Wajah Aira terasa panas, dengan semburat merah padam. Kenapa pria di depannya ini bicara begitu frontal. Apa Wira tak tahu malu.
Terdengar langkah kaki menjauh membuat Aira mendorong d**a Wira. Telapak tangannya yang menyentuh permukaan kulit Wira berjengit seolah ada sengatan yang membuatnya terkejut.
Untuk pertama kalinya dia menyentuh d**a telanjang lain selain milik Heru.
Dan d**a Wira terasa lebih keras dari Heru dengan permukaan kulitnya yang terasa panas.
“A—ku ke kamar dulu.” Aira melangkah cepat menjauh dari hadapan Wira. Meninggalkan Wira yang menyeringai tipis.
Wajahnya seolah merasa puas melihat Aira terlihat ketakutan, namun gugup sekaligus.
Pria itu kembali ke pagar untuk menyandarkan tubuhnya. Masih dengan rokoknya yang tersisa setengah. Matanya menatap ke depan dengan pandangan kosong, namun bibirnya tak berhenti bergerak mengisap batang rokoknya lalu menghembuskan asapnya ke udara.
Aira memasuki kamar dengan terburu-buru, langkahnya yang cepat membuat pintu tertutup sedikit keras membuat Heru menoleh.
“Kamu dari mana?”
Wajah Aira yang masih merah dan nampak gugup membuat Heru mengernyit.
“Da—ri balkon.” Aira berucap gugup.
“Aku barusan cari ke balkon kamu gak ada?”
Aira menggigit bibirnya. “Maksudku, aku ke balkon setelah itu ke dapur untuk minum.”
Heru masih menatap Aira. “Dengan pakaian seperti itu?”
Aira menunduk menatap dirinya lalu merapatkan piyama tipisnya.
“Sudah aku bilang kan, kalau kamu jangan pakai yang seperti itu disini. Gimana kalau dilihat Mas Wira, atau Ayah?”
Terlambat, memang sudah dilihat Wira.
“Seenggaknya jangan keluar kamar!” Heru nampak kesal, Aira sampai bingung menatap wajah Heru.
Apa yang membuat Heru nampak marah. Toh meski dia berpakaian memikat sudah seperti wanita malam Heru justru tak peduli. Lagi pula, dia juga tidak akan keluar dari kamar kalau Heru tak membuatnya kesal dengan menghentikan kegiatan panas mereka.
“Ada apa kamu cari aku?” Aira memilih tak menanggapi, mengingat kejadian tadi Aira semakin kesal.
Aira melangkah ke arah ranjang lalu duduk disana.
“Aku harus pergi sekarang.”
“Loh, bukannya besok?” Aira mengernyit matanya menatap Heru yang memasukan beberapa pakaian kedalam koper yang baru tadi siang pria itu masukan ke lemari.
“Barusan atasan Mas telepon, katanya harus pergi sekarang.”
“Terus kamu tinggalin aku disini sendiri?”
“Sendiri apanya, disini kan ada ibu, sama ayah.”
‘Tapi ibu kamu nyebelin!’ Aira hanya bisa membatin dalam hati.
“Lagian mulai besok kamu bisa ikut kelas fitnes Mas Wira. Nanti aku minta dia kasih kamu instruktur wanita. Lagian kalau bolak-balik rumah nanti kamu juga yang capek. Belum lagi kamu harus bantu ibu buat acara nanti.”
Aira menghela nafasnya lalu mengangguk. Meski rasanya tak rela, dia tak bisa menolak ucapan Heru. Sebagai istri yang baik dia harus patuh dengan perkataan suaminya, bukan?
Heru menutup resleting kopernya, melangkah ke arah Aira lalu mengecup dahinya.
Amarah dan kekesalan Aira sedikit mereda hingga Heru benar-benar pergi meninggalkannya.
Kali ini bukan hati Aira yang terasa dingin, tapi kamarnya menjadi lebih sepi
Aira membaringkan tubuhnya di ranjang, matanya menatap plafon berwarna putih cerah dengan lampu putih yang terang. Tangannya menyentuh permukaan perutnya yang terbalut kain tipis yang lembut, lalu bergerak terus ke bawah hingga menyentuh intinya yang masih terasa berdenyut pelan sebab gairah yang belum reda. Matanya mulai memejam, namun yang terlihat justru bayangan d**a bidang dan keras Wira. Otot-otot yang menyembul membuat tangannya bergerak semakin intens. Bibirnya dia gigit pelan demi meredam desahan yang ingin keluar. Mengingat di kamar sebelah ada kakak iparnya yang justru saat ini ada dalam bayangannya. Hingga tubuhnya mengejang dengan perasaan yang meledak.
Tubuhnya terkulai lemas, saat merasa sesuatu meleleh melewati intinya.
Sialannya hanya hal ini yang bisa dia lakukan saat Heru tak pernah menyelesaikan kegiatan mereka.
Kenikmatan semu yang membuat hati Aira semakin hampa setelahnya. Dia wanita dewasa, memiliki suami tapi justru hanya bisa memuaskan dirinya dengan jari.
Apa dia sudah seperti wanita binal yang kesepian?
Aira menutup wajahnya, lalu matanya berderai tangis, mengalir dari sisi telapak tangannya yang menutupi wajahnya.
Andai dia tak membutuhkan sumber daya dari Heru mungkin dia akan memilih bercerai agar dia bebas memilih pria lain. Tapi saat ini Aira justru terikat janji suci, pernikahan yang menguntungkan.
…
Pintu di ketuk keras membuat Aira melenguh kesal dalam tidurnya. Sadar jika dia masih berada di rumah mertuanya Aira segera bangun dan mendudukan dirinya.
Aira melangkah ke arah pintu lalu membukanya hingga wajahnya langsung berhadapan dengan mertuanya.
“Kamu nih, jam segini masih tidur? Perempuan itu harus rajin. Atau kamu kebiasaan ya? Jangan- jangan kamu juga begini dan gak urusin Heru pagi- pagi?” Suara cercaan Tantri terasa menusuk telinga Aira.
“Ibu gak bisa bayangin, gimana Heru mau sarapan, siap ke kantor, tapi kamu malah leha- leha.”
Aira ingin mengumpat. Kepalanya pening bukan main, dan dia harus menghadapi suara mertuanya pagi- pagi.
Namun lagi- lagi dia tak bisa melawan.
“Maaf, Bu. Semalam aku harus siapkan pakaian untuk Mas Heru pergi dinas.” Bohong Heru melakukan itu sendiri tanpa merepotkannya. Tapi, dia tak bisa terus mendengar cercaan mertuanya ini.
“Alah, alasan aja. Sudah cepat, turun dan siapkan sarapan!”
Aira menghela nafasnya saat Tantri pergi ke kamar sebelah dan mengetuk pintu kamar Wira.
Terdengar Tantri memanggil Wira. Suaranya menjadi lebih lembut dibanding saat wanita itu membangunkannya.
“Mertua sialan!” umpatnya kesal.
Aira pergi ke arah kamar mandi setelah meraih handuk di kapstok.
….
Aira keluar kamar bertepatan dengan pintu kamar sebelah terbuka menampilkan Wira. Pria itu mengenakan singlet hitam yang menampakan otot lengannya, dan celana jeans hitam pula. Rambutnya belum kering sempurna hingga nampak berkilau dan memesona meski masih berantakan karena sepertinya sengaja tak di sisir.
Lagi- lagi Aira terpaku, hingga suara berat Wira terdengar.
“Pagi adik ipar? Bagaimana tidur kamu, nyenyak?”
Aira tersenyum canggung lalu mengangguk. “Lumayan, Mas.”
“Setelah ikut fitnes kamu akan tidur makin nyenyak.”
“Oh, ya?” Mereka melangkah beriringan ke arah tangga untuk segera turun ke lantai satu.
“Coba saja.”
Aira mengangguk, tiba di lantai satu Aira melihat Tantri masih sibuk dengan masakannya. Bibirnya mendengus saat melihat Aira.
“Kalau gak bisa punya anak setidaknya kamu berguna untuk pekerjaan rumah.”
Wira menoleh menatap Aira yang menunduk.
“Maaf, Bu. Biar aku bantu—” Aira melangkah mendekat hendak membantu Tantri, namun wanita paruh baya itu menepis.
“Sudah duduk saja. Sudah hampir selesai!”
Aira melipat bibirnya lalu dengan pasrah kembali mengangguk.
“Gak guna, pemalas lagi!” Masih terdengar suara Tantri mengomel membuat Aira menghela nafasnya. Dia hanya bisa semakin menunduk terlebih disana ada Wira yang masih memperhatikannya.