Azalea meraih tangan wanita dewasa di depannya. "Tante mau 'kan jadi mommy aku?" tanyanya sambil menggoyang-goyang tangan yang ia genggam, merajuk manja.
"Ogah!" sahut Cahaya sembari menepis.
"Kenapa? Tante gak suka sama daddy aku?" protes Azalea, tak habis pikir. Baginya ayah adalah pria paling tampan. Aneh jika ada wanita yang tidak suka. "Tetangga di sini banyak yang suka sama daddy. Kenapa Tante gak mau?"
"Kalau gitu kau minta aja tetangga buat jadi mommy kamu," ketus Cahaya sambil membuka pintu mobilnya.
Tetapi anak remaja itu tidak tinggal diam. Menutup kembali pintu kendaraan roda empat tersebut. Berdiri menghalangi.
Cahaya melotot. "Heh! Bocil Pengganggu! Ini maksudnya apa? Gak lihat saya mau kerja?"
"Lihat."
"Terus kenapa berdiri di situ. Minggir!" galak Cahaya.
"Aku gak akan pergi sebelum Tante mau jadi mommy aku."
Cahaya memutar bola mata. "Kamu ini sebenarnya ngerti bahasa manusia nggak sih? Saya gak mau nikah sama daddy kamu."
"Ya udah kalau nggak mau nikah sama daddy aku nggak apa-apa. Tapi aku mau minta tolong Tante buat jadi mommy aku."
"Hah? Kamu ini lieur apa gimana sih? Katanya nggak apa-apa nggak mau nikah sama daddy kamu. Tapi kamu mau saya jadi mommy kamu. Gak beres nih otak." Cahaya menunjuk kening anak itu dengan jarinya.
Azalea cemberut, menatap penuh harap.
Cahaya gegas mengalihkan tatapan sebelum rasa iba menguasainya. Tatapan anak itu mematikan. "Om! Ini diurusin dong anaknya. Aku mau berangkat kerja," teriaknya saat melihat ayah anak itu keluar lagi dari rumah. Ingin mengadu sejak tadi, tetapi pria itu tadi sempat masuk ke dalam rumah setelah manggil anaknya.
"Tante kenal sama daddy aku?" tanya Azalea.
"Ya kenal lah. Orang rumah aja hadap-hadapan."
"Kalau kenal terus kenapa nggak mau nikah sama daddy aku?"
"Justru karena kenal makanya nggak mau. Udah sana ah! Ganggu aja!" usianya Cahaya lagi. Tetapi tidak berani bersikap kasar meskipun anak itu masih saja berdiri di depan pintu mobilnya.
"Kenapa Tante panggil daddy aku om?" Azalea abai, tetap berdiri di tempatnya.
"Memang daddy kamu itu udah om-om. Lihat ini, anaknya aja udah segede kamu." Cahaya menetap anak itu dari atas kepala hingga bawah kaki. Anak yang cantik dngan rambut kemerahan. Tak heran sebenarnya karena ayahnya pun tampan. Meski usia sudah masuk kepala empat, tetapi masih terlihat sepuluh tahun lebih muda. Ia akui itu.
"Lea!''
Suara bariton yang syarat dengan ketegasan itu membuat sang anak menoleh.
"Nih lihat. Anak Om dari tadi halangin aku terus. Kalau aku sampai telat absen, itu salah dia," ketus Cahaya.
"Ayo!" Pria itu mengulurkan tangan pada putrinya.
Azalea melirik dengan wajah cemberut.
"Kamu lupa syarat kamu kalau mau tinggal di sini?" kata pria itu lagi penuh penekanan.
Azalea sekali lagi melirik. Kali ini ia menyambut uluran tangan sang ayah meski dengan berat hati.
"Minta maaf!" titah sang ayah lagi.
"Maafin aku, Tante," cicit Azalea sambil menunduk sedih. Berlalu mengikuti langkah sang ayah.
Cahaya hanya menatap dua orang tanpa kata. Saat Azalea menoleh, sempat beberapa detik saling tatap. Tetapi gegas masuk mobil sebelum ia terbuai tatapan maut bocah itu. Tatapan penuh harap seperti itu lebih bahaya.
"Sejak kapan Om Angga punya anak? Kok aku gak tau? Perasaan terakhir ketemu dia masih tinggal sendiri. Mana anaknya udah segede Dion pula. Apa itu anak adopsi?" Cahaya bergumam, banyak tanya dalam benaknya kini..Anggara Yuda Adiguna—pria yang merupakan kakak sulung dari Dania yang adalah istri dari Damar—kakak sulung Cahaya.
"Ah, bodo amat deh. Bukan urusan aku. Mau anak adopsi kek mau anak kandung." Cahaya abai. Gegas melajukan mesin kendaraan roda empatnya sebelum ia terlambat masuk kantor.
***
"Daddy kenal sama Tante Cahaya?" tanya Azalea begitu masuk ke dalam rumah.
"Kenal."
"Seberapa kenal?"
"Dia adik Om Damar."
Bola mata bulat gadis kecil itu semakin bulat. "Om Damar suaminya Tante Dania?"
"Iya."
"Tante Cahaya anaknya Nenek Fani juga dong."
"Iya."
"Kok aku gak ketemu ya waktu kenalan sama Nenek Fani."
Pria dewasa itu hanya mengangkat bahu. "Daddy mau berangkat ke kantor. Kamu jangan nakal di rumah. Hari ini daddy urus sekolah kamu biar besok udah bisa sekolah."
"Aku sekolah sama Dion?"
"Iya. Sepupu kamu yang lain juga sekolah di tempat yang sama," angguk Anggara.
Sekolah swasta milik keluarganya memang menyediakan fasilitas belajar mulai dari PAUD hingga sekolah menengah atas. Sedangkan perguruan tinggi berada di lokasi berbeda, meski masih berada di area yang sama.
"Oke." Azalea mengangguk. Setidak ia tidak akan merasa sendiri di tempat baru. "Daddy!"
"Hem."
"Aku punya satu permintaan."
"Apa?"
"Aku mau Tante Cahaya jadi mommy aku."