30 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Masa lalu punya kebiasaan buruk: ia datang kembali justru ketika kau sudah berdamai dengannya. Seperti orang yang baru mengetuk pintu setelah kau selesai merapikan rumah—bukan karena kebetulan, tapi karena entah bagaimana ia tahu kau sudah siap menerimanya.
Senin itu Javar meneleponku dengan suara yang tidak biasa—bukan suara lelah, bukan suara senang, tapi suara orang yang sedang memegang sesuatu yang berat dan belum memutuskan apakah akan meletakkannya atau membawanya.
"Ada yang ingin kuceritakan," ucapnya. "Tapi tidak lewat telepon. Bisa makan malam? Malam ini?"
Kami bertemu di warung soto kami—tempat yang sudah resmi menjadi "tempat kami", meja pojok yang sudah resmi menjadi "meja kami"—dan Javar sudah duduk di sana dengan sebuah map tipis di atas meja, yang ia putar-putar dengan jarinya seperti orang memutar-mutar cincin yang tidak ada.
"Tiga hari yang lalu, ada yang menghubungiku," katanya, setelah soto kami datang dan tidak satu pun dari kami menyentuhnya. "Wisnu. Kau ingat Wisnu? Yang dulu jadi tangan kananku di organisasi. Yang selalu bawa pengeras suara ke mana-mana."
"Aku ingat. Pengeras suaranya lebih terkenal dari dia."
Javar tersenyum kecil, tapi senyumnya tidak sampai ke matanya. "Dia sekarang menjalankan sebuah yayasan. Yayasan pendidikan untuk anak-anak di daerah-daerah yang sekolahnya jauh—perbatasan, kepulauan kecil, tempat-tempat yang tidak pernah masuk berita. Sudah empat tahun dia membangunnya, dari nol, dan sekarang yayasan itu sudah punya sembilan pos belajar." Ia berhenti, menatapku. "Dan dia menawariku posisi. Direktur program. Mengatur seluruh kegiatan belajarnya, membangun kurikulumnya, melatih relawan-relawannya. Full-time."
Kata-kata itu jatuh di atas meja kami seperti batu ke dalam air yang tenang, dan aku bisa melihat riaknya kemana-mana—ke wajahnya yang menunggu, ke tanganku yang berhenti di atas sendok, ke seluruh masa depan yang tiba-tiba punya bentuk yang berbeda dari lima menit yang lalu.
"Dan?" tanyaku, pelan. "Apa yang kaurasakan?"
"Aku merasa—" ia berhenti, memilih kata-katanya dengan hati-hati, seperti orang melangkah di atas es yang tipis, "—seperti orang yang sudah pensiun dari mimpi, dan tiba-tiba mimpinya datang menjemput di depan rumah. Aku sudah berdamai dengan hidupku, Lovia. Perusahaan ayahku, jadwal yang pasti, gaji yang pasti. Aku sudah menutup pintu itu dan menguncinya dan membuang kuncinya. Dan sekarang Wisnu berdiri di luar pintu dengan kunci cadangan."
"Kau mau mengambilnya."
Bukan pertanyaan. Dan Javar tidak membantahnya—ia hanya menatapku dengan mata yang mengatakan semua yang tidak berani diucapkannya, dan di mata itu aku melihat orang yang kulihat di podium aula minggu lalu, orator yang berdiri di depan kursi-kursi kosong dan berkata "kalian semua sudah pulang, tapi saya masih di sini".
"Tapi ada masalahnya," lanjutnya, dan suaranya turun. "Kantor pusat yayasan itu tidak di sini. Dia di kota lain. Empat jam dari sini. Dan pekerjaannya akan banyak di lapangan—minggu-minggu di daerah, jauh dari mana-mana. Jauh dari—" ia berhenti, dan kata yang tidak diucapkannya menggantung di antara kami lebih keras dari kata mana pun yang diucapkan malam itu.
Jauh dariku.
Aku menatapnya lama sekali, dan di dalam dadaku dua hal bertarung dengan sengit: yang pertama adalah ketakutan lama, ketakutan delapan tahun, ketakutan ditinggal lagi oleh orang yang sama dengan cara yang berbeda; dan yang kedua adalah sesuatu yang baru, sesuatu yang tumbuh tanpa kuminta, sesuatu yang berbisik bahwa mencintai seseorang berarti menginginkan orang itu utuh—dan Javar tidak akan pernah utuh tanpa mimpi ini, aku sudah melihatnya di aula itu, aku sudah melihat kilatnya.
"Javar," kataku akhirnya, "delapan tahun yang lalu kau pergi karena kau pikir melindungiku berarti memutuskan untukku. Kau ingat itu?"
"Aku tidak akan pernah melupakannya."
"Kalau begitu jangan lakukan lagi. Jangan tolak tawaran ini demi aku, dan jangan terima tawaran ini tanpa aku. Kali ini kita putuskan bersama. Itu satu-satunya aturan yang kuminta, dan itu aturan yang tidak bisa ditawar."
Ia menatapku seperti orang yang tidak percaya dengan apa yang didengarnya, dan perlahan—sangat perlahan—tangannya bergerak melintasi meja dan berhenti di sebelah tanganku, tidak menyentuh, hanya berhenti di sana, menunggu izin yang sudah lama tidak perlu dimintanya.
Aku yang menyentuh tangannya lebih dulu.
"Ceritakan semuanya," kataku. "Yayasannya, kotanya, jadwalnya, semuanya. Dari awal. Kita punya banyak soto dan tidak ada yang buru-buru."
Maka ia bercerita—dan soto kami dingin, dan pemilik warung menambahkan kuah panas tanpa diminta dengan senyumnya yang tahu segalanya, dan kami tidak menyadarinya. Yayasan itu bernama Titik Terang, dan namanya saja sudah membuatku mengerti kenapa Wisnu memilih Javar. Sembilan pos belajar, dua ratus relawan, anak-anak yang berjalan dua jam untuk belajar membaca di gubuk-gubuk yang atapnya bocor tapi semangatnya tidak. Javar bercerita dengan tangan yang bergerak-gerak, dengan mata yang menyala, dengan suara yang semakin lama semakin keras sampai meja sebelah menoleh—dan aku mendengarkannya sambil berpikir: ini dia. Orang dari aula itu. Dia tidak pernah pergi. Dia hanya menunggu dijemput.
"Transisinya tiga bulan," katanya. "Aku harus menyelesaikan pengalihan tugas di perusahaan ayahku dengan benar—ayahku sudah tahu, aku menceritakannya dulu sebelum menceritakannya kepadamu, dan dia—" Javar berhenti, tersenyum dengan cara yang aneh, "—dia bilang, 'Akhirnya. Aku sudah menunggu delapan tahun kau berhenti membayar utang yang tidak pernah kutagih.'"
Dan kemudian, karena aku adalah aku dan malam itu terlalu besar untuk disimpan sendirian, aku menelepon Ratih sepulangnya dari warung—jam setengah sebelas malam, jam yang sudah tidak asing bagi persahabatan kami.
"Dia ditawari kerjaan di yayasan pendidikan. Di kota lain. Empat jam dari sini."
Hening sebentar di seberang sana. Kemudian: "Dan kau bilang apa?"
"Aku bilang kita putuskan bersama."
"Ya Tuhan, Lovi." Suara Ratih terdengar seperti orang yang bangga dan khawatir dalam waktu yang sama. "Kau tahu apa artinya itu? Itu artinya kau sudah tidak takut lagi. Delapan tahun kau takut ditinggal, dan sekarang kau sendiri yang membukakan pintunya. Itu bukan kehilangan dia. Itu namanya percaya."
"Aku tetap takut," akuku jujur.
"Tentu saja kau takut. Orang berani itu bukan orang yang tidak takut—itu cuma orang yang takut tapi tetap buka pintu." Ia berhenti sebentar, dan aku bisa mendengar senyumnya lewat telepon. "Lagipula, empat jam itu dekat, Lovi. Delapan tahun itu yang jauh. Kalian sudah pernah menyeberangi yang jauh. Empat jam itu cuma jalan tol dan satu kali berhenti di rest area."
Dan malam itu, di meja pojok warung soto yang sudah menjadi saksi begitu banyak hal, kami membicarakan masa depan untuk pertama kalinya—bukan masa lalunya, bukan masa laluku, tapi masa depan yang berbentuk seperti milik berdua—dan aku belajar bahwa mencintai orang yang bermimpi besar berarti belajar untuk tidak takut pada jarak, karena jarak itu hanyalah kata lain dari ruang, dan ruang bisa diisi dengan apa saja, termasuk dengan dua orang yang akhirnya belajar berbicara sebelum pergi.
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Dulu aku kehilangan dia karena mimpi. Aku tidak akan membuat kesalahan yang sama dengan cara yang terbalik: menahannya tetap di sini dengan mematikan mimpinya. Kalau dia harus pergi, kali ini aku tahu ke mana dia pergi, dan kali ini—untuk pertama kalinya—dia pergi dengan pamit."