Young Eun menyembulkan kepalanya dari celah pintu yang sedikit terbuka, pandangannya menyisir ke sekelilingnya dengan tatapan waspada. Merasa bahwa tidak ada siapa pun yang tertangkap oleh penglihatannya, Young Eun menarik napas lega. Dia lalu menarik tubuhnya keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan gerakan pelan, sebisa mungkin untuknya tidak menimbulkan suara sedikit pun.
Semenjak kejadian kemarin, Young Eun benar-benar tidak berani keluar kamar kecuali dalam keadaan sangat terdesak seperti saat ini. Young Eun bahkan mengabaikan panggilan Tae San pagi tadi yang menyuruhnya untuk keluar karena meminta dirinya untuk menemani Seo Jin melakukan pemotretan untuk salah satu majalah. Young Eun tentu saja menolak dengan mengatakan bahwa dia sedang tidak enak badan, sehingga untuk satu hari ini, dia bisa menghindari untuk bertemu atau berpapasan dengan Seo Jin, meskipun dia tahu tentu kemungkinannya sangat kecil bagi mereka untuk tidak sekedar berpapasan, mengingat mereka tinggal satu rumah.
Young Eun mungkin bisa tersenyum lega ketika dia sampai di dapur dan mendapati rumah sudah sepi. Sudah pasti Seo Jin dan Tae San belum pulang. Young Eun berjalan menuju kulkas saat perutnya semakin meronta kelaparan minta diisi. Dia tersenyum lebar ketika menemukan beberapa roti dan bir di dalam kulkas. Young Eun mengambil dua lembar roti dan selai coklat, lalu membawanya ke meja dapur. Setidaknya, dia bisa mengisi perutnya meski dengan beberapa lembar roti.
“Bagaimana bisa dia tidak memiliki bahan makanan sedikit pun di dalam kulkas sebesar ini?” Young Eun bergumam. Dia mengoleskan selai coklat di atas rotinya, lalu mengunyah rotinya dengan pelan.
Di tengah aktivitasnya, Young Eun sama sekali tidak menyadari bahwa sebenarnya Seo Jin sejak tadi sedang mengawasi dirinya dari balik kaca jendela yang menghubungkan ruang tamu dengan halaman belakang, karena letak ruang tamu dan dapur yang berseberangan, membuat Seo Jin bisa melihat apa yang saat ini sedang dilakukan oleh Young Eun.
Seo Jin melangkah diam-diam menuju dapur tanpa sepengetahuan Young Eun. Untuk sedetik, sebuah senyum yang teramat tipis terukir di bibirnya melihat bagaimana tingkah Young Eun yang terlihat kelaparan sedang menyantap rotinya.
“Sepertinya kau benar-benar kelaparan.”
Young Eun meloncat dari tempat duduknya mendengar suara familier tersebut. Dia nyaris memuntahkan rotinya saat mendapati Seo Jin sudah berdiri di belakangnya.
“Astaga! Kau mengagetkanku!” Young Eun merutuk kesal. “Se-sedang apa kau disini? Bukankah seharusnya hari ini kau pergi ke pemotretan?” tanya Young Eun dengan gagap.
Seo Jin membuka pintu kulkas lalu mengambil sebotol bir dari dalam sana. “Mereka menundanya sampai lusa,” sahut Seo Jin tenang. Raut wajahnya tidak menunjukkan emosi apa pun. Dia meneguk birnya dengan pelan, seolah-olah bersikap bahwa tidak pernah ada yang terjadi antara dirinya dan Young Eun. Karena sebenarnya memang bukan antara dirinya dan perempuan itu, melainkan Tae Hyun dengan Young Eun, dia hanya tiba-tiba muncul dalam situasi yang sungguh tidak tepat.
Young Eun memasukkan rotinya yang tinggal sepotong, mengunyahnya dengan cepat. “Ah, begitu. Aku ... aku harus ke kamar. Aku sudah mengatakan pada manager mu kalau hari ini ... aku sedang tidak enak badan. Maaf.” Young Eun menyambar birnya yang ada di atas meja, hendak meninggalkan dapur.
“Bukan untuk menghindariku karena kejadian kemarin?” Pertanyaan itu seketika membuat Young Eun menghentikan langkahnya. Tubuhnya tiba-tiba menjadi tegang di saat yang bersamaan.
“Kau merahasiakan sesuatu dariku tentang hubunganmu dan Tae Hyun. Apa kau menghindariku karena tidak ingin menjelaskan bagaimana kalian bisa berciuman?”
Pertanyaan telak itu sungguh menohok ulu hati Young Eun. Bagai anak panah yang menancap tepat pada titik sasaran. Young Eun membalikkan tubuhnya perlahan, kedua kakinya benar-benar terasa berat untuk mengambil langkah.
“Aku bisa menjelaskan semuanya padamu, tapi ...”
“Tapi apa?” potong Seo Jin dengan tatapan dingin menusuk. “Apa kau menerima tawaranku karena kau menyukai Tae Hyun sejak pertemuan pertama kalian?” Tatapan Seo Jin seperti hendak menelan dirinya bulat-bulat.
Young Eun terenyak dengan kesimpulan yang diucapkan oleh Seo Jin. “Tidak!” sanggah Young Eun lantang. “Jangan menyimpulkan sesuatu begitu saja!” tambah Young Eun mulai kesal.
Seo Jin meletakkan birnya di atas meja, lalu berjalan mendekati Young Eun dengan satu tangan di dalam saku celananya. Tatapannya terlihat mengintimidasi. “Lalu, apa yang sebenarnya terjadi antara kalian yang tidak aku ketahui?” Sepasang sorot mata dalam dan gelap itu benar-benar mengurung Young Eun jatuh ke dalamnya.
Young Eun mengerjapkan kedua matanya dengan gugup. “Bukankah aku sudah bilang, dia mengatakan padaku bahwa dia jatuh cinta padaku! Dia ... dia berkata seolah-olah kita sudah saling mengenal. Tapi, tenang saja. Aku tidak pernah menganggap serius ucapannya.” Young Eun berusaha meyakinkan Seo Jin bahwa dia tidak pernah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Tae Hyun dan berharap bahwa yang dikatakan oleh Tae Hyun hanya omong kosong.
Seo Jin mengangkat satu alisnya. “Dia bersikap seperti itu?” Young Eun mengangguk pelan. “Apa kalian pernah bertemu di masa lalu?” Pertanyaan itu dengan cepat di balas oleh gelengan kepala dari Young Eun. “Apa kau yakin?” Seo Jin mencoba memastikan.
Young Eun lagi-lagi menggeleng dengan air muka penuh keyakinan. “Aku sama sekali belum pernah bertemu dengan dia. Aku saja hanya tahu wajahmu sesekali dari iklan,” ujar Young Eun penuh kejujuran. Dia memang belum bertemu dengan Tae Hyun sama sekali.
“Kau yakin tidak mengingatnya sedikit pun? Atau ... kau masih menyembunyikan sesuatu dariku?”
Young Eun berdecap dengan sebal. “Aku sudah berkata jujur padamu, kenapa kau tidak percaya?” keluh Young Eun. “Aku benar-benar belum pernah bertemu dengan kalian sama sekali. Itulah kenapa aku merasa putus asa karena sekarang harus terlibat dengan kalian,” sungut Young Eun. Dia bahkan tidak pernah memikirkan bahwa akan mengalami hal semacam ini dalam hidupnya.
“Kau ... yakin tidak menyukainya juga?” Tatapan Seo Jin kembali tajam. Dia memang benar-benar tahu cara untuk mengintimidasi seseorang dengan baik.
“Sudah kubilang, TIDAK!” seru Young Eun dengan nada kesal. Dia membalikkan tubuhnya, hendak melangkah pergi.
“Apa jantungmu sama sekali tidak berdebar?” Kedua kaki Young Eun yang sudah menginjak anak tangga menuju lantai dua, terhenti. Kali ini Young Eun tidak membalikkan tubuhnya sedikit pun, namun Seo Jin bisa melihat bahwa punggung perempuan itu terlihat menegang seketika karena pertanyaannya.
“Sudah kubilang, aku tidak merasakan apa pun!” bantah Young Eun untuk ketiga kalinya. Dia kembali berjalan dengan langkah yang lebih cepat menaiki anak tangga, mengabaikan tatapan penuh arti dari Seo Jin dari lantai satu.
“Kau berbohong,” bisik Seo Jin dengan tatapan dingin dan dalam.
•••••
Young Eun mengambil air minum di dalam kulkas ketika ponsel yang dia letakkan di meja dapur berdering nyaring. Perempuan itu lalu berjalan menuju meja sembari membawa botol air minuman yang diambilnya. Menghela napas panjang ketika mendapati nama si penelepon.
“Apa kakak membuat masalah lagi?” Hyun Joong tidak akan menghubunginya kecuali pria itu membutuhkan sesuatu darinya.
“Benar sekali. Kakakmu selalu membuat masalah dengan kami. Jadi, apa kau sudah mendapatkan uangnya?”
Young Eun terenyak mendengar suara di balik telepon, menyadari sesuatu. “Di mana kakakku?” Young Eun tahu benar apa yang bisa dilakukan oleh para rentenir itu demi mendapatkan uang darinya, termasuk membunuh sekalipun.
Terdengar suara gelak tawa di seberang telepon. “Apa kau khawatir aku akan membunuhnya jika kau tidak segera memberikan uangnya?” Pria itu berjalan mendekati Hyun Joong lalu menarik rambutnya ke belakang dengan keras, membuat Hyun Joong berteriak kesakitan.
Young Eun mulai panik mendengar teriakan Hyun Joong. Terakhir kali kakaknya itu nyaris sekarat karena dipukuli oleh para rentenir. Kali ini, mereka tentu akan melakukan sesuatu yang mungkin lebih berbahaya lagi dari sebelumnya.
“Di mana dia? KATAKAN DIMANA KAKAKKU?!” Young Eun berteriak keras dengan marah, membuat Seo Jin yang baru saja menuruni anak tangga terkejut mendengar teriakan Young Eun.
Seo Jin berjalan mendekat ke arah dapur, hendak menanyakan sesuatu, namun Young Eun tiba-tiba bergegas berjalan menuju kamarnya, tak berselang lama perempuan itu sudah turun dengan mantel dan tas selempang. Langkahnya tergesa menuruni anak tangga dengan wajah pucat.
“Mau ke mana?” Seo Jin menahan lengan Young Eun.
“Maafkan aku, ada situasi yang mendesak.” Young Eun melepaskan tangan Seo Jin di lengannya dengan cepat. Seo Jin mengernyit bingung melihat tingkah Young Eun, namun dia tidak bisa mengajukan pertanyaan lagi karena perempuan itu sudah berlari pergi.
“Apa yang terjadi padanya?” Seo Jin bergumam dengan heran. Dia memilih berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum. Selama tiga hari ini dia tidak memiliki jadwal, jadi Seo Jin bisa sedikit bersantai di rumah.
••••
Young Eun membuka pintu pagar rumahnya dengan tergesa-gesa. Jantungnya berdetak lebih cepat membayangkan kekacauan apa lagi yang menanti di depan matanya. Dia segera berlari masuk ke dalam rumah dan tercengang melihat semua perabotannya berserakan di halaman, keadaan saat ini dua kali lebih kacau dari sebelumnya.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN?!” teriak Young Eun keras, menghentikan dua orang dengan jas hitam itu untuk membuang dan menghancurkan badang-barang di rumahnya.
Kim Dong Gi yang menyadari kehadiran Young Eun, berjalan menghampiri Young Eun dengan seringai kejam di wajahnya. Pria berusia awal empat puluh tahun itu mengeluarkan rokok dan pemantik dari dalam jas hitamnya.
“Mana uang yang kemarin kau janjikan untuk melunasi hutang kakakmu?” tanyanya dengan nada geram. Dia menyulut ujung rokoknya dan menghisap benda itu dengan perlahan.
Young Eun menggertakkan giginya. Dia mengarahkan pandangnya ke arah Hyun Joong yang sudah babak belur untuk kedua kalinya. Kakaknya itu benar-benar terlihat sangat menyedihkan dibandingkan terakhir kalinya mereka bertemu sejak pertengkaran hari itu.
“Beri aku waktu lagi,” sahut Young Eun. “Aku akan melunasi semua hutangnya beserta bunganya dan kalian bisa berhenti mengusik kehidupan kami.”
Dong Gi menendang panjang meja yang ada di lantai dan membuatnya membentur tembok hingga pecah. Sebenarnya Young Eun sudah mulai ketakutan saat ini, mengingat bahwa dia berusaha melawan lima rentenir preman berbadan besar yang kapan pun bisa saja memukulnya.
“Kau mengatakan hal yang sama seminggu yang lalu. Kesabaranku sudah habis. Hutang kakakmu sudah jatuh tempo sejak satu bulan yang lalu. Sekarang kau mengatakan padaku untuk menunggu lagi?” Dong Gi meraih dagu Young Eun dan mencengkeramnya dengan kasar.
“b******k! Jangan menyentuh adikku!” seru Hyun Joong marah. “Pukul saja aku, b******k! Young Eun-ah, pergilah! Kau seharusnya tidak perlu datang!” Hyun Joong meronta dari dua cengkeraman pria di sampingnya.
Young Eun tak memedulikan ucapan Hyun Joong, dia balas menatap Dong Gi dengan tatapan tajam. Tak ada sorot ketakutan di mata perempuan itu, mengundang kekehan mengejek dari Dong Gi.
“Bagaimana jika kau membayarnya dengan tubuhmu?” Pertanyaan itu dibalas oleh gelak tawa dari keempat anak buahnya. “Bukankah itu cara menyelamatkan kakakmu dan rumah ini?”
Young Eun meludah tepat di wajah Dong Gi, menyulut amarah pria itu. Dia mencengkeram wajah Young Eun dengan erat. “Perempuan sepertimu berani sekali kasar padaku!” desis Dong Ki dengan nada marah yang tertahan.
“Kenapa? Aku tidak takut denganmu!” Young Eun melempar tatapan tajam tanpa rasa gentar sedikit pun meski dia berusaha menahan sakit karena cengkeraman tangan Dong Ki di kedua sisi wajahnya yang semakin kencang. Jika dia terlihat lemah, pria di depannya ini akan merasa sangat senang untuk mempermainkannya.
“Baik. Kalau kau tidak bisa melunasi hutang kakakmu, kau harus ikut denganku!” Dia melepaskan cengkeraman tangannya di wajah Young Eun dengan kasar, lalu memberikan isyarat pada ke empat anak buahnya.
“Apa yang kalian lakukan?” Hyun Joong bertanya dengan panik ketika mereka mulai menyeret Young Eun pergi dari sana. Perempuan itu berusaha memberontak dan meronta untuk melepaskan diri, namun tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan dua pria berbadan besar tersebut.
“Lepaskan Young Eun! Bawa aku bersama kalian! Lepaskan dia, b******k!” Hyun Joong berusaha membuat dua pria tersebut melepaskan adiknya, namun dua pria lainnya kembali mendorongnya dan memukulinya. Young Eun berteriak keras untuk meminta dua pria tersebut berhenti memukuli kakaknya, namun usahanya sia-sia saja.
“Bawa dia ke mobil!” perintah Dong Ki pada kedua anak buahnya yang menyeret Young Eun.
“LEPASKAN AKU, b******k!” Young Eun meronta sekuat yang dia bisa saat mereka berusaha mendorongnya untuk masuk ke dalam mobil. Young Eun bahkan menggigit lengan salah satu pria tersebut sampai melepaskannya, namun pria itu membalas dengan menampar Young Eun hingga perempuan itu tersungkur jatuh.
Dong Ki membalikkan tubuhnya karena keributan itu, dia menatap Young Eun dengan kesal. “Kalau kau tidak ingin ada k*******n, sebaiknya kau ikut dengan tenang.” Young Eun mendecih dengan sinis. Dia berdiri tegak dengan menahan rasa perih pada ujung bibirnya yang kini terluka oleh tamparan keras pria tadi.
“Aku tidak akan ikut denganmu! Aku sudah bilang bahwa aku akan membayar hutangnya!” Young Eun bersikeras. Dia menepis tangan pria yang hendak mencengkeram lengannya.
Dong Ki terbahak. Wajahnya memerah. “Berhentilah keras kepala jika kau tidak ingin melihat kakakmu mati di depanmu,” desis Dong Ki penuh nada ancaman.
Young Eun membalikkan sedikit tubuhnya dan melihat bahwa satu pria sedang mengarahkan pisau ke leher kakaknya dan satu pria lain mengikat lengan Hyun Joong. Melihat bagaimana dia terdesak saat ini, Young Eun tak bisa melakukan apa pun selain menurut untuk ikut.
“Lepaskan dia!” Tepat ketika mereka hendak menyeret Young Eun kembali ke dalam mobil, suara dengan nada dingin yang membekukan itu menghentikan tindakan mereka.
•••••••