghancurkan Dalvin" potong Alvin dengan cepat.
Patrick makin menggelengkan kepala tak mengerti dengan pola pikir gadis yang berada di hadapannya. "Tapi, bukankah dia ayahmu Al???"
Mendengar itu, Alvin langsung mendengus kasar. Efek alkohol memang membuatnya semakin berani. Ia bahkan sudah menutup layar laptop. Tanda ia akan mulai memfokuskan dirinya pada permasalahannya dengan Patrick.
Saat mendengar ucapan Patrick.
Ayah?? Ayah macam apa yang tak menginginkannya.rutuk Alvin dalam hati.
"Ia tak menginginkanku. Dan si b******k itu juga bukan lagi ada dalam bagian hidupku". Kini gadis itu pun duduk dengan bertopang dagu dengan pandangan lurus kedepan. Namun matanya berubah kosong.
Patrick menatap gadis itu cukup lekat. Mencari kesungguhan akan tekadnya. Namun pria itu tak bisa menemukan satu pun kebohongan di mata gadis itu. Pandangan kosong Alvin seolah menandakan jika ia juga tertekan dengan keadaan ini. Hingga ia memutuskan mabuk untuk lebih memberanikan diri dalam mengungkapkan keputusan yang telah diambilnya.
Menghembuskan nafas kasar. Hatinya sedikit tergerak sekaligus tak tega jika ia tak dapat membantunya. Mungkin dengan cara ini, ia bisa mengetahui kebenaran hubungan anak dan ayah itu, yang banyak dikatakan oleh media. Jika hubungan mereka harmonis namun tak pernah terlihat tampil bersama. Bukankah aneh..
"Jadi apa yang ku bisa bantu untukmu?" tanya Patrick dengan mulai menegak minuman beralkohol juga karena pembicaraan ini sudah diluar dari akal sehatnya. Gadis itu membantu keluarganya sama saja dengan mencari mati. Ia akan dituduh sebagai mata-mata oleh kedua belah pihak.
"Apa status ku membuatmu berat Rick?. Asal kau tahu saja, aku tak pernah meminta dilahirkan di keluarga seperti ini. Aku memang berstatus sebagai anak dari calon presiden Perancis. Tapi apakah status kewarga negaraanku tak bisa membuatku bebas untuk memilih" ucap Alvin panjang lebar dan menebak apa yang sedang dipikirkan pria itu.
Mendengar itu, Patrick hampir memekik frustasi. "Tapi Al.. ini gila.. Ayahku mungkin bisa melindungimu tapi apa kau bisa mengatasi kemarahan ayahmu sendiri?".
Ya. Itulah yang sedari tadi dipikirkan dan ditakutkan oleh Patrick. Keluarganya mungkin tak akan banyak mempermasalahkan status gadis itu. Tapi ia mengkhawatirkan gadis itu. Dalvin. Siapa yang tak mengenal pria itu. citra nya mungkin terlihat sangat baik di mata masyarakat. Tapi, dibelakang itu. ia adalah seorang pria yang akan melakukan apapun demi memenuhi semua ambisinya.
"Aku bisa mengatasinya" gumam Alvin bernada tegas tak ada nada keraguan sedikitpun. Ia lalu kembali meminum minumannya.
"Kau harusnya meminta perlindungan pada kekasihmu" dengus Patrick dengan nada kesal. Ia kesal dengan jawaban Alvin. mengapa gadis itu sok berlagak bahwa ia bisa mengatasi apapun tanpa bantuan siapapun.
Alvin mengernyitkan dahi tak mengerti dan memandang pria itu dengan tatapan bertanya 'siapa yang Patrick maksud'.
"Darren.. ia kekasihmu bukan?" Patrick memperjelas pertanyaannya. Alvin menggeleng samar.
Jawaban gelengan samar dari gadis itu malah makin membuat Patrick frustasi. Darren sering mengatakan jika Alvin adalah kekasihnya. Tapi saat ia bertanya langsung pada sosok kekasihnya itu. Alvin malah menggelengkan. Apakah orang mabuk bisa berbohong?..
Tanpa bisa lagi mengontrol emosinya. Patrick berkata dengan sedikit menaikkan nada suaranya. "Shitt.. sebenarnya apa yang terjadi pada kalian berdua?".
Pria itu sampai bangkit dari duduknya, menyugar rambutnya ke belakang dan mengerang frustasi. Ia lalu memutar kursi Alvin hingga berhadapan dengannya. Dan menatap Alvin tajam.
"Aku akan membantumu Al. tapi aku harus tahu terlebih dahulu, apa yang ada di otak kecilmu ini" ucap Patrick dengan nada rendah sekaligus mengintimidasi gadis itu. Jarak diantara mereka sangat dekat sampai Patick bisa melihat netra mata gadis itu dengan sempurna dan gadis itu bisa mencium parfum mahal pria dihadapannya.
Tersenyum miring. Alvin mendorong Patrick dengan kedua tangannya. Tidak kasar namun cukup membentangkan jarak diantara mereka.
"Itu bukan urusanmu" balas Alvin tak kalah tajam.
"Aku harus tahu, agar aku bisa mencari jalan untuk membantumu" hardik Patrick dengan nada yang cukup keras seperti sedang melampiaskan amarahnya.
Iya.. Dia harus tahu lebih dulu. Sebelum mengambil langkah pasti. Karena salah-salah, ia yang justru akan menjadi bahan amukan Darren.
Alvin menatap pria itu dengan tajam. Ia paling tak suka membahas topik mengenai lelaki itu. Tapi ia membutuhkan bantuan Patrick. Dan akhirnya Alvin pun memutuskan untuk sedikit mengalah pada pria itu.
"Fine... apa yang ingin kau ketahui?" tanya Alvin dengan nada sedikit menantang. Udara disekitar mereka mulai memanas namun mereka berdua sebisa mungkin berusaha mengatur emosi masing-masing.
"Aku tanya sekali lagi. Apa kau benar ingin membantu ayahku?" tanya Patrick untuk kedua kalinya. Untuk kembali mengkonfirmasi semuanya.
Ia sampai harus menatap tajam gadis itu untuk mencari kesungguhan dalam sorot matanya. Dan Alvin mengangguk pasti, tanpa keraguan sedikitpun sebagai jawabannya.
"Kenapa?"
"Jawabannya sederhana. Karena aku tak menginginkan pemimpin yang b******k dan penuh ambisi untuk memimpin negara ini" jawab Alvin. Ia memang berkata jujur tentang alasannya untuk mendukung keluarga pria itu selain alasan untuk menghancurkan ayahnya.
Patrick memijat pelipisnya yang mulai berdenyut ringan. Ia berkacak pinggang untuk mencari solusi yang pas untuk keduanya.
"Apa kau mencintai Darren?" tanya Patrick tiba-tiba. Mencoba mengalihkan. Ia terlalu muak dengan kepercayaan gadis di depannya. Pertanyaannya melenceng jauh dari apa yang mereka bahas saat ini hingga membuat Alvin sedikit murka dan menggeleng tak suka.
"Kita sedang membahas ayahmu bukan Darren" ucap Alvin mengingatkan.
"Aku membutuhkan jawaban itu Al. Jika kau mau aku membantumu, kau hanya harus menjawab pertanyaanku". Tegas Patrick mencari alasan yang dapat diterima oleh logika Alvin.
Alvin mengalihkan pandangannya kemana pun asal bukan ke arah pria menyebalkan di hadapannya.
Ia mengacak rambutnya frustasi dan mengedipkan mata berkali-kali untuk menghalangi air mata yang turun. Semua itu tak luput dari pandangan Patrick. Ia sedikit merasa bersalah karena terlalu memaksakan semuanya. Tapi itu harus dilakukan. Sebelum mereka berdua melangkah lebih jauh.
"Kau mencintainya?" Patrick mengulang pertanyaannya kali ini dengan menurunkan nada suaranya.
"Al" panggil pria itu saat tak mendapatkan jawaban dan melihat keterdiaman gadis itu.
"Ya" jawabnya singkat dan perlahan. Sekaligus tertunduk dalam. Suaranya terdengar tercekat.
"Lalu kenapa kau meninggalkannya?" tanya Patrick kembali. Fix ini memang sudah melenceng jauh dari pembahasan mereka. Tapi rasa penasaran tak bisa lagi ia cegah. Sikap Darren di kantor berubah banyak saat gadis dihadapannya tak lagi menginjakkan kaki di perusahaan keamanan itu.
Alvin masih tertunduk diam. Patrick sampai harus menggoyang-goyangkan badan gadis itu agar membuka mulut memberikan setidaknya sepatah dua patah kata padanya sebagai jawaban. Alvin menghempaskan tangan pria itu dengan kasar. Dan menatap Patrick dengan mata yang mulai memerah.
"Karena aku sangat mencintainya. Bodoh" pekik Alvin frustasi. Air mata mulai mengalir perlahan membanjiri pipinya.
"Karena aku sangat mencintainya" gumam Alvin kembali. "Sampai aku jadi serakah. Ingin memilki seluruh hati dan pikirannya " pekik Alvin seperti sedang melampiaskan apa yang tersimpan selama ini.
"Tapi siapa aku?. Keluargaku pun tak ada yang menginginkanku. Pikiran seperti itu yang selalu menghantuiku selama ini."
Alvin menepuk-nepuk d**a nya yang terasa sesak. "Cinta tak harus saling memiliki bukan?. Aku mengikhlaskannya. Darren berhak mendapat wanita yang jauh lebih baik dan sempurna dibandingkan aku."
"Al, kau sempurna. Kau pintar. Kau cantik. Kau pekerja keras"
"Tapi semua itu tak cukup.. tak cukup membuatku percaya diri jika aku lebih baik dari wanita-wanita diluar sana. Tak cukup membuat aku diinginkan oleh keluargaku...Tak cukup untuk dijadikan alasan bahwa suatu saat nanti Darren tak akan meninggalkanku" potong Alvin dengan cepat.
"Sebut aku pengecut.. pecundang.. itu memang kenyataannya. Aku terlalu takut untuk memulai semuanya. Karena aku tak akan pernah siap menghadapi perpisahan" tambahnya dengan penuh penekanan.
"Aku takut dicampakkan.. aku takut dibuang" tangis gadis itu langsung pecah saat mengucapkan kalimat itu. "Aku .. takut.. seperti.. ibuku" dengan nada suara tercekat. Patrick langsung memeluk Alvin erat. Membiarkan gadis itu mengeluarkan keluh kesahnya selama ini.
Selama ini ia mengenal Alvin sebagai pebisnis hebat, dan pekerja keras hingga seluruh perusahaan yang berada di bawah naungannya maju pesat dalam waktu singkat. Ia tak tahu jika itu hanya sekedar pengalihan dari kerapuhan dan ketakutannya.
"Ssttt.. Al.. tenanglah. Aku tak akan pernah membiarkan itu terjadi" ucapnya menenangkan sekaligus membuat janji pada gadis itu. Alvin masih menangis dalam pelukannya. Suara tangisannya benar-benar menyayat hati hingga Patrick pun berusaha menahan air matanya.
Setelah merasa Alvin cukup tenang. Patrick mengurai pelukannya perlahan. Menangkup wajah gadis itu dengan kedua matanya.
"Hei.. lihat, Aku mungkin hanya orang asing disini. Tapi mulai saat ini, aku akan berusaha melindungi. Melindungi kerapuhan hatimu" ucapnya dengan lembut.
Patrick melepaskan kedua tangannya dari wajah Alvin. keduanya terdiam cukup lama. Sibuk dengan pemikirannya masing-masing.
"Baiklah.. aku akan menolongmu Al. tapi kau juga harus menolongku.. win-win solution" ucap Patrick bernegosiasi. Alvin tersenyum tipis dan bertanya. "Apa yang kau mau dariku?"
Sudut bibir pria itu terangkat sedikit. Seperti tengah tersenyum licik. "Sebuah drama"
"Drama?" tanya Alvin bingung.
Tiba-tiba saja Patrick berlutut didepan Alvin. Alvin terkesiap kaget. Patrick menarik lembut tangan Alvin dan mengecupnya. Alvin makin melebarkan matanya. Ia hampir menarik tangannya namun di tahan oleh pria itu.
"Harusnya aku menyodorkan cincin berlian padamu. Tapi ini tanpa persiapan sama sekali" ucapnya terkekeh ringan.
"Alvina dayita, maukah kau membantuku untuk mendapatkan kekasihku kembali dan aku akan membalasmu dengan membuat Darren cemburu. Untuk memastikan hatimu padanya?" ucap Patrick yang Alvin menganga.
"Yes, you will" ucap Patrick dengan cepat. Tanpa menunggu jawaban yang keluar dari mulut gadis itu.
"Jadi?"
"Kita akan berpura-pura bertunangan untuk menyakinkan ayahku dan ayahmu. Kita juga akan berakting saling mencintai agar kau memiliki alasan kuat" jawab Patrick dengan santai.
"Kau mengerti maksudku bukan?". Alvin berpikir sejenak lalu mengangguk mengerti.
"Dan aku akan membuat Darren cemburu dengan keromantisan kita". Ucapnya dengan senyum menggoda. Ia sampai menaik turunkan kedua alisnya untuk menggoda gadis itu agar bisa tersenyum kembali. Walau cuma senyum tipis.
"Lalu bagaimana aku bisa membuatmu mendapatkan kekasihmu. Sedangkan aku saja tak tahu siapa kekasihmu?"
"Kau mengenalnya dengan baik" jawab Patrick dengan tersenyum miring. Alvin menatap pria itu dengan tatapan penuh tanya.
"Kikan". Pria itu hanya memberi jawaban hanya dengan satu nama. Satu kata. Namun membuat Alvin terdiam tak percaya.