17 APRIL 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Penandatanganan kemitraan itu tidak dilakukan di gedung kantor kami yang ber-AC dan berkarpet. Atas usul yang datang dari dua arah sekaligus—dari Mbak Inggrid dan dari Wisnu, dua orang yang belum pernah bertemu tapi berpikir dengan frekuensi yang sama—penandatanganan itu dilakukan di tempat yang seharusnya: di halaman pos belajar pertama, di bawah tenda sederhana, dengan dua puluh anak sebagai saksi resmi yang tidak diminta tandatangannya.
Maka Sabtu itu sebuah minibus dari perusahaanku menempuh empat jam perjalanan dan satu jam jalan rusak, membawa rombongan yang tidak biasa: Mbak Inggrid dengan sepatu yang sudah ia relakan sejak di parkiran, dua staf tim CSR, Ratih yang ditunjuk sebagai dokumentasi resmi (dan yang menjalankan tugasnya dengan sembilan ratus foto, aku menghitungnya di perjalanan pulang), dan aku—yang duduk di sebelah jendela dengan perasaan yang sulit dijelaskan, menonton jalan yang mulai kuhafal itu membawa kantorku ke kota keduaku.
Pak Bos tidak ikut. "Acara ini milik tim, bukan milik bos," katanya saat melepas keberangkatan kami, dan aku tahu ada alasan kedua yang tidak diucapkannya: ia tidak mau satu pun foto hari itu membuat orang lupa siapa yang bekerja. Tapi ia menitipkan sesuatu untuk dibawa—tiga kardus alat tulis dan buku-buku bacaan, "dari pribadi, bukan dari perusahaan, perusahaan sudah punya jalurnya sendiri, ini jalur yang lain."
Anak-anak itu menyambut minibus kami seperti menyambut karnaval. Anak berpita merah—yang sekarang bernama resmi di kepalaku, Sari, karena aku sudah meminta namanya dengan sungguh-sungguh dan tidak boleh menyebut orang dengan nama pita—berdiri paling depan dengan tugas yang diberikan Javar kepadanya dengan sangat serius: memimpin lagu selamat datang. Lagunya fals, komandonya salah hitung, dan tidak ada satu pun dari kami yang tidak ikut bertepuk tangan sampai telapak tangan sakit.
Wisnu dan Mbak Inggrid menandatangani dokumen kemitraan itu di meja kayu sederhana yang dipinjam dari rumah ketua desa, dengan dua puluh anak menonton dari barisan tikar, dengan kamera Ratih yang tidak berhenti. Dan kemudian ada sambutan-sambutan—Wisnu yang berapi-api seperti biasa ("hari ini bukan akhir dari kekhawatiran kami, tapi awal dari tanggung jawab yang lebih besar!"), Mbak Inggrid yang singkat dan tepat seperti biasa ("perusahaan kami tidak memberi ikan dan tidak memberi pancing; kami ikut menjaga kolamnya"), dan kemudian—hal yang tidak ada di rundown—Javar diminta maju oleh Wisnu.
Dan Javar berdiri di depan tenda itu, di depan dua puluh anak dan rombongan kantorku dan relawan-relawannya, dan tidak membawa naskah. Ia memulai dengan bercerita tentang anak-anak yang berjalan dua jam untuk belajar membaca, dan tentang gubuk yang atapnya bocor tapi semangatnya tidak, dan tentang kota yang dulu ia tinggalkan dan kota yang sekarang ia bela—dan suaranya, suara orator dari aula tua itu, mengisi halaman itu sampai ke sudut-sudutnya. Aku melihat Mbak Inggrid menyimak dengan kepala sedikit miring—cara ia menilai orang. Aku melihat dua staf CSR berhenti mencatat. Dan aku melihat Ratih menurunkan kameranya pelan-pelan, lupa memotret, karena ada orang-orang yang memang harus ditonton dengan mata, bukan dengan lensa.
Ia menutup sambutannya dengan kalimat yang membuat Sari, di barisan depan, ikut mengangguk-angguk meskipun pasti tidak mengerti sepenuhnya: "Kami tidak sedang membangun sekolah. Kami sedang membangun keberanian anak-anak untuk bermimpi lebih jauh dari jalan desa mereka. Dan keberanian itu, ternyata, bisa dibangun oleh tangan-tangan yang jaraknya empat jam—asal talinya tidak putus."
Setelah sambutan, acara berubah menjadi hal yang tidak mungkin dirancang di ruang meeting mana pun: pesta kecil. Relawan-relawan mengeluarkan permainan—tarik tambang, balap karung, kelereng dalam sendok—dan rombongan kantorku yang tadi pagi masih kaku dengan sepatu dan kemeja, dalam waktu satu jam sudah berlumuran debu dan tawa. Mbak Inggrid kalah telak di tarik tambang melawan tim anak-anak (yang pasti curang, jumlah mereka bertambah setiap ronde), dan tertawa seperti tidak pernah kulihat ia tertawa di kantor. Ratih menemukan panggilan barunya sebagai komentator dadakan, lengkap dengan tiupan peluit pinjaman dan laporan jalannya pertandingan yang lebih ramai dari pertandingannya.
Dan aku berdiri di pinggir halaman itu dengan Wisnu, menonton semuanya, dan Wisnu berkata pelan tanpa menoleh: "Empat tahun aku membangun ini sendirian dengan relawan. Hari ini ada minibus dari kota datang membawa orang-orang berkemeja yang tertawa bersama anak-anakku. Kau tahu apa yang paling berarti dari hari ini? Bukan dananya. Tapi bahwa mulai sekarang, anak-anak itu tahu bahwa ada orang-orang dari jauh yang memikirkan mereka. Untuk anak yang berjalan dua jam ke sini, itu mengubah segalanya."
Setelah acara, saat rombongan sibuk dengan makan siang dari dapur umum, Javar menarikku ke belakang gubuk—ke tempat yang sepi, dengan pemandangan sawah yang hijau sejauh mata sanggup—dan berdiri di sana tanpa mengatakan apa-apa untuk waktu yang lama.
"Aku sedang mencoba mencari kata yang tepat," katanya akhirnya. "Dan aku, yang hidupnya dari kata-kata, tidak menemukannya. Hari ini aku melihat kantormu berdiri di halaman gubukku. Dua duniaku dalam satu foto. Bagaimana cara mengucapkan terima kasih untuk itu? Bahasanya belum ditemukan."
"Kalau begitu jangan diucapkan," jawabku. "Simpan saja di notebook. Aku akan membacanya dua minggu dari sekarang."
Dan ia tertawa, dan menarikku ke pelukannya di belakang gubuk itu, dengan sawah yang hijau dan suara anak-anak dari kejauhan, dan untuk beberapa detik dua kota itu tidak ada—yang ada hanya satu tempat, satu gubuk, satu momen yang tidak punya nama yang cukup besar untuk menampungnya.
Sebelum rombongan kami berangkat sore itu, Sari datang berlari dengan sebuah kertas yang dilipat empat dan disodorkan dengan dua tangan, seperti menyerahkan dokumen negara. Di dalamnya ada gambar: sebuah gubuk, matahari kuning raksasa, orang-orang stick figure yang berjejer—dan di tengahnya, dua stick figure yang memegang tali yang sama, satu di dekat gubuk, satu di dekat gambar gedung tinggi. Di bawahnya, dengan huruf-huruf yang masih bergoyang: "KAK JAFAR DAN KAK LOVIA. TALINYA JANGAN PUTUS."
Kertas itu sekarang terselip di halaman pertama notebook-ku, dan akan tetap di sana, selamanya, sebagai dokumen kemitraan yang paling penting dari semua yang ditandatangani hari itu.
Di kereta pulang keesokan harinya, aku membuka notebook dan menulis: "Hari ini kemitraan itu ditandatangani di atas meja kayu pinjaman, disaksikan dua puluh anak yang tidak tahu apa itu notaris tapi tahu persis apa itu harapan. Dan malam ini, untuk pertama kalinya, aku mengerti bahwa jarak dua kota kami tidak pernah benar-benar tentang kilometer. Ia tentang dua orang yang belajar merentangkan apa yang mereka punya—waktu, kata-kata, spreadsheet, soto, tali layang-layang—sampai dua titik itu tersambung. Dan tersambung itu, ternyata, bukan keadaan. Ia pekerjaan. Pekerjaan terbaik yang pernah kumiliki."