08 MEI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Akhirnya tiba juga hari itu: Pak Bos bertemu orang tua Ratih. Dan tidak ada satu pun dari kami yang memperkirakan bahwa pertemuan lintas kelas paling menegangkan tahun ini akan berlangsung di sebuah warung kopi kaki lima, dengan bangku plastik, dengan kipas angin yang berdecit, dan dengan aku duduk di meja sebelah sebagai "saksi hidup yang dibayar dengan gorengan".
Semalam sebelumnya, Ratih meneleponku empat kali. Panggilan pertama: memastikan warungnya tidak terlalu jujur. Panggilan kedua: memastikan warungnya tidak kurang jujur. Panggilan ketiga: bertanya apakah ayahnya harus memakai kemeja atau "kaos andalannya yang bertuliskan nama trayek". Panggilan keempat, jam sebelas malam, dengan suara yang akhirnya jujur juga: "Lovi, kalau ayahku tidak suka dia, aku harus bagaimana?" Dan aku menjawab dengan jawaban yang kudapat dari pengalaman meja makan Bunda sendiri: "Kalau orangtuamu tidak suka dia, kau hadapi itu saat itu terjadi. Tapi dengarkan aku: orang yang berani datang ke warung kopi dengan kemeja biasa dan tanpa sopir sudah memenangkan setengah pertandingan sebelum duduk. Setengahnya lagi tinggal dilihat cara dia minum kopinya."
Ratih yang mengatur semuanya, dan keputusannya—membawa bos besar perusahaan ke warung kopi langganan ayahnya alih-alih ke restoran—awalnya kupandang sebagai keputusan paling nekat dalam sejarah perkenalan keluarga. "Kalau dia mau aku, dia harus tahan sama warung kopi ayahku," katanya. "Rumahku bukan rumah gedongan, Lovi. Ayahku pensiunan sopir angkot yang sekarang menghabiskan hidupnya di warung kopi itu mengomentari berita. Ibuku jualan kue keliling. Kalau aku menyembunyikan itu di restoran mahal, aku bukan memperkenalkan keluargaku. Aku memperkenalkan dekorasi."
Dan Pak Bos datang—tanpa sopir, mengemudi sendiri, dengan kemeja biasa—dan duduk di bangku plastik itu di sebelah ayah Ratih yang berkumis tebal, yang menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan yang sudah menakut-nakuti tiga generasi penumpang angkot.
"Jadi," ucap ayah Ratih, tanpa basa-basi, tanpa jeda, "kamu bosnya anak saya."
"Betul, Pak."
"Umur berapa?"
"Lima puluh dua, Pak."
"Anak saya dua puluh tujuh."
"Saya tahu, Pak. Angka itu tidak pernah lepas dari kepala saya."
Aku menahan napas di meja sebelah, dengan gorengan berhenti di udara. Ini dia. Interogasi yang sudah diperingatkan Ratih kepadaku sejak seminggu yang lalu: "Ayahku dulu sopir angkot trayek paling keras di kota ini. Dia bisa membaca orang dari cara mereka menawar. Dan dia tidak pernah salah. Sekali tidak pernah."
Tapi yang terjadi kemudian tidak ada dalam skenario siapa pun. Ayah Ratih mengeluarkan—dari tas kreseknya, dari tas kresek—sebuah map plastik berisi kertas-kertas, dan meletakkannya di meja. "Sebelum kamu tanya-tanya atau saya tanya-tanya, baca ini dulu."
Pak Bos membukanya, dan aku melihat dari meja sebelah: fotokopi rekening koran, surat-surat tanah, dan selembar daftar berjudul "KEKAYAAN KELUARGA".
"Kami orang kecil," ucap ayah Ratih, lurus, tanpa menunduk, dengan suara sopir angkot yang terbiasa berbicara di atas suara mesin. "Semua yang kami punya ada di situ, dan tidak banyak. Saya sengaja buka duluan, supaya kamu tahu: anak saya datang ke kamu tanpa membawa apa-apa kecuali dirinya sendiri. Jadi tidak perlu ada yang curiga dia mengincar apa-apa. Dan sebaliknya—" ia menatap tajam, "—kamu juga tidak usah membawa-bawa kebosanmu ke anak saya. Dia bukan barang mahal yang bisa kamu beli dan bosan. Dia itu anak ketiga saya, yang paling berisik, yang paling keras kepala, dan yang paling saya sayang—jangan bilang ke dua kakaknya."
Warung kopi itu hening. Ratih, yang sepanjang pagi menyatakan dirinya "siap mati saja", duduk dengan mata yang sudah berkaca-kaca sejak kata "paling saya sayang".
Dan Pak Bos—bos besar kami, yang menandatangani anggaran jutaan tanpa kedip—menutup map plastik itu, mendorongnya kembali dengan dua tangan, seperti mengembalikan sesuatu yang suci, dan berkata dengan suara yang pelan dan berat: "Bapak baru saja menunjukkan kepada saya kekayaan yang tidak saya miliki selama tiga tahun: keluarga yang utuh, yang siap berdiri paling depan untuk anaknya. Saya tidak akan merusak itu. Saya hanya meminta izin untuk diizinkan menjaganya—bukan sebagai bosnya, karena di warung ini saya bukan bos siapa-siapa. Di warung ini saya cuma laki-laki lima puluh dua tahun yang ingin dianggap layak oleh seorang ayah."
Ayah Ratih menatapnya lama sekali—tatapan pembaca penumpang, tatapan yang tidak pernah salah—dan kemudian ia berdiri, menepuk bahu Pak Bos dua kali dengan tangan yang besar dan kasar, dan berteriak ke arah penjual warung: "Bang, kopi dua lagi! Yang ini saya yang traktir!" Dan kepada Pak Bos: "Orang yang berani bilang 'bukan bos siapa-siapa' di warung orang lain, boleh dipanggil mampir lagi. Tapi baru mampir. Soal layak atau tidak—itu urusan musim. Kita lihat kau tahan berapa musim sama anak saya yang berisik itu."
"Dia tidak berisik, Pak," jawab Pak Bos, dan ada senyum di suaranya yang tidak pernah kudengar di kantor. "Dia ramai. Ada bedanya. Berisik itu gangguan. Ramai itu tanda rumahnya hidup. Tiga tahun rumah saya tidak ramai, dan ternyata saya rindu keramaian."
Ibu Ratih, yang datang belakangan dengan termos dan stoples kue jualannya, menangkap kalimat terakhir itu dan langsung menyatakan vonisnya tanpa perlu konteks apa pun: "Sudah, sudah cocok. Orang yang bilang rumah ramai itu rumah hidup, itu orang rumahan. Makan kuenya, Nak Bos. Gratis. Untuk calon keluarga selalu gratis."
Di perjalanan pulang, Ratih duduk di mobilku dengan wajah yang tidak bisa berhenti tersenyum dan berkata, untuk ketujuh kalinya: "Ayahku membuka map plastik, Lovi. MAP PLASTIK. Aku mau mati. Tapi kemudian dia bilang aku anak yang paling dia sayang, dan aku tidak jadi mau mati, dan sekarang aku tidak tahu harus merasa apa selain bahagia yang menyusahkan."
Malam itu kuceritakan semuanya kepada Javar di video call, dan ia tertawa sampai harus meletakkan ponselnya, dan kemudian berkata: "Ayahnya membuka rekening duluan supaya tidak ada yang curiga. Itu cara orang kecil bermartabat—transparan sebelum ditanya. Pantas Ratih tumbuh jadi orang yang tidak pernah menyembunyikan apa-apa. Buah memang tidak jatuh jauh dari warung kopinya."
Malam itu di notebook-ku kutulis: "Hari ini aku belajar bahwa perkenalan keluarga yang paling penting tidak terjadi di restoran yang mahal, tapi di warung kopi yang jujur. Seorang ayah membuka seluruh isi dompetnya di atas meja supaya tidak ada satu pun orang yang bisa meragukan anaknya. Dan seorang bos meletakkan seluruh jabatannya di luar pintu supaya bisa duduk sebagai manusia biasa. Dua orang dari dua dunia, bertemu di bangku plastik, dan yang bicara bukan harta dan bukan jabatan—tapi seorang anak perempuan yang berisik, yang keras kepala, dan yang ternyata, di dua rumah yang berbeda, sama-sama menjadi yang paling disayang."
Dan untuk Javar, yang akan membaca ini dua minggu dari sekarang: siap-siap. Kalau Ratih menikah duluan, dia akan menyindir kita seumur hidup. Ini bukan prediksi. Ini kepastian yang lebih pasti dari jadwal kereta.