Setelah hati dan fikiran tenang aku kembali pulang kerumah. Saat aku masuk ke rumah tak ada orang, mungkin bang Ardi dan Riska sedang pergi keluar. Biarlah... untuk apa juga aku memikirkan orang yang tak memikirkan aku.
Sesampai dirumah aku langsung masuk kekamar untuk mengistirahatkan tubuh yang sudah lelah ini.
Namun....
"Kak pinjem uang 200 ribu dong!!" Riska menyelonong masuk ke kamarku.
Apa anak ini ga punya sopan santun ya, ke kamar orang main masuk aja!!.
"Untuk apa? Aku ga ada uang, sudah terpakai untuk jualan olshop ku" dengan sabar ku tanggapi dia.
" masa 200 ribu aja ga punya sih.... kemaren aja ngomong mau beli bedak, sekarang ga ada.... kalo ga mau minjemin bilang aja, ga usah banyak alasan..." Riska malah menuduhku pelit. Padahal memang aku ga ada uang.
"Ada apa sih... ribut-ribut aja." Tiba-tiba bang ardi datang.
"Oooo ga ada bang!! Aku cuma becanda aja sama kak Tasya. Mungkin suara ku keras." Jawab Riska nyari alasan biar ga ketahuan sama bang Ardi.
Aki hanya diam saja, biarin aja... biar tau cara cari uang sendiri. Ga cuma tau cara minta uang aja... Setau ku Riska itu kuliah kebidanan.. dan selama puasa kemaren dia balik ke sini karena katanya lagi libur biar bisa bantu-bantu ditoko juga... tapi ini sudah 3 minggu habis lebaran tapi dia tidak pergi kuliah juga...
Yang anehnya lagi dia ga punya laptop.. Masa sih anak kuliah jaman sekarang ga makai laptop. Aku aja pas SMA makai laptop karena sering ada tugas bikin makalah.
Aku berpikir untuk pancing dia tentang kuliahnya. Mumpung bang Ardi ga ada dirumah karena udah pergi ke toko lagi.
"Ris, kamu kuliah dimana?" Aku sedikit seperti orang kepo.
" Di universitas swasta jurusan kebidanan, kenapa emangnya?" Agak sewot dia hahahaha
"Ga papa... aku cuma nanya aja, tapi kok agak aneh ya,,,?" Makin aku pancing dia.
"Apanya yang aneh? Iri ya karena kamu cuman tamatan SMA?" wah.... beraninya dia...
"Ya aneh aja... kalo anak kuliah kan setidaknya punya laptop. Tapi aku liat kamu ga punya tuh, aku aja yang cuma SMA butuh laptop apa lagi anak kuliah..." sengaja makin aku pancing agar aku bisa tau siapa dia sebenarnya.
"Ya ya... aku ounya kok" Riska gugup dan itu membuatku makin penasaran.
"Tapi aku ga pernah liat tuh...kamu benar kuliah? Karena kamu ga keliatan seperti sedang kuliah. Buktinya semua orang sudah pada masuk kuliah tapi kamu masih belum masuk." Selidikku.
"A- Anu... aku sebenarnya kuliah hanya sampai semester 3. Kemaren itu aku kerja ditoko buku." Akhirnya Riska jujur juga...
"Loh.... kok ga kuliah?? Abang tau soal ini?" Makin kepo dong aku....
"Abang tau kok, cuma mvak ririn sama om dan yang lainnya yang ga tau... tapi jangan cerita ke siapa-siapa ya kak" Riska sepertinya takut akan ketahuan sama keluarganya yang lai.
"Ya..." aku mulai berfikir ini bisa aku jadikan sebagai kartu As nya. Jika dia mau mengacau hidupku.
Setelah mendengar dari cerita dia, ternyata awalnya dia dibiayai oleh nya untuk kuliah. Karena ada sedikit salah paham dia pindah kerumah bang Ardi dan berhenti kuliah karena sakit hati pada om nya. Sekarang dia bekerja biar ga ketahuan tidak kuliah oleh keluarganya yang lain. Berarti dalam keluarganya ada yang tidak beres... pikirku....
Aku harus hati-hati dalam bertindak agar tidak menjadi kambing hitam.
Astagfirullahhal'azim.... jauh sekali penikiranku.
Disini aku hanya tinggal bertiga karena mertuaku sudah meninggal dunia jauh sebelum aku menikah dengan bang Ardi.
***
Kemarin bang Ardi mengajakku ke rumah Omnya. Jaraknya agak jauh juga sih... kira-kira 2 jam perjalanan. Kata bang Ardi untuk mengenalkan aku dengan istrinya Om, karena ketika kami menikah beliau tidak hadir dan aku belum pernah bertemu dengan beliau.
Setelah sampai disana kami dipersilahkan masuk. Istri Om itu bernana bu Marni, ya kira-kira 3 tahun diatas unur ibuku. Ada rasa gugup saat bertemu dengan bu Marni, karena tatapan beliau padaku sinis sekali. Ah.... kita lihat nanti saja bagaimana sikap beliau.
Setelah duduk disofa ruang tamu, kami disuguhi teh dan kue kering. Lalu bu marni duduk tepat didepanku.
"Nama kamu siapa?" Tanya bu Marni memecah kesunyian.
"Nama saya Tasya bu, biasa dipanggil ica" ku jawab dengan ramah.
"Kamu kelahiran tahun berapa?" Wah... mulai di introgasi nih..
"Tahun 1998 bu," ku jawab seadanya saja takut ada salah bicara juga.
"Umur19 tahun kok mau nikah? Memangnya kamu sudah bisa masak dan lakukan pekerjaan rumah lainnya?" Wah wah mulutnya bikin aku geram saja.
"Alhamdulillah bisa buk, dari sejak SMP aku sudah diajari masak dan melakukan pekerjaan rumah oleh orangtua ku." Ku coba menjawab tetap tenang. Apes juga kalau aku dapat mertua seperti bu Marni ini, bisa-bisa ga betah aku jafi mantunya. Hah... biarlah... yang penting aku bukan menantunya.
Bang Ardi lalu beranjak duduk di teras bersama Om Kris, mereka tampak berbicara hal yang serius. Tapi aku ga mau tau aja selagi ga mengganggu hidupku. Selang beberapa menit bu Marni mengajakku ke dapur, entah untuk apa aku juga bingung. Katanya ada yang ingin dia bicarakan padaku. Tapi kok ke dapur segala ya? Aku ikuti saja dulu dan dengar apa yang ingin beliau bicarakan. Sesampai didapur bu Marni langsung membuka pembicaraan.
"Tasya, kamu kan sudah menikah dengan Ardi, apa.dia ada cerita padamu sial kelakuan saudaranya?" Bu Marni bicara agak pelan. Mungkin takut bang Ardi dengar.
"Ga ada bu, dengan saudaranya pun aku baru kenal sebatas perkenalan saja." Jawabku santai.
"Sini ibu kasih tau semuanya biar kamu nanti ga kaget dengan kelakuannya. Riska itu dulu tinggal disini karena kuliah disekitar sini. Tapi aduh.... itu anak pemalas sekali... jangankan untuk bantu masak, nyapu rumah saja nunggu disuruh dulu... yang paling ga aku suka Om itu loh, malah belain dia terus." Bu Marni terlihat agak kesal dengan Riska.
"Masak iya sih bu?" Jadi penasaran dong aku...
" iya loh.... dia itu kayak anak ga tau di untung. Udah enak dibiayai kuliah, di tampung makan dan kasih uang jajan malah ga bisa menghargai kebaikan orang" wah... bu Marni makin kesal dan nada bicaranya seperti lagi marah.
"Trus sekarang Riska sudah wisuda bu?" Aku pengen tau apa bu Marni tau kalau Riska putus kuliah.
"Belum kayaknya, baru 3 semester aja dia udah pergi dari sini, yang paling bikin aku jengkel itu pas dia minta tolong buatkan bekal untuk acara kampusnya. Udah capek bangun pagi untuk siapkan sarapan dan bekal dia. Eh... tau tau bekal yang aku kasih ga dimakan ama dia. Malah dibawa pulang lagi trus dia buang ke tong sampah di dapur tepat didepanku. Kan ga menghargai banget, kalau waktu itu aku tau makanan itu akan dibuangnya, ga sudi aku masak untuk dia." Bu Marni marah sambil tetap mengintip ke ointu depan takut ada yang dengar.
"Sabar ya buk" ga tau lagi aku mau jawab apa. Heran juga kenapa Riska bersikap seperti itu.
"Nanti kamu pasti tau gimana kelakuan dia. Jangan mau tertindas sama dia, kalau kamu sampai tertindas sama dia kamu ga bakal berarti bagi keluarga mereka." Bu Marni makin ketus.
Tapi ada benarnya juga sih kata bu Marni, kemaren aja dia seperti senang saat bang Ardi mengacuhkan aku.
Setelah 1 jam dirumah om kris, bang Ardi mengajakku pulang. Sepanjang perjalanan kami hanya iam saja. Aku juga bingung topik apa yang mau dibicarakan karena aku juga baru mengenal bang Ardi, jadi masih ada sedikit rasa canggung
Bersambung.....