23 OKTOBER 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Dua minggu setelah pernikahan itu, hidup berjalan lagi dengan iramanya yang biasa—tapi tidak benar-benar biasa, karena ada cincin baru di pantry kantor yang setiap pagi masih membuat orang tersenyum, ada nama baru di email perusahaan ("Ratih Ningrum" yang sekarang diikuti nama suaminya di tanda tangan resmi), dan ada satu kursi kosong di rumah besar Pak Bos yang sudah tidak kosong lagi.
Ratih kembali dari bulan madu singkatnya—tiga hari, di kota kecil di pegunungan, karena "kami berdua tidak tahan pergi lama-lama dari pekerjaan masing-masing, kami pasangan paling menyedihkan sekaligus paling bahagia"—dengan oleh-oleh dan dengan laporan lengkap yang disampaikan di apartemen barunya, rumah yang dibeli Pak Bos dengan satu kriteria yang membuat Ratih menangis saat mendengarnya: "Harus dekat warung bakso. Kalau jauh dari warung bakso, nanti pemiliknya tersinggung, dan perjanjian seumur hidup itu bermasalah."
Kantor menyambutnya kembali dengan cara kantor kami: kue di mejanya, spanduk kecil buatan anak-anak timku bertuliskan "SELAMAT DATANG IBU NYONYA BOS" (yang langsung disobek Ratih dengan malu-malu sebelum difoto diam-diam), dan satu amplop dari Pak Willy yang diserahkan dengan formalitas sidang: "Dari logistik panitia. Sisa anggaran. Kami kembalikan—pernikahan itu selesai di bawah anggaran dua belas persen." Ratih membukanya, dan di dalamnya bukan uang, melainkan foto-foto candid persiapan yang diambil Pak Willy diam-diam sepanjang tiga bulan: Ratih tertawa di fitting, ayahnya berlatih jas, pemilik warung bakso berdiri kaku di gladi resik. Di amplopnya tertulis tangan: "Anggaran boleh habis. Kenangannya jangan." Ratih menangis di mejanya jam sepuluh pagi, dan seluruh lantai pura-pura tidak melihat dengan tingkat akting yang sudah menjadi tradisi kantor ini.
Dan Bunda, tentu saja, tidak membuang waktu. Teleponnya datang hari Minggu setelah pernikahan, dengan pembuka yang tidak berbasa-basi: "Ratih sudah menikah. Sekarang bagaimana denganmu?"
"Bunda, kami punya timeline. Dua puluh enam Juni tahun depan."
"Timeline," ulang Bunda, dengan nada orang yang baru mendengar kata asing di rumahnya. "Kalian merencanakan lamaran seperti merencanakan renovasi dapur." Kemudian ia tertawa—tawa Bunda yang penuh—dan berkata, "Tapi bagus. Kalian berdua memang dari dulu butuh jadwal untuk hal-hal besar. Yang penting jadwalnya ditepati. Aku akan menandai kalenderku, dan kalau tanggal itu lewat tanpa ada apa-apa, aku yang akan turun tangan, dan kalian berdua tahu apa artinya kalau aku turun tangan."
Aku tahu persis artinya. Seluruh keluarga tahu artinya. Dan aku menyampaikan ancaman itu kepada Javar di video call malam itu, yang menjawab dengan serius yang dibuat-buat: "Catat dalam risalah: ancaman dari Bunda sudah resmi diterima dan akan menjadi prioritas utama dewan direksi."
Akhir pekan berikutnya Javar pulang, dan kami melakukan pertukaran notebook seperti biasa—dan kali ini, di notebook-nya, ada halaman yang membuatku berhenti membaca dan membacanya ulang tiga kali. Ia menulis tentang pernikahan itu, tentang berdiri di antara tamu-tamu dan menyaksikan dua orang yang pernah sama-sama patah berdiri lagi di pelaminan, dan di akhir halaman itu ia menulis:
"Aku melihat Pak Bos berdansa dengan Ratih di lagu kelima, dan aku memikirkan satu hal: orang itu kehilangan segalanya dan mengira hidupnya sudah selesai ditulis, dan ternyata buku itu cuma berpindah ke bab berikutnya. Dan aku memikirkan kita, Lovia. Delapan tahun kita mengira buku kita sudah selesai juga. Ternyata kita juga cuma berpindah bab. Mungkin memang tidak ada buku yang benar-benar selesai sebelum halaman terakhirnya. Yang ada cuma buku-buku yang ditinggalkan terlalu lama di satu halaman, menunggu seseorang yang cukup berani untuk membaliknya."
Dan di bawahnya, dengan huruf yang lebih kecil, seperti ditulis kemudian, di malam yang berbeda: "Dua puluh enam Juni. Aku sudah mulai menyusunnya. Bukan naskah—kau tahu aku tidak butuh naskah—tapi tempatnya. Aku sudah punya tiga kandidat, dan ketiganya bukan restoran, dan ketiganya bukan gedung, dan salah satunya akan membuatmu tertawa karena kau akan langsung tahu kenapa aku memilihnya. Itu saja yang boleh kuberitahu. Sisanya rahasia negara."
Aku membaca halaman itu di lantai ruang tamunya, di akhir pekan yang tenang, dan menatapnya yang sedang membaca notebook-ku di seberang—dan untuk sesaat aku membayangkan tanggal itu, delapan bulan dari sekarang, di tempat yang salah satu dari tiga kandidatnya akan membuatku tertawa. Warung soto? Bukit layang-layang? Aula tua kampus? Aku punya tebakan yang kuat, dan aku menyimpannya baik-baik, karena menebak-nebak kejutan itu adalah separuh kesenangannya, dan aku tidak akan merusaknya dengan bertanya.
Malam itu kami berjalan kaki ke warung soto—karena Jumat malam di kota ini tidak lengkap tanpa meja pojok—dan pemiliknya meletakkan dua mangkuk di depan kami sebelum kami duduk penuh, dan berkata sambil lalu: "Anak bujang yang dulu pamit itu sekarang sudah pulang-pergi seperti pegawai teladan. Bagus. Aku selalu bilang, meja pojok ini tidak pernah salah pilih pelanggan."
"Bu," tanya Javar, "pernah ada yang tidak kembali?"
Pemilik warung itu berhenti sebentar di tengah langkahnya, menatap kami berdua dengan senyumnya yang tahu segalanya, dan berkata: "Ada. Tapi yang tidak kembali itu bukan karena warungnya. Itu karena mereka berhenti menulis kepada satu sama lain. Kalian berdua masih menulis, kan? Masih. Aku bisa lihat dari caranya kalian masuk. Orang yang masih saling menulis itu masuk ke warung dengan cara yang berbeda—seperti dua halaman dari buku yang sama."
Aku dan Javar saling pandang di atas dua mangkuk soto yang mengepul, dan tidak mengatakan apa-apa, karena tidak ada yang perlu dikatakan—wanita tua itu sudah mengatakannya semua, dengan bahasa yang tidak dipelajari di sekolah mana pun, bahasa orang yang sudah empat puluh tahun menyaksikan pasangan-pasangan datang dan pergi dari meja pojoknya.
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Pemilik warung bilang, orang yang masih saling menulis masuk ke warung dengan cara yang berbeda—seperti dua halaman dari buku yang sama. Malam ini aku membawa kalimat itu pulang dan menyimpannya di halaman yang paling mudah dibuka. Karena pada akhirnya, begitulah kami: dua halaman dari buku yang sama, yang pernah disobek jarak selama delapan tahun, dan sekarang dijilid ulang oleh soto, kereta, spreadsheet, dan janji tanggal dua puluh enam Juni. Jilidnya belum selesai. Tapi lemnya sudah tidak pernah kering lagi."
Dan di bawahnya, untuk Javar yang akan membacanya dua minggu dari sekarang: "Tiga kandidat tempat itu—aku sudah punya tebakanku. Kalau tebakanku benar, aku akan menangis sebelum kau selesai bertanya. Siapkan saputangan cadangan. Ini bukan permintaan. Ini peringatan dini dari pihak yang berwenang."
Dan aku menutup notebook itu dengan senyum yang tidak bisa kujelaskan kepada siapa pun, dan tidak perlu kujelaskan kepada siapa pun.