03 DESEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Ada satu pintu yang belum kulewati, dan pintu itu berada di rumahku sendiri.
Aku sudah makan malam di rumah orang tua Javar. Aku sudah duduk di meja mereka, ditanya-tanya dengan ramah, dijamu seperti orang yang sudah lama diharapkan. Tapi Javar belum pernah masuk ke rumah Bunda—bukan karena ada yang melarang, melainkan karena aku tidak pernah mengundangnya, dan tidak pernah mengundangnya karena mengundangnya berarti mengakui sesuatu yang keras-keras, kepada Bunda, kepada diriku sendiri, kepada semesta.
Bunda, tentu saja, sudah tahu segalanya. Bunda selalu tahu segalanya. Ia hanya menungguku mengatakannya dengan mulutku sendiri, karena Bunda punya prinsip yang tidak pernah berubah sejak aku kecil: "Kebenaran yang diucapkan sendiri lebih menyembuhkan daripada kebenaran yang dipaksa keluar."
Maka Kamis itu aku meneleponnya dan mengatakannya: "Bunda. Ada seseorang yang ingin kukenalkan. Hari Minggu. Makan siang."
Hening sebentar di seberang sana—hening seorang ibu yang sudah menunggu telepon ini lebih lama dari anaknya sadari. Kemudian, dengan nada yang dibuat seolah-olah ini bukan apa-apa: "Baik. Bunda masak rendang. Jangan bawa orang yang tidak suka rendang."
"Dia suka rendang, Bun."
"Bagus. Orang yang tidak suka rendang tidak bisa dipercaya. Itu aturan rumah ini."
Javar, ketika kuberitahu, berdiri di dapurku dengan piring yang berhenti di tengah jalan antara wastafel dan raknya. "Bunda-mu. Memasak rendang. Untukku." Ia mengucapkannya pelan-pelan, seperti menerjemahkan kalimat dari bahasa asing. "Lovia, itu bukan makan siang. Itu audiensi dengan kepala negara."
"Kau sudah pernah pidato di depan ribuan mahasiswa."
"Mahasiswa tidak punya kuasa menentukan apakah aku boleh berkencan dengan anaknya."
Maka hari Minggu itu kami pergi ke rumah Bunda—Javar dengan kemeja yang disetrika tiga kali (aku menghitungnya dari kerutan yang berkurang setiap kali ia menyetrika ulang), dengan sekotak kue yang ia pilih setelah dua puluh menit berdiri di toko kue seperti orang memilih cincin kawin, dengan keringat di pelipisnya meskipun AC mobil menyala penuh.
Dan Bunda—Bunda-ku yang tersayang—membuka pintu, menatap Javar dari atas ke bawah dengan tatapan yang bisa mencairkan baja, lalu berkata: "Jadi ini yang membuat anak saya berdiri di pintu selama delapan tahun. Masuk. Rendangnya sudah matang, dan rendang tidak menunggu orang yang ragu-ragu."
Javar menoleh kepadaku dengan wajah yang bertanya apa yang sudah kuceritakan, dan aku mengangkat kedua bahu dengan wajah yang menjawab bahwa Bunda tidak pernah perlu diberitahu apa pun, dan kami masuk ke rumah itu—ke rumah masa kecilku, ke meja makan yang sama tempat aku dulu mengerjakan PR, ke kursi yang sama tempat ayahku dulu duduk—dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, dua dunia itu bertemu di satu meja.
Makan siang itu berjalan seperti sidang yang menyenangkan. Bunda menggali seluruh riwayat hidup Javar dengan teknik interogasi yang dibungkus suguhan kue: dari mana keluarganya, apa pekerjaannya, bagaimana ayahnya sekarang—dan Javar menjawab semuanya dengan jujur, termasuk bagian-bagian yang kupikir akan ia sembunyikan: delapan tahunnya, kepergiannya, kesalahannya. Ia tidak menyembunyikan apa pun. Ia meletakkan semuanya di atas meja, di samping rendang, dan berkata: "Saya pernah menyakiti anak Ibu karena saya pikir diam itu melindungi. Saya tidak akan mengulanginya. Itu bukan janji lelaki kepada perempuan—itu janji orang yang sudah salah kepada orang yang pernah ia rugikan."
Bunda menatapnya lama sekali. Kemudian ia menambahkan rendang ke piring Javar—porsi yang lebih besar dari porsiku, porsi yang lebih besar dari porsinya sendiri—dan berkata, hanya itu: "Makan yang banyak. Orang yang mau mengaku salah harus makan yang banyak, karena mengaku salah itu berat dan butuh tenaga."
Dan aku tahu, dari porsi rendang itu, dari nada itu, dari cara Bunda menyebut "anak saya" sambil melirikku—aku tahu bahwa sidang itu sudah selesai, dan hasilnya tertulis di piring Javar dalam bentuk daging yang berlimpah.
Di perjalanan pulang, Javar menyetir dengan wajah orang yang baru turun dari roller coaster dan tidak yakin apakah ia menikmatinya. "Bundamu," ucapnya akhirnya, "adalah orang paling menakutkan yang pernah kutemui, dan aku pernah berhadapan dengan barisan aparat waktu demo."
"Dia menyukaimu."
"Bagaimana kau tahu?"
"Dia memberimu rendang porsi besar. Di rumah itu, porsi adalah bahasa resmi. Porsimu tadi adalah pernyataan dukungan penuh."
Ia tertawa, lalu diam, lalu—di lampu merah yang panjang, di jalan yang mulai gelap, di mobil yang dipenuhi bau rendang dari kotak makanan yang dipaksakan Bunda ke tangan kami—ia menoleh kepadaku dan berkata, pelan, dengan suara yang tidak pernah kudengar sebelumnya: "Aku sudah bertemu orang tuaku sendiri denganmu. Sekarang aku sudah bertemu Bunda-mu. Yayasan itu sudah kubicarakan. Tidak ada lagi yang kusembunyikan, Lovia. Tidak ada lagi yang tertunda. Jadi aku mau bertanya satu hal yang seharusnya kutanyakan delapan tahun yang lalu, di warung soto, sebelum semuanya rusak."
Lampu berubah hijau. Ia tidak menyetir. Mobil di belakang membunyikan klakson, dan ia tetap tidak menyetir, dan aku tidak menyuruhnya, karena ada momen-momen yang lebih penting dari lampu hijau.
"Diandra Lovia Saradika," ucapnya, dengan nama lengkapku, dengan suara oratornya yang sudah kembali, "maukah kau—resmi, kali ini, dengan kata-kata, bukan dengan asumsi—menjadi bagian dari hidupku? Di kota yang sama atau di kota yang berbeda, dengan soto atau tanpa soto, dengan semua yang sudah kita lalui dan semua yang belum kita tahu?"
Dan aku—perempuan yang sudah menghabiskan delapan tahun menolak hal-hal baik, yang sudah diperingatkan Mbak Inggrid, yang sudah dinasihati Bunda untuk tidak berdiri di pintu terlalu lama—aku menjawab tanpa jeda, tanpa takut, tanpa berpikir dua kali untuk pertama kalinya dalam hidupku:
"Mau. Resmi. Dengan kata-kata."
Mobil di belakang membunyikan klakson lagi, dan kali ini Javar menyetir, dan kami tertawa sepanjang jalan pulang seperti dua orang yang baru saja menyelesaikan sesuatu yang sudah sangat lama tertunda—karena memang itulah yang baru saja kami lakukan.
Orang pertama yang kuberitahu adalah Ratih, tentu saja, dan reaksinya persis seperti yang sudah kuperkirakan dan tetap membuatku tertawa: jeritan panjang di ujung telepon, diikuti dengan "AKU TAHU! Aku sudah tahu sejak dia mengirimimu notebook! Tidak ada orang yang mengirim notebook tanpa rencana besar!"—seolah-olah selama ini ia sudah menulis naskahnya dan kami semua hanya aktor yang terlambat membaca skenarionya.
"Dan sekarang gantian kau," kataku. "Bagaimana kelanjutan makan malam membahas vendor itu?"
"Nanti," jawabnya, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah persahabatan kami, Ratih menunda cerita tentang dirinya sendiri. "Malam ini malammu. Besok baru malamku. Dan besok, Lovi, aku punya banyak sekali bahan cerita."
Aku menutup telepon dengan perasaan penuh yang tidak muat di satu dada—malam yang besar untuk kami berdua, dengan cara yang berbeda-beda, di dua kota kehidupan yang berbeda, dengan dua orang yang tidak pernah kami duga.
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Bab ini dimulai di depan pintu Bunda dan berakhir di lampu merah yang berubah hijau. Delapan tahun aku menunggu di perhentian yang salah. Ternyata jalannya lurus saja, dan kali ini, tidak ada satu pun dari kami yang turun sebelum tiba."