Sesampainya di rumah buk Viola. Buk Viola pun sudah terlihat sibuk mengambilkan piring, lalu mengisinya dengan nasi, beserta lauk pauk untuk di suguhkan padaku.
"Makanlah Nak!" Ucapnya.
Setelahnya mencuci tangan, aku pun buru-buru makan, demi mengganjal perutku yang memang sudah kelaparan. Setelah selesai makan, aku pun bermaksud mencuci piring bekasku, agar tak kembali menyusahkan buk Viola.
"Sudahlah Ndin, letak kan saja di sana, biar ibuk yang mencucinya!" Pinta buk Viola.
"Ngak papa buk, saya bisa kok," Ucapku. Setelah mencuci piringnya, aku pun kembali duduk dan bergabung bersama buk Viola dan juga Ina di ruang tengah.
"Andin, lain kali kalau kamu enggak makan lagi di rumah, datanglah saja ke rumah ibuk, pintu rumah ibu senantiasa terbuka untukmu!" Ucap buk Viola membuka percakapan. Aku sempat terdiam sejenak, karena untuk makan hari ini saja, aku sudah cukup tak enak, karena sudah merepotkan orang lain, apa lagi untuk makan setiap hari di rumahnya, aku semakin di buat tak enak.
"Ya, nggak usah sungkan, percaya lah ibuk iklas menolongmu, jadi ibu harap setiap kamu gak makan, kamu datang ke rumah ibuk!" Ucap buk Viola kembali. Saat melihatku tampak ragu-ragu.
"Mm i..iya buk, terima kasih banyak, untuk makanannya hari ini buk," Ucapku pelan.
"Iya," Jawab buk Viola. Setelahnya kami pun izin pulang, ingin melanjutkan pramuka kembali bersama Ina. Hanya saja setelah kami tiba di sekolah, ternyata anak-anak sudah bubar, jadi kami pun langsung pulang ke rumah masing-masing.
Seperti biasa, saat aku tiba di rumah. Ibuku yanh ODGJ hanya termenung duduk di kursi sebelah jendela sambil sesekali nyegir dan bernyanyi menatap ke arah jalanan, tempat orang-orang kampungku berlalu lalang. Tanpa menanyaiku mau pun memperduli kanku, yang entah sudah makan atau belum.
Aku pun buru-buru mengganti baju sekolahku, lalu setelahnya mengambil sapu, untuk membersihkan rumah, karena rumah sudah terlihat kotor, tanpa di sapu seharian ini.
"Andin, bukankah ibu sudah bilang, agar kamu enggak usah capek-capek kerja, bersih in rumah begini!" Bentak ibuku marah. Saat melihat diriku yang sudah memegang gagang pel lantai kembali, untuk me pel lantai rumah kami, yang sudah terlihat kotor, dan berdebu, bekas kaki turun naik ke tanah dan rumah.
"Tapi ma, rumahnya sudah kotor, jadi harus di bersihkan," Jawabku.
"Enggak usah di bersihkan! Lagian rumah orang juga kok, sebaiknya kamu pergi main sana, sama teman-temanmu!" Usir ibuku sembari mencubiti lenganku, agar aku berhenti dari aktivitasku itu. Tapu aku yang tahu dan sadar, kalau ibuku itu tidak beres, aku pun hanya mengindahkannya, dan kembali melanjutkan aktivitasku.