Young Eun menatap Tae Hyun untuk beberapa lama. Air mukanya terlihat terkejut sekaligus merasa heran, namun ada kebahagiaan yang tersembunyi dalam sorot matanya melihat apa yang ada di depan mereka saat ini. Young Eun sebaik mungkin menyembunyikan kebahagiaannya, karena merasa malu bahwa Tae Hyun sudah berhasil membuatnya sedikit luluh.
“Kau menyukainya?” Tae Hyun menatap Young Eun dengan senyum kotak di bibirnya. Pria itu benar-benar terlihat berbeda kali ini dari Tae Hyun yang biasanya menunjukkan tatapan tajam dan mengintimidasi.
Young Eun nyaris kehilangan kata-kata. Dia menjadi bingung untuk memberikan reaksi yang seperti apa. “Bagaimana kau tahu aku ingin ke tempat ini?” Itulah pertanyaan yang sejak tadi ingin Young Eun tanyakan pada Tae Hyun. Terlihat aneh jika di usianya yang sudah menginjak dewasa ini, Young Eun ingin sekali pergi ke pasar malam.
“Aku sudah mengatakan padamu, aku mengenalmu.” Tae Hyun merubah senyum lebarnya menjadi seringai penuh.
Young Eun mengerjakan kedua matanya pelan. Dia merasa tidak bisa memahami arti dibalik kalimat Tae Hyun. Pria itu beberapa kali mengatakan sesuatu yang tidak ia mengerti, namun Young Eun tidak terlalu ingin memikirkan hal itu lebih jauh. Dia cukup perlu menikmati waktunya saat ini.
Young Eun berjalan mendahului Tae Hyun dengan langkah ringan dan senyuman penuh kebahagiaan. Perempuan itu kini terlihat seperti sosok gadis kecil yang diajak oleh kedua orang tuanya pergi ke pasar malam untuk pertama kalinya. Melihat bagaimana Young Eun tersenyum seperti saat ini, membuat perasaan Tae Hyun menghangat.
“Boleh aku membeli balon dan permen kapas?” tanya Young Eun penuh harap.
Tae Hyun mengangguk. Melihat reaksi yang diberikan oleh pria itu, Young Eun bergegas berlari menuju penjual balon lalu beralih ke penjual permen kapas. Dia memilih permen kapas yang berukuran besar dan Tae Hyun hanya mengiyakan permintaan Young Eun tanpa melontarkan protes sedikit pun.
Young Eun menarik lengan Tae Hyun untuk menuju permainan tembakan. “Apa kau bisa main? Bisa kau dapatkan salah satu boneka BT21 itu untukku?” Young Eun menunjuk salah satu boneka berwarna putih dan berukuran lebih tinggi dari yang lainnya.
Tae Hyun tersenyum. “Kurasa kau harus berhenti meremehkanku,” bisik Tae Hyun pelan. Dia mengambil tembakan lalu mengarahkannya ke beberapa kaleng sasaran.
Young Eun berteriak senang saat Tae Hyun berhasil menembak dua puluh kaleng dalam waktu lima menit. Ia berseru senang ketika Tae Hyun memberikan boneka RJ untuknya, sesuai dengan yang diinginkan Young Eun.
“Kau senang?” Tae Hyun menatap Young Eun yang duduk di sampingnya. Keduanya sedang duduk di salah satu kursi yang ada di taman tersebut sembari menikmati ice cream coklat. Benar-benar terlihat seperti pasangan pada umumnya yang sedang menghabiskan malam untuk berkencan.
Young Eun mengangguk dengan wajah senang. Kebahagiaan tergambar jelas dalam sorot matanya. “Terima kasih, seharusnya kau mengatakan padaku bahwa akan mengajakku ke sini. Lagi pula, aku juga tidak perlu harus berdandan seperti ini. Apa seburuk itu penampilanku?” Young Eun memberengut setelah mengatakan kalimat itu.
Tae Hyun diam, tak menjawab. Dia hanya menatap Young Eun dari samping dengan sorot mata yang mampu membuat perempuan mana pun merasa tak bisa mengendalikan diri jika harus berdiri di hadapan Tae Hyun dalam posisi seperti Young Eun saat ini.
“Tapi, aku masih tidak mengerti, kenapa kau tahu bahwa aku sangat ingin sekali datang ke sini?” Young Eun menatap Tae Hyun ingin tahu sembari sesekali m******t ice cream ditangannya.
Tae Hyun berdecap pelan. Pandangannya berpaling ke depan, menatap orang-orang yang berlalu-lalang di depan mereka. “Tidak ada alasan lain. Hanya ingin saja.” Tae Hyun kembali mengalihkan tatapannya pada Young Eun. Kali ini, tatapan pria itu begitu dalam dan lembut.
“Apa kau percaya dengan takdir?”
Young Eun mengerjapkan matanya mendengar pertanyaan yang tiba-tiba keluar dari bibir Tae Hyun. “Takdir?” gumam Young Eun. Tatapannya menyorot ke depan, sedetik kemudian sebuah senyum simpul terukir di bibirnya. “Aku percaya, tapi aku sangat membencinya. Aku sangat membenci takdir, tapi aku juga tidak memiliki kemampuan untuk mengubah apa pun. Selama ini, kita menjalani hidup bukan sesuai dengan pilihan atau apa yang kita inginkan, orang-orang berkata bahwa itu adalah takdir yang harus di terima. Karena aku berusaha tidak menerimanya, aku menjadi sangat membencinya.”
Tae Hyun menatap Young Eun untuk beberapa lama, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh pria itu, namun kenyataannya tak ada satu kata pun yang keluar dari bibirnya. Dia hanya bisa menatap Young Eun dengan sorot mata penuh penyesalan.
“Maafkan aku ...” Pada akhirnya, hanya kalimat itu yang lolos dari bibir Tae Hyun.
Mendengar apa yang dibisikkan Tae Hyun, Young Eun berpaling menatap pria itu dengan satu alis terangkat, bingung. “Apa maksudmu?”
Tae Hyun hanya mengukir seulas senyum penuh makna, yang justru tidak menjawab pertanyaan Young Eun sama sekali.
“Maaf, karena aku sudah terlalu tampan untukmu.”
Young Eun seketika mendelik kesal mendengar kalimat penuh percaya diri itu. “Ternyata kalian berdua sama-sama memiliki kepercayaan diri yang tinggi,” cibir Young Eun pelan. Dia hendak beranjak dari tempat duduknya, tapi Tae Hyun dengan cepat meraih pergelangan tangannya dan membuat Young Eun kembali duduk ke posisinya semula.
“Tetap di sini, aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Young Eun mengerutkan keningnya tipis. Melihat bagaimana Tae Hyun bersikap padanya hari ini, membuatnya sedikit merasa aneh.
“Aku sedikit tidak nyaman dengan dress ini, bisakah kau membiarkan aku ganti baju lebih dulu?” tanya Young Eun. Dia merasa tidak terbiasa dengan dress berwarna peace yang dia kenakan. Meski sebenarnya dia terlihat dua kali lipat lebih cantik dan anggun dengan dress lengan pendek tersebut, tapi karena dia terbiasa dengan kaos oblong dan celana denim hitam, Young Eun merasa tidak nyaman.
Tae Hyun tersenyum tipis. “Kenapa? Kau tetap cantik.” Tae Hyun berujar dengan tulus. “Lagi pula, ini kencan kita. Jadi, kau harus mengenakan sesuatu yang sudah aku siapkan untukmu.” Tae Hyun melipat kedua tangannya di depan d**a, tak memedulikan tatapan kesal Young Eun saat ini.
“Lihat ke atas!” Tepat saat itu, langit malam dipenuhi dengan belasan warna cahaya dari kembang api. Langit yang semula gelap, kini terlihat lebih terang karena ribuan cahaya kembang api di atas sana.
Young Eun tidak sempat mengatakan apa pun, dia terpesona dengan pemandangan langit malam. Tae Hyun tak bisa menahan senyum di bibirnya melihat bagaimana tatapan berbinar Young Eun saat ini. Tak ada percakapan hingga beberapa menit dan letusan-letusan kembang api itu berakhir.
“Kau dulu sangat menyukainya dan aku pikir kau memang masih menyukainya,” gumam Tae Hyun begitu lirih, nyaris tak terdengar. Pandangannya menerawang ke depan, terlihat tidak fokus.
Young Eun hanya bisa mendengar Tae Hyun bergumam dan tidak bisa mendengar jelas kalimat pria itu. “Apa kau memang sudah menyiapkan semua ini?” Tae Hyun mungkin kepribadian yang sering mengacau dan membuat ulah untuk Seo Jin dan menyusahkan dirinya. Di sisi lain, Tae Hyun adalah tipe kepribadian yang keras di luar, tapi memiliki hati yang lembut di dalam.
Tae Hyun berpaling, lalu tersenyum tipis. “Tidak. Aku tidak perlu membuang waktu untuk menyiapkan hal semacam ini,” ujarnya dengan nada tak acuh. Sebenarnya dia hanya tinggal menjawab iya, tapi Tae Hyun memang lebih suka menggoda Young Eun dan membuat perempuan itu merasa kesal.
“Kau benar-benar menyebalkan!” dengus Young Eun.
Tae Hyun hanya mengangkat kedua bahunya tak peduli. Dia beranjak dari tempat duduknya lalu menarik lengan Young Eun untuk mengikutinya dengan paksa.
“Berhenti membuka mulutmu untuk mengatakan sesuatu.” Belum sempat Young Eun mengeluarkan suara untuk protes, Tae Hyun sudah lebih dulu mengatakan kalimat itu yang membuat Young Eun kehilangan kata-katanya. Dia sepertinya harus menarik pemikirannya beberapa detik yang lalu tentang sisi lembut seorang Kim Tae Hyun. Kenyataannya, pria itu tetap menyebalkan seperti Kim Seo Jin.
Young Eun tidak mengerti bagaimana Tae Hyun bisa tahu banyak hal tentang apa yang dia inginkan. Setelah membuatnya cukup terkejut dengan membawanya ke pasar malam yang sudah tidak pernah dia kunjungi lagi setelah kedua orang tuanya meninggal. Young Eun melihat pertunjukan kembang api yang selalu ingin dia lihat ketika dia sedang bersedih. Lalu saat ini, Tae Hyun mengajaknya pergi ke Namsan Tower dan mengajaknya untuk naik gondola.
“Kenapa? Apa aku sudah membuatmu terpesona?” Tae Hyun melontarkan pertanyaan itu saat mendapati Young Eun hanya diam sembari menatapnya sejak setengah jam yang lalu setelah dia menyeret perempuan itu pergi dari pasar malam dan membawanya ke Namsan Tower.
Young Eun seketika tersadar. Dia menggelengkan kepalanya pelan. “Kau benar-benar sulit di tebak, Tae Hyun-sshi. Apa kau benar-benar bisa membaca isi pikiranku?” Young Eun mendekatkan wajahnya, menatap Tae Hyun dengan lekat. “Maksudku, bagaimana bisa kau melakukan semua hal yang itu adalah keinginanku saat aku masih remaja?” Young Eun menggelengkan kepalanya. “Seolah-olah aku pernah mengatakannya padamu.”
Tae Hyun tak mengatakan apa pun, dia justru menarik tangan Young Eun dan membawa perempuan itu lebih dekat dengannya. Sepasang iris coklat terang dan hitam itu saling bertemu, menimbulkan getaran aneh yang perlahan menyelinap ke dalam hati Young Eun. Dia kini bisa merasakan jantungnya kembali menggila karena hanya dengan tatapan yang diberikan Tae Hyun padanya.
“Aku tidak peduli sesering apa kau bersama dengan Seo Jin, kau tidak boleh melupakan tatapan dan suara ini. Aku tidak peduli pada siapa kau akan memberikan hatimu nanti, kau hanya harus menjadi milikku.” Suara berat dan dalam milik Tae Hyun kini memenuhi seluruh pikiran Young Eun. Tubuhnya menjadi kaku ketika Tae Hyun menariknya dan menyatukan bibir mereka.
Lumatan lembut di atas bibirnya membuat Young Eun nyaris kehilangan kewarasannya. Otaknya berusaha untuk meminta tubuhnya bergerak menolak saat Tae Hyun semakin menarik pinggangnya dan menghapus jarak diantara mereka untuk memperdalam ciumannya, namun tubuh Young Eun benar-benar tidak bersedia melakukan apa yang otaknya perintahkan. Tubuh Young Eun seperti secara tidak sadar bertindak sebaliknya dari yang dia harapkan, kedua tangannya justru menggenggam erat lengan Tae Hyun dan dia merasa benar-benar telah kehilangan akal sehatnya.
Untuk beberapa detik, Young Eun hanya menerima setiap sentuhan bibir Tae Hyun di atas bibirnya, sampai akhirnya Tae Hyun membuka kedua matanya dan tersentak, dalam satu gerakan cepat, dia mendorong tubuh Young Eun menjauh darinya. Tatapan pria itu kali ini terlihat terkejut. Wajahnya seperti terguncang hebat, membuat sebuah tatapan penuh pertanyaan tersirat di mata Young Eun.
“Apa yang aku lakukan?” Pertanyaan itu seketika membuat Young Eun tersentak, menyadari sesuatu. Terlebih suara dan tatapan Tae Hyun saat ini telah berubah.
“Seo Jin-sshi?” Young Eun menggumamkan nama itu dengan wajah pucat.
•••••
Tae San meremas rambutnya dengan kesal. Dia melempar ponselnya ke atas sofa, lalu mengerang putus asa. Sejak dua jam yang lalu, dia sama sekali tidak bisa menghubungi Tae Hyun maupun Young Eun. Hal ini membuat Tae San semakin marah karena keduanya pergi setelah Tae Hyun membuat masalah. Ketika Tae San memutuskan untuk menghubungi Tae Hyun lagi, suara pintu terbuka membuatnya seketika beranjak berdiri.
“Ya! Kim Tae Hyun dari—“ Tae San sudah bersiap memaki Tae Hyun dengan berbagai macam u*****n, namun semua kalimat kemarahan itu tiba-tiba tertahan seutuhnya di tenggorokannya saat melihat tatapan dingin dan wajah beku pria di hadapannya. “Seo Jin-ah?” Tae San seketika menyadari bahwa pria yang berdiri di hadapannya adalah Kim Seo Jin.
“Aku lelah.” Seo Jin tanpa mengatakan apa pun lagi, berjalan menuju kamarnya, sama sekali tidak memedulikan Young Eun atau pun Tae San yang menatapnya dengan raut wajah yang berbeda. Jika Tae San kini merasa lega karena Seo Jin telah kembali, berbanding terbalik dengan Young Eun yang terlihat lebih tertekan dan pucat. Wajahnya tidak menunjukkan bahwa dia senang atau merasa lega karena Seo Jin kembali.
“Apa yang terjadi?” Tae San mengajukan pertanyaan yang seketika membuat Young Eun menjadi gelagapan di tempatnya.
Young Eun menggeleng dengan cepat. “Aku harus kembali ke kamar. Mungkin akan lebih baik jika aku menghilang saja.” Young Eun sedikit bergumam, wajahnya berubah memerah mengingat apa yang terjadi diantara dirinya dan Seo Jin di dalam gondola satu jam yang lalu.
“Apa maksudmu?” Tae San bertanya dengan satu alis terangkat tinggi. Melihat gerak-gerik Young Eun yang aneh, membuat Tae San bertanya-tanya.
Young Eun menyatukan kedua tangannya di depan d**a, seolah-olah sedang memohon. “Tae San-sshi, biarkan aku istirahat untuk beberapa hari ke depan, ya? Aku benar-benar tidak ingin menunjukkan wajahku di depannya.” Tak peduli dengan kerutan tebal di dahi Tae San karena kalimatnya yang terkesan ambigu, Young Eun bergegas berjalan menuju kamarnya di lantai dua, tepat di sebelah kamar Seo Jin. Sebelum Young Eun masuk, dia melirik pintu kamar Seo Jin yang sudah tertutup rapat sembari merutuki dirinya dalam hati.
Tae San hanya bisa berdiri di lantai satu dengan wajah dipenuhi pertanyaan melihat sikap Seo Jin maupun Young Eun yang sedikit aneh. Biasanya, Seo Jin akan segera bertanya tentang apa yang terjadi selama kepribadiannya yang lain mengambil alih, namun kali ini Seo Jin terlihat tidak peduli. Terlebih lagi melihat bagaimana sikap Young Eun saat ini, membuat Tae San merasa yakin bahwa telah terjadi sesuatu diantara keduanya.
“Apa sesuatu terjadi diantara mereka?” gumam Tae San diakhiri dengan desahan napas panjang. Dua hari sudah cukup melelahkan untuknya, jadi Tae San memilih untuk tidak memikirkannya lebih jauh lagi. Dia akhirnya memilih untuk tidur di sofa, merasa tidak memiliki cukup tenaga untuk menyetir mobil dan kembali ke rumahnya.
••••