“Kalau itu bisa buat Aira cepat hamil ibu setuju Aira ikut kelas kamu.”
Aira melirik Heru, memohon agar pria itu tidak mengizinkannya. “Ya sudah, kamu ikut saja.”
Aira menghela nafasnya lalu mengangguk.
Matanya kembali menatap Wira. Entah kenapa kali ini tatapan Wira menjadi lebih tajam dari sebelumnya.
Usai makan malam Aira dan Heru kembali ke kamar. Aira yang baru keluar dari kamar mandi mengenakan gaun tidur tipis berenda berwarna putih langsung menghampiri Heru yang tengah duduk di meja kerjanya.
Tangannya yang lentik bergerak menyentuh pelan pundak Heru dan memberi pijatan- pijatan pelan yang membuat Heru memejamkan mata karena merasa nyaman.
“Mas gak capek kerja terus? Udah malem, tidur yuk!” ajaknya masih dengan bergerak memijat bahu Heru, dengan tubuh yang dia tekan ke punggung Heru. Bayangan buah dadanya menonjol semakin menekan punggung Heru.
Heru membuka matanya, menelan ludahnya kasar lalu berdehem tanpa menoleh. “Kerjaan Mas sebentar lagi.” Mendengar suara berat Heru Aira semakin menggerakan tangannya ke d**a pria itu. “Kegiatan kita yang kemarin tertunda bisa di lanjut, kan, Mas? Apalagi Ibu mau kita cepet punya anak.” Aira berbisik di telinga Heru, membuat telinga Heru memerah.
“Tapi, Mas sibuk. Apalagi Mas harus ke luar kota beberapa hari.”
Dahi Aira mengerut mendengar ucapan Heru.
“Maksudnya Mas mau tinggalin aku disini sendiri?”
“Apanya yang sendiri sih, Ra. Kan ada Ibu, Ayah sama Mas Wira. Apalagi kalau kamu ikut kelas Mas Wira kamu juga gak perlu seharian di rumah.”
“Ya, tapi—” Masalahnya Aira tak terlalu nyaman sebab Tantri terus mendesaknya punya anak dengan kata-kata yang membuat Aira kesal. Sementara sebagai menantu yang baik Aira tak bisa melawan dengan kata-kata tak kalah pedas yang biasa dia ucapkan di belakang wanita paruh baya itu.
Aira menghentikan ucapannya, lalu menghela nafasnya. “Kalau gitu sebelum pergi kita lanjutkan dulu, ya, Mas?”
Asal sudah melakukannya Aira tak masalah di tinggal pergi. Semoga saja setelah melakukannya sekali dia bisa hamil, jadi kelak dia tak akan mendengar ucapan pedas Tantri lagi.
Aira melangkah ke hadapan Heru lalu menaikan kakinya kesisi kursi menahan dengan lutut hingga wajah Heru kini bertatapan dengan celah gunung kembarnya yang menonjol.
Heru menelan ludahnya kasar, hingga saat Aira menariknya dan menempelkan wajahnya tepat di belahan dadanya yang kenyal.
Aira menarik nafas panjang saat tangan Heru bergerak dan menekan bookongnya, lalu meremasnya.
Tangan Aira semakin menekan wajah Heru yang mulai bergerak menjelajahi gunung kembarnya membuat Aira mendongak dan mendesah keras.
“Akh!”
Namun saat ini Heru menghentikan gerakannya lalu menatap Aira yang masih mendongak dengan mulut terbuka terlihat nampak seksii.
“Jangan terlalu keras, di sebelah kamar Mas Wira.”
Aira mengangguk, menutup mulutnya saat Heru kembali bermain di dadanya dengan tangan yang terus bergerak meremas pelan dan lembut.
Beberapa menit Heru bermain disana, membuat darah Aira semakin terasa mendidih, pinggulnya bergoyang menekan inti Heru membuat Heru semakin bersemangat menjelajahi buah mengkal di depannya.
Aira mendongak dengan tangan yang semakin menekan kepala Heru seolah jika terlepas maka semuanya akan kembali gagal.
Hingga suara ketukan pintu terdengar.
“Jangan kenceng- kenceng desahannya. Lupa apa di sebelah ada duda baru cerai!”
Wajah Aira memerah bibirnya dia gigit karena malu. Namun hal itu seolah menyadarkan Heru yang langsung melepaskannya, mendorongnya untuk segera bangun.
“Jangan disini, gak enak sama Mas Wira.”
Nafas Aira yang masih terengah menatap Heru tak percaya saat pria itu meninggalkannya dan memasuki kamar mandi. Meninggalkan gairah yang masih membumbung tinggi di kepalanya.
Aira menatap kesal pintu kamar mandi lalu keluar kamar dengan kesal. Tak peduli pakaiannya yang tipis dan berantakan bisa membuat semua orang yang melihat salah paham.
Aira terus melangkah melewati beberapa ruangan di lantai dua hingga dia tiba di balkon. Niatnya ingin mendinginkan hati lewat udara malam disana beberapa saat sebelum menghadapi Heru kembali.
Namun saat baru membuka pintu dia menghentikan langkahnya saat melihat Wira berdiri di pagar balkon. Pria itu hanya mengenakan celana katun panjang yang menutupi bagian bawah tubuhnya dengan d**a kekar dan bidang yang dia biarkan terbuka. Bibirnya mengepulkan asap dari rokok yang baru dia hisap membuat jejak putih di sekitar tubuhnya yang kecoklatan yang hanya di terangi cahaya bulan terlihat sangat menggoda dan mengairahkan.
Saat menyadari kehadirannya Wira menoleh dan menyeringai saat melihat aira tak berkedip menatapnya, dengan mulut yang sedikit terbuka.
“Kenapa kamu melihatku seolah tak pernah melihat pria telanjang, adik ipar?”
Aira menelan ludahnya kasar, saat dia ketahuan jika tatapannya terus terpaku pada d**a Wira.
“M—aaf, Mas. Aku kira gak ada orang.” Saking terpakunya Aira sampai tak menyadari jika gaun tidurnya yang tipis juga mengundang Wira untuk menatap dalam.
“Jangan sungkan.” Suaranya terdengar berat di telinga Aira, yang sialanya semakin membuat pria itu nampak seksi.
Mata gelap Wira tertutup kabut asap rokok, hingga Aira tak menyadari pandangan pria itu.
“Beberapa menit lalu kalian masih mendesah, apa dia selesai secepat itu?” Wira kembali menghembuskan asap rokoknya ke udara dengan mata yang masih menatap Aira.
Wajah Aira terasa panas. Antara kesal, marah dan malu sekaligus.
“Maaf sudah mengganggu Mas.”
“Tidak apa, kita sama- sama dewasa. Hanya saja dinding kamar kita memang terlalu tipis. Bahkan mungkin lebih tipis dari gaun tidurmu.” Wajah Aira semakin merah bukan hanya pipinya yang terasa panas, tapi seluruh tubuhnya terasa merinding. Tangannya merapatkan kimono tipisnya yang sama sekali tak berpengaruh sebab Aira yakin Wira masih melihat bagian dadanya yang menonjol kecil sebab dia tak mengenakan bra. Demi menggoda Heru, Aira bahkan tak mengenakan dalaman berharap pria itu senang lalu menerkamnya. Bukannya dihabisi di atas ranjang, pria itu justru meninggalkannya… lagi.
Aira merapatkan kakinya dimana tatapan Wira tertuju. Jelas sekali tatapan pria itu seperti tengah memindai dan melecehkannya membuat Aira semakin malu.
“Ma— maaf, Mas. Aku balik dulu.” Aira hendak kembali, namun saat ini Wira justru menahan pintu, menahan Aira untuk pergi dan bersembunyi di balik pintu.
“Tunggu! Ada orang di dalam.” Aira tertegun saat tubuh Wira semakin dekat, Aira bahkan bisa melihat jelas bulit keringat di d**a Wira saking dekatnya.
“Ke— napa?”
Wira menyeringai, menunduk menatapnya. “Kalau ada yang lihat penampilan kita seperti sekarang, mungkin mereka mengira kita baru saja tidur bersama.” Aira meremas gaun tidur tipisnya lalu matanya menatap pada d**a Wira yang terbuka.
Salahnya keluar dari kamar karena marah. Dia lupa kalau dia bukan di rumahnya yang bisa bebas berpakaian apapun di malam hari.
Terdengar langkah kaki mendekat membuat Wira semakin menekannya ke tembok.
Pintu di dorong dari dalam, namun berhenti beberapa saat dan kembali tertutup membuat Aira menghela nafasnya lega.
“Apa ketukan pintuku menghentikan kalian?” Aira mendongak menatap wajah Wira yang menunduk menatapnya.
“Aku sama sekali tak mencium aroma percintaan dari tubuhmu.”
Aira membelalakan matanya, pupilnya membesar karena terkejut.
Sialan! Apa pria ini tak tahu malu?