20 AGUSTUS 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Tanggal pernikahannya ditetapkan di meja makan rumah Bunda, dengan dua keluarga duduk berhadapan, dengan kalender yang dibentangkan di antara piring-piring seperti peta perundingan dua negara—dan dengan tingkat perdebatan yang kurang lebih juga seperti dua negara.
Bunda menginginkan bulan yang "tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh, dan tidak boleh bertabrakan dengan musim hujan karena pelaminan tidak boleh becek". Ibu Javar menginginkan tanggal yang baik menurut perhitungan keluarganya, yang disampaikannya dengan selembar kertas yang sudah ia bawa dari rumah ("bukan percaya sepenuhnya, tapi tidak ada salahnya didengar, tanggal-tanggal baik itu gratis"). Ayah Javar hanya mengajukan satu syarat: "Jangan hari kerja. Saya tidak mau ada tamu yang datang masih membawa rapat di kepalanya."
Dan akhirnya, setelah satu jam perundingan yang diwarnai tiga kali isi ulang teh, tanggalnya ditetapkan: sebuah Sabtu di bulan April tahun depan, di musim yang tidak becek, di tanggal yang menurut kertas ibu Javar termasuk baik, dan—yang tidak dikatakan siapa pun tapi dipikirkan semua orang—tepat dua bulan sebelum buklet kedua selesai dicetak, supaya, kata Ratih, "ada dua perayaan di satu tahun, dan aku akan hadir di dua-duanya dengan anak yang sudah bisa dibawa jalan".
Malam itu, setelah dua keluarga pulang dan meja perundingan dibersihkan, aku duduk di kamarku yang lama di rumah Bunda—kamar yang dindingnya masih menyimpan poster-poster masa remaja—dan membuka notebook-ku untuk menulis tentang hari itu. Tapi halaman itu tidak mau terisi.
Bukan karena tidak ada yang bisa ditulis. Justru sebaliknya: ada terlalu banyak. Ada tanggal pernikahan yang baru saja lahir dari perundingan dua negara. Ada cincin berukiran dua titik di jariku. Ada peta yang digambar ulang dengan kantor kedua. Ada Bunda yang menangis saat mengira tidak ada yang melihat. Ada dua belas pos dan satu mandor cilik dan satu bayi yang sedang tumbuh di rumah sahabatku. Semuanya berdesakan di ujung penaku, dan tidak satu pun kalimat yang kutulis sanggup memuatnya, dan setiap kalimat yang kumulai terasa lebih kecil dari apa yang ingin kukatakan.
Aku menelepon Javar—melanggar jam resmi, tapi tanggal pernikahan yang baru ditetapkan adalah alasan yang sah secara internasional—dan membacakan kepadanya tiga kalimat yang sudah kutulis dan kubuang.
"Semuanya benar," katanya. "Dan semuanya tidak cukup. Aku tahu perasaan itu. Aku mengenalnya sejak lama—perasaan saat kata-kata sampai ke pagarnya dan tidak bisa lewat."
"Ada namanya untuk perasaan itu?" tanyaku, setengah bercanda.
Dan Javar diam sebentar—diam yang berarti ia sedang menggali sesuatu dari ingatannya—dan berkata pelan: "Ada. Aku menemukannya dulu di bangku kuliah, di sebuah buku yang kubaca diam-diam saat seharusnya mendengarkan kuliah. Kata dalam bahasa lain: ineffable. Artinya—sesuatu yang terlalu besar, terlalu dalam, terlalu penuh untuk bisa diucapkan dengan kata-kata. Perasaan yang tidak muat di kalimat mana pun, betapa pun panjang kalimatnya, betapa pun pintar penulisnya." Ia berhenti sebentar. "Aku menyimpan kata itu bertahun-tahun tanpa tahu untuk apa. Sampai aku bertemu lagi denganmu, dan kata itu akhirnya punya isinya."
Aku diam di ujung telepon, di kamarku yang lama, dengan notebook yang terbuka dan halaman yang masih kosong.
"Kalau begitu itu judulnya," kataku akhirnya. "Bukuku. Bukan buklet—buku. Kumpulan cerita yang sedang kutulis, yang tiga di antaranya sudah jadi buklet. Kata Ratih harus ada perayaan kedua tahun depan? Itu dia perayaannya. Buku pertamaku, dan judulnya Ineffable—karena semua cerita di dalamnya adalah tentang hal-hal yang terlalu besar untuk diucapkan: tentang tali yang tidak putus, tentang gubuk yang pintunya tidak dikunci, tentang dua kota yang menjadi satu meja makan. Tentang kita, Javar. Tanpa menyebut nama kita. Karena cerita yang baik tidak perlu menyebut nama untuk membuat pembacanya tahu siapa yang dimaksud."
Hening di seberang sana—hening yang panjang, hening yang kukenal sebagai hening Javar yang sedang menahan sesuatu yang besar. Dan kemudian suaranya, lebih serak dari biasanya: "Kau baru saja memberi judul untuk bukumu, dan tanpa kau sadar, kau juga baru saja memberi judul untuk delapan tahun kita. Delapan tahun itu ineffable, Lovia. Itu sebabnya tidak ada satu pun dari kita yang pernah bisa menjelaskannya kepada siapa pun. Terlalu besar. Terlalu penuh. Tidak muat di kalimat mana pun. Dan sekarang ia akan dicetak, dengan sampul, dengan nama penulisnya—supaya orang lain bisa membaca hal yang tidak bisa kita ucapkan."
Reaksi pertama atas judul itu datang dari Ratih, keesokan paginya, lewat telepon yang kujawab dengan mata yang masih setengah tertutup: "INEFFABLE," ulangnya, dengan ejaan yang berjuang keras dan kalah di tengah jalan. "Aku bahkan tidak bisa mengucapkannya dengan benar, Lovi, tapi entah kenapa aku menangis. Apa artinya?"
"Sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan."
Hening sebentar. "Itu artinya judul ini menolak dijelaskan oleh dirinya sendiri. Itu judul paling sombong yang pernah kudengar, dan aku menyukainya, dan buku itu akan kuborong untuk seluruh keluargaku, dan anakku akan tumbuh besar dengan cerita tantenya yang tidak bisa dieja." Lalu, lebih pelan: "Kau tahu, kau akhirnya menemukan suaramu, Lovi. Bukan suara kantormu—itu sudah lama. Suara yang satu lagi. Yang dari notebook. Senang sekali bisa menyaksikannya keluar."
Dan akhir pekan berikutnya, di pos pertama, Sari menemukan kata itu di catatan kecilku yang tercecer dan menanyakannya dengan mata yang menyipit mengeja: "In-ef-fe-bel. Apa itu, Kak?"
Aku memikirkan jawabannya—karena anak-anak tidak boleh dijawab dengan kamus, mereka harus dijawab dengan dunia mereka. "Itu kata untuk sesuatu yang terlalu besar sampai tidak muat kalau diucapkan," kataku. "Seperti kalau kamu sayang sekali sama seseorang, dan kamu mau bilang, tapi mulutmu tidak sanggup, jadi kamu memeluk saja. Pelukan itu ineffable. Pelukan adalah cara mengatakan hal yang tidak muat di kata-kata."
Sari menimbang jawaban itu dengan serius mandornya, lalu mengangguk pelan. "Berarti warung soto itu ineffable. Dan tali layang-layang. Dan pos ini." Ia berhenti, memandangiku. "Dan kalau aku besar nanti dan menulis buku, bukuku juga mau ada kata yang tidak bisa diucapkan. Supaya orang yang membacanya memeluk bukunya."
Aku tidak menjawab—aku tidak bisa, karena tenggorokanku penuh—tapi aku menulis kalimatnya di notebook-ku malam itu juga, dengan tanda bintang di pinggirnya, karena kalau buku itu benar-benar terbit suatu hari nanti, kalimat Sari itu layak menjadi pembukanya.
Malam itu, di halaman yang tadinya menolak untuk terisi, aku akhirnya menulis—satu halaman penuh, tanpa berhenti, tanpa membuang satu kalimat pun:
"Hari ini tanggal pernikahan kami ditetapkan di meja makan rumah Bunda, dan malam ini aku menemukan kata yang sudah kucari sejak lama tanpa tahu bahwa aku mencarinya: ineffable—sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan. Dan aku mengerti sekarang kenapa halaman ini tadinya tidak mau terisi: karena ada hal-hal yang memang tidak boleh dipaksa masuk ke kalimat yang salah. Mereka menunggu kata yang benar. Dan kata yang benar itu datang malam ini, lewat telepon, dari seseorang yang sudah sejak awal menjadi rumah untuk semua kata-kataku. Buku pertamaku akan berjudul Ineffable. Dan hidupku—hidup kami—adalah isinya."