Empat hari kemudian, Bella kembali pulang ke kediaman Mic. Ada seorang perawat yang disewa Anne untuk menjaga Mic dan Bella bernama Angel William. Angel adalah seorang perawat berkulit hitan berusia pertengahan tiga puluhan. Meskipun cerewet dan banyak bicara, tetapi tindakannya cukup sigap dan gesit. Jadi meskipun wanita itu bertanggung jawab atas dua pasien, Angel memiliki kemampuan yang sangat meyakinkan.
Karena kaki Bella mengalami luka tusuk di bagian paha kiri, dia terpaksa menggunakan kursi roda dan menunggu kondisinya lebih baik untuk berjalan kembali.
Keadaan Mic tak lebih baik. Dia memiliki banyak luka. Beberapa luka baru dan banyak sisanya merupakan luka lama yang kembali terbuka.
"Aku sudah mengatakan puluhan kali pada lelaki itu agar mengendalikan dirinya sendiri dengan baik! Lihat saja apa yang dia lakukan! Dia berkeliaran ke seluruh sudut rumah, dan mengerjakan pola perabotan yang akan dia buat sebanyak yang ia mau!" Angel melirik ke arah kamar khusus yang dijadikan Mic sebagai ruang kerja dan ruang utilitas baru-baru ini.
Sebenarnya, ruangan itu awalnya sebagai tempat untuk menyimpan beberapa alat rumah tangga. Namun, diolah oleh Mic sebagai tempat kerja juga dengan sebuah meja dan kursi sederhana tanpa komputer yang diletakkan di sudut. Setumpuk buku tentang pertukangan dan buku khusus desain berada di rak dinding yang ditata rapi.
"Dia keras kepala. Biarkan saja dia melakukan apa yang diinginkan!" Bella yang tak terlalu simpati pada Mic, hanya bisa mencibir. Silakan saja jika Mic memforsir tenaga dan menyakiti diri sendiri. Bella tak ada hubungannya dengan itu.
"Ya ya ya, kau benar. Itu urusan Mic. Hanya saja sebagai perawat, aku memiliki kewajiban untuk mengarahkan dan membimbing. Terlalu keras pada diri sendiri bukan hal yang baik juga!"
Mendengar keprihatinan Angel, mau tak mau Bella kagum dengan wanita itu. Orang yang mampu membujuk Mic pasti orang yang memiliki keberanian besar. Jika Bella ditempatkan di posisi Angel, dia mungkin akan membiarkan Mic tanpa komentar sama sekali.
"Bella, jangan lupa untuk melatih motorik kakimu kembali dan menggerakkannya lagi agar fungsi kakimu bisa segera pulih seperti semula!" Angel memberikan arahan pada Bella, memberikan beberapa contoh gerakan kaki untuk dilakukan Bella sebagai upaya pemulihan.
"Lihat kakiku. Coba lakukan seperti ini. Nanti kemudian lakukan begini!" Angel semakin semangat, wajahnya memerah setiap kali berhasil mendemonstrasikan beberapa gerakan untuk Bella.
Bella mengikuti dengan pelan meluruskan kakinya yang sakit, menggerakkan ke kanan dan kiri, memutarnya, dan menekuk serta meluruskan untuk membuatnya fleksibel.
Setelah beberapa gerakan diulang, kening Bella penuh keringat dingin karena menahan rasa nyeri yang tidak nyaman.
"Begitulah seharusnya. Jangan terlalu memaksakan diri, tapi juga jangan terlalu malas! Kau harus mencoba sesuai batas kekuatanmu demi pemulihanmu!" Angel mengingatkan.
"Duduklah sebentar di ruang tengah. Aku akan membuatkan makan siang untukmu dan Mic. Perlukah aku menghidupkan TV untukmu?"
"Tidak. Aku akan melakukannya sendiri!" Bella memutar kursi roda secara manual dengan tangan, mendekati TV, meraih remote di sisinya dan mundur kembali beberapa meter untuk mengatur channel.
Karena di kediaman Mic tak ada pengurus rumah tangga khusus, selain merawat, Angel juga memasak. Wanita itu tidak keberatan sama sekali dengan tugas tambahan ini. Dia bergerak gesit dan melakukan segalanya dengan cepat.
Bella melirik kamar kosong yang selalu dikunci di sebelah ruang kerja Mic, keningnya berkerut dalam. Dari semua ruangan di rumah ini, tampaknya ruangan itu adalah satu-satunya ruangan yang tidak pernah dibuka. Baik untuk dibersihkan atau dirapikan ulang.
Bella jadi teringat kata-kata Amy dan Jasmine. Mereka pernah mengatakan kamar yang menjadi tempat Sevana terbunuh tidak pernah digunakan lagi dan sengaja dikunci dengan misterius. Mungkinkah yang dimaksud adalah kamar itu?
Sekilas kamar itu seperti kamar lainnya dari penampilan luar. Tapi siapa yang tahu rahasia apa saja yang ada di dalamnya? Bella menggeleng lemah, berusaha menahan pikirannya agar tak mengembara.
Tahan, Bella, tahan pikiranmu! Ada beberapa hal yang memang lebih baik tidak mencari tahu dan membuat perkiraan asal. Penasaran bisa membunuh keledai. Istilah itu sering kali benar.
"Aku ingin berbicara padamu!" Suara yang dalam dan maskulin terdengar dari samping, membuat Bella terlonjak kaget tanpa sadar. Bahunya sakit saat ia bergerak tiba-tiba. Bella menahan desisan.
Mic berdiri di pintu ruang kerja, masih dibalut perban di beberapa tempat, tetapi sikap dan pembawaannya tetap dominan dan angkuh. Kening Bella berkerut dalam. Aneh rasanya melihat perban ada di tubuh Mic. Ini seperti melihat laki-laki kekar memakai baju pink yang mencolok.
Mic berjalan pelan ke ruang tengah, duduk tak jauh dari Bella dengan ekspresi yang rumit.
"Aku tahu kau telah mengalami situasi yang tak menyenangkan. Ini benar-benar kesalahanku. Aku minta maaf atas semuanya!" kata Mic.
Sebelumnya, Mic telah mengantisipasi akan terjadi hal-hal yang tak diharapkan. Meskipun ia telah menyarankan Bella untuk tinggal di kediaman Clive untuk berjaga-jaga dan ditolak mentah-mentah, tetap saja ia merasa bersalah. Bagaimanapun juga, Mic telah menyeret Bella pada masalahnya sendiri.
Mulut Bella terbuka cukup lama, sepasang matanya menampakkan kebingungan. Ini pertama kalinya Mic mengatakan maaf dengan tulus. Di benak Bella, Mic adalah lelaki egois yang selalu mengedepankan pendapatnya sendiri dan menutup mata pada banyak hal. Siapa sangka akan ada waktu bagi Bella mendengar permintaan maafnya? Apakah dunia terbalik?
"Jadi kau akhirnya sadar aku seperti ini karena terseret masalahmu?" Bella berbicara dengan penuh sarkasme. "Steve menitipkanku ke sini untuk perlindungan, tapi yang terjadi padaku adalah hal-hal buruk!" Bella tidak menyembunyikan nada keluhan dalam suaranya.
"Aku tahu itu, aku telah membicarakan hal ini pada Steve. Sebelum ini, aku berpikir alangkah lebih baik jika kau kembali ke sisi Steve. Tapi kudengar agen dan manajermu terbunuh dengan cara yang kejam. Tidak aman bagimu untuk kembali ke kota.
"Steve bisa saja mengirimkanmu ke tempat lain. Tapi situasi saat ini terlalu sensitif. Dia khawatir mengubah tempat persembunyianmu akan memancing si L untuk menyelidiki lebih jauh. Jadi Steve berpendapat ada baiknya kau tetap bertahan di sini dulu.
"Aku tidak memiliki banyak musuh. Jason adalah satu-satunya orang yang berniat mencelakaiku sejauh ini. Sekarang dia ditahan dan menjalani persidangan. Dengan kata lain, selama Jason dipenjara, tak ada lagi faktor bahaya untuk kita.
"Jadi, tetap berada di rumahku adalah pilihan yang paling masuk akal. Bisakah kau bertahan di sini untuk sementara waktu? Tidak akan ada bahaya lagi!"
Ini adalah penjelasan dan pembicaraan terpanjang yang pernah Mic lakukan pada Bella. Tak ada jejak kesombongan di wajah Mic seperti biasanya. Yang ada hanya keseriusan dan janji nyata yang tersampaikan dengan baik.
Mendengar ini, Bella kembali mempertimbangkan segalanya. Dia telah dewasa. Bukan anak kecil lagi yang setiap keinginannya harus terpenuhi. Situasi ini sudah sulit. Akan semakin sulit lagi jika Bella tidak mau bekerja sama. Tidak mudah bagi Steve untuk melindungi Bella dengan berbagai cara.
"Baiklah. Selama tidak ada lagi potensi bahaya, aku akan tetap tinggal di sini!" Bella mengambil keputusan. "Hanya saja, biskakah kita berteman dengan layak, Mic? Kita selalu bertentangan satu sama lain. Aku lelah dalam situasi ini. Aku ingin hidup tenang dan mencoba berteman denganmu!"
…