"Kakak mau pulang? Kita bareng ya!!" Ujar Riska padaku.
Ya Riska adalah adik ipar ku. Aku menikah dengan abangnya 3 bulan yang lalu. Aku berasal dari Kota Bukittinggi Sumatera Barat, begitu pula dengan suamiku Bang Ardi. Namun kami berbeda kampung.
Aku menikah karena dijodohkan tapi bukan berarti aku menolak, bisa dibilang ga dijodohkan juga sih... Intinya kamu dikenalkan, lalu selang 1 bulan kami menikah. Setelah menikah, aku langsung diboyong oleh Bang Ardi ke Kota Surabaya tempat dia mencari nafkah dengan membuka toko baju.
Alhamdulillah hidupku sedikit lebih enak sekarang, karena tidak harus bekerja banting tulang untuk mendapatkan uang karena suamiku sudah ada usaha sendiri.
Diperjalanan pulang aku sempat cerita pada Riska bahwa bedak ku habis dan ingin membeli lagi.
"Ris, bedak ku lagi habis dan aku pengen beli lagi. Nanti tolong tunjukkan aku toko kosmetik di dekat sini ya!"
"Buat apa kakak pakai bedak? Kan muka kakak ga berjerawat dan baik-baik aja tuh"
Deg.....
Difikiranku ada yang ga beres, kenapandia berbicara seperti itu padahal aku ga minjem uang dia dan aku punya uang sendiri hasil olshopku untuk beli bedak.
"Ya kan kalo kita jaga toko kan lebih enak dilihat jika rapi dan bersih. kalo ga pakai bedak kan wajah ga cerah." tukas ku.
"ooohhh...." Riska seperti jengkel padaku. Padahal dia pakai skincare yang harga 500 ribu dan minta uang ke suamiku, aku ga pernah bertanya apalagi melarangnya.
****
Saat selesai makan malam, aku dan suamiku langsung duduk ke kamar dan memainkan HP masing-masing. Tiba-tiba Riska mendekat ke pintu kamarku.
"Bang, aku mau beli sabun muka. Minta uang 100 ribu dong!!"
"Iya besok." Bang Ardi menjawab tanpa meliriknya.
"Kak, pake juga skincare kayak aku. Nanti minta Bang Ardi belikan." Riska seolah mengajakku memakai skincare yang sama.
"Ga deh... aku pakai yang biasa aja."
Aku heran, kok tiba-tiba dia beda dari yang tadi siang. Saat suamiku tidak ada dia melarangku. Nah... sekarang di depan suamiku dia mengajakku seolah-olah dia akrab dengan ku.
Aku positif thingking dulu... mana tau dia khilaf dengan ucapannya tadi siang.
"Yuk kak kita beli bareng" Ajak Riska.
"Ga deh... kamu aja. Wajah ku ga terbiasa, takut wajah ku rusak" sengaja agak aku sindir dia.
Semoga aja kedepannya hubunganku dengan Riska baik-baik aja.
Ingin rasanya mengatakan pada Bang Ardi tentang ucapan Riska pada ku siang tadi. Tapi aku juga takut karena aku belum tahu persis gimana sikap dan sifat Bang Ardi.
Secara kan aku nikah dengan dia dalam waktu yang singkat dan tidak ada proses pacaran atau mengenal lebih jauh.
Saat ini aku lebih ingin mengenalnya, tidak mungkin juga aku bertanya pada ipar ku itu.
***
Pagi ini aku mengerjakan kegiatanku seperti biasa yaitu masak, beres-beres rumah, dan mencuci pakaian. Setelah semua pekerjaan rumah selesai aku langsung ke toko.
Sesampai di toko, aku mendapati karyawan lagi enak-enak tidur. Lalu aku tegur mereka.
"Dek, kalo lagi jaga toko jangan tidur ya. Ga enak nanti dilihat pembeli, kan nanti ada jam istirahatnya." ku coba nasehati mereka, namun mereka hanya diam saja.
Saat pulang untuk makan siang, aku sampaikan perihal karyawan tadi pada suamiku. Tapi aku tak menyangka akan mendapat jawaban yang tidak menyenangkan.
"Bang tadi karyawan tidur-tiduran di depan toko. Ga enak dilihat orang, jadi tadi aku tegur mereka."
"Kamu ga usah ikut campur soal toko ku." Bang Ardi langsung marah.
"Kalau mereka dibiarkan seperti itu akan berdampak buruk nantinya bang." aku beri penjelasan padanya.
"Biarkan aja, itu urusan ku bukan urusan mu ca!!" Bang Ardi makin marah pada ku.
Padahal aku hanya ingin menyampaikan kebaikan untuk tokonya. Aku hanya seperti anak kecil bagi Bang Ardi karena usia kami memang berbeda jauh.
Aku baru berusia 19 tahun sedangkan Bang Ardi sudah berusia 33 tahun.
Sikap Bang Ardi saat pertama kali kenal dulu dengan yang sekarang sangat beda. Dulu dia sangat menghargaiku dan selalu berkata lembut pada ku. Namun setelah menikahiku semua langsung berubah total.
Bang Ardi berkata baik pada ku hanya saat dia punya banyak uang. Tapi saat dia kesulitan ekonomi, jangankan untuk bercanda dengan ku. Senyum saja susah sekali.
Berbeda dengan sikapnya terhadap saudaranya. dia begitu baik dan menurut pada saudaranya tanpa mempertimbangkan kenyamanan untuk dirinya sendiri.
Terkadang aku berfikir kenapa suamiku tak sama seperti suami orang lain yang sayang, pengertian, dan menghargai istrinya.
***
Setelah hari Raya Idul Fitri, Bang Ardi ingin membeli rumah dengan dicicil ke bank. Jadi akupun bersemangat, tapi lagi-lagi semangatku terpatahkan dengan sikap Bang Ardi.
Dia hanya berdiskusi dan meminta pendapat pada adiknya si Riska. Padahal aku istrinya, bukankah istri tempat suami berbagi keluh kesah dan bermusyawarah....
"Ris, aku ingin beli rumah. Tapi tidak cash, mau aku beli dengan KPR bank biar enteng juga nyicilnya" Bang Ardi duduk mendekati Riska yang sedang main HP.
"Bagus juga ide mu bang, tapi nanti aku mau kamar yang paling besar ya." Semangat sekali Riska bisa tinggal enak di rumah itu.
"Kita ambil rumah di perumahan yang baru itu ya Ris. Lingkungannya ramai dan dekat juga mau kemana-mana." Bang ardi makin semangat dengan niatnya.
"Mau ambil rumah model apa bang?" Aku ikut bertanya pada Bang Ardi.
Tapi aku malah di diamkan saja tanpa ada jawaban dari Bang Ardi. Sesak sekali rasanya diperlakukan seperti ini. Ku lihat ke arah Riska, dia malah tersenyum senang karena aku tak diacuhkan Bang Ardi.
"Bang, nanti kita tanya sama Mbak Ririn mana yang bagus modelnya. Mbak Ririn kan seleranya bagus." Riska menatapku sinis.
"Iya Ris, Mbak Ririn kan dari dulu memang bagus pilihannya." Bang Ardi ikut menimpali ucapan Riska.
Entah kenapa mereka bersikap seperti ini padaku. Sakit rasanya punya suami yang tidak acuh pada istrinya sendiri. Aku menikah kok malah seperti tidak punya suami. Ada sedikit rasa menyesal menikah muda dan tidak menyelidiki dulu bagaimana sifat Bang Ardi.
Kemudian aku pergi keluar untuk menghirup udara segar, dari pada terus mendengarkan mereka yang tak menghiraukan aku. Sampai kapan aku akan diperlakukan seperti ini.
Ibu.....
Ayah.....
Ingin sekali aku bercerita dan mengadu pada kalian. Namun aku juga tak ingin membebani kalian. Aku sudah cukup banyak menyusahkan ayah dan ibu ku.
Tak tahan dengan air mata ini, akhirnya tangisku pecah. Selama 20 menit aku menangis sambil berjalan tak tau arah.
BERSAMBUNG....