13 NOVEMBER 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Akhir tahun di dunia promosi adalah musim perang—perang yang menyenangkan, perang yang dibayar, perang dengan balon dan spanduk alih-alih senjata—dan akhir tahun ini adalah ujian terbesar timku sejak krisis vendor: kampanye penghujung tahun untuk tiga produk sekaligus, dengan target yang ditetapkan direksi dengan senyum yang berarti "kalau ini tercapai, kita semua libur dengan tenang; kalau tidak, kita semua saling menatap di rapat evaluasi".
Bedanya dengan tahun lalu: kali ini aku tidak menyusun strateginya sendirian di malam-malam yang panjang. Kali ini aku melakukan hal yang sudah kupelajari dari seorang direktur program yayasan di kota sebelah—aku membukanya ke meja.
Rapat pertama kampanye itu tidak dimulai dengan presentasiku. Dimulai dengan satu pertanyaan yang kutulis besar-besar di papan: "Tahun lalu kita menang dengan keringat. Tahun ini kita mau menang dengan apa?" Dan aku membiarkan ruangan itu menjawab—dan ruangan itu menjawab dengan hal-hal yang tidak akan pernah kupikirkan sendirian.
Anak-anak muda timku mengusulkan pendekatan yang mereka sebut "kampanye dua arah": tidak hanya menjual, tapi mengajak pelanggan mengirimkan cerita tentang produk kami dalam hidup mereka—dan cerita-cerita terbaik akan dipublikasikan, dengan nama mereka, dengan foto mereka. "Orang tidak membeli produk, Bu," kata salah satu dari mereka (mereka masih memanggilku "Bu", dan aku sudah berhenti memprotes, dan diam-diam mulai menyukainya). "Orang membeli bukti bahwa hidup mereka terlihat."
Pak Willy, dari sudut ruangan, mendengus—dan kemudian, dengan cara Pak Willy yang sudah kuhafal, memberikan bumbunya: "Ide bagus. Tapi cerita-cerita itu harus diverifikasi. Kalian anak-anak muda lupa bahwa satu cerita bohong bisa membakar seluruh kampanye. Saya akan mengurus verifikasinya. Kalian urus kreatifnya. Jangan campur wilayah saya, dan saya tidak akan campur wilayah kalian."
Dan begitulah mesin itu berjalan: anak-anak muda dengan ide-idenya yang liar, Pak Willy dengan rem tangannya yang tidak pernah gagal, dan aku di tengah-tengah sebagai orang yang memastikan dua kekuatan itu bertemu di jalan yang sama alih-alih bertabrakan di persimpangan.
Tapi tidak ada kampanye yang berjalan lurus seperti di proposal, dan kampanye ini punya tikungannya sendiri: di minggu kedua, cerita yang masuk bukan ratusan—melainkan tiga ribu lebih, membanjiri kanal yang kami siapkan untuk tiga ratus. Server formulirnya jebol. Anak-anak timku menatap antrean cerita yang mengular dengan wajah orang yang menang undian yang salah. "Ini masalah yang bagus," kataku, menenangkan ruangan dengan kalimat yang sudah kusiapkan (karena aku sudah belajar dari Pak Bos: masalah yang bagus tetap harus diselesaikan, tapi tidak boleh dibayar dengan panik). Dan kami menyelesaikannya dengan cara yang membuatku paling bangga dari seluruh kampanye: tim membagi dirinya sendiri tanpa kusuruh—satu kelompok membangun sistem penyortiran baru dalam dua hari, satu kelompok membaca setiap cerita satu per satu (tidak ada yang boleh dibaca mesin, itu prinsip yang mereka tetapkan sendiri: "kalau kita meminta orang bercerita, kita wajib membacanya"), dan Pak Willy membangun alur verifikasi yang bisa menangani volume itu tanpa melambat. Ratih, dari mejanya di divisi sebelah, menyumbangkan akhir pekannya untuk membantu membaca—"aku sudah lama tidak menangis di kantor, jadi aku datang untuk menangis, dan cerita-cerita ini memang membuatku menangis, misi berhasil".
Enam minggu kerja keras—bukan kerja panik, kali ini, karena kami sudah belajar bahwa panik bukanlah strategi—dan hasilnya melewati target sebelum tanggal dua puluh Desember.
Tapi bagian yang tidak ada di laporan resmi adalah ini: di antara ratusan cerita pelanggan yang masuk, ada satu yang berhenti di mejaku dan tidak bisa kulewatkan begitu saja. Seorang pelanggan menulis tentang bagaimana produk kami menemaninya merawat ibunya yang pikun—dan di akhir suratnya ia menulis, "Terima kasih sudah membuat sesuatu yang membuat ibu saya tersenyum mengingat, meskipun ia sudah lupa hampir semuanya."
Aku membawanya ke rapat penutupan kampanye dan membacakannya keras-keras, dan ruangan itu—yang baru saja merayakan angka-angka yang melampaui target—hening dengan cara yang berbeda dari keheningan rapat biasa. Dan aku berkata kepada timku, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya: "Angka-angka itu penting. Kita dibayar untuk angka-angka itu, dan kita berhak merayakannya. Tapi surat ini—ini alasan angka-angka itu pantas dirayakan. Di ujung setiap target kita ada orang. Jangan pernah lupa itu. Kalau suatu hari kita mulai lupa, ingatkan aku dengan surat ini, karena aku akan membingkainya di ruang meeting."
Dan mereka membingkainya benar-benar—diam-diam, tanpa kusuruh, seperti tradisi pizza yang juga mereka ciptakan sendiri—dan surat itu sekarang tergantung di ruang meeting kecil kami, di sebelah papan tulis tempat strategi-strategi perang ditulis, sebagai penjaga resmi supaya perangnya tidak pernah melupakan untuk apa ia berperang. Waktu bingkai itu dipasang, anak-anak timku berdiri berjejer menatapnya dengan tangan di belakang punggung seperti penonton galeri, dan salah satu dari mereka berkata pelan, "Kita yang buat ini, ya." Bukan pertanyaan—pernyataan yang sedang mempercayai dirinya sendiri. Dan Pak Willy, yang sedari tadi pura-pura sibuk, berdehem dan berkata, "Jangan berdiri terlalu lama. Perusahaan tidak membayar orang untuk berdiri. Tapi—" ia berhenti sebentar, "—kalau memang harus berdiri, di depan surat itu tempat yang benar."
Pak Bos, dalam rapat evaluasi akhir tahun, hanya berkata satu kalimat tentang kampanye itu—tapi satu kalimat dari Pak Bos bernilai satu halaman dari orang lain: "Target terlampaui, pelanggan menulis surat, dan timnya membaca surat itu keras-keras di rapat. Itu bukan kampanye yang baik. Itu perusahaan yang baik. Selamat untuk seluruh tim."
Jam sepuluh malam itu, di video call, kuceritakan semuanya kepada Javar—kampanyenya, suratnya, bingkai di ruang meeting—dan ia mendengarkan dengan senyum yang sudah kukenal sebagai senyumnya yang paling bangga, senyum yang tidak banyak kata.
"Kau tahu apa yang kau lakukan dengan surat itu?" katanya akhirnya. "Kau mengajari timmu hal yang paling sulit diajarkan di dunia kerja: bahwa empati itu bukan hiasan, melainkan fondasi. Dua ratus relawanku belajar itu dari anak-anak pos belajar. Timmu belajar itu darimu. Dunia berputar dengan cara yang aneh, Lovia—kebaikan itu ternyata benar-benar menular, kalau ada orang yang mau membacakannya keras-keras."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Kampanye selesai, target terlampaui, dan yang tergantung di dinding ruang meeting kami bukan piala—melainkan surat dari seorang anak yang merawat ibunya yang pikun. Kata Pak Bos: itu bukan kampanye yang baik, itu perusahaan yang baik. Dan aku menyimpan kalimat itu di sini, di halaman ini, untuk dibaca ulang setiap kali aku mulai mengira pekerjaanku hanya tentang angka. Pekerjaanku tentang orang. Selalu tentang orang. Dan malam ini, setelah semua angka selesai dihitung, aku tidur dengan tenang karena tahu bahwa di salah satu rumah di kota ini, ada seorang ibu yang tersenyum mengingat—dan sebagian kecil dari senyum itu lewat melalui tanganku."