Setelah Bella memgambil keputusan untuk sendiri, Ralph dan Rose tak bisa memaksa Bella lagi. Mereka kemudian kembali ke Manhattan, meninggalkan Bella seorang diri di kediaman Mic. Bahkan Steve pun juga ikut pergi. Banyak pekerjaan Steve yang terbengkalai saat Steve berada di Outhsphilled, karena itu ia tak bisa berlama-lama menjauh dari Washington D.C.. Setidaknya, itulah yang dikatakan Steve sebagai alasan kepulangannya.
"Steve hanya merindukan istrinya. Pekerjaan hanya menjadi alibi dan alasannya untuk hengkang dari tempat ini!" Bella berdecih, mengutuk alasan Steve yang tak terlalu kuat.
Steve pada dasarnya memang sibuk, tetapi ia tak sesibuk robot yang bahkan tidak memiliki waktu luang yang layak. Jika dia mau, Steve bisa saja mengambil liburan lebih panjang sesukanya. Toh pondasi perusahaan Steve sudah sangat kuat dan tidak akan kacau hanya karena ditinggal pergi pemiliknya. Asisten dan sekretaris Steve semuanya adalah ahli tingkat atas. Orang seperti itu jika tidak bisa bekerja dengan baik, apa gunanya digaji tinggi?
"Hm." Mic mengangguk kecil. Tampaknya setelah menikah, Steve memang lebih terikat erat dengan Lyana. Hubungan mereka lengket hingga nyaris pada tahap membuat semua orang muak.
"Kakakku berubah dari binatang liar menjadi kucing jinak jika dihadapkan pada istrinya!" Bella memakan omelet sebagai hidangan makan malam dengan serius. Bobot tubuhnya telah turun gila-gilaan akhir-akhir ini. Mungkin tekanan mental telah membuat Bella merasa tak nyaman dan mempengaruhi psikisnya. Karena itulah Bella harus mulai mengonsumsi makanan dengan nutrisi cukup untuk mengembalikan lagi bobot yang hilang dari dirinya.
"Dia tampak lebih baik dari sebelumnya. Saat Steve masih lajang, karakternya lebih menyulitkan lagi!" Mic menimpali.
Hubungan Mic dengan Bella lama-lama membaik. Mereka mulai bisa bertukar pikiran dan saling berbagi cerita keseharian. Permusuhan di antara mereka benar-benar hilang. Dibandingkan dengan hubungan mereka di awal, kini komunikasi mereka bisa dibilang seperti teman.
"Steve, kapan kau dan kakakku saling mengenal?" tanya Bella tiba-tiba.
"Aku pernah ke D.C. setelah lulus dari collage!"
"Jadi kau pernah berada di kota?" Bella mengangguk beberapa kali, mulai memahami. Jadi Steve dan Mic bertemu pertama kali di D.C..
"Hm." Steve mengangguk, tak berniat menjelaskan. Ada kesuraman yang jelas di matanya yang gelap. Membahas D.C., tampaknya ada kisah buruk yang pernah Mic alami.
"Mic!" Bella memainkan jari-jari tangannya sendiri, mengurangi rasa canggung.
Hari ini Mic mulai bekerja sendiri lagi, tanpa dibantu oleh orang lain. Vitalitas lelaki itu berada di atas rata-rata, sehingga tubuh Mic yang baru saja pulih seperti semula sudah dibebani tanggungan kerja yang berat.
Malam tak berbintang. Mic menyeruput secangkir kopi tanpa gula. Dia melirik setumpuk kain di sudut meja yang selama ini Bella sulam, dalam hati bersimpati melihat hasil tangan Bella yang tak memiliki perkembangan.
"Aku melihatmu dua kali berdarah saat awal-awal aku tinggal di sini. Pertama saat malam hari. Kau mencuci tanganmu yang penuh darah di bak cuci dapur. Pakaianmu juga bernoda. Yang kedua, saat tengah malam kau pulang, dan sepatumu bernoda darah juga! Akankah kau menjelaskan?" Hal ini sudah lama menjadi pertanyaan Bella yang ia pendam dalam-dalam.
Tak menyangka akan diberi pertanyaan ini, Mic mengamati Bella yang duduk canggung menatap dirinya.
"Bukankah kau sudah melaporkan ini kepada Clive? Kenapa kau tidak menggugatku saja dan menuduhku sebagai pembunuh?" Mic menjawab dengan nada yang tajam dan tak menyenangkan.
"Maaf, saat itu aku terlalu impulsif, jadi aku melaporkan sesuatu yang seharusnya tidak kulaporkan pada Clive!"
Sebelumnya, Bella sangat waspada pada Mic dan memiliki hanyak prasangka buruk. Tapi sekarang, semakin Bella bergaul lebih lama dengan Mic, semakin ia memiliki keyakinan yang tak bisa dijelaskan jika Mic sebenarnya cukup baik.
"Apakah saat ini kau tidak lagi berpikir aku laki-laki yang mampu membunuh seseorang tanpa pandang bulu?" tanya Mic, tak mengerti bagaimana Bella bisa secepat itu mengubah pendapatnya. Sungguh sangat plin plan.
"Tidak. Aku tahu kau telah dirugikan oleh rumor!" Bella mengusap wajahnya, sedikit malu karena ia pertama kali datang ke kediaman Mic pernah termakan oleh rumor yang ada. Rumor itu disampaikan oleh Amy.
Semakin lama Bella berinteraksi dengan Mic, semakin ia percaya Mic bukan seorang pembunuh. Dalam beberapa hal, masih ada prinsip-prinsip yang Mic pegang. Atau jika memang Mic benar-benar membunuh seseorang, Bella yakin alasannya pasti tidak sederhana.
"Pertama kali aku berdarah, aku baru saja pulang dari membantu ternak yang melahirkan untuk temanku, Roger. Dia memiliki sapi impor, tetapi daya tahannya tidak terlalu baik." Proses lahiran sapi itu cukup sulit. Pendarahannya juga lebih dari standar normal. Saat itu, Mic kebetulan langsung pulang di malam hari, tidak membersihkan tubuhnya terlebih dahulu.
Momen itulah yang kebetulan ditangkap Bella. Dengan darah di mana-mana, ditambah lagi rumor buruk tentang Mic, mudah bagi Bella menggabungkan semuanya menjadi hal-hal negatif.
"Yang kedua, aku membantu Roger mencari beberapa ternaknya yang hilang. Beberapa ternaknya ditemukan terluka dengan jejak tusukan di mana-mana! Ada seseorang yang menargetkan Roger!" Mic kembali menjelaskan.
Roger adalah salah seorang peternak yang mewarisi bisnis dari kedua orang tua angkatnya. Dia dan Mic berteman cukup lama, bahkan bisa dikatakan mereka bersahabat. Setiap kali Mic terlibat masalah, Roger sering membantu. Begitu pun sebaliknya. Saat itu Mic mendengar Roger mengeluh karena ternak-ternaknya mengalami beberapa luka yang mencurigakan setelah hilang beberapa hari. Mic berinisiatif untuk menemani Roger menyelidiki.
Setelah menunggu beberapa malam dengan hati-hati untuk melihat pelaku beraksi, ternyata si pembuat onar adalah orang yang sangat Mic kenal.
"Ternyata setelah diselidiki, yang melukai ternak Roger adalah Jason Gilberth!" Mic mengetukkan ujung jarinya di lengan kursi, tatapannya suram. Jason adalah pembuat masalah tanpa akhir. Sebelum ia melukai Mic, ia juga menargetkan Roger yang telah dikenal orang-orang sebagai teman dekat Mic.
"Jason? Jadi dia bukan hanya menyerangmu dan aku, tapi juga ternak temanmu?"
"Ya. Malam itu sepatuku memiliki jejak darah ternak yang terluka milik Roger!"
Jadi ternyata semuanya tidak seburuk dugaan Bella. Ada sebab akibat yang jelas di dalamnya.
Bella mendesah panjang, memahami dengan lambat semua kisah keseluruhan yang Mic sampaikan. Pikiran Bella terlalu picik dan penuh tuduhan. Kini ia tahu kebenaran terkadang jauh dari prasangka seseorang.
"Tapi kenapa kau tidak melaporkan Jason langsung setelah itu pada Clive?" tanya Bella kemudian. Bagaiamanapun Clive adalah teman dekat Mic. Jika Mic mau, Clive bisa membantunya mengatasi semua masalah itu.
"Saat itu aku masih curiga apa motif Jason sebenarnya. Jadi aku berniat menunggu untuk sementara waktu. Tapi kemudian saat aku menyelidiki ternak Roger lainnya yang juga terluka setelah beberapa hari, aku dihajar Jason setelah pulang dari sana! Ini terjadi beberapa hari sebelum kau diserang Jason!"
Bella akhirnya mengerti alasan Mic terluka sebelumnya. Semua teka-teki itu kini telah terjawab. Jason membuat masalah, melukai Mic, melukai Bella, sebelum akhirnya ditangkap dan kini dimasukkan dalam rehabilitasi mental karena riwayat bipolar yang dideritanya.
"Dengan kemampuanmu, bagaimana kau bisa terluka dengan parah?" Mengingat terakhir kali Mic menghadapi Jason, Bella bisa menyimpulkan Mic memiliki kekuatan yang luar biasa sejauh menyangkut tentang fisik. Sulit dibayangkan Mic bisa kalah dari Jason sebelumnya dengan mudah.
"Setelah aku pulang dari tempat Roger, aku mampir ke kedai sebentar, tidak langsung ke rumah!" Mic mengerutkan keningnya, ekspresinya rumit. "Tampaknya Jason entah bagaimana memberiku semacam obat tidur atau obat yang membuatku lemah di kedai itu. Entah pelayan mana yang ia suap."
Yang Mic ingat, setelah dari kedai, Mic merasa lemas dan tak berdaya. Di jalan pulan saat melewati jalur sepi, Jason kemudian menggunakan momen itu untuk menghabisi Mic. Karena kondisi tubuh Mic yang lemah, dia seperti domba yang siap disembelih di hadapan Jason.
Mic pikir ia akan terbunuh malam itu. Namun, keinginannya untuk hidup terlalu kuat. Kesadarannya juga tidak sepenuhnya hilang. Dengan semua kekuatan yang tersisa, dia melarikan diri dan pulang penuh luka. Saat itulah Mic menyadari niat Jason untuk melenyapkannya terlalu jelas dan tak mustahil dihentikan.
Karena itulah setelah Mic merasa lebih baik, dia memutuskan untuk keluar dari rumah dan mencari Jason lebih dulu. Untuk menghindari kemungkinan Bella terpapar bahaya, Mic telah menyarankannya untuk menginap di kediaman Clive. Sayangnya, wanita itu menolak dengan keras kepala. Itulah yang membuat Bella ikut terseret dalam masalah Mic dan mendapat serangan dari Jason.
"Setelah Jason menyerangku, aku berniat untuk memburunya lebih dulu. Malam itu aku mencarinya di beberapa tempat, termasuk tempat kontrakan Jason. Keponakannya berkata Jason telah pergi selama empat hari dan tidak pulang. Jadi aku kembali ke rumah. Aku melihat jejak mobil asing yang masuk ke pekaranganku. Aku khawatir ada seseorang yang memasuki kediamanku dengan niat buruk, mengingat aku tak mengenal jejak mobil itu sebagai salah satu kenalanku. Jadi aku memarkir mobil di ujung jalan, memasuki rumah dengan berjalan kaki, sebisa mungkin tidak membangkitkan kewaspadaan penyusup. Siapa sangka aku justru melihat Jason melukaimu. Laki-laki itu terlalu licik dan kejam!"
"Karena dendam lamanya dan menganggap kau adalah pembunuh Sevana?" tanya Bella kemudian.
"Ya. Tapi sebenarnya lebih jauh dari itu! Mereka adalah saudara tiri, yang tak memiliki hubungan darah. Di masa lalu, Sevana pernah memiliki hubungan ambigu dengan Jason. Mereka mengembangkan semacam hubungan gelap selama satu tahun!"
Bella mengedipkan matanya berulang kali menatap Mic, terkejut oleh penjelasan Mic yang rumit. Jadi ternyata ada kisah kompleks di baliknya. Pantas Jason menyimpan dendam yang tak masuk akal.
"Di mata Jason, aku bukan hanya membunuh Sevana, tapi aku juga menghancurkan hubungan gelapnya dengan Sevana." Mic terkekeh pelan.
"Dengan kata lain, kau adalah pihak ketiga di dalam hubungan mereka!" Bella mengangguk mengerti.
"Itu dia!"
"Dari mana kau tahu Sevana dan Jason bersama? Bukankah seharusnya Sevana menyembunyikan hal ini? Atau apakah Jason mengakuinya secara langsung padamu?" tanya Bella, merasa ada puzzle yang belum terurai.
"Aku menyelidikinya!" Mic mengangkat bahu, suaranya terdengar santai dan datar.
"Menyelidiki?" Bella bertanya bingung.
"Setelah kematian Sevana, aku menyelidiki banyak hal tentang Sevana. Terutama kisah hidupnya di masa lalu!"
Bella tercengang. Dia menatap Mic penuh keterkejutan.
"Bella, bukan hanya polisi saja yang menyelidiki kematian Sevana. Aku pun juga. Aku bahkan mengorek semua kisah masa lalunya. Kematian Sevana tidak sederhana yang dipikirkan orang!"
Bella masih tercengang, tak bisa berkata-kata lagi. Dia sungguh tak menyangka Mic akan melakukan penyelidikan sejauh itu untuk mantan istrinya.
"Apa kaupikir hanya polisi saja yang menginginkan kebenaran? Aku lebih menginginkannya! Karena aku satu-satunya orang yang dibingkai dalam kematiannya!" Mic tersenyum miris. "Untuk seseorang yang dituduh sebagai pembunuh, salah satu cara membersihkan namanya sendiri dari tuduhan adalah menemukan kebenaran sejati. Itulah kenapa aku melakukannya. Tetapi itu pun tampaknya sulit kudapat!"
Bella bersandar di kursi, menatap langit malam dari balik jendela besar. Langit tampak suram. Angin berembus kencang, memukul-mukul kisi-kisi jendela. Tangan Bella memijat pelipisnya beberapa kali, pikirannya berputar dengan cepat.
"Jadi kau menyelidiki segalanya tentang Sevana!" Bella mengangguk kecil, senyumnya tertarik indah.
Rumor pembunuhan Mic terhadap Sevana salah. Bukan hanya salah, Mic bahkan orang yang secara aktif melakukan penyelidikan mandiri tentang Sevana untuk mengetahui siapa dalang di balik kematian Sevana. Tapi tampaknya penyelidikan itu tidak terlalu berhasil, mengingat sampai saat ini kasus Sevana tidak terselesaikan.
"Sevana wanita yang …." Mic mengerutkan kening, mencari deskripsi yang sesuai. "Bisa dibilang rumit dan pintar mencari masalah. Bukan hal yang mengejutkan dia dibunuh oleh seseorang."
Dengan karakter Sevana, Mic tak terkejut jika Sevana secara tidak sengaja memprovokasi orang yang sangat pendendam. Orang inilah yang kemungkinan besar mengakhiri hidup Sevana.
"Yang masih aku tak mengerti adalah, kenapa Sevana terbunuh di kediamanku, dengan beberapa bukti yang menggiring aku sebagai pembunuhnya." Mic mengerutkan bibirnya dengan ekspresi penuh kebencian.
"Seolah-olah ada seseorang di balik ini semua yang ingin kau menanggung kesalahan?" Bella menebak dengan akurat.
"Ya. Ada orang yang ingin aku jatuh ke dalam jebakan ini. Tapi aku bukan orang yang mudah dijatuhkan. Sayang sekali menghabiskan banyak hal untuk ini!" Mic berdecak pelan, sorot matanya menunjukkan ekspresi mengejek kepada orang yang ingin menjebaknya. Yang bahkan hingga kini masih belum tahu siapa.
"Mungkin kau secara tidak sengaja memprovokasi orang lain?" Bella membuat tebakan. Tidak mungkin orang menjebak tanpa alasan.
"Mungkin." Mic sudah berkali-kali memikirkan tentang prasangka ini. "Entah dia tidak mau bertindak sampai akhir sehingga bukti-bukti aku membunuh Sevana tidak terlalu kuat, atau entah orang yang disuruh menempatkan bukti-bukti itu canggung dan tidak bekerja maksimal. Pada akhirnya, aku terlepas dari tuduhan itu!"
"Ini … ini terlalu rumit." Bella menarik napas panjang, mengeluarkannya lagi, kemudian menatap Mic dengan simpati kuat di matanya.
"Maafkan aku, Mic. Jujur, aku pernah memikirkan rumor itu dan menganggapnya serius. Maaf, aku terlalu picik." Bella merasa bersalah. Kini ia tahu bagaimana sulitnya Mic membersihkan dirinya dari rumor, dan usaha apa saja yang ia lakukan untuk menyelidiki masa lalu Sevana. Semua itu pasti tidak mudah. Ditambah lagi, banyak orang yang menganggap rumor itu adalah kebenaran. Bukankah semua itu menciptakan tekanan tersendiri bagi Mic?
"Wajar sebenarnya. Semua orang memang digiring untuk berpikir seperti itu. Hanya ada segelintir orang yang masih mempercayaiku. Tapi orang-orang ini pun pada waktu itu dianggap melindungiku sebagai pembunuh, pembelaan mereka dianggap tak berdasar!"
"Kenapa kau tidak pergi dari kota ini dan membuat lembaran hidup baru?" tanya Bella kemudian. Jika ia jadi Mic, dituduh melakukan kesalahan tanpa pandang bulu, dihakimi dengan tak adil, alih-alih bertahan di tempat ini, dia lebih suka menjual semua asetnya dan pergi ke kota lain untuk membuka hidup baru.
"Tidak. Aku memiliki keterikatan yang kuat dengan tempat ini!" Suara Mic mantap dan penuh keyakinan.
…