"Aku tidak menerima laporan tentang Alvin dua hari ini, Sam" ucap Darren pada Sam tanpa mengalihkan pandangannya pada tumpukan dokumen yang kini tengah digelutinya.Sam yang berada di hadapan Darren langsung menunduk hormat sembari berkata "Nona Alvin telah berangkat ke Paris lebih awal". Lapornya.
Darren langsung memberikan tatapan tajam yang menyiratkan 'mengapa tak kau laporkan padaku'. "Anda terlihat sibuk semalaman. Jadi saya menunggu waktu yang pas".
"Atau kau mungkin menunggu aku bertanya padamu lebih dulu, begitu maksudmu?" hardik Darren tajam. Sam yang merasa bersalah pun tak bisa menyangkal ataupun membela dirinya. Ia hanya bisa tertunduk diam. Menikmati alunan kemarahan dari atasannya itu.
"Kau tahu, jika Alvin adalah prioritasku sekarang. Dan kau malah menunda melaporkan hal sepenting itu padaku" ucap Darren dengan nada rendah sekaligus menggeram marah.
"Tidak, Tuan Muda.. bukan begitu....".
"Cepat siapkan keberangkatan kita.. kita akan menyusulnya". Darren langsung memotong ucapan sekretarisnya itu. bukannya bergerak untuk melaksanakan perintah dari atasannya itu. Sam malah bergerak tak nyaman.
"Tapi Tuan Muda, anda akan ada rapat lima belas menit dari sekarang. Belum lagi sore nanti, anda harus meninjau perkembangan proyek terbaru kita" ungkap nya.
"Masa bodoh, dengan itu semua" jawab Darren tak peduli. Darren bangkit dari kursinya dan melangkah menjauhi sekretarisnya. Sam memejamkan mata berusaha untuk mencegah kenekatan atasannya itu. ia tak ingin dimarahi oleh Hugo.
"Proyek itu milik nona Alvin tuan. Proyek itu juga adalah bentuk kerjasama pertama kita dengan pihak Cody Darrance. Anda tak ingin mengecewakan Nona Alvin bukan" ucap Sam dengan sedikit terbata. Ia gugup luar biasa. Ini pertama kalinya ia melanggar apa yang diperintahkan oleh tuannya. Jika bukan Alvin yang memintanya ia tak akan mau. Tapi Alvin telah mewanti-wanti dirinya untuk tidak membiarkan Darren menyusul dirinya ke Paris. Ia juga menuruti kemauan Alvin. semata-mata untuk menebus kesalahan dirinya yang telah mengkhianati gadis itu, 2 tahun silam.
"Benarkah itu proyek milik Alvin?" tanya Darren yang langsung membuyarkan lamunan Sam.
"Iya Tuan Muda.. Proyek itu dipantau langsung oleh nona Alvin.. menurut saya, ini adalah waktu yang tepat untuk anda mengambil hati nona Alvin dengan menunjukkan sikap bertanggung jawab anda" ucap Sam memberi saran. Darren terdiam. Seperti tengah mempertimbangkan apa yang disarankan padanya.
"Ya sudah.. Ayoo kita pergi meninjau proyek itu.. aku akan membuat Alvi terpukau dengan keberhasilanku" tekad Darren. Tanpa ia sadari, Sam menghembuskan nafas lega. Akhirnya ia memiliki alasan untuk menunda keberangkatan atasannya itu.
***
Alvin bergerak tak nyaman ditengah rasa kantuknya. Saat merasakan ada sesuatu yang menjilati wajahnya tanpa henti. Dengan mata yang masih terpejam. Ia berusaha untuk menyingkirkannya. Namun...
Guk guk guk..
Mata gadis itu langsung terbuka lebar saat mendengar suara hewan yang memasuki indera pendengarannya. Ia seketika langsung terduduk dan menatap sekelilingnya. Mengapa ia sudah berada di kamar padahal bukankah semalam...
"Pagi.. Al atau mungkin aku harus memanggilmu mi amour?" tawar Patrick dengan senyum khasnya. Ia bergerak untuk membuka tirai di kamar gadis itu. dan menunjukkan betapa indahnya sinar matahari pagi di langit paris.
"Apakah milo sukses membangunkanmu?" tanya pria itu dengan mendekat ke arah anjing berjenis pomeranian berwarna putih yang sibuk menggonggong ke arah gadis itu. "Anjing itu ingin dipeluk olehmu Al" lanjutnya.
Alvin terlihat ragu namun tangannya terulur untuk menggendong anjing mungil itu. "its so cute.." pujinya menunjukkan kekagumannya. Ia sibuk mengelus bulu putih anjing itu yang selembut kapas.
"Oh iya.. ayahku ingin bertemu denganmu. Aku sudah memberitahu nya jika kekasihku ingin mengunjungi mereka". Ucap pria itu yang diakhiri dengan kekehan ringan.
"Apa mereka..."
"Tidak Al.. mereka tidak tahu dengan status pura-pura kita. Tapi mereka tahu jika aku sangat mencintai Kikan." Potong pria itu dengan cepat. Ia seperti sudah bisa menebak arah pertanyaan Alvin.
"Aku masih penasaran. Bagaimana kau bisa jatuh cinta pada Kikan?" tanya Alvin penasaran. Yang ditanya malah tersenyum miring dan menjawab. "Cinta tak butuh alasan. Tapi butuh kejelasan". Patrick pun bangkit dengan menggendong anjing bernama milo.
"Kau ingin mandi atau sarapan terlebih dahulu?" tanya nya.
"Apa kau yang membawaku kemari?" bukannya menjawab Alvin malah balik bertanya pada pria itu. Patrick mengangguk mengiyakan sembari berkata "Kau ringan sekali. Jangan biarkan masalahmu menggerogoti berat badanmu". Alvin memutar mata malas lalu beranjak dari tempat tidurnya.
"Aku akan menunggumu di balkon. Kita akan sarapan disana" teriak Patrick yang dijawab Alvin hanya dengan kibasan tangan. Patrick menggeleng samar lalu berjalan ke arah balkon.
Tak butuh waku lama, sekitar lima belas menit kemudian. Alvin telah duduk di hadapan Patrick dan menghadap keindahan menara eiffel di pagi hari. Menu sarapan pagi juga telah tersaji di hadapan mereka yang telah disiapkan oleh pihak hotel.
"Jadi kau akan mengajakku kemana?" tanya Alvin setelah menyelesaikan acara sarapan paginya dan mengambil alih milo dari tangan Patrick.
"Aku ingin mengajakmu ke mall. Tapi aku langsung tersadar jika kau bukan gadis pecinta belanja. Maka aku akan mengajakmu ke museum louvre dan menara eiffel. Sebelum kita pergi bersiap untuk makan malam di rumahku. Karena perjalanan dari sini ke rumahku membutuhkan waktu cukup lama" ujarnya panjang lebar. Alvin hanya mengangguk mengerti dan mengikuti apa yang telah direncanakan oleh pria di hadapannya.
Seperti tersadar sesuatu. Alvin lalu mengangkat anjing bernama milo itu sedikit keatas dan bertanya "Ini anjing milikmu?. Tapi mengapa kemarin aku tak melihatnya?" tanya nya. Patrick terkekeh ringan lalu menjawab "Itu hadiah untukmu. Hadiah pertemanan kita. Asisten ku yang membelikannya kemarin, saat aku tau kau datang kesini".
"Aku juga tau kau sangat menyukai hewan yang memiliki bulu lembut" tambahnya.
"Thanks." Ucap Alvin sembari tersenyum tulus. Patrick menjawab dengan tersenyum hangat. Lalu ia beranjak dari tempat duduknya dan berkata "Bersiaplah.. kita akan pergi sekarang. Kau ingin jalan kaki atau naik mobil?" tawarnya.
"Berjalan kaki saja. Tidak jauh bukan?". tanpa menunggu jawaban dari pria itu.
Alvin bangkit dari tempat duduknya dan langsung bersiap-siap dengan penuh semangat. Patrick hanya menggelengkan kepala melihat perilaku Alvin yang persis seperti anak kecil yang akan dibelikan mainan.
Patrick memutuskan untuk menunggu gadis itu di Lobby hotel sembari mengecek email yang masuk di ponselnya.
"Ayoo" ucap Alvin dengan nada sangat bersemangat. Patrick mendongakkan kepala dari layar ponselnya. Dan menatap penampilan Alvin yang sangat sederhana dan bahkan jauh dari kata mewah.
"Kau yakin akan berpenampilan seperti itu?" tanya Patrick. Tanpa berpikir panjang, Alvin mengangguk mengiyakan.
"Memang apa yang salah dengan penampilanku. Kau juga hanya mengenakan kaus. Sama sepertiku" balas Alvin.
Patrick tersenyum jail lalu bangkit dan berbisik. "Kita pasangan serasi bukan. Bahkan warna kaus kita saja bisa sama". Alvin memutar mata malas menanggapi godaan pria itu.
Pukul 9 pagi waktu paris mereka memulai perjalanan berwisata di kota paris yang diawali dengan tujuan pertama Alvin yaitu Jardin Des Tuileries.
Jardin Des Tuileries adalah salah satu taman yang terbesar di paris dan menjadi objek wisata cukup terkenal. Untuk bisa sampai kesana membutuhkan waktu sekitar 25 menit dari tempat mereka berada sekarang hanya dengan berjalan kaki.
Selama perjalanan menuju kesana, mereka isi dengan candaan ringan dan menyusun skenario yang bagus untuk meyakinkan orang tua Patrick mengenai hubungan mereka berdua agar satu suara dan tidak terlihat mencurigakan. Perjalanan mereka juga tak begitu melelahkan karena mereka disuguhkan dengan pemandangan bangunan-bangunan kota paris yang cukup indah.
Sesampainya disana, udara cukup panas namun banyak orang yang tengah berjemur di sekeliling taman. Patrick sudah pamit untuk membelikan minuman dan cemilan untuk mereka nikmati nanti. Sembari menunggu Patrick. Alvin memutuskan untuk duduk di sebuah pohon rindang dan menatap sekelilingnya dengan perasaan bahagia yang membuncah.
Ternyata ia tak salah memutuskan untuk pergi lebih dulu ke paris...
Setelah bersantai sejenak, mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Museum Louvre atau Musѐe du Louvre adalah bekas istana kerajaan perancis yang sekarang menjadi salah satu museum terbesar di dunia dan museum paling terkenal di paris.
Louvre Museum adalah museum yang berada di dalamnya. Sedangkan bangunan piramida di luar dinamakan Louvre Pyramid, yang merupakan bangunan berbentuk piramida yang terbuat dari kaca dan menjadi pintu masuk ke Louvre museum.
Setelah Patrick membayar tiket masuk. Mereka berdua pun berkeliling museum itu yang ternyata sangat luas. Karena Museum ini memiliki 5 lantai dan memiliki 3 sayap, yaitu Denon (paling dipadati pengunjung karena terdapat patung mona lisa berada), Richelieu (khusu painting), dan Sully (bagian tertua museum). Museum Louvre juga tercatat memiliki sekitar 35 ribu benda seni dari mulai zaman prasejarah hingga abad ke-19. Diletakkan di bangunan yang dulunya adalah benteng kota di abad ke-12.
Mereka berkeliling museum selama 3 jam lebih karena Alvin sangat antusias untuk melihat beberapa koleksi museum seperti bagian Mesir Kuno, benda purbakala dari Timur Dekat, Yunani, Etruskan, Romawi. Selain itu, disini juga ada seni Islam, Patung, Seni Dekoratif, Seni Lukis dan juga Seni Gambar dan Cetakan.
Tak lupa juga dengan beberapa koleksi utama mereka seperti dari Venus de Milo, Nike of Samothrace, lukisan-lukisan Raphael, Michelangelo, dan tentu saja lukisan-lukiasan Leonardo da Vinci. Dan yang paling dicari oleh semua pengunjung adalah lukisan Monalisa yang terletak di lantai satu. Lukisan Monalisa yang dilindungi oleh kaca yang cukup tebal. Namun sayang ia harus mengantri panjang hanya untuk melihat lukisan itu. daripada membuang-buang waktu Alvin memutuskan untuk ke tujuan akhir mereka yaitu menara eiffel.
Tak ada gurat lelah di wajah gadis itu. Alvin tampak sangat menikmati liburan singkatnya. Bahkan ketika Patrick menawarinya agar mereka pergi ke menara dengan berkendara mobil saja. Alvin menolak mentah-mentah ide tersebut. Dan ia bersikeras jika masih sanggup berjalan untuk sampai kesana. Bahkan ia terlihat sangat ceria di sepanjang jalan. Ia tampak sibuk mengamati apa saja yang menarik penglihatannya.
"Tidak Al. Kita sudah melewati jam makan siang. Aku tau kau mungkin tak lelah. Tapi perutmu perlu diisi sesuatu" tegas pria itu. Ia langsung menarik Alvin untuk masuk kedalam restoran fast food yang berada tepat di persimpangan jalan.
"Tunggu disini. Aku yang akan pergi memesan". Titah Patrick pada Alvin. Ia menyuruh gadis itu untuk duduk di salah satu meja. Setelah memastikan Alvin tidak akan pergi kemana-mana. Patrick pun pergi untuk memesan.
Alvin yang tengah menunggu Patrick. Hanya bisa menatap sekeliling restoran yang tampak ramai oleh para wisatawan yang memang sedang melancong ke paris.
Banyak diantara mereka pergi secara berpasangan. Apakah Darren bisa membuat kencan seperti ini. Pikiran seperti itu terlintas begitu saja.
Alvin menggeleng samar. Ia sebenarnya malu pada dirinya sendiri. Karena mengakui perasaannya pada orang yang baru dikenalnya. Efek alkohol memang dashyat.
Sembari menunggu Patrick. Alvin mencoba menjelajahi apa saja yang ada disana. Hingga matanya menangkap sebuah etalase yang berisi berbagai macam kue dan camilan favoritnya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Patrick sembari membawa sebuah nampan berisi semua pesanannya.
"Aku tidak tahu apa makanan favoritmu. Jadi aku memesannya secara asal. Aku harap kau menyukainya" ucap Patrick sembari duduk di hadapan Alvin.
"Aku tidak pilih-pilih makanan" ucap Alvin dengan tersenyum tulus. "Thanks"
Mereka berdua pun makan dengan tenang tanpa ada obrolan kembali. Namun Alvin terlihat curi-curi pandang pada tumpukan macarons yang sungguh menggodanya.
"Ayoo kita pergi sekarang" ajak Patrick dengan tiba-tiba yang langsung membuyarkan lamunan Alvin tentang makanan warna warni yang terlihat nikmat itu.
Tanpa banyak bicara, gadis itu langsung melangkahkan kaki keluar restoran. Namun saat ia baru akan mendorong pintu untuk keluar.
Salah satu pelayan datang menghampiri nya dan menyodorkan satu kotak bertuliskan mc cafe. Lalu menunjuk ke arah Patrick. Seolah memberi tahu jika 'orang itu yang memberikannya'.
Setelah mengucapkan terima kasih. Alvin membuka kotak itu dengan bersemangat dan ia menemukan lima buah macarons dengan warna yang berbeda-beda. Alvin tersenyum bahagia. Lalu mencoba salah satu nya.
"Aku senang. Melihat kau seperti ini" ucap Patrick yang tiba-tiba saja berada di belakang Alvin. Alvin berjengit kaget dan hampir saja ia menjatuhkan camilannya itu.
"Ayoo kita lanjutkan wisatanya" ajak Patrick dengan wajah tak berdosa dan menggandeng tangan Alvin penuh suka cita. Mereka seperti sepasang kekasih yang tengah berkencan dibawah indahnya langit paris di sore hari.
Ia mengamati satu per satu bangunan dengan tatapan takjub dan terkagum-kagum seolah itu adalah keajaiban dunia yang baru pertama kali ia lihat. Benar-benar kurang piknik bukan...
Setelah berjalan kaki hampir satu jam. Mereka akhirnya sampai di destinasi wisata terakhir mereka untuk hari ini. Eiffel Tower.
Tanpa sadar, Alvin merengek pada Patrick ingin masuk dan naik ke Top Eiffel Tower. Kali ini patrick yang menolak keinginan gadis itu. karena Patrick khawatir jika Alvin akan kelelahan. Namun Alvin tetaplah Alvin. bermodalkan dengan sikap ke keras kepalaannya membuat Patrick akhirnya mengalah menuruti keinginan gadis itu dengan syarat mereka harus pulang dengan menaiki mobil. Jika Alvin menolak, maka Patrick pun tak akan mengikuti kemauan gadis itu walaupun Alvin merengek seharian padanya. Alvin mengerucutkan bibir kesal, dan dengan terpaksa mengikuti kemauan Patrick.
Dengan membayar sebesar 17 Euro (250 ribu rupiah) per orang. Akhirnya mereka bisa naik ke atas menara Eiffel. Alvin memandang takjub pemandangan kota paris yang terlihat kecil dari tempatnya berada. Namun karena Patrick memiliki phobia terhadap ketinggian. Mereka pun tak bisa berlama-lama diatas sana.
Setelah turun, ternyata di bawah sana sudah terparkir mobil sport yang kemarin patrick parkirkan di hotel. Namun kali ini ia tak berada di belakang kursi pengemudi. Melainkan duduk di bangku belakang bersama Alvin karena ia sedikit lelah berjalan berkeliling sepanjang hari.
Selama perjalanan, Patrick tak mendengar Alvin bersuara. Sedikit mengernyit heran, ia pun mengalihkan pandangannya ke sebelah kiri dan melihat gadis itu sudah tertidur lelap. Dengan kepala yang membentur jendela. Dengan lembut, Patrick memindahkan kepala Alvin untuk bersandar pada bahunya. Tak lupa ia melepaskan kacamata gadis itu agar Alvin tertidur dengan nyaman.