12 NOVEMBER 2022
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Kabar itu datang jam tiga pagi, lewat telepon dari Pak Bos yang suaranya—untuk pertama kalinya dalam sejarah perusahaan kami—terdengar seperti orang yang baru saja memenangkan sesuatu yang tidak bisa dibeli: "Sudah lahir. Perempuan. Tiga koma dua. Ibunya sehat. Anaknya—" ia berhenti, dan aku mendengar bos besar kami menelan sesuatu di tenggorokannya, "—anaknya berisik. Persis seperti ibunya."
Aku sampai di rumah sakit jam lima pagi dengan mata yang setengah terbuka dan hati yang sepenuhnya terjaga, dan di kamar itu aku menyaksikan pemandangan yang akan kusimpan di rak paling dalam ingatanku: Ratih dengan wajah lelah yang paling bahagia yang pernah ada, Pak Bos duduk di samping tempat tidur dengan jas yang sudah tidak karuan bentuknya dan tatapan yang tidak bisa lepas dari gendongan kecil itu, dan di sudut ruangan, ayah Ratih—sopir angkot paling keras di kota itu—berdiri mematung di depan jendela dengan punggung yang bahunya bergerak-gerak, sementara ibunya membagikan kue kepada seluruh perawat yang lewat dengan pengumuman resmi: "Cucu saya sudah lahir. Perempuan. Kuenya gratis, tapi doanya wajib."
Dan kemudian tibalah giliranku—sesuai kontrak yang sudah ditandatangani Ratih jauh-jauh hari: tante pertama yang menggendong setelah keluarga. Perawat itu meletakkan bungkusan kecil itu di lenganku, dan aku menatap wajah mungil yang matanya masih terpejam itu, dengan jari-jari yang lebih kecil dari kelingkingku, dengan napas yang naik-turun seperti halaman yang pelan-pelan dibuka.
"Halo," bisikku. "Aku tantemu. Yang dibayar di muka dengan kue."
Namanya diumumkan sore harinya, setelah Ratih cukup kuat untuk mengumumkannya dengan gaya konferensi pers: "Nadia Lovira Anindita. Ada 'Lovi'-nya di tengah, seperti janjiku—supaya dia tumbuh keras kepala untuk hal yang benar, dan supaya kalau dia nakal, aku bisa menyalahkan genetika pemberian nama."
Javar datang dari kota kedua malam itu juga, langsung dari stasiun, dengan oleh-oleh yang sudah disiapkannya sejak seminggu sebelumnya—karena tentu saja ia sudah menyiapkannya, orang itu menyiapkan segalanya. Dan pemandangan yang tidak akan pernah kulupakan: Javar, yang bisa membuat dua puluh anak duduk diam mendengarkan cerita, berdiri kaku di depan gendongan bayi itu seperti menghadapi panel juri yang paling menakutkan.
"Aku tidak tahu cara memegang yang sekecil ini," akunya jujur.
"Kepalanya di sini," ajari Ratih, dan menyerahkan Nadia ke lengannya—dan seluruh ruangan menonton direktur program yayasan itu memegang bayi dengan konsentrasi yang biasanya hanya ia keluarkan untuk margin tabel. Nadia membuka matanya sebentar—hanya sebentar, celah kecil yang gelap—dan Javar berhenti bernapas. Benar-benar berhenti. Dan kemudian ia berkata, pelan sekali, kepada bayi itu: "Halo, Nadia. Aku teman ayah-ibumu. Nanti kalau kau sudah besar, aku yang akan bercerita tentang gubuk-gubuk tempat anak-anak belajar membaca. Ada banyak. Kau akan suka."
Dan Pak Bos, yang menyaksikannya dari kursi, menepuk bahu Javar pelan dan berkata—dengan nada yang membuat seluruh ruangan diam mendengarkan: "Kalian berdua akan menjadi orang tua yang baik suatu hari nanti. Aku bisa menilai orang, dan penilaian saya jarang meleset: orang yang tahu cara berbicara dengan anak kecil adalah orang yang tidak pernah lupa bahwa dunia ini dilihat dari ketinggian yang berbeda-beda." Ia tersenyum kecil. "Dan itu pesanan resmi untuk warung soto, bukan saran—pemiliknya sudah menagih pelanggan generasi ketiga."
Dan Pak Bos—yang sepanjang hari itu berjalan seperti orang yang belum sepenuhnya percaya diperbolehkan memegang sesuatu yang begitu kecil—berkata kepada para tamu yang datang, dengan kalimat yang diulangnya kepada setiap orang seperti wasiat kecil: "Saya sudah punya satu anak yang besar, dan sekarang satu lagi yang kecil. Dua-duanya membuat saya mengerti hal yang sama: hidup tidak pernah selesai memberi, asal kita tidak berhenti membuka pintunya."
Berita itu sampai ke warung-warung dalam waktu seminggu—dan reaksinya, seperti sudah bisa diramal, datang bertingkat. Warung bakso tempat lamaran itu memasang pengumuman kecil di dindingnya: "PELANGGAN BARU SUDAH LAHIR. KURSI KECIL SUDAH DISEDIAKAN." Warung kopi ayah Ratih mengadakan hajatan satu hari penuh—kopi gratis untuk seluruh trayek, dan sang kakek menceritakan kelahiran cucunya kepada setiap penumpang angkot bekas teman-teman seprofesinya dengan detail yang bertambah dramatis di setiap penceritaan ulang. Dan di pos-pos belajar Titik Terang, Wisnu membacakan pengumuman resmi yang membuat Sari menyatakan, dengan otoritas mandornya, bahwa bayi itu "secara otomatis menjadi anggota termuda yayasan, dan aku akan mengajarinya membaca nanti kalau dia sudah bisa duduk, itu sudah kuputuskan".
Dan di tengah semua keramaian itu, ada satu malam yang tenang—kunjungan keduaku ke rumah mereka, seminggu setelah kelahiran—ketika Ratih dan aku duduk berdua di kamar bayi yang remang, dengan Nadia tidur di gendongan Ratih, dan sahabatku itu berkata dengan suara yang pelan dan penuh:
"Aku mengerti sekarang apa yang dikatakan ibuku dulu. Bahwa ada cinta yang tidak bisa kaujelaskan kepada orang yang belum merasakannya. Aku mencoba menjelaskannya kepadamu sekarang dan kata-kataku tidak sampai, Lovi. Ini seperti—" ia berhenti, mencari, "—seperti semua cintaku yang dulu cuma latihan untuk yang ini. Dan yang ini tidak ada latihannya. Yang ini langsung ujian akhir, setiap hari, dan aku tidak pernah merasa lebih siap sekaligus lebih tidak siap dalam hidupku."
Aku menggenggam tangannya di kamar yang remang itu, dan berkata: "Kau tidak perlu menjelaskannya. Ada kata untuk hal yang tidak bisa dijelaskan, Rat. Aku baru mempelajarinya, dan suatu hari akan kuajarkan kepadamu. Untuk sekarang, cukup begini: kau sudah menjadi ibu yang baik, dan Nadia itu beruntung, dan aku akan menjadi tante yang menyebalkan yang selalu datang membawa cerita."
"Tante yang menyebalkan," ulang Ratih, tersenyum ke gendongannya. "Dengar itu, Nak? Tantemu yang penulis itu. Yang bukunya akan kau baca nanti. Yang hidupnya—" ia menatapku dengan mata yang berkaca, "—yang hidupnya membuktikan bahwa halaman yang kosong pun akhirnya penuh, kalau kau sabar menunggu orang yang tepat menulisinya."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Hari ini kursi kecil pertama ditambahkan ke meja besar kami semua. Nadia Lovira Anindita, tiga koma dua kilogram, dengan nama tantenya di tengah namanya. Dan aku berdiri di kamar rumah sakit itu memikirkan semua meja yang sudah membawa kami ke sini—meja pojok, meja bakso, meja warung kopi—dan bagaimana meja-meja itu sekarang resmi punya generasi berikutnya. Hidup memang tidak pernah berhenti menulis halaman baru. Ia hanya menunggu tangan yang lebih kecil untuk memegang penanya."
Dan untuk Nadia, yang suatu hari akan membaca halaman ini: tantemu menulisnya dengan tangan yang masih gemetar sehabis menggendongmu—gemetar yang bahagia, satu-satunya jenis gemetar yang tidak perlu diobati.