Jasad Cinthya dan Cindy baru saja selesai diotopsi dan siap diserahkan pada pihak keluarga. Steve dan Brian Luiz, kerabat Cindy ikut duduk di ruang dokter, mendengarkan hasil otopsi bersama dengan dua orang polisi dan seorang detektif dari pemerintah.
Sebenarnya, Steve tak memiliki hak mendengarkan laporan, tetapi karena ia memiliki koneksi tertentu, ia berhasil menyusup dan menggunakan hak tersebut untuk mengikuti perkembangan kasus.
"Dari hasil otopsi, dua jenazah memiliki banyak luka dan sayatan di mana-mana. Cinthya Luiz mengalami retak tulang parah di bagian punggung, pendarahan organ dalam, dan jejak ikatan tali di leher. Sementara Cindy lebih parah. Dia mengalami dua puluh dua luka tusuk, empat sayatan di perut, dan jejak pemukulan di bagian kepala bagian belakang."
Mendengar ini, Steve memejamkan matanya tak berdaya. Kemejanya kusut, seharian ini dia sibuk mengurusi banyak hal. Kini, saat hari telah petang di mana orang-orang mulai kembali ke rumah dari semua aktifitas dan beristirahat, Steve justru sebaliknya. Dia masih dipenuhi urusan yang rumit.
"Itulah yang membuat keduanya meninggal?" Salah satu polisi yang menjabat sebagai letnan bertanya dengan hati-hati.
"Luka-luka itu memang parah, tetapi sayangnya, bukan itu yang menyebabkan mereka meninggal!" Dokter dengan jas putih berkacamata tebal yang bertanggung jawab menyampaikan hasil otopsi mendesah panjang.
"Lantas?" Kali ini Steve yang bertanya.
"Kehilangan darah. Banyak luka sayatan. Hal inilah yang membuat mereka kritis dan meninggal!"
Semalam, mayat Cindy dan Chintya ditemukan di salah satu lorong sebuah distrik komersil yang jarang dilalui kendaraan. Salah satu pejalan kaki menemukan jenazah mereka dan langsung menghubungi pihak berwenang. Dari sinilah kemudian identitas mereka diketahui.
"Cara kematiannya kejam!" sang letnan mencatat sesuatu di kertas notesnya.
Mereka yang sengaja menyiksa seseorang dengan banyak luka tusuk, ikatan, dan sayatan, tetapi pada akhirnya membiarkan mereka tetap bertahan dan mati perlahan-lahan karena kehabisan darah, bukankah semua itu penyiksaan kejam tanpa hati nurani?
"Dokter, tolong kirimkan salinan detail hasil otopsi pada kami!" pinta sang letnan.
Setelah berbincang sebentar, mereka kemudian pergi dari ruang dokter dan memilih sebuah restoran tak jauh dari rumah sakit untuk berbicara beberapa hal.
"Sir, apakah kau sudah menemukan petunjuk lain?" Brian Luiz yang merupakan sepupu angkat Cinthya dan saudara angkat Cindy, bertanya pada kedua petugas polisi.
"Selain tanda L dari goresan darah yang ada di sisi tempat kejadian perkara? Tidak. Kami belum menemukan petunjuk apa pun. Kami masih berusaha menelusuri semuanya dengan pelan!" Dominic Stage, polisi yang menjabat sebagai letnan, wajahnya kini tampak suram.
Akhir-akhir ini seseorang dengan inisial L masih saja menghantui dan menjadi biang keributan teror bagi masyarakat. Selama ini korban-korbannya model. Baru kali ini mengarah pada agen dan manajer model. Mungkinkah orang itu mulai liar dan berniat melebarkan sasaran korban? Bagaimana kota ini bisa tetap aman jika pembunuh seperti L sulit ditemukan.
Cara eksekusi L sangat kejam dan penuh siksaan pada setiap korban. Namun sayangnya, tindakannya cukup licin dan cerdik. Tidak meninggalkan sidik jari, maupun tanda-tanda khusus lainnya yang bisa dijadikan sebagai petunjuk.
"Kami telah mengambil beberapa rekaman CCTV dari lingkungan sekitar gang di mana jenazah mereka berdua ditemukan, tetapi hanya ada satu pengawasan CCTV yang ada. Yang lainnya hancur entah dihancurkan siapa. Sayangnya, rekaman pengawasan yang tersisa cukup jauh dari lokasi dan hanya menangkap bayangan samar seseorang yang berpakaian hitam yang keluar dari SUV hitam dan menyeret dua karung besar mencurigakan!" Dominic menjelaskan. Xua karung ini kemungkinan besar adalah Cinthya dan Cindy.
Mengatasi tindakan kriminal yang terkait dengan orang berpengaruh seperti Steve bukan sesuatu yang mudah. Pihak polisi harus pintar-pintar menyampaikan perkembangan secara berkala. Sayangnya dalam kasus ini, tak banyak petunjuk yang bisa digali. Sialnya lagi, semakin kasus tersebut sulit digali dan tak memiliki perkambangan penyelidikan yang jelas, mereka semakin ditekan oleh Steve dan Brian. Sungguh bukan hal yang bagus.
"Sudahkah kau mencatat plat nomor?" tanya Steve.
"Ya, kami sudah memeriksanya. Sayangnya dia menggunakan plat nomor palsu." Sang letnan terkekeh sinis. Mengambil kasus Si L sangat memusingkan.
"Apakah ada lagi petunjuk lain?" tanya Steve lagi.
"Tidak. Hanya itu!" Dominic kini menyadari betapa seriusnya masalah ini. Dia selalu menganggap setiap kasus memiliki keunikan tersendiri sehingga fokus dan konsentrasi kita tidak terbelah saat menghadapinya. Tapi kali ini, harus diakui pembunuhan ini sekilas hampir seperti pembunuhan acak tanpa motif.
"Apakah mungkin pelakunya adalah seseorang yang memiliki dendam pada Cindy atau Cinthya dan sengaja mengambil tindakan atas nama si L yang kebetulan saat ini sedang naik daun?" Steve membuat tebakan kasar yang langsung dibantah Brian.
"Mereka bukan seseorang yang mudah membuat masalah dan memancing dendam seseorang! Sehari sebelum Cindy mengalami kejadian ini, dia mengundangku makan malam dan sikapnya masih seceria biasanya. Bagaimana bisa orang seperti itu membuat masalah yang tak perlu! Aku memiliki firasat kematian mereka mungkin terkait dengan Bella!" Brian yan cerdik mengulas kejadian demi kejadian dan membuat dugaan yang kuat sebagai dasar penyelidikan.
Bibir Steve mengerucut tak senang. Bayangan seseorang membunuh Cindy dan Cinthya hanya untuk melampiaskan amarahnya pada Bella membuat suasana hatinya buruk dalam sekejap. Bukannya Steve tidak mengantisipasi hal ini, dia hanya berusaha menghindari sesuatu yang sudah jelas mencurigakan dari awal.
"Ini mungkin, mengingat sebelumnya Bella mendapat pesan teror dari si L!" Dominic mengeluarkan pendapatnya yang tak jauh berbeda dengam Brian. "Cindy dan Cinthya meninggal mungkin untuk melampiaskan kekesalan seseorang karena merasa dihindari Bella. Bukankah orang terdekat Bella adalah mereka? Bisa saja si L melakukan tindakan itu!"
Suasana hati Steve semakin buruk. Si L ini benar-benar psikopat yang tak punya otak. Bagaimana ia bisa menargetkan orang-orang terdekat Bella sebagai bentuk kemarahannya? Apakah ini artinya sejak sekarang orang-orang yang dekat dengan Bella tidak aman bergerak?
"Bella bukan seseorang yang mudah memprovokasi orang lain begitu saja. Kepribadiannya mungkin liar dan sedikit sembrono, tapi dia bukan orang yang mudah menciptakan masalah. Jadi apa sebenarnya tujuan si L mencari dan memburunya? Apakah dia pikir hidup orang lain adalah permainan petak umpet yang perlu diburu?" Steve menekan kemarahannya mati-matian. Meskipun sikapnya tidak terlalu lembut terhadap adiknya, bagaimanapun juga Steve tetaplah seorang kakak yang memiliki naluri alami untuk melindungi adiknya dengan baik.
"Kita harus segera menemukan keberadaan si L ini sebelum banyak korban berjatuhan!" Brian mengusap keningnya dengan jejak kelelahan yang kuat.
Mudah mengatakan sesuatu, tetapi sulit merealisasikannya. Jika memang mudah menangkap si L, maka mereka semua tidak perlu repot-repot melakukan pembicaraan ini. Dominic mendengkus tak senang, merasa beban kerjanya semakin bertambah.
"Kalian harus hati-hati mulai sekarang!" Dominic mengingatkan. "Ada satu hal lagi yang perlu kalian ketahui. Kami telah memeriksa ponsel mereka dan mendapati percakapan chat saat mereka berjanji bertemu di restoran dekat tempat pembunuhan."
"Itu artinya?" Steve memiliki firasat buruk.
"Kemungkinan besar pelaku pembunuhan memiliki kemampuan menghack media sosial, atau memiliki orang disisinya untuk membobol chat tersebut. Itulah bagaimana ia bisa menemukan lokasi mereka!" Dominic menjelaskan.
Semakin ke sini, semuanya semakin merepotkan.
…