Ibuku memang ODGJ, hanya saja beliau tidak seutuhnya hilang ingatan seratus persen, menurutku, beliau masih waras sekitar 20%. Bahkan beliau masih bisa memasak, mencuci, bahkan masih ingat nama, mau pun orang-orang yang ia jumpai, ketika di ajak bicara pun, masih nyambung, hanya saja lama kelamaan, terkadang, pembicaraannya sudah tidak tahu tujuan arahnya lagi, alias sudah bicara ngalor ngidul. Pekerjaan yang ia lakukan tidak sebaik seperti ibu-ibu lain pada umumnya. Bahkan ibuku sudah tak pernah mengurus rumah, mau pun halaman rumah kami yang sudah di tumbuhi banyaknya rerumputan yang sudah meninggi, ketika aku kepergok oleh ibuku membersihkan nya pun, beliau kembali memarahi dan mencubitiku, lagi-lagi dia hanya menginginkanku pergi bermain, tanpa harus bekerja membersihkan rumah mau pun halaman rumah.
"Sudah ku bilang, pergi saja main, dasar anak durhaka, memangnya kau ingin menjadi istri suamiku!" Umpat ibuku kembali. Karena kesal, aku yang tak kunjung mengindahkan ucapannya, dan kembali meneruskan kegiatanku membersihkan rumah.
"Ibu apa-apaan sih, kalau ibu tak ingin aku bekerja membersihkan rumah, kenapa tidak ibu saja yang membersihkannya, dan malah membiarkannya kotor begini!" Ucapku. Karena kesal, ibu berpikiran yang tidak-tidak tentangku, bahkan berspekulasi aku ingin merebut suami barunya (ayah tiriku) yang sudah lama menikahinya dari aku berumur sekitar 5 tahunan itu. Bahkan sekarang pun kami berdua juga tinggal di kampung halaman ayahku (suami kedua ibuku).
"Ada apa sih bu, ribut-ribut?" Tanya ayahku (suami kedua ibuku).
"Andin ni yah, bersihkan rumah, padahal sudah ku larang, dan ku suruh main saja," Cerita ibuku.
"Biarlah bu, lagian kamu juga gak mau bersihkan," Ucap ayahku.
Ya, ayahku tahu, kalau ibuku mengalami gangguan jiwa, jadi dia bisa maklum dengan perlakuan ibuku itu, bahkan selama ini beliau dengan sabarnya masih melanjutkan hubungannya dengan ibuku, tanpa mencerai kannya. Walau pun dirinya sudah tak begitu terurus seperti pasangan lainnya. Bahkan sering kali, saat beliau ingin berangkat bekerja sawit subuh-subuh pun, beliau sendiri yang bangun memasak, menyiapkan bekal-bekalnya untuk pergi bekerja. Pasalnya ketika ibuku memasak, nasinya sering becek, karena kebanyakan air, jadi lebih baik ayahku sendiri yang mengambil alih tugas dapur, sedangkan ibuku, walau pun ingin memasak, cukup dirinya sendiri yang memakan nasinya.
"Yah, saya izin main sama Yolan dulu," Pamitku pada ayahku, setelah menyelasai kan pekerjaan rumahku itu.
"Ya nak," Sahut Ayahku. Setelahnya aku pun pergi ke rumah Yolan, teman akrabku yang lainnya, juga berstatus sebagai sepupuku, karena ibunya adik dari ayah tiriku.
"Yolan," Panggilku. Sembari langsung masuk ke rumahnya. Karena kami sudah terbiasa main dan keluar masuk rumahnya begitu.
"Apa ndin?" Sahut Yolan.